Empat Serangkai

Empat Serangkai
Awal kisah


__ADS_3

Kisah Dimulai


Kisah ini bercerita tentang persahabatan 4 orang sahabat dari kecil yang selalu bersama melewati setiap tantangan dan lika-liku kehidupan saat mereka masih kecil hingga dewasa.


Reyza dan Reyzu yang akrab di panggil si kembar Rey merupakan anak yang baik, berani, tangguh dan terlahir dari keluarga petani sederhana yang ada di sebuah desa. Si kembar Rey mempunyai dua orang sahabat yaitu Deden si anak cupu yang kerap mendapatkan bully-an dari teman-temannya, Serta si cantik Claras orang yang sangat baik, suka menolong dan terlahir dari keluarga kaya tetapi orang tuanya terkenal dengan kesombongannya. Mereka berempat merupakan sahabat sejak kecil dan hampir tidak pernah terpisahkan.


~ ( X ) ~


Di suatu pagi yang dingin dengan cahaya matahari yang belum sepenuhnya terangkat, si kembar Rey dan Claras sudah berjalan bersama dengan pakaian rapi serta tas berat berisi buku yang mereka cangklong. Seperti biasa sebelum mereka berangkat sekolah mereka selalu menyempatkan diri mampir kerumah Deden untuk menjemputnya, selain jalur rumah Deden yang searah, dia juga salah satu sahabat mereka yang tidak bisa ditinggal.


Dengan suasana hati yang senang dan semangat yang membara dalam hatinya, Reyzu berteriak lantang di depan rumah Deden untuk memanggilnya, " Den !! Deden !! Ayo berangkat, jangan lama-lama. " Suara panggilan yang sangat keras itu seakan bisa menggetarkan seisi rumah. Akan tetapi hal yang sedikit mengecewakan pun terjadi, dimana suara panggilannya serasa diabaikan dari dalam rumah yang masih nampak hening dan sepi.


Tak berselang lama, dari dalam rumah terlihat bayangan seorang perempuan yang berjalan keluar dengan sedikit tergesa-gesa memenuhi suara panggilan yang bergema di dalam rumah. Sosok perempuan itu ternyata Ibu Deden dengan pakaian yang sedikit acak-acakan keluar menemui mereka bertiga, “ Deden tidak mau sekolah nak... karena takut dengan teman-temanya. " Wajah Ibu Deden sedikit memelas dengan kesedihan yang ada dalam hatinya melihat kondisi Deden yang sudah frustasi di dalam rumah.


Kata-kata kesedihan yang keluar dari seorang Ibu yang sangat menyayangi anak semata wayangnya itu, seakan bisa menusuk hati seseorang yang mendengarnya. Hal yang sama dirasakan mereka bertiga yang ingin bergegas mengetahui kondisi Deden sekarang dan ingin mengetahui lebih jelas kenapa semua ini bisa terjadi.


Ujung mulutnya sedikit bergetar dan detak jantungnya sedikit mengencang saat bertanya,


" Deden dimana bu?....kami ingin bertemu dengannya. " Satu-satunya perempuan diantara ketiga sahabatnya membuat Claras mempunyai kepekaan dan perhatian yang lebih besar dibanding ketiga teman-temannya.


Melihat perhatian yang besar dari anak-anak yang dihadapannya untuk Deden, dirinya tidak mempunyai alasan lagi untuk melarang mereka, ” Dia didalam silahkan masuk. " Dalam hatinya sangat berharap kalau merekalah yang bisa merubah kondisi Deden yang sedang dalam keterpurukan.


Setelah mendapatkan ijin dari Ibu Deden, mereka bergegas masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar Deden yang terlihat terbuka. Saat masuk kedalam kamar Deden, mereka bertiga kaget dengan kondisi Deden yang sedang tiduran menghadap tembok dengan menangis terisak-isak dan malu saat mereka mendekat dan akan mengajak dia bicara.


Langkah kakinya terhenti melihat tubuh kecil Deden yang meringkus dalam tangis di atas kasur, tangisan Deden yang terlarut dalam kesedihan itu membuat hatinya sedikit bergetar. “ Dennn kamu kenapa ? ” Reyza duduk perlahan diatas kasur Deden dengan tangan bersihnya memegang erat bahu Deden yang tidur membelakangi dirinya.


