
Satu Bulan Telah Berlalu
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu akan datang juga, besok merupakan hari pertama kali si kembar Rey dan kawan-kawanya masuk ke universitas yang sudah menjadi pilihan mereka yaitu UNIKODARI, Universitas yang sudah menjadi pilihan pertama si kembar Rey pada waktu itu.
Selama satu minggu ini mereka sudah mempersiapkan segala macam kebutuhan mereka saat kuliah nanti, baik peralatan menulis hingga pakaian yang akan mereka pakai, semua sudah siap sedia tinggal pakai saja.
~ Pukul 07:30 WIB Di Meja Makan ~
Semua orang sudah siap bersedia di kursinya masing-masing menghadap makanan yang ada di depan mereka.
Pagi itu mereka kehilangan satu orang yang tidak menampakan dirinya yaitu Pak Akbar yang beberapa hari sudah pergi ke luar kota untuk bergantian mengurus perusahaan BARTANA milik keluarga besarnya.
Setelah semua orang siap dengan makanan yang ada di piring depan mereka, seperti biasa Pak Gerald sebagai kepala keluarga memimpin doa terlebih dahulu.
Beberapa saat suasana menjadi hening, mata terpejam, kepala tertunduk dan kedua tangan yang menadah di depan dada, mereka secara bersamaan memanjatkan doa dengan khitmat tanpa ada beban di hati mereka.
Pak Gerald
Mengusap kedua tangannya ke wajah dengan penuh rasa syukur.
" Doa selesai, "
Satu persatu dari mereka melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Pak Gerald lakukan.
" Aminnn "
Seru mereka hampir secara bersamaan.
Satu persatu sendok di atas piring mulai terangkat, satu suapan, dua suapan nasi dan lauk mulai mengisi mulut mereka.
Ekspresi wajah mereka sudah bisa menggambarkan betapa nikmatnya makanan yang di sajikan untuk sarapan di pagi itu, menu makanan terlihat hampir sama setiap harinya akan tetapi dengan cara pengolahan yang berbeda, sehingga lidah mereka bisa bergembira tanpa adanya rasa bosan.
~ 15 Menit Berlalu ~
Piring-piring yang ada di hadapan mereka sudah mulai kosong, sendok-sendok mulai di letakan secara acak diatas piring bersama dengan beberapa sisa tulang belulang lauk yang mereka pakai.
Beberapa tegukan air membasahi tenggorokan jatuh ke dalam perut mereka, empat orang dari mereka bersendawa pelan dengan mulut tertutup dengan tangan untuk menjaga kesopanan diantara mereka.
Mereka semua berdiam diri di meja makan untuk mengistirahatkan badan mereka, sekaligus untuk memberi waktu kepada lambung agar bisa mencerna makana yang baru saja masuk ke dalam perut.
Tidak ada satu patah pun keluar dari mulut mereka yang mengakibatkan terjadinya keheningan sesaat, sampai tiba-tiba dan tak terduga Deden menyenggol gelas yang ada di sampingnya hingga terjatuh dan pecah.
" Pyarrtt !!! "
Jantung mereka sedikit mengencang karena tidak bisa menahan keterkejutan sesaat itu, seluruh pandangan mata langsung tertuju kepada Deden yang juga kaget dengan kepala yang tertunduk ke bawah ke arah tempat jatuhnya gelas.
Karena merasa bersalah, Deden langsung berdiri dan menggeser tempat duduknya, dia berniat membersihkan pecahan gelas kaca itu dengan mengambilnya satu persatu.
Bu Sarah
Langsung berdiri dan menghentikan apa yang akan di lakukan Deden.
" Jangan kamu bersihin pake tangan !! nanti bisa terluka tanganmu, "
Segera menghampiri Deden dengan pandangan hati-hati menghadap ke bawah agar pecahan gelas kaca itu tidak melukai kakinya.
Tak berselang lama, dari arah belakang datang salah satu pembantu keluarga menghampiri mereka karena dia mendengar suara gelas pecah dan beberapa kegaduhan dari arah ruang makan.
Bu Sandra
Berdiri dari tempat duduknya dan melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai.
" Bibi tolong ambilkan sapu dan cikrak ( pengki ) untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan, "
__ADS_1
Menahan dan menyuruh pembantunya.
Pembantu
Mengangguk kepada Bu Sandra dengan pandangan mata yang sejenak melihat ke arah pecahan gelas yang berserakan.
" Baik nyonya, "
Bergegas meninggalkan ruang tamu.
Deden yang tidak bisa hanya diam saja, menghiraukan peringatan Bu Sarah dan dengan hati-hati, dia mengais dan mengumpul satu persatu pecahan gelas yang berukuran cukup besar agar nanti lebih mudah di bersihkan.
Bu Sarah dan Bu Sandra berdiri di depan Deden sambil mengamati apa yang dilakukanya, si kembar Rey, Dion dan Nino dari tempat duduknya juga melakukan hal yang sama.
