
Mentari pagi mulai menyinari, orang-orang mulai melakukan aktivitasnya lagi dari anak muda hingga dewasa mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Begitu juga Reyza dan Reyzu yang sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sedangkan ayahnya sudah pergi ke kebun saat matahari belum menampakkan sinarnya sedangkan Ibunya yang masih sibuk mempersiapkan sarapan untuk mereka.
Selesai sarapan mereka berdua pun berangkat sekolah setelah berpamitan dengan ibunya, begitu juga ibunya yang sudah siap-siap untuk berangkat ke kebun menyusul ayah mereka.
Seperti biasa saat berangkat ke sekolah si kembar Rey selalu menyempatkan diri untuk menghampiri Deden terlebih dahulu.
Mereka selalu berangkat bersama-sama, akan tetapi sekarang ada yang kurang dikarenakan Claras yang sementara waktu tidak bisa lagi berangkat bersama mereka, jadi si kembar Rey dan Deden berangkat bertiga saja menuju sekolah.
~ ( X ) ~
Di sepanjangan jalan mereka bertanya-tanya tentang keadaan Claras, akan tetapi diantara mereka bertiga tidak ada yang mengetahuinya.
Reyza
Dia berjalan di tengah diantara Reyzu dan Deden.
Sambil jalan dia menendang-nendang batuan kerikil.
“ Kabar Claras gimana ya sekarang ? "
Bertanya kepada mereka berdua.
Deden
Sebelum si kembar Rey kerumahnya, dia sempat melihat Claras berangkat ke sekolah duluan dengan menaiki sepeda.
“ Tadi aku melihat dia berangkat sekolah naik sepeda, ”
Menceritakan apa yang dia lihat tadi pagi.
Reyzu
Mengerutkan wajahnya dan mengarahkan pandangannya kepada Deden
“Terus kenapa kamu gak panggil dia, "
Tangan yang usil mengacak-ngacak rambut Deden yang sudah rapi.
Deden
Menepis tangan Reyzu di atas kepalanya, sedikit menjauh untuk menghindar.
“ Aku tadi sudah panggil, tapi dia nyelonong gitu aja, "
Merenggangkan jaraknya.
Reyza
Menghentikan langkahnya sesaat karena tingkah laku dari Reyzu dan Deden menganggu jalannya.
“Yasudah biarin aja dulu, mungkin dia memiliki alasan tertentu untuk melakukan itu, "
~ ( X ) ~
Saat disekolah Claras terlihat masih sering melamun dan berusaha menghindari mereka bertiga saat bertemu.
Mereka yang menyadari akan hal itu juga membiarkan Claras dan menjaga jarak darinya karena tidak ingin mengganggu dan menambah beban pikirannya.
Reyza yang selalu mengamati keadaan Claras tidak bisa tenang melihatnya, hal itu menjadi beban pikiran pada diri Reyza.
Dia belum bisa duduk tenang kalau belum menanyakan dan berbicara langsung dengan Claras, akan tetapi Claras yang selalu menjauhi dirinya membuat hal itu semakin sulit untuk dilakukan.
Melihat Reyza yang selalu berusaha untuk mendekati dirinya, membuat Claras tidak tega melihatnya, dia akhirnya mau berbicara dengan Reyza sekaligus berterus terang dengan keadaan yang di alaminya sekarang.
Reyza
Melihat Claras yang lagi duduk sendirian, ragu-ragu dan perlahan-lahan dia berjalan mendekatinya.
Karena Claras tidak menghindar lagi, dia duduk disampingnya.
“ Kamu jangan menghindar terus dong, aku hanya mau bicara kepadamu sebentar, "
Tetap menjaga jarak aman.
Claras
Sedikit bergeser menjaga jarak dari Reyza, berpura-pura jengkel kepada Reyza agar dia bisa secepatnya pergi dan tidak menanyakan hal yang aneh-aneh.
“ Kamu mau bicara apa sihh ? "
Terlihat sangat cuek dan Bete dengan kedatangan Reyza.