“ Kamu itu laki-laki jadi harus kuat dong, masa gitu aja nangis sihh, " Ucapan Reyzu yang membuat Reyza dan Claras memalingkan wajahnya dan sempat sejenak menghilangkan kesedihan di hati mereka berdua.


Kesedihan dalam hati Claras menjadi gusar ketika mendengar ucapan spontan yang keluar dari mulut Reyzu yang membuat tangannya menjadi gatal untuk memukulnya, “ Heeh... kamu itu, teman kamu lagi sedih kamu malah bercanda !! " Dengan kasar menarik Reyzu agar sedikit menjauh dari mereka, dia tidak mau kalau Reyzu sampai menambah masalah yang sudah terjadi karena kata-kata ngawur yang keluar dari mulutnya.


Selesai dengan urusan Reyzu, tubuh kecil dan manisnya berjalan perlahan duduk diatas kasur bersampingan dengan Reyza yang ikut terlarut dalam masalah Deden. “ Deden kamu jangan sedih masih ada kita yang setia ada buat kamu kok, untuk masalah itu kita bisa laporkan ke guru, " Ucapan Claras lirih dipenuhi dengan kesedihan mendalam yang dia rasakan, sebagai seorang teman sekaligus sahabat untuk Deden, dia mencoba sebisa mungkin membantu menyelesaikan masalah yang datang menghampiri temannya itu.


Diatas kasur dengan tubuh yang meringkuk dalam tangis, Deden dengan jelas mengetahui siapa saja orang yang berusaha menghibur dirinya pada saat ini. Akan tetapi rasa malu dalam hatinya seakan membelenggu dirinya untuk menatap dan berbicara langsung kepada teman-temannya itu.


Keheningan sempat terjadi diantara mereka, hanya suara tangis Deden yang perlahan mulai mereda lah yang menjadi pengisi kekosongan di dalam kamar yang tidak begitu luas itu. Keyakinan dalam hatinya membuat Deden perlahan mempunyai kepercayaan diri untuk berbicara langsung kepada mereka bertiga meskipun ada sedikit rasa canggung dan malu dalam hatinya.


Tubuh ringkih Deden perlahan mulai terangkat, wajah polosnya terlihat masih di hiasi dengan tetesan air mata yang perlahan mulai mengering dan dia berusaha mengusapnya. Ujung mulutnya sedikit bergetar ketika berbicara, ”Makasih ya teman-teman udah menyemangati aku, tapi untuk saat ini aku ijin sekolah dulu ya...buat nenangin diri, "


Suatu kata yang mereka bertiga tunggu akhirnya keluar juga dari mulut Deden, kata-kata singkat itu sudah bisa membuat senang ketiga hati seorang anak baik yang setia menemani seorang sahabat ketika dalam masalah. Untuk saat ini mungkin hanya sebuah motivasi yang bisa mereka berikan kepada Deden sebagai bentuk ketulusan hati mereka dalam membantu seorang sahabat yang sedari kecil menemani mereka.


" Nah gitu dong, kan kita senang liatnya, " Senyum manis Claras menghiasi wajah setiap orang yang ada di kamar itu, seorang gadis cantik yang sudah mengeluarkan pesona kecantikan di usianya yang masih sangat kecil bisa melarutkan suasana hampa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Senyum manis bungan mekar itu dibarengi dengan senyum dan tawa kecil setiap orang yang ada di dalam kamar yang tidak begitu luas.


Area Sekolah


Kemudian mereka bertiga berangkat ke sekolah dengan biasa seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa, supaya masalah ini tidak menyebar kemana-mana dan apa yang dialami Deden tidak terulang kembali. Sesampainya di sekolah mereka bertiga menemui wali kelas untuk melaporkan kejadian apa yang dialami Deden selama ini, supaya orang-orang yang mem bully Deden bisa dihukum dan diberi efek jera agar tidak mengulangi perbuatanya lagi.


Setelah melaporkannya ke guru, mereka kembali ke kelas  dengan rasa lega dan berharap masalah ini bisa cepat usai dan tidak berkepanjangan, agar si Deden bisa sekolah lagi dengan tenang dan tidak ada yang mem bully dirinya.

