Empat Serangkai

Empat Serangkai
Teman Sejati


__ADS_3

~ Saat Matahari Sudah Condong Ke Barat ~


Si kembar Rey pergi ke rumah Deden untuk mengajaknya bermain, akan tetapi di rumah hanya ada ibu Deden yang sedang beres-beres dikarenakan Deden yang  sedang pergi membantu Bapaknya di kebun.


“ Deden..Deden...Ayo pergi main, ” Panggil Reyzu dari luar rumah.


Selang beberapa saat Ibu Deden keluar rumah dengan tangan yang masih memegang sapu ijuk.


“ Deden sedang tidak berada di rumah nak, "


Reyza


Perlahan menghampiri Ibu Deden agar terlihat lebih sopan saat bertanya, sedangkan Reyzu tetap diam di tempat di karenakan masih malu-malu.


“ Deden pergi kemana bu ? "


Ibu Deden


Mendekat ke arah Reyzu dan mengatakan dengan jujur kemana perginya Deden sekarang.


“ Lagi bantu Bapaknya di kebun kopi, dari sepulang sekolah tadi, ” Tangan yang masih memegang sapu.


Reyza


Menoleh ke arah Reyzu yang ada di belakangnya dengan memberi isyarat tangan agar mendekat kepadanya.


“ Kalau dia di sana...Kita susul aja, " Berjalan mendekati Reyza.


“ Yaudah Bu...Kita permisi dulu, " Menundukkan kepalannya.


Ibu Deden


Melambaikan tangan kepada mereka dan menyuruh mereka untuk tetap hati-hati di jalan.


" Hati-hati di jalan ya, jangan terburu-buru, "


~ ( X ) ~


Setelah tahu keberadaan Deden mereka akhirnya pergi mencari Deden ke kebun kopi, dikarenakan kebunnya agak jauh si kembar Rey pulang dahulu untuk mengambil sepedanya dan bergegas pergi ke kebun.


Sesampainya di kebun, si kembar Rey memanggil-manggil nama Deden agar dia dengar dan tahu keberadaanya.


Meskipun kebunnya tidak begitu luas akan tetapi tanaman kopinya sudah cukup tinggi yang membuat sedikit susah mencari si Deden.


Reyzu


Melihat-lihat area kebun, bak seperti seorang detektif yang sedang mencari buronannya, karena belum juga melihat keberadaan Deden, dia memanggilnya dengan lantang.


“ Denn...Deden kamu dimana ? " Sekuat tenaga dia berteriak.


Deden


Dia enak-enakan duduk santai di gubuk belakang kebun sambil beristirahat menikmati kopi dan makanan yang dibawanya dari rumah.


Mendengar ada yang memanggilnya, sejenak dia mendengarkan suara siapa yang memanggilnya itu.


Karena suaranya sangat familiar di telinganya, dia menyahut panggilan tersebut.


“ Woyyy...Kalian kesini aja, aku berada di gubuk belakang kebun !! " Berteriak sekuat tenaga.


Si kembar Rey


Mendengar jawaban dari Deden, mereka berdua bergegas masuk kedalam kebun kopi itu.


Di dalam kebun, mereka berdua bertemu dengan Bapak Deden yang masih sibuk memanen buah kopi yang terlihat banyak sekali yang sudah matang.


“ Ehhh ada bapak, "


“Permisi pakk, ”


sedikit basa-basi dan dengan sopan lewat di depan Bapak Deden.


Bapak Deden


Berhenti sejenak memanen kopi, dengan sopan tersenyum dan memberi tahu si kembar Rey dimana tempat Deden berada.


“ Iyaaa..itu si Deden lagi istirahat di gubuk belakang, kamu ke sana aja, " Menunjuk ke arah gubuk.


~ ( X ) ~


Ketika di gubuk mereka mendapati si Deden dengan santai dan enak-enakan lagi makan disaat bapaknya sedang sibuk memanen kopi.


Reyzu

__ADS_1


Melihat Deden yang enak-enakan nyantai di saat Bapaknya sedang bekerja, Reyzu tanpa basa-basi langsung menyindirnya.


“ Enak sekali jadi kau...bapakmu lagi sibuk memanen kopi kau malah enak-enak kan nyantai sambil makan-makan dan minum kopi...Dasar anak kurang bumbu, " Naik ke atas gubuk tersebut.


