
"Kapan dibolehin pulang mbak?"
Anya yang menyusui Arun menoleh ke arah ibu yang tengah duduk bersama Arum dan Sinan sambil menonton tayangan kartu di televisi.
"Katanya disuruh tunggu sampai dokternya Arun visit bu. Paling lambat besok baru boleh pulang"
Hari memang sudah berganti malam. Ocha dan Wine kini mulai bersiap untuk pulang lebih dahulu. Aaras sudah tidur di gendongan Arka, sedangkan Arsya tidur dalam gendongan Wine.
"Ibu pulang bareng Wine ya bu. Istirahat di rumah dulu." pinta Anya. Sejak ibunya datang, wanita itu sama sekali tak bisa istirahat karena digelayuti oleh Arum dan kembar kemanapun ibu bergerak. Usianya tak muda lagi, Anya takut sakit pinggang ibu kambuh jika terlalu banyak bergerak.
Ibu melirik sebentar ke arah Sinan yang hanya bisa menunduk saat tatapan mereka bertemu. Rasa bersalah, sepertinya akan menghantui Sinan malam ini.
"Ya udah. Ibu pulang ya. Ibu bawa Arum sekalian. Nanti kalau besok mau pulang kabarin ibu ya. Biar ibu jemput" ibu mengambil Arum yang juga terlelap dari pangkuan Sinan. Sejenak menatap ke arah menantunya itu, sebelum akhirnya menepuk pundak Sinan pelan. "Titip Anya ya nak."
Sinan yang mendapat tepukan itu mengangguk. "Iya bu. Sinan antar sampai depan ya bu. Biar Sinan yang gendong Arum"
Ibu menggeleng, ia mememberikan Arum pada Ocha "Nggak perlu. Anya lebih butuh kamu disini. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Anya dan Sinan bersamaan.
Sepeninggal Ibu, Ocha, Wine, Arka dan anak-anak. Sinan duduk dipinggir ranjang sambil mengelus pipi Arun lembut. Sedikit takjub karena ada satu makhluk lain yang terlahir di dunia dengan darah sama yang mengalir dengan dirinya. Bentuk wajah, mata, bibir hingga warna kulit yang begitu mirip dengannya. Sinan balas tersenyum ke arah Anya.
"Kenapa? Takjub sama anak sendiri?"
Sinan menganggukkan kepala. Ia meraih tangan mungil Arun yang dibalut dengan sarung tangan putih. Pipi bulat merahnya membuat Sinan mendekat dan mencium pipi Arun kilat. "Terimakasih. Kamu sudah lahir di dunia ini, dan membuat mamah kamu nggak terlalu kesakitan"
"Kata siapa?" Anya heran dari mana suaminya ini bisa menyimpulkan sendiri akan rasa sakit yang hanya dirasakan Anya.
"Kata kamu. Tadi aku tanya katanya nggak sakit"
__ADS_1
Anya tertawa "Sakit yang. Cuman lagi mindset di kepala biar ngurangin rasa sakitnya"
"Terus ampuh?" mata suaminya ini menunjukan ketidak tahuan sama sekali. Entah memang tidak tahu, atau Anya saja yang dikelabui oleh mata elang milik Sinan.
"Ya enggak lah" sewot Anya.
Padahal Sinan memang tak tahu rasanya karena dia tak pernah melahirkan. Namun melihat kekesalan istrinya, membuat Sinan mendekati Anya dan mencium dahi Anya dalam "Terimakasih sudah melahirkan anak secantik ini"
"Haruslah. Suami itu harus banyak terimakasih sama istri. Karena suami dapat enaknya doang, tapi istri ngerasain sakitnya"
Sinan tertawa. Tatapannya kini kembali menatap Arun yang tengah menyusu dengan mata terpejam. Jika diukur dengan telapak tangan, wajah putrinya ini bahkan lebih kecil dari pada telapak tangannya.
"Yang"
Sinan beralih menatap ke arah Anya. Menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga "Ya?"
"Kalau. Ini kalau ya Yang. Kita nggak akan tahu masa depan yang menanti kita itu seperti apa"
"Kalau nanti ternyata aku dipanggil duluan sama Allah. Nasib Arum bagaimana?"
