
" Hoiiii.....Kalian berhenti !!!! " Teriakan keras dari arah belakang mereka.
Terdengar teriakan suara seseorang yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga mereka.
Seketika suasana menjadi hening tanpa kata, mereka berempat diam mematung bagaikan raga tanpa jiwa.
Suara langkah kaki sayup-sayup terdengar semakin mendekat ke arah mereka berempat.
" Clarass!!! " Teriakan disertai tarikan tangan yang kasar.
Dengan kasar ada tangan seseorang yang menarik Claras ke arah belakang, tarikan itu sontak membuat si kembar Rey dan Deden menjadi terkejut dengan pandangan mata yang mengikuti arah tertariknya Claras.
" Clarass...." Ucap lirih mereka dengan perasaan takut yang menyelimuti dan pandangan mata yang tertuju ke arah Claras.
~ Flash Back 30 Menit Yang Lalu ~
Beberapa menit yang lalu Nyonya melihat kepergian Claras dengan rasa curiga.
Saat menuruni anak tangga Nyonya melihat Juragan dengan sedikit tergesa-gesa mau meninggalkan rumah.
Ketika mau membuka pintu, Nyonya menahannya.
" Paa...Tunggu sebentar " Nyonya menahan kepergian Juragan.
Mendengar panggilan istrinya, Juragan berhenti dan menahan tangannya di pergelangan pintu.
" Ada apa Maa... " Menolehkan kepalanya.
Perlahan-lahan Nyonya mendekat menghampiri Juragan.
" Enggak...Aku cuma mau tanya ke Papa," Tanya nyonya dengan langkah kaki yang semakin mendekat.
" Tanya apa sih? " Melepaskan tangannya dari pergelangan pintu.
" Tadi Claras, pergi pasti pamit ke Papa kan? " Tanya Nyonya.
" Iya...Dia Izin ke aku tadi, ada apa emang? " Penasaran bertanya.
" Pamit kemana dia tadi ? " Dengan curiga bertanya.
" Ohh...Dia pamit mau ke toko beli peralatan sekolah katanya, " Masih kalem tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
" Terus Papa percaya gitu? "
" Hmmm....Papa percaya kok, emang ada yang salah? " Tanya juragan yang semakin penasaran dengan yang dibicarakan istrinya.
" Dia tadi bilang mau pergi membeli peralatan sekolah kan?...Padahal minggu lalu kita sudah membelikannya satu set lengkap peralatan sekolah, " Terang Nyonya.
__ADS_1
Mendengar perkataan istrinya seketika membuat Juragan terdiam sebentar dan langsung mengingat kalau dirinya belum lama ini sudah membelikan Claras peralatan sekolahnya.
" Papa itu sudah di bohongi sama Claras, " Nyonya memperjelas maksud perkataanya.
" Kurang ajar tuh anak...Berani bohongi papa" Seketika raut muka Juragan berubah 180°.
" Kan aku sudah bilang kemarin-kemarin...Jangan biarkan Claras keluyuran di luar, " Menatap juragan dengan sinis.
" Lalu kemana perginya si Claras, " Tampak Juragan yang sangat kesal.
" Pasti sama si anak-anak miskin itu, " Pikiran Nyonya langsung tertuju kepada si kembar Rey dan Deden.
" Ayo kita cari!!! " Dengan kasar membuka pintu karena semakin kesalnya.
Melihat Juragan yang sudah di makan oleh emosinya, membuat Nyonya senang karena rencananya untuk memisahkan Claras dengan si kembar Rey dan Deden akan berhasil.
" Heh...Biar tahu rasa tuh si anak-anak miskin " Tersenyum sinis, mengikuti perginya juragan dari belakang.
Setelah lama mencari berkeliling desa, akhirnya mereka menemui sepeda Claras yang terparkir bersama sepeda si kembar Rey dan Deden.
Melihat hal itu membuat juragan semakin termakan oleh emosinya dan mau bergegas menghampiri mereka.
Akan tetapi Nyonya yang mempunyai rencana licik, mencegah Juragan untuk melakukan hal yang tergesa-gesa.
" Papa lihat kan...Itu sepeda siapa, " Tatapan mata tertuju ke arah sepeda.
" Ehhh Bentar dulu....Papa jangan tergesa-gesa, kita tunggu aja disini....Biarkan mereka keluar dulu baru kita labrak semuanya, " Memegang tangan Juragan guna menahannya.
" Ok...Papa ikutin kata-kata Mama....Papa parkir kan mobil ini ketempat yang mereka tidak bisa lihat, " Memundurkan mobilnya.
~ Sekarang ~
Tangan Claras yang ditarik Juragan dengan kasar berusaha memohon untuk melepaskannya.
" Pa....lepasin Paa....Lepasin " Memohon kepada Juragan.