Deden


Menatap tajam ke arah Reyzu karena tidak terima kalau dirinya tiba-tiba disindir oleh Reyzu tanpa tahu hal yang sebenarnya, dia membantah omongan Reyzu dan menjelaskan hal yang sebenarnya.


“ Eeeeehh...si anak kembar kelebihan bumbu.. datang-datang langsung nyolot aja kau ini...Gak tau aja aku ini baru istirahat !!! " Balik menyindir Reyzu.


Reyza


Menyenderkan tubuhnya pada dinding gubuk kemudian melerai pertengkaran Reyzu dan Deden.


“ Bertengkar aja terus sampai magrib, " Menyela pembicaraan.


Kemudian dia bertanya kepada Deden tentang berapa lama lagi dia memanen kopi tersebut.


" Masih lama gak kamu panen nya ? "


Deden


Menyudahi pertengkarannya dengan Reyzu, lanjut menuangkan segelas kopi untuk di minumnya.


Mendengar pertanyaan Reyza, menjadi kesempatan yang bagus buatnya untuk menyuruh mereka membantu panen kopi agar bisa cepat selesai.


“ Kalau kalian bantu ya cepat selesai, kalau gak ya habis subuh baru selesai hehehe, " Meletakkan kembali cangkirnya.


Reyzu


Langsung tau niat busuk Deden dari nada bicaranya.


“ Bilang aja suruh bantuin !! "


Reyza


Menyetujui apa mau Deden hitung-hitung membantu teman, mulai berdiri dari duduknya dan melompat keluar dari gubuk.


” Yasudah kita bantu biar cepat selesai, biar bisa cepat-cepat pergi main, ” Mengambil wadah untuk memanen kopi.


~ ( X ) ~


Akhirnya mereka membantu Deden memanen kopi dikarenakan kopi yang belum dipanen masih cukup banyak, mereka membutuhkan waktu yang cukup lama juga.


Setelah hampir satu jam lebih memanen kopi, akhirnya selesai juga dengan hasil yang cukup banyak. Setelah hasil panennya dibawa pulang mereka sempatkan untuk pergi ke sungai sejenak hanya untuk sekedar istirahat, membersihkan diri dan sekaligus mandi di sungai.


~ Matahari Mulai Terbenam ~


Sambil tiduran di tepi sungai dengan melihat terbenamnya matahari, mereka bercerita tentang segala hal pada diri mereka dan juga hal apa saja yang sudah menimpa mereka pada akhir-akhir ini, terutama apa yang baru-baru ini terjadi pada Claras.


Reyza


Merebahkan tubuhnya di atas rerumputan tepi sungai, menatap ke arah langit dan sejenak memikirkan Claras.


“ Sayang sekali ya Claras tidak bisa ikut, "


Deden


Duduk Disamping Reyza dan melemparkan batuan kerikil ke sungai.


“ Iya yaa...kalau gak ada dia jadi sepi...soalnya dia sedikit rese dan banyak omong juga, "


" Plung "


" Plunggg " Batu sedikit besar di lemparkannya.


Reyzu


Tampak kekecewaannya kepada keluarga Claras karena melarang mereka untuk berteman hanya karena sebuah harta.


“ Dari keluarga dia yang baik Cuma Claras doang...yang lain sombongnya gak karu-karuan...sekaya apa sih keluarga dia sampai berani membeda- beda kan derajat orang, sampai-sampai si Claras di larang main sama kita, "


" Cuihh.. " Meludah ke arah sungai.


Reyza


Bangun terduduk, melihat ke arah Deden dan Reyzu yang tampak sejajar, dia menasihati Reyzu agar tidak terlalu berlebihan.


“ Huuus gak baik ngomong gitu..begitupun mereka itu keluarga Claras ( keluarga teman kita ), Gak baik ngomongin mereka, "


Deden


Mengarahkan pandanganya kepada Reyza, dia sependapat dengan Reyzu karena semua yang dia bicarakan benar adanya.

__ADS_1


“ Biarin aja di omongin...lagian satu kampung juga sudah tau kalau mereka itu sombongnya minta ampun dan banyak juga orang  yang benci sama mereka, "


Reyzu


Tanpa berfikir panjang, dia mengeluarkan semua isi pikirannya mengenai keluarga Claras.


