Empat Serangkai

Empat Serangkai
Memancing


__ADS_3

~ Hari Yang Sangat Cerah ~


Sejauh mata memandang di desa tempat mereka tinggal selain terdapat perkebunan yang cukup luas juga terdapat hamparan persawahan  yang sama luasnya dikelilingi oleh pegunungan yang menambah kesan mendalam bagi siapa saja yang melihatnya karena keindahan alamnya.


~ ( X ) ~


Di gubuk yang berada ditengah sawah si kembar Rey duduk dengan santai sambil menikmati semilirnya angin dengan pemandangan hamparan persawahan serta pegunungan yang berada di sekeliling mereka.


Dengan bersenda gurau mereka melepas tawa untuk menghilangkan penat dan beban pikiran yang ada di kepala mereka.


Sesuai dengan janji yang mereka buat saat disekolah tadi, seharunya Deden sudah sampai ke gubuk dari tadi akan tetapi sampai sekarang Deden belum menampakkan batang hidungnya yang membuat si kembar Rey lama menunggu hingga mereka tertidur di dalam gubuk.


Setelah beberapa saat Deden akhirnya datang meskipun sudah sangat terlambat dari waktu yang sudah mereka tentukan, akan tetapi dia sudah menepati janjinya untuk datang.


Deden


Datang dengan mengendap-endap karena tahu kalau si kembar Rey sedang tertidur di dalam gubuk tersebut.


“ PLAAAKKKK ”


Deden memukul punggung Reyzu dengan keras hingga membuat Reyzu kaget dan terbangun dari tidurnya. Pukulan itu hingga membuat bekas merah pada punggung Reyzu.


Reyzu


Dalam posisi tengkurap dia tertidur, sontak dia terbangun karena kaget dipukul oleh Deden saat enak-enakan tidur.


“ Aduhhh....Dasar anak kurang bumbu sialan, berani kau pukul punggung aku !!! ”


Terduduk dan langsung memegangi punggungnya.


Deden


“ Makanya kalau dibangunin jangan susah-susah, "


beralasan agar Reyzu tidak marah dan membalas perbuatannya tadi.


Reyzu


Benar-benar marah kepada Deden, dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Deden.


“ Sini kau...anak sialan !! "


Tangannya berusaha meraih Deden.


Deden


Entah apa yang dipikirkannya, dia malah seperti mengejek dan menantang Reyzu dengan memperlihatkan muka konyolnya.


“ Eeeiiiitttsss... gak kena hhhh, "


Berusaha menghindari tangan Reyzu.


~ ( X ) ~


Mendengar pertengkaran mereka, Reyza yang sedari tadi masih tidur akhirnya ikut terbangun. Dengan nyawa yang masih setengah, Reyza bertanya kepada mereka berdua ada masalah apa hingga mereka berdua bertengkar.


~ Reyza ~


Terduduk, mengusap-usap kedua matanya dan merenggangkan kedua tangannya.


Mata yang masih terbuka setengah dia bertanya kepada mereka berdua.


“ Uuuuaaahhhhh....kalian kenapa sihh ganggu orang tidur aja, "


Melihat Reyza yang sudah terbangun, Deden langsung  berlindung dibelakangnya untuk menghindari amukan Reyzu.


Deden


Tampak sudah ada kepanikan dalam dirinya, berlindung di belakang Reyza untuk dijadikan tameng.


“ Itu tuh...kembaran mu mau memukul aku....padahal aku tadi cuma mau bangunin dia saja "


Beralasan agar di bela.


~ ( X ) ~


Reyzu yang masih kesal dengan apa yang dilakukan Deden, tetap berusaha untuk meraih Deden meskipun dia berlindung di belakang Reyza.


Akan tetapi Deden tetap saja masih bisa selamat karena di bantu Reyza yang sedari tadi menahan Reyzu.


Reyza


“ Emang kalian ngapain ? "


Memegang kedua tangan Reyzu yang dari tadi terlihat geram ingin menangkap Deden.


Reyzu sendiri masih ngeyel untuk membalas perbuatan Deden.


Deden


Perasaan yang masih was-was karena takut kalau tiba-tiba Reyzu berhasil lepas dan memukulnya.


“ Enggak ngapa-ngapain, aku cuma bangunin dia aja...sumpah, "


Beralasan sebaik mungkin agar Reyza percaya.

