
"Udah lahir An? Jadinya perempuan kan?"
Pandangan Anya yang sebelumnya menghadap ke arah box bayi disisi bangkar kini menoleh kearah ponsel yang tengah menunjukkan wajah bahagia milik Wine. Padahal sahabatnya ini sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit, namun sepertinya tak sabar dan memilihi untuk melakukan panggilan video.
"Perempuan" jawab Anya sambil melirik sekilas ke arah putri kecilnya.
"Mas perempuan lagi noh. Siap-siap urus berkas adopsi buat Arum" pertanyaan itu terlontar untuk Arka yang tengah fokus menyetir dengan raut wajah tak kalah bahagianya. Dari Arka, layar ponsel kini menunjukkan dua anak laki-laki tampan berusia 5 tahun yang duduk di kursi belakang.
"Abang punya adek baru lagi. Aunty minta tolong jagain nanti ya" Anya tersenyum saat melihat Arsya menganggukkan kepalanya antusias.
"Adek nya boleh Aaras bawa pulang Aunty Mamih?" ucap Aaras.
Layar kini menunjukkan wajah Wine "Tuh kan An. Udah Arum kalau nggak adiknya buat gue aja ya"
"Gak waras emang. Bang bini lo ngebet banget pengin punya anak perempuan noh"
"Alah dia mah ngomong doang. Prakteknya nggak mau. Minum obat terus" Arka menyahut dibumbui dengan satu elusan di puncak kepala Wine.
Menurut Anya, Wine bener-bener beruntung mendapat sosok suami seperti Arka. Selain stok kesabarannya yang melimpah, Arka juga sosok pria yang menyayangi keluarganya. Anya harap hal itu juga dimiliki oleh Sinan seterusnya.
"Ocha udah jalan ke sini juga?"
"Ke bandara tadi. Jemput ibu. Lo sama Sinan doang kan di rumah sakit?"
Anya mengangguk menjawab pertanyaan Wine. Baru kali ini Anya melahirkan tanpa ada sosok ibu disebelahnya. Namun Tuhan benar-benar baik karena sosok suami sehebat Sinan berada di sisinya. Menyemangati Anya dan berakhir dengan menangis tersedu-sedu sambil menciumi wajah Anya berulang kali.
"Mertua lo belum datang?"
"Sudah. Cuman lagi pulang buat bantu ambil baju buat adek"
"Nama dedek siapa aunty mamih?" tanya Aaras.
__ADS_1
"Arun bang. Jadi nanti tolong jagain Arum sama Arun ya"
Dua bocah itu mengangguk antusias.
"Gue udah sampai. Gue matiin ya"
Anya tersenyum licik "Dilarang masuk kalau nggak bawa hadiah di atas satu juga ya"
Anya tertawa saat mendengar dengusan sebal dari Wine sebelum wanita itu memutus sambungan. Berhubung dengan Wine dan Arka, yang satu dokter dan yang satunya lagi komandan TNI AU, sayang jika tak minta hadiah mahal.
"Siapa?"
Anya menoleh ke arah pintu. Suaminya dengan Arum yang berada digendong berjalan masuk ke kamar dengan satu kantong kresek berisi beberapa cemilan yang Anya pesan.
Perihal Arum. Saat hendak untuk dititipkan ke Wine tadi, gadis kecil itu menolak dan memaksa untuk ikut. Syukur Arum mau dititipkan ke salah satu perawat saat Sinan ikut masuk ke ruang persalinan.
"Wine Yang"
Arum yang masib berada di gendongan Sinan tersenyum lebar. Tangannya berusaha untuk menyentuh badan mungil Arun yang terbalut kain kini tengah terlelap. Dari bentuk wajahnya memang tak terlalu mirip dengan Arum. Arum mirip dengan Anya, sedangkan Arun lebih mirip ke arah Sinan.
Meski tak terlalu mirip. Harapan Anya adalah ke dua putrinya akan tetap akur apapun yang terjadi nanti.