“Apa lagi si juragan kopi itu (ayah Claras)...yang sudah menindas petani kecil dengan sesuka hati menurunkan harga kopi...apa dia gak mikir gitu susahnya ngerawat tanaman kopi...sampai seenak jidatnya mematok harga yang murah, "


Deden


Membenarkan semua yang dikatakan Reyzu, karena memang sudah banyak buktinya.


"Emang bener tuhh...dia beli dari petani dengan harga yang murah lalu menjualnya lagi ke kota dengan harga tinggi. Kalau disini ada pengepul lain, pasti akan bangkrut tuh juragan kopi...Sayangnya gak ada yang berani menyaingi mereka, "


Reyza


Memegang bahu Deden kemudian menenangkan suasana, dia tidak mau adanya kebencian di hati mereka terhadap keluarga Claras.


Reyza berfikir gimana cara agar permasalahan ini bisa cepat teratasi.


“ Sudah-sudah....Sekarang yang harus kita pikirkan gimana kita bisa bantu si claras agar dia diperbolehkan main dengan kita lagi, "


Deden


Berfikir sejenak mengenai apa yang dikatakan oleh Reyza, karena dia tahu kalau hal itu akan sangat sulit di lakukan.


“ Kalau untuk itu susah banget menurutku...kalau kita maksa pergi ke rumah Claras bisa jadi malah semakin keruh nihh masalah... Tau sendiri kan ibunya galak banget bisa-bisa bukan hanya kita yang dimarahin tapi si Claras bisa kena imbasnya juga, "


Reyzu


Dia berdiri menghadap ke arah terbenamnya matahari, memberitahu mereka untuk segara pulang karena sudah hampir malam.


“ Udah hampir adzan magrib tuh.....Ayo cepat pulang,"


Reyza dan Deden


Deden berdiri dahulu kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Reyza berdiri.


“ Yaudah kita pulang dulu...masalah ini kita pikirin nanti, "


" Besok kita main lagi, "


Mereka bertiga pun pulang bersama-sama


~ Hari Yang Sudah Larut ~


Selesai mengerjakan tugas sekolah, si kembar Rey beranjak menuju tempat tidurnya untuk beristirahat.


Akan tetapi Reyza selalu kepikiran tentang Claras yang membuat dia sulit untuk tidur, dia selalu gelisah di setiap malam yang membuat Reyzu sedikit terganggu.


Reyzu


Merasa risih melihat tingkah Reyza yang tidak bisa diam saat di tempat tidur.


“ Kamu ini kenapa sihh...Tiduurrr...Udah malam tau gak, ” Menyenggol punggung Reyza dengan menggunakan sikut.


Reyza


Dia tidak memperdulikan Reyzu, Sebelum masalah ini benar-benar selesai itu akan selalu menjadi beban dalam hatinya, sebagai temannya sudah seharunya saling membantu ketika ada masalah.


“ Udah kamu tidur aja duluu...aku nanti aja, " Tidur menghadap ke tembok.


Reyzu


Bangun terduduk menatap ke arah Reyza, dia bertanya tentang apa yang selalu dipikirkan Reyza tersebut.


“ Masih mikirin Claras...kan aku udah bilang kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama, jadi kamu jangan mikirin itu sendirian, Nanti kalau kau.....sakit malah tambah repot urusannya, ” Masih memeluk guling nya.


Reyza


Berpura-pura memejamkan mata dan menutup kepalanya dengan selimut.


“ Iya-iyaa aku tidur...Rese amat sih kau jadi adik, jadi tambah pusing aku, " Memeluk erat guling nya.


~ ( X ) ~


Meskipun Reyzu seakan-akan tidak perduli dengan hal itu akan tetapi dia juga selalu memikirkan cara untuk memecahkan masalahnya, meskipun dia tahu kalau itu akan menjadi hal yang cukup sulit dilakukan.


Demi temanya agar bisa lagi bersama-sama seperti dulu setidaknya ada usaha yang dilakukan untuk membantu, selain itu Reyzu juga tidak tega melihat kakaknya yang terus-terusan memikirkannya.


Tak terasa hari sudah larut malam dan Reyza yang tadinya gelisah tidak bisa tidur malah tidur duluan, sedangkan Reyzu masih melamun memikirkan hal tersebut, melihat kakaknya yang sudah tidur Reyzu sedikit tenang.


~ Terlelap Tidur ~

__ADS_1


__ADS_2