Empat Serangkai

Empat Serangkai
Mengejar Mimpi


__ADS_3

Tak terasa hari demi hari dan tahun demi tahun telah berlalu.


Empat Serangkai yang dulu dikenal, sekarang tinggal 3 orang saja yakni Reyza, Reyzu dan Deden.


Sekarang mereka bertiga sudah berusia 19 tahun, dengan bertambahnya usia mereka juga telah banyak mengubah sifat dan bentuk fisik mereka bertiga.


Si kembar Rey sekarang berubah menjadi pemuda yang cerdas, tampan, dingin dan pemberani. Hal itu tak lain dan tak bukan, guna untuk mencapai ambisi mereka berdua.


Sedangkan Deden, berubah menjadi pemuda yang pemberani dan sudah tidak cupu lagi, hal ini bisa terjadi karena Deden yang selalu mengikuti jalan keberanian si kembar Rey.


Dalam 6 tahun terakhir ini mereka bertiga tidak pernah lepas dari berbagai masalah rumit yang terjadi baik waktu SMP atau SMK.


Hal itu juga yang mengubah sifat mereka secara signifikan, terutama Deden yang sudah mempunyai keberanian dalam menghadapi segala masalah yang terjadi.


~ Hari Yang Sangat Cerah ~


Mereka bertiga lagi berkumpul di tepi sungai,


Ya..Tempat yang mempunyai banyak kenangan masa kecil bagi mereka.


Sifat dan perilaku mereka boleh berubah, tetapi hobi mereka tetap sama yaitu memancing, karena hal itu bisa membawa kesenangan tersendiri bagi mereka.


Setelah kelulusan SMK kemarin, si kembar Rey berniat untuk melanjutkan kuliah di luar kota agar bisa mengejar ambisi mereka.


" Beberapa bulan lagi kami akan pergi keluar kota untuk kuliah, " Reyza berbicara dengan tangan yang masih fokus memegangi pancingnya.


Mendengar apa yang dikatakan Reyza, seketika itu membuat Deden menjadi sedih, karena nasibnya tidak seberuntung mereka berdua.


Deden sama sekali tidak mempunyai biaya untuk kuliah dan memilih untuk bekerja membantu ekonomi keluarganya.


Meskipun hal itu bisa membuat Deden menjadi sendirian karena ditinggal dua sahabatnya sejak kecil.


" Hmmm.." Wajah Deden langsung bersedih.


" Kenapa kamu...Tiba-tiba monyong gitu ? "


Tanya Reyza menepuk punggung Deden.


" Enggak papa kok, " Deden berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


" Jangan bohong kamu, mulutmu bisa bicara tapi raut mukamu gak bisa bohong, " Menatap wajah Deden.


" •••••• " Deden terdiam karena sudah gak sanggup untuk bicara.


Reyzu yang tengah tidur senderan di bawah pohon anggrung, menyahut pembicaraan mereka berdua.


" Reyza memang bilang ingin kuliah ke luar kota, tetapi dia tidak bilang kalau ingin kau tetap tinggal disini kan, " Ucap Reyzu dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan Reyzu, membuat Deden seketika bingung dengan perkataanya.


" Maksudnya ? " Dengan kebingungan menoleh ke arah Reyzu.


Saat Reyzu berkata seperti itu, seketika membuat Reyza paham akan sesuatu yang menyebabkan Deden menjadi sedih.


" Plung " Reyza melemparkan umpannya.


" Ohhh...Jadi gitu, " Menggeser-geser pancingnya untuk mencari posisi yang pas.


Deden semakin kebingungan.


" Maksud kalian itu apa sih, " Menoleh ke arah Reyza dan Reyzu secara bergantian.


Supaya Deden tidak bertambah bingung, Reyza mulai menjelaskan maksudnya secara jelas.


" Kita berdua berniat mengajak kamu juga untuk pergi keluar kota dan kuliah disana," Reyza menjelaskan maksud omongannya tadi.


" Maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian, " Timbul rasa kecewa di hati Deden.


Deden menolak ajakan si kembar Rey dikarenakan di sama sekali tidak mempunyai biaya.


" Kenapa...Itu kan buat masa depan kamu, "


Jelas Reyza.


" Sebenarnya aku mau ikut sama kalian...Tapi aku sama sekali tidak memiliki biaya untuk kuliah di sana, " Hati Deden benar-benar sedih.


" Kau itu bodoh atau gimana sih...Tinggal bilang iya aja pake ngeles segala, " Membenarkan posisi rebahan nya.


