Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 7 : Badas Vs Gila


__ADS_3

“Jangan gila ya kamu!”


Suara meja yang di gebrak membuat semua mata tertuju ke arah meja yang berada dibelakangnya. Tak seperti pengunjung lain yang terkejut, Sinan yang duduk di samping meja itu hanya diam sambil menyilang kan kakinya. Saat masuk ke kafe ini dan melihat ada Anya yang duduk sambil menatap tak suka pada pria di depannya, Sinan memilih untuk berpura-pura tak melihat dan duduk di samping meja Anya.


sengaja menguping? tentu tidak. Sinan berada di kafe ini karena memiliki janji bertemu dengan Radit. Sepupunya itu memang sedikit aneh. Satu kantor namun sering kali meminta Sinan untuk bertemu diluar meski akan berujung membahas mengenai pekerjaan.


“Kamu dengarkan apa yang dikatakan hakim 1 tahun yang lalu?. Hak asuh Arum jatuh ke tangan aku. Jadi jangan ngawur sekarang. Apa yang bisa dicontoh Arum dari kamu? Selingkuh padahal punya pasangan dan punya anak di rumah?”


“Aku akan menikah"


Sinan tersenyum kecut mendengarnya. Kadang dirinya heran bagaiman bisa seseorang tertarik dengan orang lagi padahal sudah punya pasangan? jika seperti ini, manusia bahkan kalah dengan seekor angsa yang tak diberi akal oleh Tuhan.


"Terserah kamu mau nikah lagi atau nggak. Mau kumpul kebo juga terserah kamu. Nggak ada hubungannya dengan Arum"


Sedikit terkejut mendengar Anya bisa melemparkan kalimat barusan, Sinan tersenyum dibalik dirinya yang tengah menyesap kopi. Badas juga tenyata.


obrolan yang lebih kearah saling melempar ancaman terus berlanjut. Sinan hanya mendengarnya tanpa berniat untuk ikut campur. Dirinya mengenal Anya, namun tak mengenal dan tak paham dengan apa yang terjadi pada biduk rumah tangga karyawannya ini.


Saat melihat Anya bangun dan melenggang pergi menuju area anak-anak lalu keluar dari kafe, lagi Sinan tersenyum melihat bagaimana tegarnya wanita itu. Tak seperti dirinya yang malah memilih minum dengan teman-temannya itu. Pengecut emang.


Dari dinding kaca disampingnya, mata Sinan masih setia mengamati Anya di luar sana yang tengah meletakan putrinya di jok belakang mobil dalam diam. Ya. seperti yang dikatakan Anya malam itu, sepertinya takdir wanita itu jauh lebih menyedihkan.


1 menit,


3 menit,


5 menit,


10 menit.


Hingga 10 menit, mobilnya Anya masih setia terparkir di tempat yang sama meski sang pengemudi sudah masuk ke dalam mobil. Begitu melihat Radit yang memasuki kafe, Sinan langsung berdiri dan menepuk pundak Radit dua kali.


"Sorry gue ada urusan dadakan. Udah gue pesenin makanan kesukaan mas. Tinggal makan aja sama bayar" ucap Sinan.


"Lo mau kemana?"


"Ada urusan pokoknya, gue duluan mas. Dan tolong bawa balik ke kantor mobil gue ya mas. Ini kuncinya"


tanpa menunggu Radit menganggukkan kepala, Sinan terlebih dahulu keluar dari kafe dan berjalan menuju mobil Anya.


Ketahuan sama Radit? tidak akan, karena Radit tidak terlalu suka duduk di dekat kaca dan akan memilih untuk duduk di area tengah kafe.


Setelah sampai didekat mobil Anya, Sinan mengetuk kaca mobil 3 kali yang membuat kaca mobil itu turun dan menampakkan wajah Anya yang kini terlihat sedikit berbeda. Siapa saja yang melihat mata merah itu pasti paham jika sang empunya baru saja menangis.


"Pak Sinan?"


"Bisa antar saya ke kantor sebentar? ban mobil saya kempes soalnya" bohong Sinan. Akan sangat bahaya jika Anya menyetir dalam kondisi seperti ini.


"Ya?"


"Antar saya ke kantor sebentar"

__ADS_1


Sejenak Sinan mendapatkan tatapan aneh dari Anya, sebelum akhirnya wanita itu mengangguk dan mengizinkannya masuk.


"Kamus geser ke samping. Saya nggak mau mati, kasih juga itu bayi"


"Maksudnya?"


"Saya yang nyetir. Kamu duduk disebelah"


Meski masih bingung, Anya tetep bergeser duduk ke kursi sebelahnya. Namun baru juga Sinan masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi, gadis kecil yang duduk di belakang menangis kencang setelah melihatnya. Anya langsung keluar dari mobil dan berpindah duduk di kursi belakang.


Buset dah, emang muka gue serem banget apa sampai dia nangis?.


Begitu suara tangisan gadis kecil itu mereda, Sinan menoleh ke belakang guna melihat kondisi namun malah membuat gadis kecil itu kembali menangis setelah menatapnya.


"Maaf pak, bapak bisa keluar sebentar tidak pak"


"Saya keluar dulu gitu?" tanya Sinan bingung. Muka ganteng begini bisa jadi seram ternyata dimata anak-anak.


"Iya pak. Arum takut kalau liat orang baru"


Merasa bukan sang pemilik mobil, Sinan menurut lalu keluar dari mobil.


kok jadi aneh sih? niatnya kan mau bantuin gitu, kok jadi ngenes begini gara-gara nggak dapat tumpangan?


