
"Pak beneran nggak usah antar saya. Dicariin pak Sinan itu"
Radit yang seharusnya pulang sejak tadi malah memilih untuk menunggu hingga kerjaan Anya selesai. Datang ke pabrik bukan hanya untuk meminta sampel, namun Anya juga menemui pengawas produk guna untuk menanyakan lebih detai bahan-bahan yang terkandung didalamnya. Hingga sore menyingsing, Anya baru keluar dari ruang pengawas dan menemukan mobil Radit masih terparkir didepan pabrik.
"Dia mah emang rese. Udah ayo, mau jemput mamah kamu di bandara kan?"
"Pak nggak usah. Nanti saya kena marah"
"Kalau dia marah tinggal di sentil aja" jawab Radit sambil tertawa.
"Oh, siapa yang mau disentil? gue?!"
Baik Anya dan Radit, keduanya menoleh ke sumber suara. Entah datang dari mana, Sinan tiba-tiba keluar dari dalam pabrik dengan tangan yang dilipat didepan dada.
Buset. ini orang jelmaan jin kali ya?. tanya Anya dalam hati.
Bukan hanya dirinya yang kaget, Radit pun sama kagetnya yang membuat pria itu langsung keluar dari mobil.
"Ngapain lo disini?" tanya Radit.
Sinan yang ditanya kini malah mengambil posisi berdiri di samping Anya. Pria itu melirik sinis ke arah Anya sebelum akhirnya menjawab "Ketemu pak Johar. Gue lupa ngasih data yang harus dikasih ke dia sama lo"
Anya jelas tak percaya dengan ucapan Sinan barusan. Tujuan utama bosnya datang, pasti hanya untuk balik menyindirnya.
"Dan kakek manggil lo. Ditunggu di rumah sekarang" lanjut Sinan "Katanya ada yang mau dikenalin sama lo" lanjut Sinan lagi yang kini dibubuhi dengan lirikan ke arah Anya.
Ngapain ini orang lirik-lirik? jereng matanya kali ya. gerutu Anya dalam hati.
Sejak Sinan berdiri di sampingnya. Anya sudah merasa tak nyaman, terlebih saat mendapat lirikan sinis seperti ini.
"Nya. Ayo masuk. Aku antar kamu dulu pulang"
"Dia bareng gue" ucap Sinan.
Anya yang sebelumnya ingin menggeleng pelan menolak ajakan Radit, kini semakin menggeleng cepat mendengar ucapan Sinan. Dirinya jelas lebih memilih untuk naik taxi sekarang ketimbang 1 mobik dengan Sinan.
"Oh gitu. Ya udah gue cabut duluan ya. Nan Dianterin sampai rumah. Jangan di turunin tengah jalan"
Sinan mengangguk. Begitu mobil Radit menjauh Anya langsung bergeser ke kiri satu langkah sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah pak. Saya bisa naik taxi"
"Saya nggak minta kamu jadi sopir. Lagi pula susah cari taxi di kawasan pabrik seperti ini" Sinan langsung melenggang pergi masuk kedalam mobilnya. Bosnya itu bahkan sampai menekan klakson karena hanya melihat Anya yang masih berdiri ditempatnya.
Mau tak mau, Anya dengan helaan napasnya mendekati mobil Sinan kemudian masuk dan duduk di kursi dekat kemudi, di samping Sinan yang kini mulai menyalakan mesin dan membuat mobil melaju meninggalkan area pabrik.
"Dimana rumahnya?"
"Saya ada urusan pak. Nanti tolong turunkan saya di stasiun terdekat aja ya pak"
"Mau kemana? Saya antar sekalian"
Anya yang sebelumnya tengah melihat ke luar jendela menoleh seketika. Tak seperti dirinya terkejut, ekspresi Sinan kini terlihat begitu datar hingga rasanya ingin Anya cabik-cabik sekarang. Setelah apa yang terjadi kemarin malam, bagaimana bisa laki-laki ini terlihat biasa-biasa saja? Separah itukah hingga sama sekali tak mengingat apa yang telah terjadi?.
