
Sesampainya di Cafe Gasendra, Pak Sugeng langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah di sediakan cafe itu.
Kemudian Pak Sugeng seperti biasa, membukakan pintu untuk Pak Gerald karena itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
Pak Gerald masuk kedalam cafe di ikuti oleh Pak Sugeng di belakangnya, saat memasuki cafe semua pegawai yang bertemu dengannya langsung menyapa dan tunduk hormat kepada Pak Gerald.
Dia juga tersenyum ramah kepada para pegawainya dan para pengunjung cafe yang berpapasan dengan dirinya tanpa membeda-bedakan sama sekali.
Saat Pak Gerald datang, Zidane sama sekali tidak mengetahuinya dan terus fokus menghadap komputer di ruangannya untuk mengerjakan semua pekerjaannya.
Zidane baru mengetahui kedatangan Pak Gerald setelah Mbak Barista memberitahunya.
Mbak Barista
" Tok...Tok...Tok "
" Pak..Pak Zidane..Permisi Pak !! "
Mengetuk dan memanggil Zidane dari luar ruangan dengan sedikit tergesa-gesa karena masih banyaknya pesanan yang harus dia selesaikan.
Zidane yang lagi fokus-fokusnya menyelesaikan pekerjaan merasa sedikit terganggu dengan suara ketukan pintu dan suara panggilan orang yang sedang memanggil dirinya.
Dia bergegas keluar untuk mengecek hal apa yang sebenarnya terjadi.
Zidane
Saat membuka pintu, dia mendapati Mbak Barista yang sedang clingak-clinguk membelakangi dirinya.
" Ada urusan apa kamu ? "
Zidane yang tiba-tiba muncul dari belakang, sama sekali tidak di sadari oleh Mbak Barista sehingga membuatnya kaget.
" Kamu lagi lihatin apa ? "
Tanya Zidane dengan penasaran sambil melihat ke arah tempat yang dilihat oleh Mbak Barista.
Mbak Barista yang melihat Pak Zidane yang sudah di hadapannya menjadi grogi untuk berbicara.
Mbak Barista
Seketika malu-malu dan menundukkan kepalanya saat ada Zidane dihadapannya.
" Anu Pak !! "
" Eeeee.... Tadi tuan Gerald datang kesini, "
Pelan-pelan dia berbicara.
Zidane yang mengetahui hal itu, menjadi terkejut dan berjalan keluar ruangan beberapa langkah untuk mencari-cari dimana Pak Gerald sekarang, akan tetapi sejuah dia memandang sama sekali tidak melihat keberadaan Pak Gerald.
Zidane
Memegang kedua bahu Mbak Barista karena sedikit panik.
" Kemana tuan sekarang ? "
Mbak Barista menjadi semakin malu dan grogi saat Zidane memang kedua bahunya, pandangan matanya mengarah ke kedua tangan Pak Zidane yang sedang memegangnya.
Zidane langsung menyadari kalau dirinya terlalu berlebihan hingga membuat Mbak Barista salah tingkah dan langsung melepaskan tangannya.
__ADS_1
Mbak Barista
Menundukkan kepalanya dan memainkan kedua tangannya untuk menutupi ke groginya.
" Tuan Gerald tadi ke belakang, "
Menunjuk ke arah tempat Outdoor.
Saat itu juga, Zidan langsung bergegas menutup pintu ruangannya yang masih terbuka dan langsung berjalan ke arah tempat Outdoor.
Saat sampai di tempat outdoor, pandangan matanya mengamati ke segala penjuru tempat itu mencari Pak Gerald di sela-sela banyaknya pengunjung yang datang di hari itu.
Dia mencari dari sudut kiri ke arah sudut kanan dan menemukan Pak Gerald yang sedang duduk bersama Pak Sugeng dengan meja yang masih kosong, menandakan bahwa Pak Gerald belum lama sampai di cafe ini.
Hal itu membuatnya lega karena masih belum terlambat untuk menyambutnya, Zidane sangat antusias menyambut kedatangan Pak Gerald karena selain sebagai atasannya, dia juga sudah menganggap Pak Gerald sebagai orang tuannya sendiri.
Jadi dari awal Zidane seperti orang yang sedang tergesa-gesa itu bukan karena dirinya takut, tetapi karena rasa hormatnya yang membuat dirinya seperti itu.
Zidane berjalan menghampiri Pak Gerald sambil merapikan penampilannya agar terlihat lebih rapi dan sopan ketika bertemu nanti.
Zidane
Berdiri di depan Pak Gerald dengan sopan satun.
" Permisi tuan, "
Membungkukkan sedikit badanya sebagai rasa hormatnya.
