
Sejak pertama kali diajak untuk kembali ke kantor, Anya tahu akan ada banyak masalah yang datang dari para rekan kerjanya. Terlebih para karyawan-karyawan dulu yang sudah mengenal Anya sebagai karyawan yang amat disayangi oleh bu Beti, bahkan dulu juga sempat ada gosip jika Anya memang sengaja mendekati bu Beti hanya untuk menjilatnya saja.
Dulu Anya tak memperdulikan hal itu, dirinya tetap masuk ke kantor dan melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Namun sekarang rasanya jauh berbeda. Apalagi jika ingatan tentang apa yang terjadi semalam membuat Anya ingin sekali menghilang dari kantor ini sekarang.
Satu pesan masuk kedalam ponsel yang ia pegang.
Danu:
Minggu depan, gue bakal ngajuin gugatan untuk hak asuh.
“Ini nih, yang pengin banget gue tonjok” Anya kembali memasukkan ponselnya kedalam tas lalu berjalan masuk kedalam kantor. Demi tak kehilangan hak asuh, setidaknya dirinya harus memiliki pekerjaan tetap.
“Ya ampun ini ekke ngga salah liat Anya?!”
Baru saja melewati pintu gedung, Anya langsung ditubruk oleh tubuh kurus yang memeluknya erat. Ahmad Putra Abigail, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bibil sang fotografer yang bekerjasama dengan miracle untuk memfoto produk baru langsung memeluknya erat. Sungguh jika saja ini cowok gerakkannya nggak gemulai, Anya pasti sudah menendang Bibil yang memeluknya tiba-tiba ini.
“Ih, ekke kangen banget sama you”
“Oke. Tapi bisakan lo lepasin gue dulu?. Lecek nih baju gue. Mana badan lo wangi banget, gue mau muntah”
“Ih ini Anya beneran ya?”
Anya merapihkan bajunya begitu Bibil mengurai pelukan mereka “Iye. Gue Anya. Kenape?”
”Nggak kenape-kenape. Mulut you masih pedes uy, sakit hati ekke”
Anya tertawa saat melihat Bibil memegang dadanya sendiri berpura-pura sakit hati. Dulu saat pertama kali ditawarkan menjadi model miracle, Bibil lah yang menjadi fotografernya, bukan hanya sebagai tukang foto, Bibil yang kala itu terpesona dengan kecantikan alami Anya pun memutuskan untuk merias Anya dengan tangannya sendiri.
“Gimana kabarnya Bi?”
Dengan gerakan gemulai Bibil melingkarkan tangannya di lengan Anya dan mengajaknya berjalan menuju tempat pemotretan yang berada di lantai 3. “Ekke baik. nambah baik lagi pas liat you disini. You disini mau jadi model ekke lagikan ya?”
“Nggak”
“Kenapa? You tahu, gaya you pas foto itu banyak dan nggak pernah bosenin. Mana muka you gelis pisan”
Bibil membuka pintu tangga darurat dan menarik Anya untuk naik tangga bersamanya. Percayalah meski gemulai dengan tubuh kurus, tenaga Bibil bahkan sepertinya lebih kuat dari pak Muis— guru matematika zaman SMA dulu. Dengan alasan jika lantai 3 itu dekat, dia selalu memilih untuk naik tangga dan sialnya kini mengajak Anya bersama. Betis gue bisa gede lama-lama ini.
__ADS_1
“Ini naik tangga? Naik lift aja yuk?!” Anya memegang knop pintu erat menolak ajakan Bibil.
Dengan gerakan gemulai namun cukup kuat, Bibil menarik Anya dan membuat tangan wanita ini terlepas dari knop pintu “Ih you ini. sehat. Lantai 3 deket”
“Gue lantai 5”
“Liat studio ekke dulu yuk. Banyak yang berubah”
“Gue nggak tertarik”
“Ah, masa. Tenang nggak studio foto doang, gue jamin ada yang bakal menarik buat lo disana” ucap Bibil sambil kembali melingkarkan tangannya dilengan Anya.
Pasrah. Itu yang bisa Anya lakukan sekarang. Menaiki tangga dengan high heels meski hanya sekedar sampai lantai 3 jelas tetap melelahkan bagi Anya yang tak pernah olahraga sama sekali. Berat badannya masih ideal itu dikarenakan dompetnya yang tipis seperti kertas.
“Kalo nggak ada yang menarik. Gue banting satu kamera lo ya Bil” ancam Anya.
Yang diancam hanya tersenyum sambil terus menuntun Anya menaiki satu persatu anak tangga. Begitu sampai di lantai 3, Anya duduk sebentar di anak tangga guna mengatur napasnya terlebih dahulu. Sedangkan Bibil tertawa girang, pria itu membuka pintu yang menghubungkan dengan lantai 3 dan membantu Anya bangun lalu kembali menariknya masuk ke lantai 3 yang setengahnya di gunakan sebagai penyimpanan dan setengahnya lagi digunakan untuk studio foto.