__ADS_1


Reyzu


Melepaskan tangannya dari genggaman Reyzu.


“Anak sialan...kau bilang cuma bangunin doang, kau lihat ini punggung aku jadi merah gara-gara kamu, "


memiringkan posisi duduknya, mengangkat sedikit kaos belakangnya dan memperlihatkan bekas luka merah pukulan Deden tadi.


~ ( X ) ~


Melihat bekas pukulan Deden yang sampai membuat bekas merah pada punggung Reyzu, membuat Reyza berfikir gimana caranya mereka bisa damai dan tidak bertengkar lagi.


Melihat Reyzu yang kesal kepada Deden hanya ada satu cara yang bisa dia lakukan dengan membiarkan Deden dipukul Reyzu ditempat yang sama seperti Deden memukul Reyzu tadi dengan begitu mungkin mereka bisa damai.


Reyza


“ Yasudah kamu pukul aja punggung Deden biar impas, "


Beranjak keluar dari gubuk.


Saat Reyza bilang seperti itu, Reyzu langsung sigap memegang tangan Deden dan langsung memukulnya di bagian punggungnya.


“ PLAAAAK...”


Suara pukulan Reyzu terdengar sangat lembut hingga membuat Deden mengeluarkan bakat terpendamnya.


Deden


“ Arghhh...aduhhh.....Your Face...Your Eyes....it's sakit...segawon, "


Semua kata-kata mutiara keluar dari mulut Deden.


~ ( X ) ~


Setelah bisa membalaskan dendamnya, Reyzu keluar dari gubuk dengan tertawa bahagia di ikuti Deden yang keluar sambil memegangi punggungnya.


Setelah mereka berdua keluar dari gubuk Reyza menyuruh mereka bersalaman dan minta maaf satu sama lain agar tidak terjadi dendam pada mereka.


“ Masalah kalian berdua sudah selesai kan...Sekarang saling minta maaf gih..Biar gak terus-terusan punya dendam, "


Reyzu


Dalam hatinya sangat puas karena bisa melampiaskan dendamnya.


“ Hhhhh maaf-maaf,mungkin agak terlalu kencang dikit pukulan ku tadi hehehe, "


Menjulurkan tangannya untuk meminta maaf.


Deden


“ Kau mukulnya seperti mau bunuh aku...segawon, "


Menjabat tangan Reyzu.


Reyza sangat senang karena Reyzu dan Deden bisa sangat mudah untuk akur sehingga dia tidak perlu khawatir lagi.


~ ( X ) ~


Karena Reyzu dan Deden sudah akur, mereka bertiga kemudian membahas rencana awal mereka ke area persawahan hanya untuk memancing belut buat lauk makan nantinya.


Reyza


Menatap ke arah Reyzu dan Deden secara bergantian.


"Ini kita jadi mancing belut gak ? "


Bertanya kepada mereka.


Saat berbicara mengenai mancing Deden yang paling semangat karena itu salah satu hobinya.


Deden


“ Ya jadilah, sudah terlanjur membawa pancing dan umpan masa gak jadi sihh....Rugi jadinya aku, "


Mengambil pancing beserta umpannya di bawah gubuk.


Reyzu protes kepada Deden karena kalau dia tidak terlambat pasti mereka sudah mendapatkan banyak belut.


“ Kalau kau gak lelet, kita sudah dapat belut se baskom tau gak !! "


“ Ngomong aja terus kamu...kalau kau gak suruh aku cari umpan dulu, aku sudah sampai sini dari tadi, belum lagi aku harus nyari-nyari tempat bapak aku nyimpen pancing ini.


Memperlihatkan pancing dan umpan yang sudah dibawanya.


“ Ohhh iya, lupa aku hehehehe, ”


Menggaruk-garuk kepalanya karena merasa sedikit malu dengan Deden.


~ ( X ) ~


Setelah semua sudah siap mereka mulai berangkat menyusuri persawahan untuk mencari lubang-lubang tempat sarang belut tinggal.


Meskipun area persawahan yang cukup luas, akan tetapi yang terdapat lubang sarang belut tidak begitu banyak dan belum tentu terdapat belut didalamnya.


Deden

__ADS_1


Merunduk, mengintip dan mengorek-ngorek lubang sarang belut.


