Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 8 : Tamparan Keras


__ADS_3

"Nunggu dijemput ya An?"


Anya yang berdiri di pinggir jalan tak jauh dari restoran tempat mereka makan malam menoleh saat seseorang mengajaknya bicara.


Radit yang baru saja keluar dari mobil kini berjalan mendekat kearahnya.


"Mas Radit nggak pulang?" alih-alih menjawab, Anya balik melemparkan pertanyaan. Di kantor tidak ada yang tahu jika dirinya sudah bercerai kecuali Sinan, itu pun jika bosnya itu mengingat segala ucapannya malam itu.


"Ini mau pulang. Mau mas anterin nggak?"


Anya menggeleng " Ini udah pesan ojek online mas"


"Batalin aja kalau gitu. Biar mas anterin pulang"


Lagi, Anya menggelengkan kepalanya " Nggak usah mas, kasihan abangnya udah deket, sebentar lagi sampai"


"Oh ya udah, mas duluan ya"


Anya bersyukur saat Radit berpamitan dan kembali ke mobilnya. Senyum Anya mengembang guna mengiyakan lambaian tangan Radit yang kini menghilang bersamaan dengan mobil melaju.


Satu pesan kembali masuk ke ponselnya. Bukan lagi dari Ocha yang menanyakan jam berapa ia pulang melainkan satu pesan dari bosnya lah yang masuk ke ponsel.


Pak Sinan


Malam mbak. Saya temennya Sinan mbak. maaf mbak bisa minta tolong jemput Sinan tidak mbak. Dia nggak mau pulang kalau bukan orang yang punya nama Anya yang jemput. Katanya biar bisa bebas curhat sama mbak. Saya Shareloc untuk alamatnya ya mbak.


satu pesan lagi yang menunjukkan letak dimana Sinan berada membuat Anya menghela napasnya kesal. Jika saja dirinya bisa menolak, maka Anya benar-benar sangat enggan untuk datang ke tempat itu lagi.


Dari banyaknya tempat, kenapa pula bosnya selalu berada ditempat itu dan memintanya untuk menjemputnya?


"Mbak Anya ya?"


terlalu fokus dengan ponselnya hingga tak sadar ojek online yang ia pesan kini sudah berada tepat di depannya.


Anya mengangguk lalu menerima helm yang di berikan oleh sang supir.


"Pak saya nggak jadi ke alamat sebelumnya ya pak. Ini sudah saya ganti alamat baru ya pak"


Untuk sesaat sang supir mengeceknya, saat sadar dengan alamat yang Anya tuju, pria itu menatap Anya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Saya cuman mau jemput orang pak"


sang sopir menghela napasnya lega " Alhamdulillah, saya pikir mbak yang pengin ke sana, pengin seneng-seneng. Jangan ya mbak. Haram"


Anya mengangguk sambil tersenyum


" Ya udah mbak. ayo naik"


"Siap pak"


Jarak yang terbilang cukup dekat itu hanya memakan waktu sekitar 40 menit untuk sampai di alamat yang diberikan.


Setelah turun dari motor, mengembalikan helm, dan membayarnya, Anya langsung masuk ke diskotik itu dengan hati yang dongkol minta ampun. Malam ini Anya akan memberitahu Sinan jika ini adalah terakhir kalinya ia menjemput Sinan di tempat ini.


Setelah menemukan ruangan VVIP dimana Sinan berada, Anya mengetuk pintu 3 kali kemudian masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.


Lagi pula mereka juga tidak akan dengar mengingat suara alunan musik terdengar begitu memekakkan di telinga.


Begitu masuk, bau asap rokoklah yang Anya cium pertama kali.


"Gimana acara makan malamnya?Sudah selesai?"


Anya melihat Sinan berjalan mendekat, namun saat jaraknya sudah terbilang cukup untuk bicara berhadapan, Sina malah terus mendekat yang membuat Anya mundur beberapa langkah.


Semakin Sinan mendekat semakin pula bau rokok dan bau wine masuk ke indra penciuman Anya.


"Sudah pak. Bu Beti nyariin bapak"


Sekitar 5 langkah lagi mundur, Anya rasa dirinya akan menabrak tembok di belakangnya ini.


"Tolong ya pak. Ini terakhir kalinya saya di suruh jemput bapak ditempat seperti ini, lagi pula saya bukan sopir bapak, Dan juga— "


Anya terkejut bukan main saat tangannya tiba-tiba di tarik oleh Sinan. Tangan kanan pria melingkar di pinggang Anya— seolah mengunci ruang gerak Anya, sedangkan tangan kirinya kini memegang dagu Anya dan berakhir dengan menciumnya paksa.