__ADS_1


Tak berselang lama terlihat ada dua orang murid bandel yang sedang hormat menghadap bendera di bawah terik matahari yang bisa membakar kulit. tentu saja ? kedua murid itulah yang secara terang-terangan telah membully Deden dan sebab laporan yang diberikan ketiga orang itu, akhirnya mereka bisa dihukum agar jera dan tidak mengulangi perbuatanya lagi.


Dari depan pintu kelas 6A, ada dua sosok murid kembar yang berdiri dengan tatapan tajam memandang dua murid yang tengah hormat dibawah bendera. Salah satu diantara anak kembar itu terlihat sangat emosi ketika melihat dua orang yang sedang dihukum itu, "Makan tuhh...Enakkan dihukum !! " Kata-kata pedas keluar dari mulut Reyzu, kedua tangannya gatal ingin menghajar mereka berdua sekaligus.


Orang disamping Reyzu terlihat masih tenang dengan penuh pikiran positif dalam hatinya, dia tidak mau menjadikan suatu masalah menjadi dendam yang tidak akan ada habisnya. Karena dia sangat jelas mengetahui kalau hidup itu menjadi lebih tenang dengan adanya kedamaian, “ Sudah-Sudah, itu sudah menjadi hukuman bagi mereka, " Ketenangannya nampak jelas saat dia berusaha menenangkan Reyzu yang sudah tersulut emosi.


Dari arah kantin, terlihat anak gadis cantik penuh kebahagiaan dalam hatinya berjalan ke arah si kembar Rey yang masih berdiri di tempat yang sama. Setiap langkah kaki gadis cantik itu menjadi pusat perhatian para murid yang melihatnya, bukankah itu terlalu berlebihan ? Claras yang terlahir tanpa kecacatan sedikitpun dalam dirinya, menjadikan hal itu wajar ketika melihat pesona kecantikan yang dia pancarkan. ”Jangan mikirin anak-anak itu, nanti pulang sekolah kita mampir lagi kerumah Deden ya, "


Si kembar Rey yang terlarut dalam pesona, hanya mengangguk dengan senyum lebar dari wajah mereka berdua tanpa sedikitpun kata yang keluar dari mulut mereka.


~ ( X ) ~


" Kring...Kring...Kring "


Bel pulang sekolahpun berbunyi.


Sepulang sekolah mereka bertiga datang lagi kerumah Deden sesuai rencana, sekedar untuk menanyakan keadaanya dan juga memberitahu Deden tentang anak-anak bandel yang sering membullynya.


" Den !! "


" Deden !! "


Suara lantang yang menggetarkan seisi rumah itu kembali terdengar di halaman rumah Deden yang sepi. Suara mulut dari anak keras kepala itu seakan membawa tekanan kepada siapa saja yang mendengarkannya, memang benar !! untuk masalah begituan si Reyzu selalu menjadi dalangnya.


Mendengarkan suara menggelegar dari luar rumahnya, Deden dengan jelas mengetahui siapa orang yang datang kerumahnya itu. Dengan kondisi yang jauh lebih baik dari tadi pagi, dia perlahan berjalan keluar rumah menyambut teman-temannya yang datang mengunjunginya. ” Iyaa....silahkan masuk, " Sambutan yang ramah dia tunjukkan untuk ketiga orang yang dia anggap sangat berharga untuknya itu.


“ Aduh....sudah jam dua, Kita harus cepat-cepat pulang nanti di cariin, " Tatapan mata Reyza tertuju ke arah jam dinding dengan penuh kepanikan, dia tidak menyangka kalau perbincangan yang terasa singkat itu ternyata sangat lama.


” Yaelahhh Mass...bentar lagi napa masih seru nihh, ” Reyzu yang tidak ingin cepat pulang, menahan Reyza dan berusaha mengompori Reyza agar tetap tinggal lebih lama lagi.


Reyza tidak menggubris omongan dari Reyzu, karena dengan jelas dia tahu kalau nanti dirinyalah yang akan kena imbas bila pulang sekolah terlalu lambat dari hari biasanya. “ Gak bisa...Kita pulang sekarang...Nanti aku yang dimarahin sama ibu, "


Perselisihan diantara kedua anak kembar itu, mereda ketika Claras menyela pembicaraan mereka, selain si kembar Rey yang akan kena marah, dia juga khawatir dengan keadaan dirinya yang kemungkinan akan dimarahi bila ketahuan pulang terlalu sore. " Udah mau sore...Besok pagi saat berangkat sekolah kita mampir kesini lagi, " Bergegas berdiri dengan tas yang sudah dia cangklong.