“Gak biasanya susah gini cari lubang belut yang ada isinya, "


Karena tidak ada isinya dia kembali berdiri.


Reyzu


Menenteng pancing dan timba untuk wadah belutnya nanti


" Makanya jangan ngeluh terus, cepat cari biar dapat, "


Melanjutkan penyisiran nya.


~ ( X ) ~


Karena banyak lubang belut yang sudah rusak Reyza menyimpulkan kalau ada yang sudah mendahului mereka


“ Kemungkinan sudah ada yang mendahului kita, dilihat dari beberapa lubang belut yang kita temui sudah banyak yang rusak, "


Beberapa saat mencari dan menyusuri persawahan akhirnya mereka mendapat secercah harapan.


Mereka mendapati ada beberapa lubang yang kemungkinan besar ada belut didalamnya ditandai dengan keluar masuknya air yang ada pada lubang belut.


Reyza


Mengamati dengan seksama lubang belut yang di lihatnya.


“ Dilihat dari gerak keluar masuknya air dari lubang, sepertinya disini ada belutnya, "


Menunjuk ke arah lubang belut tersebut.


~ ( X ) ~


Dengan percaya dirinya Reyzu ingin menjadi orang pertama yang memancing dan mendapatkan belut hari ini.


“Sini biar aku saja yang mancing.”


Setelah mendapatkan hasil yang cukup besar di lubang belut yang pertama, selang beberapa saat mereka melanjutkan mencari lagi dan mendapatkan beberapa belut lagi dengan berbagai ukuran.


Mereka dengan senang hati bergantian memancing agar semua sama-sama bisa merasakan sensasi memancing belut yang menyenangkan dan menegangkan dikarenakan sensasi memancing belut sangat berbeda dengan memancing ikan.


Ketika hasil tangkapan belut yang didapat sudah dianggap cukup mereka berniat untuk pulang dan akan membawanya ke rumah si kembar Rey untuk dimasak.


Akan tetapi mereka kembali mendapatkan rezeki saat mereka akan pulang, Reyzu menemukan lagi lubang belut yang sepertinya ada isinya.


Merekapun bergegas menghampirinya karena sangat disayangkan bila mendapatkan rezeki tetapi tidak diambil.


Akan tetapi keberuntungan masih belum berpihak pada mereka, lubang yang awalnya dikira lubang belut ternyata lubang kehancuran.


Reyzu


Tidak sengaja melihat ada satu lubang belut yang masih bagus.


“ Lihat tuhh ada lubang belut lagi, sayang kalau gak diambil, "


Bergegas menghampirinya.


Karena sudah lapar, Deden menyuruh mereka agar mempercepat memancing belutnya.


Deden


Memegangi perutnya yang sudah keroncongan.


“ Yok segera dipancing....Biar bisa cepat pulang, keburu lapar nihh, "


Berjalan perlahan mengikuti mereka.


Ketika sampai di lubang belut yang dimaksud Reyzu langsung memasukan umpan kedalamnya.


Setelah beberapa saat,akhirnya umpan Reyzu dimakan, dilihat dari tarikannya yang sangat berat kelihatanya belut yang akan didapat juga sangat besar, akan tetapi hal tak terduga terjadi....


" Tarik yang kuat....besar tuhh belutnya, "


Deden Menyemangati Reyzu.


Reyza


Dari belakang, dia mengintip lubang belut yang dipancing Reyzu.


“ Pelan-pelan jangan sampai putus, "


Memberi arahan kepada Reyzu.


Setelah berhasil diangkat bukanya belut yang mereka dapat, tetapi seekor ular sawah yang lumayan panjang yang membuat mereka sontak kaget dan lari terbirit-birit.


Reyzu


" Ularr......ularrrrr "


Reyzu kaget dan spontan membanting ular tersebut yang masih terkait di kail pancing.


Karena bantingan Reyzu, ular bisa lepas dari kail pancing dan berlari mengarah mereka yang membuat mereka bertiga bubar gak karu-karuan. 


Dirasa ularnya sudah pergi menjauh, merekapun bergegas untuk kembali ke rumah karena takut akan ada hal-hal tak terduga lagi yang akan menimpa mereka.

__ADS_1


 ~ Next ~


__ADS_2