Sedangkan Pak Gerald memainkan HP nya dan mengabaikan hal yang barusan terjadi karena menganggapnya sudah menjadi hal yang biasa dan tidak perlu di khawatirkan.
Tak berselang lama, pembantu tadi kembali dengan membawa sapu, cikrak ( pengki ) dan kain lap. Dia sesegera mungkin untuk membersihkan satu persatu pecahan gelas tersebut hingga bersih dengan di bantu Deden yang menggunakan kain lap itu untuk mengeringkan ceceran air di lantai.
Setelah semuanya beres, pembantu itu kembali ke belakang dan mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Bu Sandra
Menggeser dan menata tempat duduknya.
" Udah gak usah khawatir, itu sudah menjadi hal yang biasa disini, "
Segera duduk di tempat duduknya.
Deden
Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya, meskipun kejadian ini simpel dan tidak di permasalahkan tetapi Deden tidak bisa diam begitu saja.
" Aku bener-bener minta maaf ya bu, "
Bu Sarah
Memperlihatkan senyumnya kepada Deden untuk meyakinkannya.
" Udah gak papa, "
Pak Gerald dan Bu Sandra tersenyum dan mengangguk kepada Deden sebagai tanda menerima maaf Deden.
" Oh iya kalian besok, untuk pertama kalinya akan memasuki masa kuliah ! gimana sudah siap apa belum ? "
Bertanya dengan pandangan mata secara bergantian melihat ke arah si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden yang ada di hadapannya.
Di dalam hati mereka, tiba-tiba menjadi bimbang setelah Bu Sarah membicarakan hal itu, di dalam hati mereka antara siap dan tidak siap mengingat besok itu akan menjadi suatu hal yang baru untuk mereka.
Sorot mata mereka berlima secara bergantian saling memandang dengan tatapan yang bingung tanpa satu katapun terucap dari mulut mereka.
Sampai tiba saatnya, Reyzu dengan percaya dirinya berbicara terlebih dahulu kepada Bu Sarah untuk membangunkan semangat teman-temannya agar tidak bersikap pesimis.
Reyzu
Menegangkan dadanya dengan senyum percaya diri dari wajahnya.
" Siap lah bu !! Kuliah gak ada bedanya sama SMK kita dulu ... iya kan ? "
Memalingkan wajahnya ke kanan, terlihat Reyza, Dion, Nino dan Deden secara serentak memandangnya.
Terlihat Dion, Nino dan Deden yang cengengas-cengenges karena tidak yakin dengan apa yang dikatakan Reyzu barusan.
Reyza
__ADS_1
Menghela nafas panjang dan sejenak memejamkan matanya sebelum berbicara.
" Siap gak siap sih sebenarnya .... Yaa, mau tidak mau besok kita akan memulai sesuatu hal yang baru, "
Pak Gerald
Tersenyum tipis dengan pandangan acak
" Besok akan menjadi jalan awal kalian guna menentukan masa depan !! yang berhasil akan melambung dan yang gagal akan tersungkur, tetapi kalian jangan pernah sombong bila merasa sudah di atas karena kata-kataku tadi bisa terbalik. "
Secara bersamaan memperlihatkan ketegasan dan perhatian kepada mereka berlima.
Mendengar ucapan Pak Gerald mereka berlima mengangguk hampir bersamaan, kata-kata Pak Gerald sedikit membangunkan kepercayaan diri dari dalam hati mereka.
Reyza
Mengangguk dan tersenyum kepada Pak Gerald.
" Terimakasih saranya kek, "
Pak Gerald langsung membalas Reyza dengan tersenyum, kemudian dia sejenak melihat ke arah jam tangannya.
Pak Gerald
Melihat kembali jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08:10 WIB
" Kakek mau berkunjung ke perusahaan, kalian mau ikut apa gak ? "
Memandang si kembar Rey.
Reyza dan Reyzu saling memandang seperti memiliki pemikiran yang sama.
Reyzu
Menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kepada Pak Gerald
" Gak kek, untuk hari ini kita gak akan ikut dulu, mungkin lain kali, "
Melambai-lambaikan kedua tangannya.
Reyza
Mempertegas apa yang Reyzu katakan
" Iya kek, kita gak akan ikut, lain kali pasti kita akan ikut, "
Tersenyum lebar kepada Pak Gerald.
Bu Sarah dan Bu Sandra saling memandang melihat tingkah aneh dari si kembar Rey, dengan pikiran yang hampir sama mereka berdua mungkin bisa menebak apa yang akan di lakukan si kembar Rey.
Sedangkan Pak Gerald terlihat biasa saja tanpa ada rasa curiga dengan si kembar Rey, begitu juga Dion, Nino dan Deden yang merasa biasa-biasa saja.
Pak Gerald
Lekas berdiri dan menggeser kursinya.
" Yaudah kalau begitu kakek pergi dulu ya, "
Berpamitan dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
Wajah gembira si kembar Rey mengantar kepergian Pak Gerald dari ruangan tersebut.
~ Next ~
__ADS_1