"Tidak perlu pak, saya bisa pakai kereta. Lagipula bukannya jam segini bapak biasanya ada di sebuah tempat yang bisa buat bapak bahagia sementara?" tanya Anya, rasanya dirinya benar-benar dibuat kesal karena Sinan tak kunjung mengingatnya.
"Di sebuah tempat yang buat saya senang sementara? Maksudnya?"
Anya menghela napasnya. Pandangannya kini kembali menatap keluar jendela "Kalau nggak paham. Nggak jadi dibahas"
"Oh ya sudah"
Bola mata Anya berputar malas. Tangannya kini merogoh tas selempangnya guna mengambil ponselnya yang bergetar. Satu notifikasi dari Group 'Harta Karun Negara' lah yang muncul.
__ADS_1
Anya menggelengkan kepalanya begitu melihat foto yang dikirim oleh Wine
Ocha : Aku udah bisa mata genit nih bunda
^^^
Anya : Gue yakin Wine nih yang ngajarin.^^^
Wine : Emang.
Anya menggelengkan kepalanya. Wine yang tingkah ajaibnya itu di atas rata-rata kadang membuat Anya khawatir. Setiap kali Arum pulang, putrinya itu pasti mendapat satu kosa kata baru dan jika ditanya siapa yang mengajarinya, maka Arum akan menjawab tante Wine.
^^^Anya : Itu baju anak gue jangan membleh-membleh begitu. Dibenerin apa!^^^
Wine : Sueeeexi
"Gila emang nih orang" gerutu Anya namun diakhiri dengan tawa.
"Siapa?"
Anya lupa jika dirinya kini tengah berada di mobil Sinan. Bosnya itu melirik sebentar kearah ponsel Anya kemudian pandangannya kembali menatap lurus ke depan.
"Anak saya pak" jawab Anya lalu memasukan ponselnya ke dalam tas. Kelak Anya akan menjaga Arum dari pria-pria macam bosnya itu.
"Umur berapa?"
"Umur 2 tahun setengah pak"
"Cantik"
"Ya?" tunggu, jangan bilang tadi Sinan melihat foto putrinya dengan baju seperti tadi.
"Saya pernah liat putri kamu pas di cafe"
"Nggak heran cantik. Karena mamahnya juga cantik"
"Ya?!"
Anya mengerjapkan matanya beberapa kali. Terkejut namun juga merasa aneh dengan sederet kalimat Sinan barusan. Cantik karena mamahnya juga cantik?. Gila ini orang beneran.
"Awalnya saya heran karena nenek terus memaksa agar nerima kamu. Dan setelah melihat hasil foto yang begitu cantik barusan. Saya rasa saya tahu alasannya sekarang"
Bagaikan petir yang menyambar. Anya kembali merasa bodoh karena berpikir hal yang lainnya. Anya pikir Sinan baru saja memujinya karena ingin menunjukkan ketertarikan pria ini, tapi nyatanya semua hanya sebatas pekerjaan.
Anya menjitak kepalannya sendiri pelan sebelum pandangnya kembali menatap ke luar jendela.
"Untuk perihal kemarin malam saya minta maaf"
Tak kembali menoleh ke arah Sinan. Anya hanya diam masih dalam posisi yang sama, lebih tepatnya menunggu kalimat Sinan berikutnya.
"Karena kamu tidak mau membahasnya terlebih dahulu, maka saya yang akan membahasnya. Maaf"
"Suatu hal yang sudah terjadi maka tidak perlu di bahas lagi" jawab Anya.