Akan tetapi juragan yang sudah di sulut emosi tidak memperdulikan hal itu, dia dengan kasar mendorong Claras ke arah Nyonya.
" Pegang Claras Ma.." Mendorong Claras.
Nyonya yang juga sudah geram, dengan sigap memegangi Claras agar tidak bisa lepas dan melarikan diri.
Dengan emosi dan kebencian di hatinya, Juragan melampiaskan kekesalannya kepada si kembar Rey dan Deden dengan sesuka hati mencaci, menghina, merendahkan dan menuduh mereka bertiga lah yang telah menyebabkan Claras menjadi bandel dan berani berbohong kepada orang tuanya.
" Si anak-anak miskin gak tau diri...Pasti kalian kan yang sudah membuat Claras jadi berani sama orang tuanya!!! " Bicara kasar dengan mata melotot-melotot serta jari telunjuk yang mengarah dihadapan mata mereka bertiga.
" Kalian itu harusnya tau diri...Kalian itu siapa!!"
__ADS_1
" Kalian gak layak sama sekali untuk menjadi teman Claras..Kalian paham itu!!!" Menjambak rambut Deden hingga tertarik kebawah.
" Kalian harusnya tau...Claras itu anak orang terkaya di Desa ini...Anak juragan kopi yang tiada tandingannya....Kalian paham itu!!! " Merentangkan kedua tangannya seolah-olah menjadi seorang raja.
" Dan kalian hanya anak petani miskin...Yang setiap hari mengemis ke tempat saya untu menjual kopi yang tiada harganya itu, " Tersenyum sinis tepat di depan wajah Reyza.
Claras yang melihat teman-temanya dihina habis-habisan hanya bisa menangis meronta-ronta di pegangan erat nyonya.
Dia tidak bisa melakukan apapun karena saking eratnya pegangan Nyonya untuk menahannya, sampai-sampai Claras memohon-mohon kepada Nyonya agar di lepaskan supaya bisa menahan tindakan yang di lakukan Juragan kepada teman-temannya.
" Maa...Lepasin aku Ma..Lepasin aku..." Memohon dengan tangisan yang sangat menyedihkan.
" Udah...Kamu diam disini jangan ngelawan," Cegah Nyonya dengan semakin mempererat tangannya.
" Tolong Ma..." Terus memohon.
Sedangkan Juragan terus-menerus mengeluarkan caciannya dengan memandang rendah si kembar Rey dan Deden.
Akan tetapi karena sudah tidak tahan di hina, Reyzu berani membuka mulut saat Juragan mau memegang kepalanya.
" Kalian itu miskin dan selamanya akan tetap miskin....Camkan itu!!! " Tangan yang mau memegang kepala Reyzu.
" Cuhh..." Menampik tangan Juragan dan meludah ke arah samping sebagai tanda kalau Reyzu sama sekali tidak takut dengan Juragan.
Melihat hal itu, membuat Juragan sedikit terkejut karena ada anak kecil berusia 12 tahun yang berani melawan dirinya.
" Apa maksud kamu!! " Bentak juragan karena tidak terima di remehkan.
" Cuhh...." Kembali meludah.
" Jangan kira...Saya diam karena takut dengan Bapak, saya diam hanya karena saya menghormati bapak sebagai ayah teman saya...Akan tetapi cacian bapak yang menganggap kami sebagai sampah, tidak akan pernah bisa kami terima!!! " Dengan tegas dan berani Reyzu menentang Juragan.
" Ohhhh....Kurang ajar...Berani kamu!!! " Melayangkan tangannya mau menampar Reyzu.
Melihat Reyzu yang akan di tampar, dengan cepat Reyza menepis tangan Juragan dengan menggunakan kedua tangannya.
" Bapak jangan kurang ajar ya...Kekayaan sudah membuat mata bapak menjadi buta, " Ucap Reyza penuh kebencian.
" Bapak terlalu sering melihat ke atas hingga lupa dengan apa yang ada di bawah...Tapi bapak harus ingat, orang yang selalu bapak rendahkan dan injak-injak di bawah, suatu saat akan gantian menginjak bapak dari atas, " Dengan Tegas dan berani Reyza berbicara.
" Mungkin saat ini kami diam saat bapak hina...Tapi suatu saat kami akan membalik hinaan bapak, " Mengacungkan jari telunjuk tepat ke arah wajah Juragan dan perlahan-lahan mundur dari hadapan juragan.
Si kembar Rey dan Deden perlahan-lahan pergi meninggalkan juragan.
" Reyy.....Denn..." Claras berteriak memanggil mereka dengan penuh penyesalan.
Tetapi mereka bertiga yang sudah muak dengan hal yang baru saja terjadi, mengabaikan si Claras dan terus melanjutkan jalannya.
__ADS_1
~ Next ~