" Benar yang dikatakan Reyzu tuh...Kamu tinggal bilang iya kalau mau, " Reyza memperjelas apa yang di katakan Reyzu.


Padahal Deden tinggal bilang " Iya " untuk menyetujuinya, tetapi karena masih belum mengerti dengan kata-kata si kembar Rey, Deden masih saja ragu-ragu dengan biaya yang akan dikeluarkannya.


" Tapi biayanya gimana ? " Masih mempersalahkan tentang biaya.


Lama-lama Reyza juga jengkel kepada Deden, karena masih tidak mengerti dengan apa yang disampaikannya.


" Bodoh banget kamu !! "


" Plak..." Memukul kepala Deden supaya bisa lebih encer untuk berfikir.


" Aduh...Aduh..." Mengusap-usap bagian kepala yang di pukul.


" Kamu di ajak bicara susah banget...Masalah biaya kan kita yang ngatur...Kamu tinggal bilang ' Iya ' ribet banget, " Mempertegas omongannya.


Setelah mendengar penjelasan Reyza, akhirnya dia mulai mengerti tentang maksud dari pembicaraannya tersebut.

__ADS_1


Tetapi Deden tidak begitu saja mengiyakan ajakan si kembar Rey, dia masih ragu-ragu tentang apa yang dikatakan si kembar Rey kepadanya, mengingat biaya untuk kuliah itu sangat mahal.


" Tapi....Biaya kuliah itu kan mahal, " Keraguan dalam hati Deden.


" Apa yang aku katakan tadi kurang jelas...Apa perlu aku ulangi biar kamu paham, " Reyza masih melihat keraguan di hati Deden.


" Enggak gitu, Tapi...."


Saat Deden belum selesai bicara, tiba-tiba Reyzu duduk diantara Reyza dan Deden,


Reyzu memegang kepala Deden dengan kedua tangannya dan mendekatkan telinga Deden ke mulutnya.


" Kita yang biayai...Kamu tinggal ikut saja...Pahammm !! " Berbicara tepat ditelinga Deden dengan nada yang sedikit tinggi.


" Segawon emang kau..." Mengorek-ngorek telinganya dengan jari karena suara Reyzu membuat gendang telinganya menjadi sakit.


" Kalau gak gitu...Kau gak akan kedengeran dan akan paham, " Jelas Reyzu.


" Kalian dapat uang sebanyak itu dari mana emangnya ? " Deden kembali bertanya.


" Gak usah kebanyakan nanya, nanti juga kamu akan tahu sendiri, " Merebut pancing yang di pegang Deden.


" hmmmm " Berfikir beberapa saat.


" Iya deh...Aku ngikut kalian aja, " Deden akhirnya bisa memutuskan pilihannya.


Reyza menjelaskan maksud dari dirinya yang sangat mengharapkan Deden ikut pergi bersama mereka berdua keluar kota.


" Aku mengajakmu untuk pergi bersama kami karena kamu adalah satu-satunya sahabat kami yang masih tersisa untuk saat ini, " Reyza jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.


" Makasih untuk kalian...Aku janji akan selalu menjadi teman kalian dan tidak pernah melupakan kebaikan kalian, " Ucap Deden dari lubuk hatinya yang terdalam.


" 6 tahun lalu Claras pergi meninggalkan kita dan hingga sekarang dia belum kembali...Entah bagaimana keadaanya sekarang, " Reyza kembali mengingat masa-masa kebersamaan mereka dulu.


" Mungkin Claras sudah lupa dengan kita, " Ucap Deden.


" Mau dia lupa atau tidak dengan kita...Intinya kita pernah mengukir masa lalu bersama-sama dan dia masih menjadi teman baik kita, " Ujar Reyza yang masih menghargai pertemanan mereka.


Reyzu tiba-tiba berdiri dengan semangat memberi motivasi ke pada mereka berdua.


" Sekarang tujuan kita cuma satu...Kita buktikan kepada orang-orang yang pernah menghina kita, kalau sekarang adalah masa kejayaan untuk anak-anak dari petani miskin yang selalu mereka hina, " Berkobarnya semangat dari dalam diri Reyzu.


Masa depan mereka berdua masih panjang dan masih banyak kesempatan di masa depan yang bisa mengubah takdir mereka bertiga.


" Semangat demi masa depan, "


" Kita buktikan kalau kita bisa, "

__ADS_1


Mereka bertiga berdiri sejajar dengan tangan Reyzu yang merangkul keduanya.


Tatapan mata ketiganya menghadap ke arah terbenamnya matahari, seolah-olah senja yang indah telah menghapus segala luka yang telah membekas di hati ketiganya.


__ADS_2