Pak Gerald langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menghargai apa yang dilakukan Zidane.
Tidak hanya itu Pak Gerald juga menyalami Zidane sebagai sebagai rasa hormatnya dan Zidane juga tidak segan untuk mencium tangan Pak Gerald saat bersalaman.
Pak Sugeng juga dengan lapang dada menerima pengalihan pekerjaan itu, karena yang terpenting dalam dirinya bukan sebuah jabatan tetapi pengabdian.
Pak Gerald
Mempersilahkan Zidan untuk duduk.
" Silahkan duduk, "
Akan tetapi, Zidane lebih menyarankan untuk berbincang-bincang saja di ruangan staf agar lebih nyaman.
Zidane
Membungkukkan badanya lagi dengan tangan kanan berada di atas dadanya.
" Maaf tuan, lebih baik kita berbicara saja di ruangan staf agar lebih nyaman. "
Dengan sopan dia berbicara.
Pak Gerald menanggapi hal itu dengan tersenyum dan salah satu tangannya meraih lengan Zidane.
Pak Gerald
Memandang Zidane dengan penuh kebanggaan.
" Kamu gak usah terlalu sopan kepadaku karena aku bukan seorang raja yang harus kamu hormati, "
Zidane yang mendengar ucapan itu, terdiam sesaat karena bingung mau berkata apa lagi.
__ADS_1
Pak Sugeng yang dari tadi diam, mulai ikut berbicara untuk menengahi pembicaraan Pak Gerald dan Zidane yang terlihat sudah sampai ujung.
Pak Sugeng
Sorot matanya mengarah ke Zidane.
" Ada suatu pertanyaan yang dibuat bukan untuk di jawab, jadi kamu gak perlu repot-repot mikir buat ngejawab, "
Tersenyum menatap Pak Gerald yang sepertinya paham dengan apa yang baru saja dia katakan.
Zidane yang mulai paham, kemudian menganggukkan kepalanya dengan sedikit tersenyum, mungkin karena malu sudah terlihat bodoh dihadapan Pak Gerald dan Pak Sugeng.
Setelah menganggap semuanya tidak ada masalah, dia mengulangi kata-katanya tadi yang belum sempat di jawab oleh Pak Gerald untuk mengajaknya keruangan staf agar lebih enak saat berbicara nantinya.
Pak Zidane
Meminta maaf kembali tanpa membungkukkan badanya.
" Maaf tuan, bisakah kita keruangan staf saja agar tuan lebih nyaman disini, "
Menurunkan sedikit pandanganya.
Awalnya Pak Gerald datang kesini untuk berkunjung dan mengecek kondisi cafe, oleh karena itu dia tidak menghubungi Zidane karena menganggap kedatanganya hari ini tidak penting dan tidak ada hubungan dengan bisnis.
Makanya saat datang, Pak Gerald lebih memilih duduk di tempat pengunjung daripada di ruangan staf, karena dia tahu kalau Zidane pasti sedang sibuk bekerja dan takutnya malah mengganggu.
Pak Gerald
" Kita datang kesini hanya main saja, gak ada hal yang penting juga... Kamu juga pasti lagi sibukkan ? Lebih baik kamu kembali kedalam dan selesaikan pekerjaanmu, takutnya nanti malah gak selesai-selesai karena kamu meladeni kami disini, "
Dengan pelan dia berbicara.
Zidane yang tidak mempermasalahkan pekerjaannya yang hampir selesai, memilih untuk tetap menemani Pak Gerald dan Pak Sugeng karena ada beberapa hal yang akan dia sampaikan.
Pak Zidane
"Pekerjaanku sudah hampir selesai jadi tidak terlalu masalah, lebih baik saya disini untuk menemani tuan karena ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada tuan,"
Duduk di depan Pak Gerald di samping Pak Sugeng yang sedikit bergeser.
Pak Gerald yang penasaran dengan apa yang akan di bicarakan Zidane segera menanggapinya karena takutnya ada hal yang penting.
Pak Gerald
Pandangan matanya dengan serius menatap Zidane.
" Kamu ingin menyampaikan hal apa ? apa sedang lagi ada masalah ? "
Dengan Penasaran dia bertanya.
Pak Sugeng juga penasaran dengan hal apa yang ingin disampaikan Zidane, oleh sebab itu dia sedikit mendekatkan kursinya agar bisa lebih jelas mendengarkan nantinya.
Zidane
" Ini tentang tuan muda, "
Sorot matanya mengarah ke Pak Gerald dan Pak Sugeng secara bergantian, seakan-akan hal ini sangat serius untuk di bicarakan.
~ Next ~
__ADS_1