"Saya akan tanggung jawab semisal kamu minta saya tanggung jawab"
Dahi Anya berkerut bingung. Apa yang perlu ditanggung jawabkan. Mereka hanya berciuman dan itu pun sepihak. Sinan melakukannya dan Anya tidak membalasnya. Hal yang wajar bagi orang yang baru saja patah hati dan terpengaruh oleh alkohol.
"Maksudnya pak? Bapak nggak perlu tanggung jawab apapun. Kita nggak melakukan hal yang perlu di pertanggung jawabkan"
Saat mobil berhenti karena lampu merah, Sinan menoleh sepenuhnya ke arah Anya "Seharusnya ada yang saya pertanggung jawabkan"
__ADS_1
Pandangan Anya memicing curiga. ini bocah maunya apa sebenarnya?.
"Seperti?" Tanya Anya balik
"Jadi pacar kami contohnya"
"Hah?"
"Iya. Dan sekarang karena saya akan tanggung jawab. Jadi kemana tujuan kamu sekarang?"
"Saya mau ke bandara. Tapi saya nggak mau jadi pacar bapak" Tolak Anya.
ini emang anak zaman sekarang kalau nembak orang begini caranya ya? berpura-pura tanggung jawab tapi padahal emang dia yang mau?.
"Kalau nggak mau jadi pacar saya ya sudah. Yang penting saya sudah berniat untuk tanggung jawab"
"Ini tanggung jawab apa sih pak?! nggak ada yang perlu tanggung jawab sama hal yang terjadi kemarin. Titik"
"Oke" Jawab Sinan.
Selama perjalanan menuju bandara, tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Sinan dengan ekspresi yang tidak lagi datar melainkan kesal menatap lurus kearah jalan. Sedangkan Anya yang duduk disebelahnya masih menatap ke luar jendela.
Hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Mobil Sinan kini sudah sampai di bandara.
"Terimakasih pak" ucap Anya begitu keluar dari mobil.
Perihal tujuan dirinya ke bandara Sinan tak bertanya sama sekali setelah pembicaraan mereka tadi. Bahkan sekarang pria itu hanya mengangguk kemudian kembali melajukan mobil menjauh dari area bandara.
Lah itu orang kenapa juga?.
Kenapa jadi gue yang ngerasa bersalah sih?.
"Nyet"
Panggilan itu membuat Anya langsung menoleh horor ke sumber suara. Disana Wanita dengan wajah pucatnya itu baru saja keluar dari dalam taxi dengan senyuman tipis. Ocha berjalan mendekat sambil menunjuk ke jalan tempat mobil Sinan melaju barusan.
"Siapa tuh?" tanya Ocha begitu sampai di dekatnya.
Anya menelan ludahya gugup. Kenapa juga Ocha muncul di bandara sekarang.
"Ngapain lo disini?" Anya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Gue? mau jemput ibu. Wa aku tadi, katanya lo nggak jemput-jemput"
Oke. Pembicaraan sudah beralih ke hal lain.
"Iya. Gue dari Pabrik tadi"
"Oh, itu barusan orang pabrik? pasti pengawas ya?"
Gagal sudah. Anya memejamkan matanya sebentar " Bukan. Dia CEO yang gue bicarain sama lo waktu itu?"
"Seriusan?"
"Iya"
"Awas kalau sampai rumah lo cerita sama Wine ya"
"Tenang. Aman"
Anya mengangguk. Kasihan ibu yang sudah menunggu lama, Anya kembali jalan masuk ke bandara. Namun tinggal baru 5 langkah, tubuhnya langsung berubah arah dan berjalan cepat ke arah Ocha saat suara wanita itu terdengar.
"Halo Win. Anya pacaran sama CEO" melihat Anya yang berjalan cepat, Ocha juga berjalan mundur.
__ADS_1
"Katanya gue nggak boleh cerita sama lo pas di rumah. Makanya gue telfon lo sekarang"
"Asem! mayat hidup!!!" gerutu Anya lalu langsung merampas hp Ocha yang membuat wanita ini tertawa keras.