Beberapa orang membungkuk memberi hormat pada Bibil begitu mereka melewati ruang penyimpanan. Saat memasuki ruangan yang dikhususkan untuk studio foto, Anya tersenyum tanpa sadar. Dulu ia sangat menyukai tempat ini, kamera, lampu studio, kain putih yang di pasang di dinding hingga softbox selalu menarik untuk dilihat. Terlebih saat kedipan lampu kamera menyala membuat semangat Anya untuk tersenyum cantik naik berkali-kali lipat.
“Ngeliat ini semua bikin gue kangen dulu, apalagi pas lo marah-marah karena gue nggak fokus waktu itu” ucap Anya menyindir pemotretan yang dilakukan 2 bulan sebelum ia mengajukan resign.
“Yey!. You ngga fokus banget sih waktu itu. Gemes ekke jadinya”
Anya tersenyum. Waktu itu kepalanya hampir pecah memikirkan mengenai pernikahan yang dilakukan dadakan.
Anya berjalan mengambil kamera yang ada di tripod kemudian kembali mendekat kearah Bibil “ Kamera baru nih kayanya”
“Iya. Mahal bingit cuy. Gaji lo 5 bulan juga kayanya nggak muat”
Senyum licik Anya muncul “ Bagus kalau begitu. Lo bilang tadi ada yang menarik kan disini? Mana? Kalau nggak ada gue banting nih kamera”
Tahu jika itu hanya ancaman Anya semata, Bibil mendekat kearah Anya dengan senyuman takut “You bercanda kan An?”
Anya menggeleng “ Nggak, gue serius”
“Ih you mah. Gue kan cuman pengin ngajak you ke sini. Jangan galak-galak cantik”
__ADS_1
“Gue mau kok kesini, tapi nggak pake naik tangga juga”
Menggoda Bibil yang gemulai dan melihat ekspresi wajah pria itu juga menjadi salah satu hiburan Anya semenjak bergabung dengan perusahaan ini dulu. Diantara semua orang kantor, sepertinya hanya pria ini yang paling dekat dengan Anya.
“Kalau dibanting dan rusak, emang bisa ganti”
Baik Anya dan Bibil menengok ke sumber suara, tak jauh dari mereka ada Sinan yang berjalan mendekat yang membuat semua staf perempuan di ruangan ini tersenyum malu-malu karena ketampanan yang Sinan miliki. Bahkan mata Bibil ikut berbinar-binar melihatnya. Namun tidak seperti Anya yang kini terdiam sambil mengamati ekspresi Sinan. Melihat wajah Sinan membuat kejadian malam tadi terulang didalam ingatannya.
Bagaimana Sinan menciumnya paksa, memeluknya dan mendapat tamparan Anya di pipi pria itu. Anya semakin mengamati ekspresi pria itu yang kini semakin dekat kearah mereka.
Kejadian Sinan yang muntah, pria itu sepertinya belum juga mengingatnya, maka dari itu ada kemungkinan jika Sinan tak mengingat kejadian kemarin malam juga.
“Noh yang menarik. Ekke bilang apa? Tertarik kan You?”
Anya langsung menoleh kearah Bibil sambil memberi tatapan maut untuk pria yang berdiri di sampingnya ini. jika tahu hal menarik yang dimaksud Bibil adalah Sinan, maka percayalah Anya pasti sudah menolak sekuat tenaga ajakan pria gemulai ini.
“Saya tanya, emang kalau dibanting dan rusak, kamu kuat buat ganti?”
Anya menoleh kearah Sinan. Pria itu kini sudah berdiri tetap dihadapan mereka sambil melipat tangannya didepan dada.
“Jangan bercanda dengan barang-barang yang mahal” ucap Sinan lanjut.
Dari nada bicaranya yang santai namun menohok seperti yang Alun bilang, sepertinya Sinan memang tak mengingat kejadian semalam sedikitpun. Maka dari itu tingkat mengenaskan Anya naik satu tangga. Dirinya yang rugi karena kena muntah, dirinya yang rugi karena di cium, dirinya yang rugi karena dipeluk, dan dirinya pula yang rugi karena hanya ia yang mengingatnya seorang diri.
Anya memberikan kamera yang ada ditangannya kepada Bibil. “Gue cabut” bisik Anya.
“Ih jangan dulu. Mumpung you ada disini. Kasih masukan sebentar sama tuh artis biar gayanya nggak kaku” Bisik Bibil sambil menunjuk area foto yang kini tengah digunakan seorang aktris muda yang tengah naik daun.
“Gue harus balik kerja”
“Bantu aja dulu. Bantu kasih masukan agar gambarnya lebih bagus juga termasuk kerja” bukan Bibil yang menjawab, melainkan Sinan yang menjawabnya.
Fix. Seratus persen Anya yakin jika Sinan memang tak mengingat kejadian semalam. Alkohol membuat ia tak mengingat apapun yang terjadi saat tak sadarkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketipu kamu Anya. Sinan padahal sadar loh pas itu.
__ADS_1