Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Terungkapnya Perjanjian


__ADS_3

"Kamu tuh mau bawa mamah kemana sih mas?!!"


Sinan tak menjawab. Tangannya masih menarik sang mamah agar menjauh dari kamar inap Anya. Sinan bahkan tak peduli dengan pekikan sang mamah yang memintanya untuk melepaskan cengkraman tangannya. Selain menjadi anak yang baik, dirinya harus menjadi suami dan ayah yang baik. Ijab qobul yang sakral itu sudah diucapkan, Sinan terikat janji dengan seorang ayah dan Tuhan sekaligus.


"Mamah harus jagain Arun mas. Dia cucu mamah. Mamah harus jagain dia. Gimana kalau temen-temen Anya pegang-pegang sebelum cuci tangan?!"


Saat sudah dirasa jauh dari kamar Anya dan juga jauh dari keramaian, Sinan berhenti melangkah. "Dia istri aku mah. Bukan orang lain yang terus-terusan mamih panggil dengan menyebut namanya!!" pekik Sinan. Menahan diri untuk menaikan nada bicaranya benar-benar sulit untuk sekarang.


"Kamu tahu mas. Setelah kamu menikah sama dia. Kamu kaya nggak ngehormatin mamah. Kamu sering bicara dengan nada tinggi sama mamah"


Sinan menghembuskan napasnya perlahan. Berusaha untuk menenangkan diri agar emosinya tak semakin naik. Membawa sang mamah duduk di kursi, Sinan berlutut didepan mamahnya sekarang "Jangan buat aku jadi anak durhaka dan suami tak berguna sekaligus mah. Mas nggak tahu harus bertindak bagaimana" pinta Sinan. Kepalanya benar-benar hampir pecah rasanya.


"Bukan sama mamah kamu seharusnya kamu ngomong begini. Tapi sama wanita itu. Dia yang—"


"Dia istri Sinan mah. Anak mamah juag" potong Sinan dengan suara yang  kembali rendah seperti biasanya. Kepala yang sebelumnya menunduk, kini mendongak menatap kedua mata mamahnya yang menatapnya tak suka "Arun anak Sinan. Begitupula dengan Arum, dia anak Sinan. Cucu mamah ada dua sekarang"


"Mamah tahu. Nggak usah dikasih tahu ulang dan terus-terusan. Telinga mamah sakit kamu bahas itu terus"


"Dan hati Anya sama hati mas sakit kalau mamah membandingkan mereka. Kalau mamah membuat tembok sekat untuk Arum di keluarga ini"


Anggi melepaskan genggaman tangan Sinan "Mamah nggak ngerti apa maksud kamu. Jadi sebelum Arun kenapa-kenapa, mamah mau balik ke kamar!"


Sekuat tenaga Sinan menahan mamahnya agar tetap duduk. Melihat raut wajah sedih Anya dan Arum, membuat hatinya merasa teriris setiap kali melihatnya "Mamah sudah janji sama Sinan"


"Lepasin mas!. Dengan kamu yang menarik mamah keluar, kamu sudah bikin mamah malu dengan pria seragam tadi!. Lepasin mas!!"


"Mamah sudah janji sama Sinan!!" pekik Sinan lagi.


Anggi terdiam seketika saat mendengar pekikan putranya barusan. Mada suaranya bahkan jauh lebih tinggi dari pada sebelumnya. Dan tatapan dengan mata memerah itu, seketika membuat Anggi merasa jika yang berada didepannya ini bukanlah Sinan—putranya yang lembut—melainkan sosok lain.


"Mamah lupa dengan perjanjian kita? Sinan sudah menuruti dan menepati semua janji Sinan sama mamah. Tapi sudah 2 tahun berlalu, mamah belum menepati janji mamah satu pun"

__ADS_1


Plak.


