Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Pernikahan Kita


__ADS_3

"Gugup?"


Anya tersenyum sambil menatap ibu dari pantulan cermin. Wanita yang kini menggunakan kebaya senada dengan warna gaun yang Anya gunakan berjalan masuk lalu menyentuh pundak Anya.


"Ini memang bukan pernikahan pertama kamu. Tapi ini adalah pernikahan dengan pilihan yang sesuai dengan hati kamu. Bukan paksaan atau sebagainya. Jadi tersenyum dan bahagialah An."


Anya menganggukkan kepalanya. Benar. Ini adalah pernikahan yang berlandaskan cinta bukan paksaan seperti pernikahan sebelumnya. Anya memilih Sinan dengan hatinya sendiri, percaya jika detik ini dan seterusnya Sinan akan menjadi orang pertama yang akan menjaga dirinya dan Arum.


"Arum mana bu?"


"Sama Ocha di bawah. Tidur"


Anya mengangguk. Bersamaan dengan Wine yang masuk kedalam kamar pengantin sedangkan ibu keluar, ijab qobul terdengar dari arah bawah. Wine yang sudah banjir air mata menggenggam erat tangan Anya saat suara Sinan terdengar setelah suara ayah. Ya. Mau bagaimanapun drama dibalik keretakan keluarga, Anya meminta ayahnya untuk menikahkan dirinya dengan Sinan.


Bahkan kelak saat Arum sudah besar dan ingin Danu datang ke nikahannya, Anya tak akan mempermasalahkannya sama sekali.


Tangis Wine semakin pecah saat kata 'sah' terdengar disusul dengan bacaan doa. Yang nikah siapa tapi yang baper siapa. Wine memang memiliki 1000 jurus ampuh untuk membuat orang geleng-geleng kepala.


"Lo nikah An" ucap  Wine disela tangisnya.


"Iya. Makin susah lo buat minta hak asuh Arum ya" ledek Anya. Ia balik memeluk sahabatnya ini dengan senyuman yang mengembang.


Wine dan Ocha menyaksikan secara langsung bagaimana perjalanan hidupnya. Bagiamana masa-masa terpuruknya saat Anya tahu dirinya hamil di luar nikah. Saat Anya harus kehilangan kekasihnya dan terpaksa menikahi Danu. Saat Danu berselingkuh. Saat perceraian. Dan saat hidup Anya berada di posisi bawah dalam segi ekonomi hingga harus jungkir balik mencari pekerjaan. Ocha dan Wine menjadi satu-satunya tempat untuk Anya bersandar di ibu kota ini.


Jika ditanya seberapa besar dirinya menyukai kedua sahabatnya itu?. Maka tak ada satu pun benda di dunia ini yang bisa menggambarkan sebesar dan seluas apa Anya mencintai ke dua sahabatnya. Mungkin jika dikasih pilihan menjanda seumur hidup apa kehilangan kedua sahabatnya. Anya akan memilih untuk menjada seumur hidup.


"Gue ikut pelukan boleh kan ya?"

__ADS_1


Anya mengangguk sambil melambaikan tangannya ke arah Ocha yang kini berdiri diambang pintu. Wanita yang hari ini menggunakan make up setelah dipaksa oleh Wine, berjalan mendekat dengan air mata yang mengalir. Jika Ocha bisa sampai nangis, maka suasananya pasti seharu itu.


"Ya Allah. Ini kenapa pada nangis semua sih" Anya menepuk pelan punggung keduanya.


"Gue nangis karena terharu lo nikah. Tapi kalau Ocha pasti nangis karena tinggal dia doang yang belum nikah" jawab Wine yang langsung dihadiahi satu pukulan di punggung oleh Ocha.


Anya tertawa keras. Harapannya kelak, anak-anak mereka juga akan bersahabat agat semakin erat hubungan kekeluargaan ini.


"Loh kok malah pada nangis. Ayok keluar. Mbak, suami kamu udah nunggu dibawah" ucap ibu yang menyembulkan wajahnya dari balik pintu.


