
Sekarang si kembar Rey hanya tinggal bertiga bersama Bu Sarah, dikarenakan Pak Akbar sudah dua tahun ini pergi ke kota untuk urusan pekerjaan.
Selain untuk kuliah, niat awal si kembar Rey pergi ke luar kota juga dengan maksud untuk menyusul Pak Akbar.
~ Malam Hari Yang Dingin ~
" Buk..."
" Ibuk...."
" Ibuk dimana ? "
Panggil dari ruang tamu.
Tak berselang lama, Bu Sarah keluar dari kamar dengan mukena yang masih dia pakai.
" Iya...Kenapa panggil-panggil ibu ? " Tanya Bu Sarah sambil merapikan mukenanya.
" Ehhh gak jadi...Ibu sholat aja dulu hehe, "
" Kamu yang jadi imam cepat, " Suruh Bu Sarah.
" Ibu ada-ada aja...Gak lihat kalau kita berdua baru saja pulang dari masjid, kita aja masih pake sarung, " Sahut Reyzu tiduran di sofa.
" Oh iya...Gak jadi kalau begitu, " Buru-buru kembali ke dalam kamar.
" Ibu kamu ada-ada aja tingkahnya, " Canda Reyzu.
" Bukanya dia istri bapakmu ya, " Membalik omongan Reyzu.
" Ahh..Gak taulah, mau ganti baju dulu aku, "
" Plak.."
Usil memukul lengan Reyza dengan kopiahnya.
" Kurang keras mukulnya, " Ujar Reyza.
Bukanya cepat pergi, Reyzu malah balik lagi memukul Reyza untuk kedua kalinya,
" Plak..." Memukul kepala Reyza dengan Lebih kencang dari pukulan yang tadi.
Sehabis mukul Reyzu lari terbirit-birit menuju ke kamarnya.
" Anak Segawon !!! "
Karena gak terima, dengan cepat Reyza mengejar Reyzu masuk ke kamar.
" Plak.."
" Plak..Plak.."
" Ampun..Ampun.."
" Sudah..Ampun....Aduh...."
" Plak..Plak..."
" Plak..." Pukulan terakhir terdengar sangat nyaring.
__ADS_1
" Aduh..." Jeritan penderitaan Reyzu.
Reyza keluar dari kamar Reyzu dengan perasaan yang sangat puas, karena pukulannya tidak ada yang meleset.
~ 5 menit kemudian ~
" Reyza...Reyzu..." Dari ruang tamu Bu Sarah memanggil keduanya.
Reyzu yang sudah selesai duluan ganti baju segera pergi ke ruang tamu.
" Reyza dimana ? " Tanya Bu Sarah.
" Gak tau...Masih di kamar kali, " Berjalan perlahan sambil tangan yang sibuk mengusap-usap bekas pukulan Reyza yang tampak memerah.
" Kamu habis kenapa...Sampai merah-merah gitu, " Melihat lebih jelas bekas luka Reyzu.
" Biasalah...Anak jantan, " Sok kuat di depan ibunya padahal lagi tersiksa.
Tak berselang lama, akhirnya Reyza keluar kamar menghampiri mereka berdua di ruang tamu.
Karena masih geram, Reyza ingin memukuli Reyzu lagi tapi tidak tega di depan Bu Sarah.
" Ampun...Ampun.." Tangan yang sudah bersiap untuk menangkis.
" Kalian udah besar...Masih aja kaya anak kecil sukanya berantem mulu, " Nasehat Bu Sarah.
~(X)~
Bu Sarah menanyakan perihal keputusan Deden, mau tidaknya ikut bersama mereka keluar kota.
" Gimana Deden...Setuju apa enggak ? " Bu Sarah bertanya.
Ternyata, sebelum si kembar Rey tadi berbicara kepada Deden, mereka sudah meminta izin dulu kepada Bu Sarah untuk mengajak Deden pergi bersama mereka.
" Dia setuju untuk ikut buk, " Jawab Reyza.
" Ya harus mau lah...Kalau gak mau aku yang akan seret dia supaya ikut bersama kita, " Dengan santai dan PD nya Reyzu berbicara.
" Baguslah kalau dia mau, "
" Rencana kapan kalian akan berangkat ? "
" Rencana kita sih bulan depan buk, " Pandangan mata mengarah ke kalender.
Bu Sarah tidak menyetujui rencana keberangkatan mereka, karena di anggap terlalu lama.
" Jangan Bulan depan lah, Terlalu lama itu,"
" Kalau gak bulan depan terus kapan ? " Meminta saran.
