Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Happy Ending Vs Sad Ending


__ADS_3

"Makasih ya, sudah mau jagain Arun"


Arum menoleh sebentar ke arah mamihnya yang kini tengah berdiri sambil bersandar di pintu kamar. Hanya sebuah anggukan yang Arum lakukan sebelum akhirnya kembali fokus dengan ponsel yang ada ditangan.


"Mamih boleh masuk kan Ci?"


Arum kembali mengangguk. Ia meletakan ponselnya di meja lalu menfokuskan dirinya menatap sang mamih yang kini meletakan potongan buah apel di meja kemudian duduk di pinggir ranjang.


"Arun cerita. Katanya seneng banget disuapin Cici tadi"


Tak ada senyuman. Arum hanya menatap datar ke arah mamihnya "Tangannya lecet. Katanya perih habis diobatin"


"Oh" Anya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Saat Arun cerita tadi, hatinya berbunga-bunga karena setidaknya putri sulungnya ini tak sedingin itu meski selama ini sikapnya nyaris seperti patung di rumah. Sejak memasuki masa SMP hingga sekarang, Arum nyaris tak bicara di rumah jika tak menyangkut hal-hal yang penting. Tak pernah bercerita apapun mengenai hari-harinya di sekolah jika Anya atau Sinan yang berinisiatif untuk tanya terlebih dahulu. "Mamih seneng dengernya. Besok-besok dan seterusnya mamih harap—"


"Jangan meminta sesuatu pada Cici yang nggak bisa Cici kabulin Mih" potong Arum cepat. Meski tahu ini bukanlah hal yang sopan karena memotong ucapan orang tua. Arum hanya tak ingin jika kedua orang tuanya berharap dirinya akan menjaga Arun. Arum benar-benar tak ingin mendengarnya.


Anya menghela napasnya. Ia mengambil garpu kemudian menusuknya ke potongan apel. Memberikannya kepada Arum "Meski mamih tahu Cici nggak suka kalau mamih berharap banyak kepada Cici untuk Arun. Tapi mamih masih akan meminta hal itu"


Arum meletakan garpu berisi apel itu kembali ke atas piring "Cici nggak bisa mih"


"Kalau mamih atau papih meninggal. Arun sama siapa kalau bukan sama kamu"


"Bisa sama uti. Dan aku bisa hidup mandiri" jawab Arum.


Anya hanya menghela napasnya dalam. Ini hari ulang tahun Arum, Anya tak ingin mengacaukannya. Maka dari itu, daripada memperpanjang pembahasan. Anya berdiri kemudian meraih tangan putrinya "Ayok turun. Mamih masakin makanan kesukaan kamu. Ada surprise juga dari papih." Anya menarik tangan putrinya untuk turun  dan berjalan menuju halaman belakang yang kini sudah disulap dengan hiasan lampu-lampu berwarna warni.


Ocha dan Wine awalnya memaksa untuk bergabung. Namun Anya menolaknya karena ingin rasanya ia berkumpul dengan keluarga intinya saja sambil bercanda ria.


"Selamat ulang tahun putri papih"


Arum balik memeluk papihnya. Tatapan sinis ia tuju kepada Arun yang malah menyengir lebar. Percayalah, Arun tak benar-benar terkilir kakinya, itu hanyalah akal-akalan Arun agar dirinya menggendongnya tadi.


"Doa papih yang terbaik buat kamu " Sinan mencium dahi putrinya dalam.


"Cici" panggilan itu bersamaan dengan tubuh kecil Arun yang berlari ke arahnya. Adiknya ini memeluk pinggangnya erat sebelum akhirnya menarik cicitnya agar segera duduk di kursi. Diatas meja ada sebuah kue ulang tahun dengan angka 16 yang terlihat begitu cantik.


Perihal Arun yang berbohong kepadanya tentang kakinya yang terkilir. Arum tak mengatakannya kepada kedua orang tuanya setelah mendapat ceramah panjang kali lebar dari Arsya. Kurang lebih kalimatnya seperti ini.


"Kalau aku jadi Arun. Aku juga bakal pura-pura kekilir karena kita semua tahu kamu bakal tetap ninggalin kita kalau kita cuman berdarah di lutut. Sadar Ar. Sikap kamu itu terlalu dingin. Kali aja selama kamu hidup cuma aku yang bakal tetep suka sama kamu padahal udah ditolak terus-terusan sama sikap kutub kamu"


Mengingat itu, rasanya Arum menyesal tak menyumpal mulut cowok itu dengan sepatu.

__ADS_1


"Cici, cici. Ayok tiup lilinnya. Arun mau ikut tiup" ucap Arun semangat.


Sinan mematik api hingga membuat sumbu atasnya mulai menyala. Arun bersorak gembira sedangkan Arum hanya kembali memasang wajah tak sukanya.


"Jangan ikut tiup. Cici nggak suka" tolak Arum.


Arun memanyunkan bibirnya tak terima "Tapikan kalau Arun ulang tahun, Cici boleh tiup juga"


"Boleh menurut kamu. Tapi aku nggak pernah ikut tiup lilin saat kamu ulang tahun"


"Ci.. Ayok berbagi. Bareng-bareng biar akur" Anya berusaha untuk melerai keduanya.


Dengan ekspresi sarat akan ketidaksukaan. Arum meniup lilinnya begitu juga dengan Arun yang ikut mencium lilin. Bocah itu bersorak gembira saat berhasil meniupnya.


