Empat Serangkai

Empat Serangkai
Saling Membantu


__ADS_3

Perjalanan Pulang


Dirasa hasil tangkapan belut sudah cukup, mereka bergegas untuk pulang dan berencana memasak belut itu dirumah si kembar Rey dan memakannya bersama-sama.


Meskipun tangkapan belutnya tidak banyak,akan tetapi mereka tetap mensyukuri hasil jerih payah tangkapan mereka.


Mereka bergegas mengambil sepeda yang terparkir di pinggir jalan, sedikit agak jauh dari tempat mereka memancing karena berada di tengah persawahan.


Dengan pakaian dan tubuh yang sudah kotor berlumuran lumpur, mereka mengayuh sepeda dengan hati yang senang karena puas dengan hasil tangkapannya.


Saat sedang asik berbicara dari kejauhan mereka melihat seorang nenek-nenek yang membawa sebuah kayu bakar di punggungnya dan terlihat ada juga anak kecil yang sedang bersamanya.


Melihat itu mereka bertiga sedikit menambah kecepatan kayuhan sepedanya dan bergegas menghampiri nenek-nenek itu, bermaksud untuk membantunya.


Deden


“ Lihat itu....Di depan ada nenek-nenek yang sedang membawa kayu bakar, kasihan yaa, "


Mengarahkan jari telunjuknya ke arah nenek-nenek itu.


Reyza yang juga melihat nenek itu, menyuruh Reyzu untuk mempercepat sepedanya menuju nenek itu.


Reyza


Pandangan matanya mengarah ke seseorang yang ditunjuk Deden.


“ Ohhh iyaa....yuk kita samperin...agak cepat sedikit mengayuhnya Zu, "


Menepuk-nepuk pundak Reyzu untuk memberi aba-aba.


Kemudian Reyzu pun mempercepat kayuhan sepedanya.


~ ( X ) ~


Sesampainya ditempat si nenek, mereka menyapanya dan ternyata nenek itu adalah mbah Gimah panggilan akrabnya di desa.


Mbah Gimah hidup bersama cucunya di desa karena ketiga anaknya semua merantau dan sudah menetap di kota, cucunya yang masih berumur 5 tahun bernama Sinta yang selalu menemani kesehariannya.


Sinta merupakan anak dari putra mbah Gimah yang terakhir dan merupakan cucunya yang paling kecil.


Anaknya menitipkan Sinta sejak usianya masih 3 tahun dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Karena Sinta juga cucunya mbah Gimah mau tidak mau harus merawatnya, meskipun mbah Gimah tahu di usia tuanya dia tidak bisa berbuat terlalu banyak karena badannya yang sudah tidak kuat seperti dulu lagi.


Beberapa bulang sekali Orang tua Sinta datang untuk menjenguk meskipun itu cuma 1-2 hari, Akan tetapi mbah Gimah sangat bersyukur karena Putranya tidak pernah melupakan anaknya meskipun sibuk dengan pekerjaannya.


Meskipun biaya hidup Sinta selalu dicukupi orang tuanya tapi mbah Gimah belum bisa sepenuhnya tenang Karena yang namanya anak kecil masih membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya dan rasa kasih sayang yang diberikan mbah Gimah tidak akan pernah sama dengan rasa kasih sayang yang diberikan orang tuanya.


“ Mbahh....butuh bantuan gak ? "suara panggilan Dari belakang mbah Gimah.


Mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari belakang mbah Gimah sontak memberhentikan langkahnya, melihat kebelakang dan mendapati bahwa yang memanggilnya ternyata adalah si kembar Rey dan Deden yang tengah menaiki sepedanya.


Mbah Gimah


Menoleh ke arah belakang dengan tangan yang masih memegangi Sinta.


“ Ehh kalian....ada apa ? "


Menanyai si kembar Rey dan Deden.


Kemudian Reyza segera menawari bantuan ke Mbah Gimah.


Reyza


“ Nenek butuh bantuan buat mengangkat kayu bakar itu gak, "


Turun dari sepedanya dengan menenteng tiba berisi belut tadi.


Mbah Gimah yang tidak mau merepotkan mereka, dengan sopan menolak tawaran bantuan yang diberikan oleh mereka.


Mbah Gimah


Nafas yang masih ngos-ngosan karena capek memikul kayu.


“Gak usah repot-repot nakk....nanti mbah malah nyusahin kalian lagi, "


Deden

__ADS_1


Turun dari sepedanya dan menyenderkan pancing yang dibawanya ke sepeda.


“ gak kok mbah kalau ngerepotin...tempat gandengan belakang aku masih kosong, muat kalau untuk mengangkut kayu bakarnya, "


Kemudian Reyzu membantu menurunkan kayu bakar dari punggung mbah Gimah dan meletakkannya ke gandengan sepeda Deden.


Reyza menyuruh Sinta untuk naik ke sepedanya supaya di bonceng Reyzu, sedangkan dia  akan jalan kaki bersama mbah Gimah.


Reyza


Mengelus-elus rambut sinta dan dengan pelan tapi pasti, Reyza membujuk Sinta


“ Kamu naik sepedaku yaa...biar mas Reyzu bonceng kamu, "


Sinta yang masih sedikit takut dan malu hanya bisa berpegangan erat kepada mbah Gimah, dia menganggukkan kepala sebagai tanda kalau dia mau dibonceng Reyzu.


Karena hal itu Mbah Gimah berterimakasih kepada mereka bertiga karena sudah membantunya.


Mbah Gimah


“ Terimakasih ya nakk...sudah bantu embah, "


Nafasnya mulai kembali normal karena beban berat yang ada di punggungnya sudah di hilang.


Deden


Menaiki kembali sepedanya dan memberikan pancingnya kepada Reyza agar di bawa.