" Minggu Depan kita berangkat dan ibu akan ikut bersama kalian, " Jelas Bu Sarah.
" Hah..Ibuk Ikut ? " Terkejut mendengar pernyataan Bu Sarah.
Reyza tidak menyangka kalau Bu Sarah akan ikut pergi bersama mereka, itu sudah di luar dugaan dan rencana mereka yang awalnya hanya akan berangkat bertiga saja dengan Deden.
" Ibuk kenapa jadi ikut-ikutan pergi ? " Tanya Reyzu dengan tangan yang masih sibuk memainkan HP nya.
" Suka-suka ibuk lah " Membuang muka.
__ADS_1
" Bilang aja mau ketemu Bapak, " Gurau Reyzu meletakkan HPnya.
" Minggu depan kita berangkat dan ibu akan tetap ikut kalian, " Pergi meninggalkan ruang tamu dengan hati yang sangat senang, menandakan kalau yang dibicarakan Reyzu tadi itu benar.
" Cuma umurnya aja yang semakin bertambah, tapi tingkahnya masih kaya bocah...Hadehh, "
Heran dengan perilaku ibunya sendiri.
Reyza mengajak Reyzu untuk pergi kerumah Deden untuk memberitahunya tentang perubahan jadwal keberangkatan mereka.
" Ikut aku kerumah Deden buat ngasih tahu dia kalau kita akan berangkat minggu depan, " Reyza mengambil kunci kontak motornya.
" Ngapain susah-susah ke sana....Tinggal WA aja kan bisa, " Tiduran di sofa sambil main HP.
" Kamu mau ikut apa kagak...Kalau enggak aku pergi sendiri, " Mengeluarkan motornya
" Ya maulah, " Bergegas menghampiri Reyza.
~ Deden ~
Deden menceritakan tentang ajakan si kembar Rey tadi kepada orang tuanya, agar di berikan izin.
" Buk..."
Panggil Deden dengan pelan.
" Kenapa ? "
" Ini aku mau bicara sama bapak dan ibuk, "
Ragu-ragu mau bicara.
" Lagi ada masalah apa ? " Bapak Deden bertanya.
" Gak ada masalah kok Pak..." Deden masih bingung mau mulai dari mana.
" Kalau ada yang penting ngomong aja...Gak usah grogi gitu, " Ujar Ibu Deden.
" Ini sebenarnya aku mau ngomong...Kalau tadi sore aku di ajak Reyza dan Reyzu pergi keluar kota untuk kuliah...Kemungkinan berangkatnya bulan depan, " Pelan-pelan Deden berbicara.
" Kuliah ? " Ibuk Deden terkejut.
" Gini ya Lee...Sebenarnya Bapak sama Ibu juga ingin kamu kuliah, tapi kamu juga tahu sendiri kalau Ekonomi kita aja pas-pasan dan kadang-kadang buat makan aja masih susah, " Bapak Deden terus terang tentang perekonomian mereka.
" Maafin Bapak sama Ibuk ya Den...Kalau untuk kuliah, kita gak punya uang untuk membiayai kamu, " Tampak kesedihan yang mendalam dari Ibuk Deden.
" Bapak sama Ibuk nggak usah khawatir tentang biaya...Reyza dan Reyzu tadi bilang ke aku kalau mereka yang mendanai semua uang kuliah aku, " Deden sudah sangat percaya kepada si kembar Rey.
" Perekonomian keluarga kita dan keluarga Pak Akbar kan sama Den...Dari mana mereka bisa membiayai kuliah kamu ? " Keraguan yang sangat besar dari hati Ibuk Deden.
" Yang dikatakan Ibuk kamu itu benar Den...Kita dengan mereka itu sama-sama dari keluarga miskin...Bagaiman mereka bisa membiayai uang kuliah kamu, " Bapak Deden sama ragu nya dengan istrinya.
Karena rasa kepercayaan yang sudah besar terhadap si kembar Rey, Deden sangat yakin kalau mereka tidak akan membohongi dirinya.
" Kalian gak usah khawatir akan hal itu...Aku sudah sangat percaya kepada mereka berdua, aku sangat yakin kalau mereka tidak akan berbohong kepadaku, " Meyakinkan kedua orang tuanya.
Di saat perbincangan diantara mereka, terdengar ada suara motor yang berhenti di depan rumah mereka.
" Tok..Tok...Tok.."
__ADS_1
" Permisi "
~ Next ~