Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 25 : Modus


__ADS_3

Suara lonceng pintu yang berbunyi diikuti dengan langkah Sinan yang berjalan memasuki restoran, dua manusia yang sejak tadi duduk depan meja bar bertepuk tangan heboh sambil bersiul menggoda Sinan. Tak jauh dari mereka ada seorang wanita berpakaian kantoran duduk sambil menggambar pada notepad yang ada di atas meja, Dia Letta— istri Gema.


Sejak pagi tadi saat diajak nongkrong di restoran Saka, Sinan tahu jika dirinya akan menjadi bahan ejekan kedua sahabatnya ini. Dan benar saja, bersamaan dengan pantatnya yang menyentuh kursi, sebuah rekaman CCTV tengah di putar di layar proyektor yang ada di depan mereka. Rekaman tentang teriakan Sinan yang mengajak wanita menikah.


"Mantap bener lo Nan!" Gema memukul meja dengan tawa girangnya.


Saat rekaman kini menunjukkan adegan di dalam ruangan, Sinan langsung mematikan infokus dan memukul kepala Saka keras. Gila emang ini orang.


Yang dipukul malah tertawa keras " Hahaha, gue udah ngeliat tadi. Keren gila emang itu mbak-mbak ya"


"Yah gue belum liat nih" omel Gema.


Mata Sinan melotot kearah Gema yang hendak kembali menyalakan infokus. Masalahnya adalah setelah di goda oleh Anya, Sinan belum juga mendapatkan persetujuan wanita itu untuk diajak nikah. Jika Gema dan Saka tahu dirinya di tolak maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan dua makhluk ini.


"Jadi mana nih yang lo pilih. Perempuan yang kencan buta sama lo apa mbak Anya? Kalau lo jadi sama teman kencan buta lo, biar gue yang deketin mbak Anya" usul Saka.


Mata Sinan jelas kembali melotot kearah Saka. Jika perempuan yang kencan buta dengannya silahkan, tapi jika yang mbak Anya maka jangan berharap. Sinan sudah menunggu hampir 6 tahun lamanya, dirinya jelas tak sudi untuk melepaskan Anya kembali. Jangankan kepada Saka, kepada Radit— sepupunya sendiri pun Sinan tidak sudi.


Saka menegakkannya tubuhnya "Mau yang mana nih Nan yang lo pilih. Buru. Moso iya Gema udah nikah, lo udah mau nikah, lagi gue masih begini-begini aja"


membicarakan perninakahan, Sinan langsung melirik ke arah Letta yang sepertinya tak tarik dengan apa yang tengah mereka bahas. Wanita itu masih terus fokus menatap notepad didepannya sambil sesekali melirik kearah ponselnya sendiri. Tak seperti orang biasanya, Gema dan Letta menikah karena sebuah perjanjian. Oh bukan, menurut Saka, pria itu di jebak hingga akhirnya setuju menikahi wanita yang sangat suka bermain-main dengan batu permata yang harganya bisa ratusan juta hanya untuk satu bongkahan kecil.


"Ngapain dia?" bisik Sinan pada Gema, menanyakan perihal istri sahabatnya itu yang sejak tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Bahkan lemon tea yang ada di depan wanita itu juga tak di sentuh sama sekali.


"Mana gue tau. Gue nggak peduli sama dia" jawab Gema acuh.


Saat mata Letta tiba-tiba menatap kearah mereka, Sina dan Saka langsung berpura-pura menatap ke arah lain. Aura elegant yang di milik wanita itu awalnya membuat Sinan dan Saka takjub dan mendamba, namun semakin mengenal Letta, tatapan wanita itu layaknya peluru yang siap menembus tubuh mereka.


"Gem gue tahu lo nggak peduli, tapi gue tetep ngomong. gue cabut dulu ada urusan" ucap Letta pada Gema sambil melangkah melewati mereka.


Tak ada sahutan dari Gema, pria itu hanya menggerakkan tangannya seolah dengan gerakan itu ada kalimat 'Terserah lo'.


Sinan dan Saka tersenyum ramah saat Letta melambaikan tangan kearah mereka berdua. Letta itu cantik, elegant namun juga berbahaya.