Sinan mengerutkan dahinya tak suka dengan ucapan istrinya barusan. Mereka baru memiliki satu nyawa lagi dalam keluarga kecilnya, kenapa harus membahas hilang nyawa lainnya. "Kok ngomongnya begitu sih Yang. Kita akan menanti masa tua bersama"
"Itu takdir Allah Yang. Nggak ada yang tahu, makanya aku bilang 'kalau'. Kalau itu terjadi dan kamu mungkin tak bisa mengurus Arum. Kembaliin Arum ke ibu ya Yang. Atau kalau nggak titipin ke Wine dan bang Arka. Mereka pasti mau menerima Arum"
Rasanya begitu menyakitkan saat mendengar sederet kalimat istrinya barusan. Tanpa disadari ada sedikit ketidak percayaan pada Anya untuk meyakini jika Sinan akan menjaga Arum sepenuh hidupnya. Ketimbang mempercayainya, Anya bahkan lebih percaya pada sahabatnya itu. "Kamu tahu kalimat kamu barusan bikin aku sakit hati?"
Anya mengangguk "Aku tahu. Tapi setidaknya itu harus tetap aku katakan untuk berjaga-jaga"
"Dengar An. Tidak ada yang akan meninggal disini. Dan jika ternyata apa yang kamu takutkan itu terjadi. Arum akan tetap menjadi anakku. Karena itu sebelum semuanya terjadi, aku akan menjadi suami dan papah yang baik untuk kamu dan anak-anak" tangan Sinan bergerak mengusap air mata Anya yang meluncur. "Jadi, aku mohon. Jangan katakan kalimat itu lagi"
__ADS_1
Anya mengangguk dengan isak tangis yang ditahan takut jika Arun bangun. Meski terlihat biasa saja hingga bercanda dengan kedua sahabatnya, pikiran Anya begitu kacau saat melihat Sinan menarik mamahnya keluar. Ada tatapan kecewa dari mata suaminya tadi, dan itu menggangu pikiran Anya sejak tadi.
Satu tangan yang bebas, Anya gunakan untuk mengusap pipi Sinan "Ini pasti sakit ya Yang?"
Sinan yang berpikir sudah berhasil menghilangkan bekas tamparan sang mamah dipipinya, membulatkan matanya terkejut karena Anya menyadarinya "Masih kelihatan ya?"
"Jika dimata orang lain mungkin nggak kentara. Tapi dimata aku yang setiap pagi pasti digunakan untuk mengamati wajah kamu, aku bisa melihat perbedaannya" Anya kembali mengusap pipi suaminya ini. Berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. "Sakit banget ya?"
Berbohong jika Sinan menggeleng. Namun alih-alih merasa sakit di pipinya, hati Sinan jauh terasa lebih sakit karena ini adalah tamparan pertama dari sang mamah selama 27 tahun dirinya hidup. "Maaf ya Yang. Aku benar-benar minta maaf"
Anya mengangguk "Tolong taruhin Arun di box ya Yang"
Sinan menurut. Mengambil Arun dari Anya lalu diletakan pelan ke box bayi agar tak bangun. Saat berbalik ke arah Anya, tangan istrinya itu membentang lebar.
"Sini. Peluk aku" pinta Anya.
Tak perlu diminta untuk kedua kalinya. Sinan berjalan ke arah Anya, lalu memeluk istrinya erat. Maaf karena belum bisa mengatakan yang sebenarnya.
Masih dengan tangan yang melingkari pinggang suaminya, Anya mendongak menatap Sinan "Aku pengin tidur sambil dipeluk"
"Nanti dokternya Arun datang, nggak enak"
Anya menggeleng "Dokter Widi visit besok. Jadi nggak ada yang bakal masuk ruangan ini. Lagi pula aku cuman minta dipeluk. Kalau aku tidur kamu bisa turun"
Menolakpun akan sia-sia. Sinan berbaring di samping Anya dan menarik istrinya kedalam pelukan. "Kamu nggak usah khawatir tentang Arum. Karena sampai kapanpun aku akan tetap jadi ayah Arum selamanya. Aku akan adil kepada Arum dan Arun"
Anya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Matanya mukai terpejam dengan irama penghantar tidur adalah detak jantung suaminya.
...****************...
__ADS_1
Cerita Tetangga ½ons diganti jadi Jodoh Kedua ya.