
Ketika Zidane mengatakan tentang tuan muda, seketika itu Pak Gerald dan Pak Sugeng saling menatap, diam tanpa kata. Dalam pikiran mereka berdua langsung menuju ke si kembar Rey.
Dalam diamnya, dengan pikiran yang hampir sama, Pak Gerald dan Pak Sugeng berfikir tentang tuan muda mana yang di sebut oleh Zidane. Kalau benar yang Zidane sebut adalah si kembar Rey, lantas bagaimana Zidane mengetahuinya.
Pak Sugeng yang tidak mau salah paham dengan apa yang ada dipikirannya, memilih untuk segera bertanya kepada Zidane.
Pak Sugeng
Menarik lengan Zidane untuk menghadapkannya kepada dirinya.
" Siapa tuan muda yang kamu maksud ? "
Mengerutkan kedua matanya dengan tegas berbicara.
Zidane seketika bingung dengan kepanikan saat Pak Sugeng menjadi serius saat dia menyebut tentang tuan muda, dia masih tidak menyangka hal yang awalnya dia anggap biasa menjadi seserius ini.
Zidane melihat tatapan tajam Pak Sugeng mengarah padanya, dia sejenak melirik ke arah Pak Gerald yang juga menatapnya dengan tatapan dingin yang seketika menjadikan mentalnya down.
Akan tetapi Zidane berusaha tetap tenang menghadapi situasi ini, saat ini dia seperti di kepung oleh dua orang pembunuh yang siap mengeksekusinya.
Zidane
Memperlihatkan senyum dari wajahnya untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah.
" Tuan muda Reyza dan Reyzu, "
Memelankan nada suaranya untuk menghindari kesalahpahaman lagi.
Saat mendengar itu, Pak Sugeng kembali menatap Pak Gerald yang memperlihatkan senyum dingin kepadanya.
Zidane sedikit mengangkat pandangannya dan kembali menatap Pak Sugeng dan Pak Gerald secara bergantian, dia melihat ekspresi dari mereka berdua yang terlihat sama.
Pak Gerald
lekas berdiri dari tempat duduknya, dengan dingin mengajak mereka ke ruangan staf.
" Kita keruangan staf untuk membicarakan hal ini, "
Pandangan Zidane menatap arah jalan Pak Gerald, dia di tepuk Pak Sugeng yang sudah berdiri dari tempat duduknya untuk menyusul Pak Gerald yang sudah berjalan duluan.
Tepukan di bahu itu sebagai isyarat Pak Sugeng agar Zidane ikut dengan mereka untuk membicarakan hal itu.
~ Di ruangan Staf ~
Pak Gerald masuk terlebih dahulu di ikuti oleh Pak Sugeng di belakangnya, saat Zidane mau masuk ke dalam ruangan, dia berbalik dan menuju ke tempat pemesanan untuk memesan sebuah minuman, mengingat kalau dari tadi Pak Gerald dan Pak Sugeng sama sekali belum meneguk sebuah minuman saat datang ke cafe ini.
Zidane
Mengambil list menu dan menunjuk salah satu minuman yang tersedia.
" Buatkan aku 3 minuman ini dan hantarkan ke ruang staf nanti, "
Sedikit tergesa-gesa saat memesan minuman karena merasa tidak enak kalau harus meninggalkan Pak Gerald dan Pak Sugeng terlalu lama.
Zidane bergegas masuk ke dalam ruangan staf, kemudian dengan sopan dia duduk di samping Pak Sugeng.
__ADS_1
Setelah adanya keheningan sesaat, Pak Gerald membuka pembicaraan dengan menanyakan kepada Zidane tentang si kembar Rey.
Pak Gerald
Mengatur posisi duduknya dengan nyaman kemudian menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri.
" Dari mana kamu tahu tentang kedua cucuku? "
Pandangannya mengarah kepada Zidane yang sedang menundukkan kepalanya.
Sebelum Zidane menjawab, Pak Sugeng menepuk punggungnya dan mengatakan beberapa kata kepada Zidane.
Pak Sugeng
Menyuruh Zidane untuk berbicara apa adanya tanpa ada yang di sembunyikan.
" Katakan saja apa yang kamu tahu, jangan di lebihkan dan jangan dikurangi, "
Pandanganya kepada Zidane nampak sudah kembali normal, tidak setajam ketika di luar tadi.
Zidane melihat suasana di sekelilingnya yang nampak sudah kembali normal dan tenang, suasana hatinya juga sudah kembali tenang dan dia sudah merasa tidak tertekan seperti tadi.
Dia mulai berbicara semua yang dia ketahui tentang si kembar Rey, dari awal pertemuannya di cafe ini sampai lumayan saling mengenal sampai sekarang.
