
Kelima orang itu dengan barisannya mengikuti arah jalan ketiga senior yang terus berjalan di depan, entah kemana ketiga senior itu akan menuntun mereka yang masih asing dengan lingkungan kampus. Halaman luas yang terisi oleh barisan-barisan mahasiswa taat aturan tadi sekarang tampak sepi, hanya beberapa regu saja yang masih ada di sana dengan ditemani oleh para senior pembimbing mereka.
Pandangan kelima orang di barisan paling belakang secara acak menyapu setiap tempat yang mereka lewati, di dalam area kampus yang luas berdiri banyak sekali bangunan dan beberapa gedung tinggi yang berjajar rapi dengan di hiasi oleh tanaman dan pepohonan rindang yang tumbuh di setiap sudut kosong area dalam kampus. Mata mereka berlima seakan tidak mau melewatkan satu tempatpun di area kampus meskipun mereka berlima sama sekali belum mengetahui fungsi dari tempat-tempat tersebut.
Hampir 10 menit berjalan di area dalam kampus yang luas, ketiga senior itu membawa mereka ke suatu bangunan luas yang sudah ada beberapa regu mahasiswa baru duduk rapi di dalamnya. Di bagian paling depan ruangan itu terdapat satu layar monitor yang sudah menyala dengan 8 orang berpakaian rapi, 5 orang dari mereka masih terlihat remaja dengan memakai pakaian jas yang sama dengan yang dipakai oleh keempat senior yang menghukum kelompok monyet di area lapangan basket. Ketiga orang dari mereka terlihat jauh lebih tua dengan memakai pakaian bebas rapi penuh kewibawaan saat berada di depan seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu.
Sebelum masuk kedalam gedung, mereka di suruh berhenti dan berbaris rapi oleh ketiga senior kampus tanpa tahu alasannya. Setelah mereka berjajar rapi, ketiga senior itu tanpa alasan yang jelas malah meninggalkan mereka begitu saja di depan gedung dengan pintu terbuka dimana mereka sebenarnya bisa memasukinya kapan saja. Di perlakukan seperti itu mereka hanya bisa menelan ludah, karena mau bagaimanapun untuk saat ini perintah para senior itu mutlak dan harus di patuhi oleh mereka tanpa terkecuali.
Ketiga senior kampus yang berjalan meninggalkan mereka, terlihat salah satu diantara mereka masuk ke dalam gedung dan dua lainya menunggu di luar. Belum lama di dalam, senior yang masuk kedalam ruangan gedung itu keluar lagi dengan ditemani satu orang mahasiswa senior bersamanya, mereka berempat kemudian berbincang-bincang satu sama lain di halaman gedung dengan di iringi suara spiker dari dalam gedung yang terus bergema di telinga mereka.
Di barisan belakang kelompok monyet itu, kelima remaja tangguh itu tetap berdiri dengan tegap meskipun terjadi kemunduran diantara mereka karena merasa sudah malas dan capek untuk melakukan hal-hal yang mereka anggap sangat menyita waktu itu.
Nafas panjang dan berat keluar dari mulut Deden, dalam benaknya dia sempat berfikir untuk cepat menyelesaikan hal ini kemudian pulang dan tidur di rumah dengan posisi nyaman untuk tubuhnya, " Hari ini benar-benar nasib sial untuk kita, entah kenapa aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur di rumah ?? " Dia tidak pernah menyangka di hari pertama masuk kuliahnya ini dia harus menerima nasib sial yang tidak pernah dirinya duga sebelumnya, dari hampir mati saat di perjalanan hingga terlambat masuk dan harus kena hukuman yang seperti tidak ada habisnya. Tapi rangkaian kejadian ini sudah menjadi takdir untuknya dan mau tidak mau dia harus menjalani dan mengakhirinya sendiri.
" Tidur dengan nyaman dan tenang, " Gumaman Nino menyahut perkataan Deden dengan penuh khayalan, rasa capek dan muak dalam dirinya menyatu dalam satu kesatuan yang membuat emosi dalam dirinya menjadi kacau. Pandangan matanya menghadap ke atas menerpa silau matahari yang sinarnya terhalangi oleh rindang dedaunan pohon yang tinggi di atasnya, tatapan matanya membawa harapan yang besar untuk segera mengakhiri hari penuh kesialan ini.
__ADS_1
Perasaan yang hampir sama dirasakan oleh si kembar Rey dan Dion, akan tetapi keteguhan dan harga diri mereka bertiga seakan membungkam mulut mereka untuk mengeluh satu sama lain. Ketiga orang remaja yang mempunyai keunggulan lebih besar di banding kedua orang lainnya itu bisa dijadikan panutan yang baik, ketenangan, keberanian dan ketangguhan mereka dalam menghadapi sebuah masalah sudah tidak bisa diragukan lagi, mengingat usia mereka yang masih kurang dari 20 tahun itu. Ketiga remaja yang berdiri sejajar itu saling menatap setelah mendengarkan keluh kesah dua orang temannya, tetapi tatapan mereka bertiga hanya membawa kekosongan tanpa adanya penyelesaian.
Hampir 5 menit barisan acak kelompok monyet itu berdiri, akhirnya ketiga senior itu kembali dan dengan cepat memberikan perintah kepada mereka, " Disini yang ambil salah satu jurusan soshum siapa ? angkat tangan, " Senior 1 dengan tongkat yang ada ditangannya memberikan perintah guna untuk memecah mereka sesuai jurusan yang mereka ambil.
