
"Seriusan lo?"
Sudah hampir 3 kali Anya mengangguk membenarkan ucapannya barusan tadi, namun Wine masih saja tidak percaya dan terus melayangkan pertanyaan yang sama. Ibu 2 anak itu tak percaya jika Sinan sudah berani mengajak Anya nikah padahal belum juga genap 1 bulan Anya bergabung dengan perusahaan pria itu.
"Terus, terus?"
"Apanya yang terus?!" tanya Anya balik. Arka dan Sinan sudah pulang ke rumah, tapi Wine masih saja betah di sini dengan Ocha yang kini sudah memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping Anya.
"Lo terima dia nggak?" kali ini Ocha yang bertanya.
"Menurut lo, apa gue bersedia jadi parasit bagi orang lain?"
Ocha dan Wine mengangguk bersamaan. Kampret emang ini dua orang.
" Sue. Kalo gitu gue nggak jadi cerita lah" Anya memasang wajah cemberutnya. Bicara dengan kedua sahabatnya ini, jika tak saling menjatuhkan memang rasanya tak enak.
Wine memukul paha Anya keras. Suara pukulannya bahkan lebih keras dari suara memukul meja " Ya terus lo terima dia apa nggak?"
"Sakit gila!" Anya mengusap pahanya yang baru saja dipukul Wine. Kata bang Arka, tangan Wine kecil tapi bisa menghasilkan pukulan yang amat dahsyat rasanya.
Ocha kini merubah posisinya menjadi duduk kembali "Kenapa nggak diterima aja? dengan gitu lo bisa mempertahankan hak asuh Arum"
"Itu artinya gue bersedia masuk ke lobang yang sama dalam pernikahan. Gue butuh dia karena hartanya dan dia butuh gue buat nyelesain cinta lama”
Mata Wine berbinar seketika. sejak awal bertemu dengan Sinan malam itu, Wine tahu ada yang berbeda dengan cara melihat Sinan kepada Anya “ Cinta lama?”
Anya mengangguk “Lo pada inget dulu, setiap Jumat gue sering banget pulang bawa kopi?”
Wine dan Ocha mengangguk bersamaan.
“Dia bocah gembul yang sering ngasih gue kopi”
Mata Ocha dan Wine membulat seketika. Dulu setiap hari jumat mereka sering bertemu setelah jam pulang kantor hanya untuk cuci mata melihat baju di mall. Anya seringkali membawa kopi yang membuat keduanya bertanya darimana asalnya. Wine dan Anya juga pernah sekali melihat Sinan dari kejauhan dulu.
“Bocah bulet begitu bisa berubah jadi kaya kemarin? Waw!” Wine merasa takjub sendiri.
Bukan hanya Wine dan Ocha yang merasa takjub. Anya juga merasakannya, jika saja Alun tak bercerita jika bocah laki-laki itu adalah Sinan, Anya juga tidak akan menyadari perubahan yang signifikan itu.
“Gue udah bisa nebak sih dulu kalau itu bocah suka sama lo” lanjut Wine.
__ADS_1
“Dan sekarang perasaan dia sama lo masih sama?” Ocha yang bicara. Wanita itu kembali mengambil daging di piring dan memasukannya kedalam mulut. Edisi diet gagal sudah.
“Sepertinya” jawab Anya. Sinan kemarin hanya sekedar cerita mengenai bocah laki-laki gembul yang suka pada model kosmetik dikantor kakeknya. Pria itu belum menembaknya secara resmi.
Ocha menggelengkan kepalanya guna mengusir pikiran yang ingin kembali mencomot daging. “Lah kok sepertinya?”
Melihat Ocha yang ragu-ragu untuk kembali mencomot daging. Anya berinisiatif mengambil potongan daging kemudian disuapkan kepada ocha. Wanita berwajah pucat itu menerimanya begitu saja. Tips : Jangan diet kalau lagi sama temen. “Ya mau gimana lagi. Dia suka sama gue dulu. Kalau sekarang ya mana gue tau!. Kalau dia cuman nikah cuman karena kebutuhan biologis. Gue juga ogah”
“Saling menguntungkan bukannya? lo untuk, dia juga untung” jawa Wine dengan cengiarn labar.
“Gila!”
***
Weekend yang seharusnya digunakan untuk bermain dengan Arum nyatanya mulai hari ini harus tertunda karena Anya menandatangani kontrak kerja sebagai model perusahaan. Maka mau tak mau Anya harus keluar setengah hari di hari Sabtu dan Minggu. Seperti sekarang, pemotretan akan dilaksanakan jam 13.00, namun jam 12.00 Anya masih berada di rumah karena Arum sama sekali tak mau lepas darinya.