Tanpa ada yang disembunyikan Zidane terus menceritakan semua yang dia ketahui tentang si kembar Rey dan teman-temannya.
Semua cerita Zidane di tutup dan di akhiri dengan adanya suara ketukan pintu dari luar ruangan yang ternyata waitrees yang sedang mengantarkan minuman pesanan Zidane tadi.
Waitrees
" Tok...Tok...Tok "
" Permisi tuan, "
Zidane
Permisi sebentar kepada mereka berdua, berjalan ke arah pintu untuk mengambil minuman itu sendiri.
" Cekrekk "
Membuka pintu dengan perlahan.
" Makasih ya, biar saya sendiri yang bawa kedalam, "
Tersenyum kepada waitrees itu sebagai tanda terimakasih.
Waitrees itu langsung tertunduk dan senang kegirangan saat Zidane seorang manager yang tampan tersenyum kepadanya, dia bergegas pergi dari hadapan Zidane dengan hati yang berbunga-bunga.
Zidane yang melihat tingkah Waitrees itu menggelengkan kepalanya karena keheranan, dia sejenak melihat nampan berisi minuman yang dibawanya kemudian masuk kembali kedalam dan menutup pintunya.
Zidane membagikan minuman yang sama dan terlihat menggoda itu di hadapan Pak Gerald dan Pak Sugeng dengan harapan mereka berdua suka dengan minuman yang dia pesankan, kemudian duduk kembali ke samping Pak Sugeng.
Pak Sugeng meminum terlebih dahulu minumannya dengan satu seruputan yang langsung membasahi tenggorokannya yang kering.
Pak Sugeng
__ADS_1
" Kapan tuan muda datang kesini ? "
Meletakkan gelasnya kembali keatas meja dengan alas tisu yang disiapkannya agar meja itu tidak basah.
Zidane
Memandangi tetasan air yang perlahan mengalir pada gelas minuman yang dingin, terlihat sangat menggoda.
" Beberapa minggu yang lalu, sekitar tiga mingguan kalau gak salah, "
Mengalihkan pandanganya ke pada Pak Sugeng saat berbicara.
Pak Gerald mencoba mengingat waktu kedatangan si kembar Rey dan teman-temannya pertama kali di kota ini yang juga sekitar tiga minggu yang lalu.
Pak Gerald
Sejenak berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.
" Mereka datang ke kota ini juga sekitar tiga mingguan, tapi kapan dan dari mana mereka tahu tempat ini, "
Zidane yang juga tidak mengetahui hal itu, sejenak diam dan mengingat apa saja yang pernah dikatakan si kembar Rey kepadanya.
Saat pertama kali bertemu, Zidane mengingat kalau si kembar Rey terlihat terkejut saat dirinya mengungkapkan identitasnya dan cafe ini.
Hal itu bisa menandakan kalau saat itu si kembar Rey tidak sengaja datang ke cafe ini.
Zidane
Mengerutkan keningnya dan mencoba mengatakan apa yang sedang dia pikirkan.
" Saat pertama kali saya mengungkapkan identitas dan tentang cafe ini, terlihat kalau tuan muda dan teman-temannya terkejut seperti belum mengetahui apa-apa, jadi bisa di simpulkan kalau mereka datang kesini tidak sengaja, "
Sambil mendengarkan apa yang dikatakan Zidane, Pak Sugeng mengingat kalau sekitar tiga minggu yang lalu si kembar Rey pernah meminjam mobil untuk dipakai jalan-jalan.
Pak Sugeng
Mengarahkan pandangannya kepada Pak Gerald.
" Tuan ingat gak ? tiga minggu lalu tuan muda pernah meminjam mobil untuk jalan-jalan, mungkin pada saat itu tuan muda dan ketiga temannya itu datang kesini, "
Pak Gerald
Seketika ingat pada saat si kembar Rey meminjam mobil seperti orang yang sedang interview kerja.
" Ohh iya...Aku baru inget hal itu. "
Karena awal pertemuan Zidane dengan si kembar Rey sudah terungkap dan Zidane juga sudah mengetahui tentang si kembar Rey yang ada di tengah-tengah mereka, maka Pak Gerald ingin membuka sedikit rahasianya kepada Zidane.
" Karena kamu sudah tahu dengan cucu-cucu ku, maka aku akan memberitahumu beberapa hal yang belum kamu ketahui, "
Mempertajam pandanganya kepada Zidane.
Zidane juga tidak menyangka kalau Pak Gerald akan memberitahunya tentang rahasia yang telah dia sembunyikan selama ini.
~ Next ~
__ADS_1