__ADS_1
Reyza
Menghela nafas, memandang sejenak wajah Claras dan mulai berbicara.
" Haahh "
Menghela nafas sebelum berbicara.
“ Aku hanya ingin tau keadaan kamu itu aja, semenjak kejadian kemarin aku hanya bisa melihatmu disekolah ini saja, "
Menurunkan pandangannya.
Claras
Dia bisa mengerti bagaimana perasaan Reyza dan teman-temannya.
Sebenarnya apa yang dia rasakan saat ini, sama dengan apa yang mereka bertiga rasakan sekarang.
“Jangan bicarakan itu lagi, Intinya masalah ini sudah menjadi semakin rumit... Aku juga mau minta maaf dan terimakasih buat kalian semua untuk waktu yang sudah kalian luangkan untukku selama ini, "
Dari lubuk hatinya yang paling dalam Claras meminta maaf dan berterimakasih untuk semuanya.
~ ( X ) ~
Claras menjelaskan kepada Reyza tentang semua yang sudah dia alami yang membuat dia harus menjauhi mereka bertiga dengan maksud agar suasana tegang ini bisa menjadi lebih tenang, supaya mereka bisa bertemu lagi meskipun itu harus sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.
Claras tidak ingin pertemanan mereka hancur karena kehendak dari kedua orang tuanya, dia sangat berharap pertemanan mereka ini bisa selamanya terjalin.
Claras
Dengan penuh kesedihan di dalam hatinya dia memandang wajah Reyza.
“ Sebaiknya kalian jangan menemui aku lagi untuk sementara waktu, ”
Reyza
Berusaha tetap tenang dan santai.
“ Baik...aku akan memberitahu mereka tentang hal ini...Tapi ingat ya Claras bagaimanapun kondisi dan keadaanmu, kamu masih menjadi teman kami...Dan kami akan selalu ada untukmu pada saat susah ataupun senang dan kami akan selalu berusaha membantumu saat dirimu dalam kesulitan, jadi jangan pernah melupakan kami, "
Sedikit mendekat kepada Claras.
Claras
“ Terimakasih, "
Mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
Reyza
Mengelus-elus punggung Claras guna menenangkannya,
“ Iya sama-sama...Kalau begitu aku pergi dulu ya...Tapi ingat, bila nanti kamu sudah tidak bisa memikul beban itu sendirian, kamu bisa menemui kami, sebisa mungkin kami akan membatu kamu, jadi tenang saja, "
Karena semua yang ingin dia dengar dari Claras sudah tersampaikan, dia pergi dengan perasaan yang tidak menentu.
Claras
Mendengar perkataan Reyza membuat hatinya tersentuh dan dia jadi tahu betapa berharganya pertemanan mereka, dia juga akan berusaha bagaimanapun caranya agar dia bisa bersama-sama lagi dengan mereka.
" Maafkan aku semuanya, "
Pandangannya terus mengarah kepada Reyza, tak berasa air matanya menetas dan dengan segera dia mengusapnya.
~ ( X ) ~
“KRINNGG.....KRRRIIIINNGG....KRIIIIINGGG”
Bel pulang sekolah berbunyi, semua murid satu persatu meninggalkan area sekolah.
Saat diperjalanan pulang Reyza memberitahukan kepada Reyzu dan Deden perihal masalah dan situasi Claras.
Setelah diberi penjelasan Reyzu dan Deden bisa menerima dan memaklumi hal tersebut Karena mereka semua juga sudah tau bagaimana situasi yang dihadapi Claras saat ini.
Siang Yang Panas
Sepulang sekolah Reyza dan Reyzu bergegas menyusul orang tuanya ke kebun untuk membantunya memanen kopi.
Tanpa diperintah sekalipun si kembar Rey dengan semangat membantu pekerjaan orang tuanya.
Di usianya yang masih belia mereka berdua sudah terlihat cekatan dalam melakukan beberapa hal di kebun, itu juga pengaruh dari didikan orang tuanya sedari kecil yang membuat mereka memiliki kepribadian yang baik.