Dibujuk dengan berbagai cara hingga Wine dan Ocha datang membawa mainan, tangan Arum malah semakin erat melingkar di leher Anya.
"Arum main sama Aaras dan Arsya dulu ya. Mamah mau kerja dulu"
Arum menggeleng, bibirnya kini semakin mengerucut yang membuat keisengan Wine meningkat berkali-kali lipat. Bukan membantu membujuk, Wine malah mengapit bibir Arum dengan jari-jarinya. Arum mengeluh beberapa kali dan akhirnya berakhir dengan tangisan menyedihkan.
Wine yang merasa puas karena berakhir dengan melihat Arum menangis kini tertawa. Wanita ini mengambil Arum dari tangan Anya dan menepuk punggung Arum— menenangkan. Hanya sebentar saja, karema Arum kini kembali minta digendong Anya saat melihat mamahnya menyambar tas di sofa.
"Arum sama ibun dulu yuk" bujuk Wine.
Arum menggeleng sambil sesenggukan.
"Lo sih bikin nangis. Jadi makin nempel kan" Gerutu Anya pada Wine. Duduk di sofa, Anya kini meletakkan Arum di pangkuannya. Dengan lembut Anya mengusap jejak air mata di pipi tembem putrinya.
"Mamah mau kerja hari ini. Mamah janji nggak bakal sampai malam, sebelum Arum tidur, mamah sudah pulang. Oke?" bujuk Anya lagi.
Belum juga mendapatkan jawaban Arum. Satu pesan dari Bibil masuk ke ponselnya.
Bibil :
you dimandose? ingat haru make up sayang.
Anya :
__ADS_1
Sebentar, 30 menit lagi gue nyampe.
Anya kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Ibu yang duduk di samping Anya ikut membantu membujuk Arum.
Namun dengan Wine dan Ocha yang sering ketemu saja Arum tidak mau, maka bujukan ibu juga tak akan ada hasilnya.
"Win. Bang Arka di rumah kan ya?"
Wine mengangguk. Matanya berbinar seakan menemukan cara ampuh untuk membujuk Arum. Tanpa berpikir lama, Wine langsung menghubungi suaminya untuk datang ke rumah Anya.
Arum meski dalam kondisi ngambek parah, biasanya akan langsung luruh begitu Arka yang membujuknya. Sosok Ayah nyatanya Arum dapatkan dari suami sahabatnya ini. Hanya dalam waktu 10 menit, Arka tiba di rumah Anya.
"Tolong bujuk Arum bang. Aku ada pemotretan sebentar lagi" mohon Anya begitu Arka tiba di rumahnya.
"Lah itu ada Wine, ada Ocha emang nggak ada yang bisa?"
"Nggak ada. Malah yang ada dibikin nangis Arum" jawab Anya sambil melirik sinis ke arah Wine.
"Cantik Ayah, ikut yuk. Ayah punya mainan baru di rumah"
Semua mata kini membulat seketika saat Arka mengambil alih menggendong Arum dari Anya. Dan ajaibnya gadis kecil itu langsung menurut dan memeluk Arka erat.
"Wah beneran udah pantes jadi bapak yang punya anak cewek Win" ucap Ocha.
Wine kini pura-pura tak mendengar dan memilih mengekor Anya yang berjalan keluar setelah pamit kepada Arum.
Namun begitu Anya sampai di pintu pagar. Langkahnya terhenti begitu saja saat suara klakson mobil terdengar. Tepat di depan pagar rumahnya, sebuah mobil yang jelas Anya kenali milik Sinan berjalan maju mendekati rumahnya.
Melihat Wine yang muncul dari balik pintu rumah. Anya buru-buru menutup pagar dan melambaikan tangannya pada Wine.
"Nggak usah anter gue sampai jalan. Bye. Masuk lagi gih sana" ucap Anya kemudian langsung berlari menuju mobil Sinan. Syukur mobil bosnya ini ketutup dengan tembok jadi Wine tidak bisa melihatnya.
Jika Wine tahu Sinan datang menjemput. Maka malamnya tak akan tenang.
***
ini adalah cerita yang aku ikutkan event. Isekai Kerajaan, kali aja ada yang mau mampir biar nambah pembaca 🤭
__ADS_1