Empat Serangkai

Empat Serangkai
Mencuri Kursi


__ADS_3

Si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden secara bersamaan memandangi Zidane dengan penuh rasa penasaran.


Entah kenapa dan ada apa, seorang manager yang sangat berkarisma itu mendatangi mereka.


Zidane sendiri berbicara kepada si kembar Rey dengan penuh kesopanan bak seorang bawahan yang menemui tuanya, dia tidak mau membuat kesalahan yang tidak berarti karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan tuan muda keluarga Gasendra.


Zidane


" Mohon maaf atas kelancangannya telah menganggu waktu santai tuan, "


kedua tangannya bersimpuh di depan dengan sedikit menurunkan pandangannya.


Si kembar Rey semakin terheran-heran dengan apa yang dilakukan Zidane, mengingat ini pertama kalinya mereka bertemu dan belum saling mengenal.


Reyza


Berdiri dari tempat duduknya untuk menghormati lawan bicaranya.


" Maaf Mas...Maksudnya apa ya ? kan kita belum pernah bertemu, "


Menolehkan sejenak pandangannya kepada Reyzu dengan rasa penasaran.


Reyzu


Melihat Reyza yang juga kebingungan, dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Zidane untuk bertanya lebih jelas.


" Apa Mas mengenal kami ? "


Dengan sopan dia bertanya.


Zidane


Menaikkan sedikit pandangannya dan tersenyum kepada mereka berdua.


" Saya adalah manager di cafe ini, sekaligus bawahan dari tuan Akbar, orang tua kalian, "


Meletakkan tangan kanannya di dada.


Mendengar hal itu, Si kembar Rey dan teman-temannya seketika terkejut karena rasa penasaran mereka tadi telah terungkap dengan penjelasan dari Zidane.


Reyzu


Saling bertatapan dengan Reyza.


" Berarti cafe ini beneran punya kakek dong, "


Mengalihkan pandangannya kepada Zidane.


Zidane


Tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Iya benar, ini adalah cafe milik tuan Gerald,"


Reyza


" Tapi dari mana Mas bisa tahu kalau kita berdua anak dari Pak Akbar ? "


Dengan penasaran bertanya.


Zidane


" Tadi ada salah satu Barista yang memberitahu saya kalau ada beberapa remaja yang mengenal Owner cafe ini, setelah diberi ciri-cirinya saya langsung menghubungi tuan Akbar dan ternyata kalian adalah kedua putranya, "


Pandangan matanya secara bergantian melihat ke arah si kembar Rey dan teman-temannya yan sedang duduk.


Saat Zidane membicarakan tentang Barista, Deden langsung menyahut pembicaraan dan membicarakan tentang mbak Barista yang melayani mereka tadi.


Deden


Mengerutkan keningnya.


" Mungkin mbak-mbak Barista tadi ? "


Sorot matanya bergantian melihat kearah Dion, Nino dan Zidane yang ada di hadapan si kembar Rey.


Zidane yang mendengar apa yang dikatakan Deden langsung membenarkannya.


Zidane


Melihat ke arah Deden dan menganggukkan kepalanya.


" Iya, Barista yang kamu maksud yang sudah memberitahuku, "


Tersenyum kepada Deden.


Karena Zidane sudah tahu dengan identitasnya, Reyza menyuruhnya untuk duduk dan sedikit berbincang-bincang agar lebih saling mengenal dan akrab.


Reyza


" Kalau begitu kamu duduk aja disini, sambil mengobrol kan enak, "


Menarik kursinya dan meletakkannya di depan Zidane.


Zidane


Menata kursi yang diberikan oleh Reyza dan mendudukinya.


" Terimakasih tuan, "


Berterimakasih karena sudah di beri tempat duduk.

__ADS_1


Reyza


" Sama-sama, "


Menarik kursi Reyzu kemudian mendudukinya.


Reyzu pun kebingungan untuk duduk karena kursinya telah dipakai oleh Reyza.


Reyzu


Dengan kebingungan berdiri dibelakang Reyza.


" Loh..Lah aku terus duduk dimana ? "


Menggoyang-goyangkan tempat duduk Reyza dari belakang.


Zidane yang tidak mau melihat Reyzu berdiri, berinisiatif untuk memberikan kursinya.


Zidane


" Pakai kursi ini aja tuan, "


Lekas berdiri dari tempat duduknya, tetapi di tahan oleh Reyza.


Reyza


Menahan Zidane yang akan berdiri.


" Udah gak usah, biarin aja si Reyzu, "


Menoleh ke arah Reyzu yang ada di belakangnya.


Reyzu


Menoleh kiri kanan untuk mencari bangku yang kosong tetapi tidak menemukannya, biar gak ribet dia minta bantuan kepada Deden.


" Den..Pinjam bangkunya dong, "


Mendekati Deden untuk membujuknya.


Tetapi membujuk Deden juga bukan perkara yang mudah, karena sekarang Deden sudah tidak seperti yang dulu lagi.


Deden


Mengabaikan rayuan Reyzu karena tidak mau dibodohi lagi.


" Kamu cari lah, kan ada tuh bangku kosong di sana, "


Menunjukkan tempat secara random.