Meskipun mereka anak kembar yang selalu bersama-sama, akan tetapi tidak terlalu sulit untuk membedakan mereka karena kepribadiannya yang tidak sama.
__ADS_1
Si Reyza cenderung lebih pendiam dari pada si Reyzu yang banyak omong dan banyak tingkah, akan tetapi Reyzu tidak pernah berani melawan kakaknya karena meskipun Reyza cenderung pendiam, akan tetapi bila dia marah nasib Reyzu bisa sama seperti Dion waktu itu.
Matahari Sudah Mulai Tenggelam
Karena sudah sore dan hasil panennya di anggap sudah cukup mereka mengumpulkannya dalam satu wadah untuk kemudian menjualnya.
Pak Akbar
Memasukkan hasil panennya ke karung
“ Sudah sore ayo berkemas, waktunya untuk istirahat dan pulang kerumah, "
Mengangkat karung tersebut dan mendekatkannya kepada istrinya.
Bu Sarah
Memasukkan hasil panennya ke karung, kemudian mulai mengemasi barang-barang yang di bawanya dari rumah.
“ Kemari nakk...hasil panennya biar ibu jadikan satu, biar bapak jual sekalian hasil panennya, "
Memanggil si kembar Rey yang masih sibuk memanen kopi.
Reyzu
" Aku boleh ikut menjualnya apa tidak Pak ? ”
Berjalan menghampiri kedua orang tuanya kemudian memberikan wadah yang berisi hasil memanen kopinya tadi kepada Bu Sarah.
Pak Akbar
“ Iyaa..gak apa-apa kalau mau ikut.”
Mengikat karung tersebut dan mengangkatnya untuk di bawa ke motor.
~ ( X ) ~
Mendengar Reyzu yang akan ikut Bapak menjual hasil panennya, Reyza menariknya menjauhi kedua orangtuanya.
“ Kamu gak bercanda kan mau ikut bapak jual hasil panen, "
“ Yaa enggak lahh...kenapa emangnya, "
Reyzu menjawab dengan percaya diri.
“ Kau itu sengaja atau sudah lupa sih...bapak pasti menjualnya ke ayah Claras dan kamu pasti belum lupa kan kejadian kemarin, "
Tangan yang geram memukul kepala Reyzu.
“ PLAAAAAK ”
“ Aduhhhh saki tauuu.....aku sengaja ikut buat memastikan bener apa gak sih kalau ayah Claras benci dengan kita, sekalian buat mencari adrenalin, ” Memegangi kepalanya.
“Emang kamu berani apa ? " Tanya Reza.
“ Tenang aja...kan ada Bapak hehehe, " Menggaruk-garuk kepalanya.
Setelah berdebat Reyzu kembali ketempat orang tuanya untuk berkemas-kemas disusul Reyza yang ada dibelakangnya, mereka bergegas membereskan semuanya karena bapaknya sudah menunggu mereka di atas motor dan sudah bersiap-siap berangkat menjual hasil panennya.
Si kembar Rey mengikuti laju motor bapaknya dari belakang dengan berboncengan naik sepeda.
Reyzu
Sepanjang jalan Reyzu terus-terusan berbicara mengenai Juragan Kopi.
" Sumpah...pasti ayah Claras tidak suka dengan kedatangan kita, "
Sambil mengayuh sepedanya dia terus-terusan berfikiran negatif.
" Perasaanku kok jadi gak enak yaa....apa lagi ini sudah mau sampai, "
Perasaan yang tidak enak mulai muncul dari dalam hati Reyzu.
Reyza
Dia mengejek Reyzu kemudian mendorong kepalanya karena geram.
" Cuma omong besar kamu rupanya...tadi katanya berani, tau gitu gak ikut aku tadi, "
Sesampainya di tempat pengepul kopi milik Claras, Ayah Claras sudah berada didepan dengan tatapan tajam mengarah ke pada mereka berdua.......
~ Next ~
__ADS_1