"Arun kecil Mih" jawab Arum gemas.
Sinan membungkukkan badannya agar Arum bisa menyentuh badan Arun yang berada di dalam box "Cantik kan Ci? Mirip papih atau mamih?"
"Mirip Arum" setelah mengatakannya Arum tertawa renyah sambil terus menyentuh badan Arun.
"Cici udah cuci tangan belum? jangan pegang-pegang. Kulit Arun masih sensitif"
Suara Anggi membuat mereka menoleh ke arah pintu. Tak terkecuali dengan Anya yang sedikit terusik dengan kalimat ibu mertuanya itu. Bagaimana mungkin kalimat itu terlontar begitu mudah kepada gadis kecil berusia 5 tahun?.
__ADS_1
Anggi berjalan menuju toilet untuk mencuci tangannya setelahnya keluar lalu menggendong Arun. Membuat Arum yang hendak kembali menyentuh adiknya menarik diri.
"Jangan kesinggunya An.. Berhubung kulit Arun mirip banget sama kulit Sinan. Jadi sedikit khawatir kalau disentuh sebelum cuci tangan. Dulu waktu bayi Sinan kulitnya sampai ruam" lanjut Anggi.
Anya tak menjawab. Hanya melirik sinis ke arah Sinan seakan menunjukan ketidak sukaannya dengan kalimat ibu mertuanya ini. Bahkan Arum langsung takut dan meminta duduk di samping Anya.
Sinan berdehem. Ucapan mamahnya ini memang keterlaluan. "Mas sama Anya tahu maksud mamah baik. Cuman nggak enak aja didengar apalagi Arum kakaknya Arun. Cucu mamah juga. Lagi pula Arum juga megang kainnya mah"
"Maaf ya Nya. Kalau kamu kesinggung" ucap Anggi datar.
Disisi lain, Wine yang sejak tadi memang sudah berdiri diambang pintu ingin sekali menyolot tak terima namun ditahan oleh Arka. Meski percayalah, Arka juga sudah emosi tingkat tinggi jika tak ingat ini adalah tempat kerja istrinya.
"Arum. Ayo ikut ibun. Kita cuci tangan pakai sabun mahal di ruangan ibun. Abang juga cuci tangan ya. Biar bisa pegang Arun" sindir Wine sambil berjalan masuk. Ia menggendong Arum dari pangkuan Anya. "Lo baik-baik aja kan?" lanjut Wine.
Anya menganggukkan kepalanya. Kalimat sindiran Wine barusan sedikit membuatnya lega karena itu sedikit mewakili kekesalan Anya sekarang.
Bukan berarti Anya tak berani melawan ibu mertuanya itu. Hanya saja Anya tak ingin membuat hubungan mereka semakin jauh yang akan berakibat pada Arum kelak. Tapi percayalah, jika terus seperti ini, akan ada waktunya Anya meledak hingga mungkin kembali mengumpat seperti dulu.
"Selamat ya, lo hebat bisa ngelahirin normal. Bahagia terus ya An. Nggak usah pedulikan hal-hal yang bikin sakit hati" setelah mengatakannya Wine berjalan keluar dari kamar inap Anya dengan Arum yang ada di gendongan sedangkan kembar berjalan beriringan dengan ibun nya.
Anggi yang paham dengan sindiran Wine hanya mendengus sebal. Dari semua teman menantunya, Anggi paling tidak suka dengan wanita beranak kembar itu.
"Nggak sopan temen kamu itu. Dia dokter kan? Harusnya tahu dong kalau nyentuh bayi itu harus bersih dulu tangannya" cibir Anggi.
Sinan yang sudah tak sabar lagi dengan sikap mamahnya, mengambil Arun lalu diberikan pada Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu menarik mamahnya keluar dari kamar inap Anya.
Sinan perlu bicara dengan mamahnya.
...****************...
Hai ini cerita baru ku ya. Bisa cek langsung.
__ADS_1