**


"Cantik"  bisik Sinan begitu Anya duduk di samping pria itu.


"Iyalah cantik. Kalau nggak cantik nggak bakal jadi wajah perusahaan"


"Oh. Jadi kalau aku jelek, kamu juga nggak bakal cinta sama aku?" tanya Anya. Saat Wine dulu menikah dengan Arka dan keduanya saling berbisik di pelaminan. Anya dan Ocha nyaris muntah karena dua sejoli itu tak henti-hentinya untuk menggoda satu sama lain. Meski Hanya dengan ucapan tidak dengan tindakan, Anya merasa jika hal itu terlalu berlebihan untuk ditunjukkan kepada semua orang. Tapi kenyataannya sekarang, Anya malah melakukan hal yang sama.


Saat dirinya turun dan ikut duduk di samping Sinan. Pipi merah merona dengan wajah sarat akan kebahagiaan yang tercetak jelas di muka tampan bosnya ini membuat Anya gemas setengah mati. Wajah yang beberapa hari lalu selalu ditekuk karena kesal Anya menghindarinnya, kini bersemi bahkan nyaris senyuman itu tak hilang dari wajah Sinan.


"Oh kalau hal itu beda lagi. Kayanya aku bakal tetep cinta sama kamu" Sinan mengulum senyumnya sambil berpura-pura mencubit lengan Anya.


"Yang udah halal mah beda ya" ujar seseorang yang baru saja menaiki panggung pelaminan. Siapa lagi jika bukan Wine dengan mulut lemesnya itu. Arka yang berjalan dibelakang istrinya itu sambil menggendong Arsya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Selamat berbahagia ya An, Sinan. Saya nitip Anya dan Arum. Jangan sakiti mereka. Sekali saja saya ngeliat Arum nangis, kamu berhadapan langsung sama saya" ucap Arka sambil menepuk pundak Sinan dua kali. Pria itu juga tak lupa tersenyum lebar menandakan jika dia menyerahkan Arum seutuhnya pada Sinan.


"Enak aja. Sinan, cepet bikin Anya hamil ya" celetuk Wine.

__ADS_1


"Itu pasti mbak. Nggak usah diajarin" jawab Sinan.


Anya melirik ke arah Sinan yang kini malah balik tersenyum kepadanya. Oke. Wine punya sekutu sekarang. Sekutu sama-sama gilanya.


"Soalnya kalau Anya hamil. Mbak mau nyiapin berkas buat hak asuh Arum"


"Oh itu nggak bisa mbak. Arum anak saya sekarang!"


Anya tertawa sekarang. Batal jadi sekutu, malah jadi rival.


Arka mengusap lembut wajah Anya "Yang bahagia ya An. Abang seneng liat wajah kamu yang senyum begini. Jadi abang tinggal nunggu 1 lagi yang bakal senyum lebar dipelaminan depan abang"


Tak usah ditanya, Anya tahu jika yang dimaksud adalah Ocha yang kini tengah digelayuti oleh Aaras dipojok sana.


Anya menganggukkan kepala. Giliran Wine yang berada didepannya itu untuk memberikan ucapan selamat, ibu dua anak itu malah melewatinya saja tanpa kata sedikitpun. Jika orang yang tak kenal dengan Wine, mereka pasti berpikir jika Wine adalah mantan kekasih Sinan yang marah karena pujaan hatinya malah menikah dengan wanita lain.


"Nggak sopan. Nyelonong begitu aja. Lo nggak salaman sama gue?" tanya Anya yang membuat langkah Wine terhenti seketika.


"Kan udah di rapel dikamar tadi." jawab Wine acuh yang anehnya membuat Anya tertawa dengan kelakuan sahabatnya itu.


Keduanya kini tertawa bersama.


Sinan yang berdiri di samping Anya, mencolek lengan istrinya. "Mau jadi ipar yang baik dengan menuruti ucapan teman istrinya. Kamu lagi nggak haid kan An?" bisik Sinan.


*


Mohon dukungannya teman semua. Like dan Komen

__ADS_1


__ADS_2