Si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden secara serentak mengangkat tangan mereka di ikuti oleh beberapa orang di kelompok monyet yang juga ikut mengangkat tangan. Ketiga senior yang melihat ada beberapa orang yang mengangkat tangan langsung memisahkan mereka membuat barisan sendiri.
" Kalian semua baris dua banjar cepat !! " Senior 3 dengan tegas dan cepat memerintahkan mereka untuk mempersingkat waktu. " Kalian masuk ke dalam, lalu duduk sesuai dengan kejuruan kalian paham !! " Meskipun hukuman untuk mereka sudah berakhir, tetapi sikap garang dari senior 3 masih di tunjukkan kepada mereka agar tidak kehilangan harga dirinya.
Mereka berlima dengan beberapa orang lainnya masuk kedalam gedung yang sudah dipenuhi oleh banyak sekali mahasiswa baru dengan serius mendengarkan informasi dan materi yang sedang di jelaskan di depan. Saat masuk kedalam mereka ditanyai oleh salah satu senior yang sudah menunggu kedatangan mereka di dalam.
" Jurusan kalian apa ? " Berbeda dengan ketiga senior tadi yang galak, senior satu ini terlihat lebih kalem dan tenang saat berhadapan dengan mahasiswa baru, sehingga tak heran kalau dirinya banyak di sukai oleh para mahasiswa baru yang pernah bertemu dengannya.
" Bisnis manajemen di regu nomer dua paling kanan, kalian ke sana aja, " Senior itu menunjukkan tempat duduk untuk si kembar Rey dan teman-temannya.
Reyza melihat kearah dimana senior itu menunjukkan tempat duduk mereka agar mereka tidak salah tempat, " Terimakasih banyak Mas, " Senyum tipis di wajahnya akhirnya muncul setelah terpendam beberapa saat, dia menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke tempat dimana mereka semestinya.
__ADS_1
Di dalam ruangan itu mereka menghabiskan waktu berjam-jam karena banyaknya informasi dan materi yang harus mereka ketahui, selain itu jari tangan mereka menjadi sedikit kaku setelah menulis beberapa lembar informasi dan materi-materi itu di dalam bukunya. Sebenarnya bisa dibilang kedatangan mereka jauh lebih lambat kurang lebih satu jam dari yang lainya, tetapi bila dipikir dengan akal pikiran lebih enak di suruh duduk dan menulis dari pada berdiri dan berlari di lapangan yang panas.
Setelah acara di gedung itu selesai, mereka beristirahat dan berganti ke gedung selanjutnya untuk mendapatkan materi baru oleh pembimbing yang berbeda. Apa yang mereka lakukan di gedung itu hampir sama dengan yang mereka lakukan di gedung sebelumnya yaitu duduk, mendengarkan dan menulis sesuatu yang tidak ada habisnya.
Setelah 7 jam melakukan rangkaian kegiatan ospek hari ini, akhirnya kegiatan untuk hari ini selesai juga. Betapa lega dan senangnya mereka berlima karena bisa melewati hari-hari yang mereka anggap sulit di hari pertama mereka masuk kuliah ini. Mereka berlima dengan kaki yang sudah merasa berat untuk berjalan dan pinggang yang sudah mulai kaku berjalan perlahan meninggalkan gerbang sekolah.
Dipinggir jalan depan kampus terlihat sangat ramai oleh para mahasiswa yang ingin bergegas pulang kerumah untuk beristirahat, begitu juga dengan si kembar Rey dan ketiga temannya yang terlihat menunggu ojol yang sudah mereka pesan di depan gerbang kampus dengan wajah yang mulai pucat.
Di tengah keramaian mahasiswa yang berlalu lalang di depan gerbang, Deden tidak sengaja melihat seseorang yang terlihat tidak asing untuk dirinya di sela-sela lalu lalang orang yang ada di hadapannya. Tatapan matanya beberapa saat terfokus kepada sosok yang tidak pernah dia liat sebelumnya itu, tetapi hati dan pikirannya mengatakan hal berbeda yang membuat rasa penasaran dan keraguan yang cukup besar dalam hatinya.
" Orang itu siapa ya ? " Tatapan matanya teralih kepada keempat orang yang ada di hadapannya dengan penuh rasa penasaran. Ke empat orang itu spontan melihat kearah keramaian orang-orang yang ada dihadapannya, tetapi yang mereka lihat hanya wajah-wajah asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
" Siapa yang kamu maksud ? " Kerena penasaran dengan siapa yang dimaksud, Dion bertanya kepada Deden untuk memastikannya siapa tahu kalau di kota ini mereka bisa bertemu dengan orang yang mereka kenal di desa.
Deden mengalihkan pandanganya kembali ke tempat yang sama tetapi, orang itu sudah hilang dari pandangannya. Karena merasa tidak mengenali orang itu, Deden berfikir kalau yang dia rasakan barusan hanya perasaannya saja atau halusinasinya karena sudah kecapean setelah kegiatan hari ini. " Mungkin perasaanku saja karena sudah capek, " Nafas panjang keluar dari hidungnya setelah berbicara.
__ADS_1
Tak berselang lama ojol yang mereka pesan pun datang dan mereka bergegas untuk pulang kerumah karena merasa sudah sangat capek.
~ Next ~