Karena ketiga temannya itu mau pulang, Deden selaku tuan rumah dengan senang hati menghantarkan kepergian mereka, " Makasih ya sudah membatu aku...Besok aku juga masuk sekolah, " Senyum ramah yang keluar dari mulutnya mengantar kepergian ketiga temannya itu.


~ ( X ) ~


Saat perjalanan pulang awalnya dalam kondisi yang baik-baik saja seperti biasa, sepanjang perjalanan mereka isi dengan senda gurau layaknya pertemanan pada umumnya.


Setelah beberapa saat Claras berpisah dengan si kembar Rey dikarenakan jalur rumah yang berbeda dan akhirnya mereka berpisah.


Si kembar Rey melanjutkan perjalanan pulang melewati area persawahan karena itu jalan alternatif tercepat  dari rumah. Saat berjalan dengan santai, tiba-tiba ada orang yang memanggil mereka dari belakang dengan suara yang lantang.


“ Woyy.....berhenti kamu !! ”


Suara lantang dari belakang mereka.

__ADS_1


Saat mereka menoleh kebelakang ternyata orang tersebut adalah murid yang dihukum guru pada saat disekolah karena mem bully Deden kita sebut saja namanya Dion dan Nino, Anak nakal dan sombong yang selalu dimanja orang tuanya karena dari keluarga kaya.


Reyzu dengan santainya menghadapi mereka yang kelihatan dari raut mukanya sedang marah dan dendam kepada mereka.


Karena kemungkinan Dion dan Nino sudah tau kalau si kembar Rey yang sudah melaporkan perbuatanya ke guru sekolah yang menyebabkan mereka malu sebab dihukum dihadapan seluruh murid sekolah.


Reyzu tanpa takut sedikitpun maju berhadapan dengan mereka berdua.


“ Mau apa kalian...mau cari masalah hah !! " Dengan tegas Reyzu berbicara.


Dion berbicara dengan nada yang tinggi karena sudah dikuasai oleh emosinya.


“ Kalian kann yang sudah laporin kita ke guru wali kelas!! ” Mengepalkan kedua tangannya.


Reyza menjawab pertanyaan Dion dengan tenang agar tidak terjadi keributan.


“ Iya memang kami yang telah melaporkanmu ke guru, sebab tindakanmu itu sudah diluar batas...” Berdiri di samping Reyzu.


Nino berniat memukul Reyza karena sudah membuat dirinya di hukum dan dipermalukan saat dikelas tadi.


“ Lantas....hubungannya dengan kalian itu apa !! ” Maju dihadapan Reyza dengan tangan yang sudah mengepal.


Reyzu mendorong Nino kebelakang agar tidak mendekati Reyza.


“ Hey...Bisa santai gak...Asal kalian tahu Deden itu teman kami dan kami gak rela kalo dia kalian bully seenaknya, "


Saat keributan hampir terjadi, tiba-tiba datang seorang petani yang mengetahui pertengkaran mereka, petani itu melerai dan memberikan nasihat supaya tidak bertengkar.


Meskipun dilerai adu mulut tetap terjadi dan tidak bisa dihindari sampai Petani tersebut menyuruh mereka untuk bubar dan pergi.


“ Awas aja kau setelah ini !! "


“Jangan kira ini sudah selesai yaa.”


Dengan mengacungkan jari tengahnya, Dion dan Nino pergi meninggalkan si kembar Rey.


“ Siapa takut huuu....”


Reyzu Mengejek mereka berdua


" Sudah-sudah, ayo kita pulang sudah sore nihh, takut dimarahin ibu, ”


“Ayo...."


Karena kondisi sudah kembali normal, mereka berdua pun melanjutkan perjalan pulang.


akhirnya akhirnya si kembar Rey bisa kembali pulang setelah semua masalah yang terjadi dengan mereka pada hari ini, meskipun ada rasa was-was dari hati Reyza tentang ancaman dari Dion dan Nino tadi.

__ADS_1


~ Next ~


__ADS_2