"Ini kado papih buat kamu" Sinan memberikan satu kotak kecil yang dibungkus dengan pita manis diatasnya kepada Arum.


Melihat kado itu. Mata Arum berbinar seketika. Akhirnya ada satu benda juga yang ia miliki sendiri didalam rumah ini. "Apa ini pih?"


"Kamu boleh buka sekarang, sayang" jawab Sinan dengan senyuman lebarnya.


"Kalau dari mamih. Spesial. Kamu dapat satu vocher isinya 1 benda yang paling kamu inginkan. Nanti mamih beliin" kali ini Anya yang bicara. Menyerahkan satu vocher karya sendiri yang langsung diterima oleh Arum dengan senyuman mengembang.


Arum membuka kotak kecil yang diberikan oleh Sinan. Satu kalung dengan bandul inisial namanya yang Arum liat begitu membukanya. Cantik, benar-benar cantik, terlebih huruf inisial itu dipenuhi oleh batu-batu safir berbentuk bulatan kecil.


Tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Arum tersenyum sangat lebar. Rasanya benar-benar bahagia karena memiliki benda yang dikhususkan untuk dirinya saja.


"Aku juga punya Ci. Kita samaan"


Bagai tersambar petir. Rasa bahagia itu menguap seketika begitu Arun menunjukkan kalung yang melingkar dileher gadis kecil itu. Sangat mirip, hanya inisialnya saja yang berbeda.


"Kapan kamu dapat ini?" tanya Arum dingin.


"Kemarin. Arun ikut pas papih pesan di tante Leta"


Menutup kembali kotak kecil itu. Arum mengembalikannya pada papih yang membuat pria dua anak itu mengerutkan dahinya bingung.


"Kenapa Ci?" tanya Sinan bingung.


"Cici nggak mau" jawab Arum.


"Loh kok nggak mau. Cici jelas keliatan suka sama kalungnya kan?" Anya dan Sinan saling melirik tak mengerti.

__ADS_1


Dengan mata yang memerah karena menahan air mata dan amarah. Arum menatap kedua orang tuanya bergantian. Sedangkan yang ditatap terkejut melihat Wajah putrinya.


"Ci.." ucap Anya pelan.


"Apa cici emang nggak berhak untuk punya barang pribadi di rumah ini. Kenapa apa yang Cici punya Arun juga harus punya?!!" Arum mengusap air matanya yang mulai meluncur. Kedatangan Arun di sekolah tadi sudah membuat dadanya sesak dan kini hadiah yang seharusnya hanya dirinya saja yang memilikinya tapi malah Arun juga punya. Membuat Arum tak bisa lagi menahan tangisannya.


"Ci. Kalian saudara. Mamih dan papih hanya ingin berlaku adil. Saat mamih atau papih kasih hadiah ke Arun. Kita juga ngasih hadiah yang sama buat kamu kan?"


"Iya. Tapi kalau Arun dapat hadiah dari Uti. Apa Cici juga dapat??!!" tanya Arum.


"Ci" Sinan menggenggam tangan Arum erat " Cici dapat juga kan? Semuanya dapat"


Arum menganggukkan kepalanya. Air matanya masih meluncur membuat Anya dan Sinan merasa dihukum seketika. "Ya. Cici dapat. Tapi itu dari papih"


Sinan mematung seketika. Ada kalanya Anggi lupa membelikan Arum hadiah juga saat dia membelikan hadiah untuk Arun. Cara untuk mengakalinya, Sinan akan membeli barang yang sama. Tak mengira jika hal itu disadari oleh Arum.


"Cici nggak masalah hal itu. Tapi Cici juga ingin punya barang yang tidak Arun punya. Meski 1 hari saja. Tidak satu jam saja. Arum pengin punya barang yang hanya Arum aja yang punya. Tapi apa? Kalung ini bahkan Arun udah punya 1 hari sebelum cici punya!" pekik Arum.


Rasa sesak menyelimuti dada Anya seketika. Pandangan Arum kini tertuju kepada mamihnya.


"Arun juga punya ini kan mih?" tanpa menunggu jawaban, Arum kembali mengembalikannya kepada Mamihnya "Cici nggak butuh"


"Cici marah ya?" Arun yang sejak tadi ketakutan melihat cicinya marah-marah akhirnya memberanikan diri untuk bicara. Ia melepaskan kalungnya kemudian menyerahkannya kepada Arum. "Ini buat Cici aja. Arun nggak apa-apa nggak punya. Ini buat Cici. Tapi Cici jangan marah"


"Nggak perlu. Buat kamu aja semuanya" setelah mengatakan hal itu. Arum langsung berjalan masuk kedalam rumah. Meninggalkan kedua orang tuanya yang hatinya kini terasa begitu kacau.


Apa yang Anya takutkan selama ini. Benar-benar terjadi.


...****************...


waw beneran tamat ini cerita ya teman-teman. Silahkan tebak sendiri ini termasuk Sad Ending atau Happy Ending.


karena Happy Ending untuk hubungan Anya dan Sinan. Tapi Sad Ending untuk kondisi Arum—anak mereka.


Aku mau bilang banyak Terima Kasih buat kalian yang sudah mendukung cerita ini dari awal. Terimakasih untuk hadiahnya, Votenya, Like nya dan Bintang untuk ulasannya.


Kasih pesan dan kesan kalian untuk cerita ini di kolom komentar ya..


pokonya cinta semuanya dari aku..


Cerita baru aku akan tetap di up yang dibawah ini ya

__ADS_1



__ADS_2