"Pak"


Sinan menoleh begitu suara Anya terdengar.


"Maaf pak, sepertinya saya tidak bisa nganterin bapak ke kantor, anak saya takut beneran kayanya. Bapak punya uang untuk naik taksi kan pak?"


Sumpah kenapa jadi malu banget begini gue?!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinan tersenyum geli begitu mengingat kejadian kemarin. Niatnya mau nolong, malah berakhir begitu memalukan.


"Kenapa lo senyam-senyum begitu?"


Sinan menoleh ke arah Radit yang kini baru masuk ke ruangannya dan duduk di sofa.


"Nggak ada. Gimana hasil rapat dengan sutradara Amin?" Sinan ikut bergabung duduk di sofa.


"Intinya mereka setuju masukin produk kita disalah satu adegan. Ceritanya panjang. Nanti mas ceritain kapan-kapan. Ini laporannya, Mas keluar dulu ya"


"Ngapain sih buru-buru bener"


"Ada Anya diluar. Mas mau ngobrol dulu sama dia. Udah lama"


Sinan ingat, dulu Radit sering cerita jika dia menyukai seseorang rekan kerjanya di kantor. Namun naasnya ditinggal nikah dan kini kembali dalam kondisi sudah bercerai. Jika Radit tahu Anya sudah bercerai, Sinan yakin Radit akan semakin semangat mendekati wanita itu.


Memberitahu jika Anya sudah bercerai ke pada sepupunya ini?. Tidak, Sinan tak ingin melakukannya.

__ADS_1


"Itu orang mau kerja, malah mau diajak ngobrol"


Radit tersenyum " Sebentar. Entah kenapa gue seseneng ini ngeliat dia balik kerja"


"Mas masih suka sama dia?"


Radit mengangguk semangat " Kayanya masih, karena mas gugup banget waktu liat dia"


"Dia udah nikah dan punya anak loh mas"


"Gue tahu, mas cuman pengin ngobrol doang sebagai temen lama. Nggak punya niatan buat ngehancurin rumah tangga orang"


Tak ada ide lagi untuk menahan agar Radit tak menemui Anya, Sinan memilih untuk diam dan membiarkan sepupunya itu keluar dari ruangannya.


Kenapa dari banyaknya hari, bulan, tahun, Anya harus muncul saat dirinya berada di titik terendah percintaan dan harus mencari pengganti mantannya segera?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kondisi di luar yang dipenuhi alunan musik itu sama sekali tak membuat Sinan angkat kaki dari tempatnya duduk. Dirinya masih duduk sambil menghisap gulungan tembakau di mulutnya. Dua orang temannya duduk disampingnya, masing-masing memegang gelas berisi alkohol yang malam ini tak di sentuh Sinan sama sekali.


Entahlah, biasanya setiap kali berkumpul, Sinan bisa menghabiskan hingga 3 botol wine, tapi malam ini dirinya tak menyentuhnya sama sekali, hanya batang rokok yang ia hisap untuk ke lima kalinya.


"Gila sih ni orang. Udah tahu tikung temennya sendiri, nggak malu update foto honeymoon"


Saka yang duduk berhadapan dengan Sinan yang bicara, pria dengan stelan kantor itu melirik sebentar ke arah Sinan lalu menunjukkan ponselnya pada Gema yang duduk disampingnya.


"Sumpah pengin gue hajar nih orang" ucap Gema ikut emosi.


Sinan tak banyak bicara, emosi terhadap mantan pacarnya dan salah satu sahabat dekatnya sudah tak bisa dihitung. Jika saja mantan pacarnya tak hamil dulu, Sinan tak akan pernah melepaskannya sama sekali.


"Lo nggak emosi apa Nan ngeliat foto mereka?" tanya Gema.


"Udah basi. Gue nggak peduli lagi. Yang penting tuh anak di dalam perut ada bapaknya"


Saka berpindah duduk di samping Sinan " Andai saja Putra nggak mau tanggung jawab. lo pasti bersedia nikahin Lili padahal tahu itu anaknya Putra?"


Tak lagi menatap kedua temannya lembut. Sinan kini menajamkan tatapannya yang membuat Saka langsung pindah posisi duduk "Bisa diem nggak sih lo pada?!"


"Oke" Saka menjawabnya sambil mengangkat kedua tangan.


Saat suara ketukan pintu terdengar, Sinan langsung meneguk segelas wine dan berdiri. Saat matanya benar-benar yakin jika memang Anyalah yang masuk. Sinan langsung bergerak maju mendekati Anya.


"Gimana acara makan malamnya? sudah selesai?"


Sinan melihat Anya menutup hidungnya karena bau dari wine yang dirinya minum barusan.


"Sudah. Dan bu Beti nyariin bapak"


"Kalau kamu nggak nyariin saya?" Sinan berjalan semakin mendekat kearah Anya, yang membuat wanita itu juga mundur berusaha memberikan jarak diantara mereka.


"Tolong ya pak. Ini terakhir kalinya saya di suruh jemput bapak ditempat seperti ini, lagi pula saya bukan sopir bapak, Dan juga— "

__ADS_1


Tak membiarkan Anya menyelesaikan kalimatnya, Sinan menarik tangan Anya mendekat dan mencium bibir wanita ini paksa.


Kenapa lo harus datang di saat gue berada di kondisi paling buruk. batin Sinan.


__ADS_2