“ Sama-sama Mbah, "


Senyum Deden.


~ ( X ) ~


Setelah semuanya siap mereka melanjutkan perjalanan pulang menghantarkan mbah Gimah kerumahnya terlebih dahulu karena searah dengan jalan pulang mereka.


Dikarenakan Reyzu dan Deden naik sepeda jadi mereka pergi duluan sedangkan Mbah Gimah dan Reyza berjalan kaki menyusul mereka. Mbah Gimah merupakan orang yang ramah, saat dijalan mbah Gimah sesekali bertanya kepada Reyza dan bersenda gurau dengannya, mereka berdua kelihatan sudah sangat akrab karena sering ketemu.


Mbah Gimah


“ Kalian tadi habis dari mana, kok berlumuran lumpur ? "


Reyza


“ Ehhh ini mbahh...tadi kita habis memancing belut, "


Memperlihatkan hasil tangkapan belutnya yang dari tadi dia bawa.


Mbah Gimah coba melihat belut hasil tangkapan yang Reyza bawa.


Mbah Gimah


“Lumayan besar-besar yaa...mau kalian apakan belut itu ? "


Dengan penasaran dia bertanya.


Reyza


Matanya melihat belut di dalam timba yang sedang di tenteng nya.


“ Sebenarnya habis ini mau kami masak buat makan...dari siang belum makan soalnya hehehe, "


Mbah Gimah


Dia menyarankan kepada Reyza untuk makan dirumahnya sebagai tanda terima kasih atas bantuannya.


“Kalau kalian lapar dirumah Mbah ada sedikit makanan sisa tadi pagi kalau kalian mau.”


Reyza


Menolak tawaran Mbah Gimah karena takut merepotkan.


“ Gak usah repot-repot mbah, "


~ ( X )~


Keasikan berbincang-bincang tak terasa mereka sudah sampai ke rumah mbah Gimah dimana Deden dan Reyzu sudah menunggu mereka berdua.

__ADS_1


Mbah Gimah menyuruh mereka masuk rumah dan akan membuatkan mereka makanan sebagai tanda terimakasih karena sudah membantu dirinya .Mereka bertiga awalnya menolak karena dipaksa akhirnya mereka mengiyakan permintaan mbah gimah.


Karena mbah Gimah akan memasak makanan, Reyza berinisiatif untuk mengolah belut tangkapannya tadi dirumah mbah Gimah, bisa dibilang juga buat menambah lauk buat makan mbah Gimah dan Sinta nanti.


Reyza


"Belutnya apa kita masak disini saja ya...hitung-hitung buat nambah lauk makan, "


Memberi saran kepada mereka berdua.


Reyzu


Menyetujui saran Reyza karena perutnya sekarang sudah lapar.


" Boleh juga tuhh...mumpung mbah Gimah juga mau masak, "


Deden


Tidak berfikir lama dia langsung menyetujuinya.


" Aku sihh oke-oke aja...yang penting bisa cepat-cepat makan...Keburu lapar nihh soalnya hehehe, "


~ ( X ) ~


Setelah semua sepakat, mereka membawa belut kebelakang rumah mbah Gimah, dengan beralaskan daun pisang buat alas dan pisau yang mereka dapatkan di dapur, mereka mulai membersihkan dan memotong belutnya satu persatu kemudian mencucinya hingga bersih dengan air mengalir.


Dirasa sudah cukup bersih mereka menyerahkannya kepada mbah Gimah untuk dimasak.


Reyza


" Mbaaahhhhh......ini belutnya sudah kami bersihkan, tinggal mbah goreng aja, "


Memberikan belut yang sudah mereka bersihkan kepada Mbah Gimah.


Mbah Gimah


Menerima wadah berisi belut yang di berikan Reyza.


" Ini beneran mau dimasak disini ? "


Reyzu


" Iya...mbah masak aja, buat tambah-tambah lauk makan, "


~ ( X ) ~


Mbah Gimah menyuruh mereka menunggu di luar karena dirinya masih mau memasak.


" Kalau gitu kalian tunggu saja didepan...Nanti kalau sudah matang mbah panggil, "


Sambil menunggu masakan mbah Gimah matang, mereka bermain-main dengan Sinta didepan rumah.


Sinta yang awalnya malu ketika bertemu mereka sekarang sudah terlihat sangat akrab dan gembira ketika si kembar Rey dan Deden mengajaknya bermain-main di halaman, tidak pernah menyangka kalau anak yang masih sekecil Sinta hidup jauh dari orangtuanya.


Setelah beberapa saat akhirnya makanan yang dimasak mbah Gimah sudah matang, tercium dari aroma masakannya yang sangat lezat membuat mereka tidak sabar untuk segera mencicipi masakannya.


Mbah Gimah


Tangan kanan dan kirinya membawa wadah berisi nasi dan lauk.


" Cepat masuk...makanan kalian sudah matang,"


Meletakkan wadah-wadah tersebut ke meja.


" Iyaaa......Mbah, " Sahut mereka dari luar.


Akhirnya si kembar Rey dan Deden bisa menikmati belut hasil tangkapan mereka yang dimasak oleh mbah Gimah.


Mbah Gimah dan Sinta juga ikut makan bersama mereka bertiga, dilihat dari ekspresi muka si kembar Rey dan Deden yang sangat lahap menyantap makanan, menandakan bahwa nikmatnya masakan mbah Gimah.


Sehabis makan mereka berterimakasih dan berpamitan untuk pulang dikarenakan hari yang sudah menjelang sore.


Pada hari ini mereka bertiga menjadi tahu nikmatnya saling tolong menolong karena dengan menolong orang lain maka kita sendiri yang akan menerima hikmah dari kebaikan yang pernah kita lakukan.


~ Next ~


 

__ADS_1


__ADS_2