Nino


" Itu Bos, ada satu kursi yang gak dipake, "


Reyzu


Melihat ke tempat yang ditunjuk Nino.


" Itu tasnya masih ada di diatas meja, berarti masih ada orangnya. "


Mengerutkan keningnya.


Nino


Memberikan rencana jahat kepada Reyzu.


" Udah gpp ambil aja bos, mumpung orangnya lagi gak ada hehe, "


Sedikit bercanda dengan perkataanya.


Reyzu


Merasa apa yang dikatakan Nino ada benarnya dan dia berniat mau mengambil kursi itu.


" Dari pada gak duduk, "


Bergegas pergi sebelum yang punya tepat duduk itu kembali.


Nino dan Deden tidak menyangka kalau Reyzu beneran mau mengambil kursi yang masih ada pemiliknya itu.


Nino


" Heii Bos !! "


Berusaha menghentikan Reyzu tapi tidak di hiraukan.


Deden


Pandangannya mengikuti arah pergi Reyzu.


" Gak ada akhlak emang tuh anak, "


Menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Dion dan Nino terus melihat apa yang dilakukan Reyzu karena merasa was-was dengan apa yang dia lakukan.


Dion


Melihat Reyzu yang sudah bergegas kembali dengan membawa kursi yang di incar nya tadi.


" Beneran nekat tuh anak, "

__ADS_1


Memainkan HP nya kembali.


Nino


Menutup matanya karena takut apa yang dilakukan Reyzu ketahuan.


" Padahal aku tadi cuma bercanda, "


Meletakkan kepalanya di meja.


~ ( X ) ~


Sedangkan Reyza dan Zidane sibuk mengobrol agar bisa saling mengenal satu sama lainnya, Zidane sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan Reyzu dengan tingkah kocaknya saat mencuri kursi orang lain.


Entah kenapa Zidane malah tertawa dengan apa yang dilakukan Reyzu.


Zidane


Sambil mengobrol dengan Reyza, tetapi pandangannya tidak bisa lepas dari Reyzu.


" Tuan muda keluarga Gasendra emang gak ada akhlak hahaha, "


Menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawa.


Reyzu yang melihat Zidane tertawa langsung menoleh kebelakang dan mendapati Reyzu yang baru saja duduk di kursi yang entah dari mana dia mendapatkannya.


Reyza


Membalikkan badanya.


" Dari mana kamu dapat kursi itu ? "


Sorot matanya mengarah ke Reyzu.


Reyzu


Tanpa menunjuk dia menunjukkan tempatnya.


" Ituu !!! "


Mengangkat alisnya dengan mengarahkan sorot matanya ke tempat tadi.


Kemudian Reyza mengikuti sorot mata Reyzu yang mengarah kepada salah satu pengunjung cewek yang kebingungan mencari tempat duduknya yang tiba-tiba hilang di ambil Reyzu.


Reyza


" Njing, orang gak ada akhlak, "


Menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak menyangka.


" Aku minta maaf ya, atas tindakan Reyzu yang seperti itu, "


Meminta maaf kepada Zidane.


Zidane


Memaklumi apa yang dilakukan Reyzu, tetapi entah kenapa dia malah merasa terhibur dengan hal itu.


" Gak papa tuan, nanti aku yang akan beresin semua, "


Reyza


" Makasih "


" Oh iya...Kalau bisa jangan panggil kita dengan sebutan tuan, panggil aja mas atau nama, "


Merasa tidak pantas menyandang nama tuan untuk panggilan mereka.


Zidane menjadi tidak enak hati, mendengar apa yang dikatakan Reyza karena dia sudah terbiasa memanggil atasannya dengan tuan.


Zidane


Menurunkan pandangannya sejenak.


" Tapi saya sudah biasa memanggil atasan dengan nama seperti itu, "


Reyza


" Aku sama Reyzu itu bukan atasan kamu, memang benar kita berdua anak kandung dari Pak Akbar tetapi itu tidak akan pernah bisa merubah segalanya, kita selamanya akan tetap sama yaitu menjadi anak desa dengan penuh kesederhanaanya, "


Saat berbicara tiba-tiba Reyzu menyela pembicaraan dari belakang,


Reyzu


" Kita belum pantas menyandang kata tuan di depan nama. "


Dari belakang memegang pundak Reyza.


" Kita tidak ingin mengakui ataupun diakui, tetapi kita hanya ingin membuktikan apa yang pernah kami katakan dan impikan, "


Menggenggam erat tangan kanannya.


Reyza


Melihat keseriusan yang Reyzu katakan.


" Kami disini tidak hanya berdua, tetapi disini kami berlima dengan masa depan yang ada di tangan mereka, "


Dion, Nino dan Deden lekas berdiri dan mendekati si kembar Rey.


Zidane yang mendengar apa yang di katakan si kembar Rey menjadi terkagum karena dengan kekayaan yang dimiliki keluarga mereka, sama sekali tidak merubah pola pikir dan gaya hidup dari mereka.

__ADS_1


Zidane sangat yakin, bahwa merekalah generasi muda yang akan membuat terobosan baru untuk perkembangan bisnis keluarga dan tidak akan ada yang mampu bersaing dengan mereka nantinya.


~ Next ~


__ADS_2