Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 14: Sindir Menyindiri


__ADS_3

***etitss baca bab sebelumnya dulu ya. ini double up soalnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...


“Siapa?” tanya Radit.


Anya menggaruk telingannya yang tiba-tiba terasa gatal. “Mamah pak. Beliau akhirnya setuju tinggal bareng di sini”


“Oh iya. Mamah kamu sendirian ya di sebrang?”


Anya mengangguk sambil tersenyum. Tangan kanannya kembali menggaruk telingannya yang kini terasa semakin gatal.


“Giman kabar mamah kamu?”


Mobil berbelok kearah kiri memasuki jalan tol.


“Baik pak alhamdulillah.”


“Alhamdulillah kalau gitu”


Anya tersenyum tipis. Padangannya kini tertuju kearah jalan yang ada didepannya.”Saya mau tanya pak, boleh nggak pak?”


“Boleh, tapi kayanya lebih enak kalau kamu manggil saya ‘mas’ kaya dulu. Jangan bapak. Saya bukan bapak kamu”


Tawa Anya pecah seketika. Dirinya tak mampu membayangkan jika harus satu mobil sama Sinan, suasanannya pasti tak akan mencari seperti ini.


Melirik sekilas kearah Radit, padangan Anya kembali ke arah jalan di depan sana “ Kenapa bukan bapak yang ambil alih perusahaan tapi malah pak Sinan?”


Cukup lama Radit diam tak menjawabnya. Anya yang menyadari jika pertanyaannya barusan sepertinya salah langsung menghadap kearah pria disampingnnya ini “Jangan jawab kalau bapak nggak mau. Nggak apa-apa pak”


Bukan mendapat tatapan tersinggung dari Radit. Pria ini malah mengacak rambut Anya sambil tertawa “Saya nggak kesinggung ko. Saya lagi cari kalimat yang buat jelasin aja. Soalnya ini baru pertama kali saya berniat buat jawab.”


“Memang pernah ada yang tanya pak?”


Radit mengangguk “Pernah, cuman karena bagi saya orangnya hanya sekedar rekan kerja, makanya saya pilih tidak menjawabnya”


“Kalau gitu bapak nggak usah jawab pertanyaan saya” Anya melambaikan tanganya menolak mendapat jawaban. Jika Radit menjawabnya, maka pria ini terang-terangan mengatakan jika Anya bukan hanya sekedar rekan kerja.


“Itu karena saya sebetulnya bukan cucu kandung pak Hamdan. Saya anak bawaan dari pernikahan pertama ayah saya”


Anya terdiam seketika. Suara Radit barusan tidak memiliki getaran yang menunjukkan kesedihan sama sekali. Seakan dia sudah menerima nasib hanya sebagai wakil CEO meski Radit bergabung dengan perusahaan jauh sebelum Sinan bergabung.


“Begitu ya pak” jawab Anya seadanya.


“Iya. Lagi pula kamu emang nggak ingat sama Sinan?”


Dahi Anya berkerut “Maksudnya?”


“Ingat ada bocah laki-laki berbadan gemuk yang dulu sering ke kantor?”


Tunggu, jangan bilang jika cerita Alun tadi adalah kenyataan “Itu pak Sinan pak?”

__ADS_1


Radit mengangguk “Iya itu Sinan. Beda banget kan? Dulu sering banget saya ledekin sambil nyubit perut buncitnya. Eh sekarang udah punya kotak-kotak diperutnya”


Anya tertawa mendengarnya. Dia ingat dulu, Radit memang sering kali memanggil bocah itu bukan dengan namanya. Tapi Radit akan memanggilnya dengan ‘ndut’ dan ajaibnya bocah itu manut aja untuk mendekat meski sambil menggerutu.


Suara pesan masuk, membuat mata Anya langsung tertuju kearah ponsel Radit yang berada di phone holder. Nama Sinan lah yang tertera disana. Dengan sigap Anya menahan tangan Radit yang hendak mengambil ponsel guna membalasnya.


“Jangan main hp kalau lagi nyetir ya pak” ucap Anya. Percayalah bukan hanya takut terjadi kecelakaan, Anya lebih takut jika Radit membalas pesannya dan memberi tahu Sinan jika Anya menebeng mobil Radit padahal menolak ajakan Sinan.


Tapi seakan keburuntungannya tak berlaku saat-saat seperti ini. ponsel Radit kembali bordering, bukan pesan lagi yang masuk, melainkan panggilan masuk dengan nama Sinan.


Anya memejamkan matanya saat Radit menggeser tombol hijau.


“Halo Nan?”


“Hallo, dimana?”


“Lagi jalan ke pabrik. Kenapa?”


Anya mengatupkan mulutnya rapat agar suaranya tak terdengar hingga Sinan, bahkan jika saja dirinya sanggup untuk tidak bernapas hinggal panggilan berakhir, Anya mungkin akan memilih menahan napasnya agar keberadaannya tidak diketahu oleh Sinan.