Satu tamparan melayang tetap di pipi Sinan. Saking kerasanya membuat Sinan sampai terduduk dilantai. "Kamu gila menuntut itu sama mamah mas?. Bukankah mamah setuju kamu nikah sama Anya itu sudah lebih dari cukup?! Jadi jangan paksa mamah untuk menerima Ar—"


"Kita pulang!!"


Sinan dan Anggi sama-sama terkejut saat ayah tiba-tiba datang dan menyeret memaksa mamahnya untuk pulang. Lebih mengejutkan lagi, karena bukan hanya ayahnya yang ada di sini. Melainkan Ocha dan ibu mertuanya juga berada tak jauh dari mereka.


"Ayah bawa pulang mamah mu. Jelasin semuanya sama mertua kamu. Bilang nanti ayah akan datang untuk meminta maaf secara langsung"


Sinan buru-buru berdiri saat ayahnya sudah pergi dengan mamah yang ikut dibawa serta. Sekarang hanya tinggal dirinya, Ocha dan ibu mertuanya yang masih berdiri dengan jarak yang tak terlalu jauh. 2 tahun. Dan akhirnya semuanya terbongkar sudah.


Sinan diam saat ibu mertuanya menyentuh pipi yang baru saja ditampar dan mengusapnya pelan.


"Cari es batu untuk mencegah memar di pipi kamu. Jika kamu rasa sudah tidak membekas, kamu baru boleh datang ke istri kamu"


Sinan kini tinggal sendiri. Setelah mengucapkan hal itu, ibu mertuanya dan Ocha langsung pergi menuju kamar rawat Anya. Meninggalkan dirinya dengan sejuta rasa bersalah yang menyesakkan dadanya.


**


Anya tersenyum sambil mencium tangan ibunya. "Nggak apa-apa bu. Ada mas Sinan yang ikut masuk ke ruang persalinan"


"Kamu sehat?"


Anya mengangguk.


"Anak kamu sehat juga?"


Anya kembali mengangguk.


Arka yang sedari tadi menggendong Arun, kini menyerahkannya kepada ibu Anya. Membiarkan ibu menatap wajah cucu keduanya dengan raut wajah bahagia.

__ADS_1


"Maaf ya bu. Mas Sinan barusan keluar bu" ucap Anya.


Ibu hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar ini. "Arum manah?"


"Di ajak Wine cuci tangan tadi bu" bukan Anya yang menjawab, melainkan Arka.


Merasa jika ibu kini tengah mengagumi cucu barunya, Anya mencolek pinggang Ocha yang kini duduk disampingnya. Menggoda wanita ini dengan kedipan mata "Nggak pengin Cha?"


Yang dicolek kini balik menatap dengan tatapan datar. Paham betul maksud Anya sekarang, namun Ocha lebih memilih untuk pura-pura tak tahu "Apa?"


Wine yang baru saja masuk dan membuat ketiga bocah itu langsung menyerbu ibu yang menggendong Arun. Ikut duduk di samping Ocha.


"Anak. Enak loh Cha ada temennya kita" jawab Anya.


"Enak Cha. Bukan cuman ada temennya aja. Waktu proses bikin anaknya juga enak" jangan ditanya siapa yang baru bicara barusan. Jelas Wine seorang yang cita-citanya mengambil hak adopsi salah satu anak Anya.


"Lo pada tuh, bikin otak gue tercemar" kesal Ocha.


"Tercemar sedikit setelah tunangan mah nggak masalah" ucap Wine.


Ocha mendelik kearah Wine yang kini malah tertawa.


Anya merubah posisinya menjadi duduk "Tercemar apa nya?"


Wine tersenyum "Pikir aja sendiri. Bisa mata, bisa telinga atau bisa bagian yang lain"


"Ekhmm. Banyak anak-anak disini. Nggak pantas obrolan kalian" Arka yang ternyata mendengar semua pembicaraan 3 wanita ini, menggelengkan kepalanya.


***


__ADS_1


__ADS_2