Satu notifikasi masuk kedalam ponsel Sinan. Satu Chat dengan nama Hani dengan sederet kalimat ajakan wanita itu untuk bertemu lagi membuat Sinan tersenyum miring. Para wanita yang pernah bertemu dengannya biasanya akan kembali mengajak bertemu untuk kedua kalinya. Kecuali satu wanita yang bernama Anya, tapi itu juga yang membuat Sinan begitu tertarik pada karyawannya itu.

__ADS_1


"Gue numpang ke temu lagi sama Hani disini ya" izin Sinan pada Saka.


"Lah. Suruh pilih malah diembat semua ini orang"


Menghiraukan ucapan Saka, Sinan kini melirik jam yang melingkar di tangannya. Jika sesuai dengan kontrak kerja, harusnya mulai hari ini Anya memalukan pemotretan.


Mencari nama Bibil di daftar kontrak, Sinan langsung mengetik pesan untuk pria gemulai itu.


Sinan :


Hari ini ada pemotretan untuk produk kemarin kan Bil?


Bibil:


Woww ada apa ini? ekke kaget bos ganteng wa ekke. Iya pak bos sayang. Lagi nungguin Anya yang belum sampai.


Tanpa berpamitan sama sekali, Sinan langsung berdiri dan keluar dari restoran menghiraukan teriakan Saka yang masih meminta dirinya memilih antara Anya atau Hana.


***


Setelah menutup pagar dan memastikan Wine tak melihat mobil Sinan, Anya langsung berlari ke mobil pria itu dan masuk kedalam mobil.


“Jemput kamu”


“Karena?”


“Sudah jam 12 lebih tapi kamu belum juga nongol di lokasi pemotretan”


Anya duduk di samping Sinan dan memasang sabuk pengamannya. Dirinya kini sudah dikejar oleh waktu, tidak perlu drama-drama jaim menolak ajakan Sinan agar berangkat ke kantor bersamaan. Lagi pula, menunggu abang ojek online juga akan memakan waktu lama.


Anya melirik ke arah Sinan. Pria yang biasanya ia liat menggunakan pakaian formal dengan jas hitam dan rambut klimis kini menggunakan pakaian kasual berupa kaos hitam dan celana training, rambutnya kini juga tak ditata serapi biasanya, ada helaian rambut yang kini menutupi dahi mengkilapnya.


“Kenapa baru berangkat jam segini? Kamu tahu harus make up dulu kan? setidaknya itu membutuhkan waktu 1 jam”


Mengalihkan pandangannya ke luar jendela karena takut jika bosnya ini memergoki dirinya tengah mengamati dari atas hingga bawah “Anak saya ngambek pak”

__ADS_1


“Kalau begitu seharusnya di bujuk dari pagi dong An. Jadi kamu nggak telat begini, coba kalau saya nggak dateng. Kamu pasti akan lebih telat karena harus nungguin taxi"


"Siapa yang mau naik taxi. Mahal, Saya naik ojek online pak. Jadi cepet cuss"


"Panas-panasan dong"


Anya memutar bola matanya. Orang seperti Sinan yang memiliki mobil pribadi sejak baru lahir, pasti tak pernah naik ojek online "Ya panas lah pak. Kan motor"


"Kalau begitu lain kali telfon aja saya, jangan naik ojek online. Naik saya jemput"


Ucapan barusan yang begitu mudah keluar dari mulut Sinan sontak membuat Anya berkedip tak percaya. Anak zaman sekarang ini modusnya memang beragam.


"Tidak usah mah, terima kasih" tolak Anya halus.


"Kenapa nggak mau?"


"Ya kan saya bukan siapa-siapanya bapak. Ya buat apa saya minta jemput bapak"


"Kalau begitu ayo pacaran.Nikah saya juga siap"


Anya menghela napasnya.


"Apa agenda bapak malam ini?" tanya Anya.


Mobil Sinan yang berhenti saat lampu merah membuat pria itu kini bisa sepenuhnya menatap Anya. "Kenapa?"


"Jawab aja"


"Saya ada janji kencan buta"


Anya melirik ke arah Sinan dengan dahi berkerut sebelum akhirnya tertawa. Bagaimana mungkin ada orang yang mengajak orang lain menikah bahkan setelah membuat janji temu kencan buta?.


Dan sekarang malah mengaku begitu mudah dengan wanita yang diajak nikah?


Dakjal emang ini orang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


wkwk kasih bocoran tuh, pasangan untuk karya baru aku nanti. Soalnya Dunia Wine udah tinggal 1 bab lagi.


__ADS_2