“Oh, udah jalan. Ya udah, kalau udah ketemu pak Johar dan dapat info, tolong langsung balik lagi ke kantor ya. Nggak usah lama-lama disana”


Saat mendapat lirikan mata dari Radit, Anya langsung menganggukkan kepala agar Radit menurut saya dengan apa yang diminta oleh Sinan, jika seperti itu makan panggilan akan cepat selesai dan dirinya tak sampai ketahuan oleh Sinan.


“Nggak bisa. Gue bareng Anya. Jadi nunggu urusan dia selesai baru balik lagi, biar bareng”


Mata Anya melotot seketika saat namanya dibawa-bawa oleh Radit. Oke. Ketahuan sudah. Mari bernapas secara teratur kembali.


Anya tersenyum kecut mendengar sederet kalimat barusan. tanpa dijelasakan oleh orang lain pun, Anya tahu jika kalimat barusan adalah sindiran untuk dirinya. Dengan senyuman paksa agar tak ketahuan oleh Radit, Anya menjawab ucapan Sinan barusan.


“Iya pak”


“Tadi saya tanya katanya mau naik bis mbak. Tapi nggak apa-apa sih, kebetulan saya juga minta Pak Radit ke pabrik. Jadi bisa nebeng ya mbak”


Ini orang beneran mau main sindir-sindiran sama gue ya!. batin Anya.


“Iya pak” namun nyatanya hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Anya sekarang. Dia butuh kerjaan, dan status karyawannya ada ditangan Sinan sekarang.


“Kalau mbaknya naik kendaraan umum pas pulangnnya nggak kenapa-kenapa kan mbak? Saya butuh pak Radit di kantor soalnya”


“Lo kenapa sih Nan? Aneh banget” bukan Anya yang menjawab, melainkan Radit yang menjawab.


“Nggak apa-apa kan mbak?”


Oke. Lo nyindri, gue juga bakal nyindir balik. Gerutu Anya.


“Iya pak tidak apa-apa. Kebetulan saya pulangnya juga mau naik taxi pak, jadi langsung pulang. Lumayan bisa tidur dijalan”


Cukup lama Anya tak mendengar jawaban dari sebrang. Ucapannya barusan sepertinya membuat kena mental. Dan benar saja panggilan tiba-toba diputus oleh Sinan. Yes!!. Sorak Anya dalam hati.


***

__ADS_1


“Nelfon sama siapa sih mas?”


Sinan yang barus aja memutus panggilan karena pertanyaan mamah barusan langsung meletakkan ponselnya di meja kemudian duduk didepan mamahnya.


“Radit mah”


“Kok ada suara perempuan. Radit punya pacar?”


“Nggak tahu” Jawab Sinan acuh.


Jika dirinya dan Radit mengajak Anya berkencan secara bersamaan, sudah dipastikan jika Raditlah pemenangnya. Alih-alih cemburu karena akhirnya Radit yang satu mobil dengan Anya, Sinan lebih kearah kesal mendengar sederet sindiran Anya tadi.


Kenapa pula wanita itu percaya sekali jika ingin dijadikan supir oleh dirinya?.


“Kok nggak tahu. Kan kamu deket sama Radit” Anggi melipat tangannya didepan dada sambil menatap putranya prihatin. Jika berdasarkan penamilan Radit memang terbilang modis dan cukup tampan, tapi Sinan jauh diatas Radit. Namun anehnya putranya ini tak kunjung juga mendapatkan cewek lain setelah ditinggal nikah oleh mantan pacarnya 1 minggu yang lalu.


“Aku nggak tahu mah. Kita cuman bahas kerjaan kalau ketemu”


“Itu Radit udah punya pacar. Terus kamu kapan?”


Sinan memutar bola matanya jengah. 1 minggu ini setiap kali bertemu dengan Sinan, Anggi selalu menanyakan hal yang sama.


“Aku baru putus 1 minggu yang lalu mah. Yakali udah dapat yang baru” gerutu Sinan. Tak tahu aja mamahnya ini jika nasib putranya akan ditikung untuk kedua kalinya.


“Kamu belum move on sama yang sebelumnya?”


“Bukan belum move on mah. Ya kali habis putus bisa langsung dapat yang baru” saat melihat kedua mata mamahnya yang kini berbinar-binar, Sinan tahu ada yang tak beres sebentar lagi.


Anggi mengeluarkan 3 lembar foto lalu ia letakan di meja “Liat mas. Ini anaknya teman mamah semua. Pilih salah satu, kamu mau kencan sama siapa? Sama yang unyu-unyu?” Anggi menggeser satu foto kedepan Sinan “Atau yang dewasa?” lanjut Anggi sambil menggeser foto yang lainnya mendekati Sinan.


“Mah”


“Pilih satu”


“Harus banget?!”


“Harus”


Sinan menghela napasnya. Ia akhirnya menunjuk satu foto wanita dewasa yang sepertinya seumuran padanya.


Orang-orang mengenal Sinan sebagai anak penurut, apalagi jika dihadapkan dengan ibunya. Dan semuanya terbukti sekarang.


“Oke. Mamah siapin acara kencannya besok ya”


“Terserah” jawab Sinan sambil kembali ke meja kerjannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan Lupa Like dan komentarnya ya..


ayolah tinggalkan jejak di sini..

__ADS_1


authornya maksa 🤭


__ADS_2