Untuk sepersekian detik Anya terdiam saking terkejutnya, namun saat Sinan mulai ******* bibirnya Anya langsung mendorong Sinan lengkap dengan satu tamparan yang ia layangkan pada pria ini.


"Apa-apain ini?!" Anya mengelap bibirnya sendiri berusaha menghilangkan jejak Sinan disana.


Seolah memang sudah kehilangan akal sehatnya untuk kedua kalinya Sinan kembali menariknya dan menciumnya. Anya yang tenaganya jelas kalah dibanding dengan tenaga Sinan berusaha untuk melepaskan dirinya. Bukan lagi ciuman biasa yang Anya rasakan, kini Sinan ******* bibirnya dan memaksa Anya membuka mulutnya dengan mengigit bibir bawah Anya.

__ADS_1


Tak akan semudah itu menaklukannya, Anya tetap menutup bibirnya selagi terus berusaha untuk melepaskan diri dari Sinan.


Saka dan Gema yang merasa kasihan melihat Anya dicium paksa seperti itu, langsung berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mendekati mereka. Belum sepenuhnya sampai. Sinan kini menghentikan aktifitasnya dan memeluk tubuh kecil Anya erat.


"Seharusnya jangan pernah muncul lagi di depanku mbak" ucap Sinan lirih.


Merasa kekuatan Sinan sedikit melonggar, Anya langsung mendorong Sinan menjauh hingga membuat pria itu terduduk dilantai "Kalian liat apa yang dia lakukan sama gue kan? Jadi kalau kalian minta gue lagi buat antar dia pulang, kalian gila"


Anya langsung melenggang pergi keluar dari ruangan itu. Suara pintu yang dibanting membuat Sinan menjambak rambutnya frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hal yang paling Sinan sukai saat zaman SMA adalah saat diminta untuk datang ke perusahaan oleh kakeknya setelah pulang sekolah. Hanya untuk sekedar membawakan cemilan yang ia beli di supermarket terdekat, Sinan yang berbadan gempal dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya itu akan masuk ke kantor dengan senandung lagu cinta yang di putar di ponselnya. Begitu masuk, matanya langsung memindai lobi dengan harapan ia akan melihat wanita yang sudah hampir 2 tahun ini menjadi wajah baru perusahaan. Wajah kecil, hidung mancung dan senyuman yang indah milik wanita itu selalu membuat Sinan semangat datang ke sini.


1 minggu, 2 minggu, hingga 1 bulan. Sinan terus saja datang ke kantor di waktu luang hanya untuk melihat bagaimana senyuman wanita itu dibalik bidikan kamera.


Namun tepat di bulan ke 5, kegiatan mengunjungi kantor berhenti begitu saja. Sinan melihat undangan dengan nama Anya Aliska Budiman sebagai mempelai wanita membuat Sinan patah hati.


Naasnya patah hati sebelum ia berani untuk memperkenalkan diri pada Anya.


Itulah alasan kenapa Sinan bisa menghadapi wanita itu dengan tenang setelah apa yang Anya katakan malam itu.


Pertama kali Sinan melihat kembali Anya adalah dari CV yang neneknya berikan waktu itu, meski sudah menebak jika Anya akan kembali bekerja dan kini menjadi bawahannya , Sinan masih tetap terkejut melihat wanita itu lagi saat pertama kali bertemu di kantor.


Berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Sinan pikir dirinya bisa melupakan Anya begitu saja. Namun kenyataannya Anya datang di kondisinya yang tidak baik yang membuat Sinan tak akan pernah melepaskan wanita itu lagi.


Berdiri dari posisi duduknya, Sinan berjalan keluar mengejar Anya yang sudah melangkah jauh didepannya.


Dipanggil pun wanita itu tak akan dengar mengingat suara musik mengalun keras.


Setelah melewati batas pintu dan berada cukup jauh dari pintu masuk, Sinan hanya bisa terdiam begitu melihat Anya masuk kedalam taxi yang membawa wanita itu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pesan-pesan.


Ini memang sengaja aku buat begini ya, biar kalian tahu Sinan itu sebenarnya udah kenal Anya lama.


makanya kalimat Sinan kemarin kenapa kamu datang pas aku berada disaat terpuruk.

__ADS_1


ya, karena mereka ketemu pertama kali pas Sinan ngga sadar.


Semoga nggak keliatan dipaksain ya. Karena emang aku niatnya mau bikin begini.


__ADS_2