Empat Serangkai

Empat Serangkai
Tatapan Gelap


__ADS_3

Panas terik matahari dengan hawa panas yang menyelimuti seluruh orang di barisan acak itu, semakin menambah siksaan pedas untuk mereka di hari pertama ini. Sudah lebih dari 30 menit kepala mereka diterpa oleh gejolak panasnya matahari tanpa satupun benda yang dapat melindungi wajah mereka dari terpaan sinar matahari itu.


Kedua tangan yang bersimpuh di belakang perlahan mulai merenggang dengan keringat dingin yang mulai membasahi kedua telapak tangan. Kaki-kaki yang mereka gunakan untuk menopang tubuh ringkih itu perlahan-lahan mulai bergetar seiring berjalannya waktu di tambah lagi dengan tenggorokan mereka yang sudah semakin mengering.


Di depan mereka sedikit menjauh ada tiga orang mahasiswa senior yang berteduh di balik bayangan tembok pembatas lapangan basket terus memperhatikan mereka tanpa perintah apapun yang keluar dari mulut ketiga senior itu. Tak lama berselang, desiran tipis angin sayup-sayup menerpa seluruh area lapangan luas di barengi dengan datangnya sosok perempuan sedingin es yang berjalan menghampiri ketiga senior itu dengan lirikan mata tajam mengamati barisan acak yang ada di depannya.


Sosok wanita berkulit putih susu dengan berbagai pesona kecantikan yang dipancarkannya bisa membuat siapa saja tertegun beberapa saat ketika memandangnya, akan tetapi sikap dingin penuh kewibawaannya bisa melunturkan semua tanggapan dan angan-angan indah para lelaki yang secara alami tertarik kepadanya. Yaa !!! sosok wanita berkulit putih susu sedingin es itu adalah senior wanita yang datang berbarengan dengan desiran angin yang mengikuti setiap langkahnya seakan terdapat ketertarikan yang tertuju kepadanya.


Setiap pasang mata para laki-laki dibarisan acak kelompok monyet itu seperti tidak bisa melepaskan pandanganya terhadap pesona indah yang dipancarkan senior wanita itu, beberapa orang diantara mereka seakan mendapatkan tenaganya kembali dan lebih bersemangat untuk tetap tegak berdiri di bawah gejolak sinar matahari yang semakin memuncak. Beberapa laki-laki lemah diantara mereka tiba-tiba menjadi pribadi yang sok kuat karena tidak ingin di padang lemah oleh sosok perempuan yang memancarkan ketertarikan di hati mereka itu. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka untuk melakukan hal itu, tapi satu yang pasti terlihat jelas oleh pandangan mata, mereka semua terkesan diabaikan dan tidak dipedulikan sama sekali oleh sosok wanita yang sangat mempesona itu.


Dibarisan paling belakang kelompok monyet terlihat jelas 4 orang laki-laki yang tetap berdiri tegak di bawah tekanan dengan pandangan mata yang tetap fokus memperhatikan area luas di sekelilingnya, diantara mereka berempat terdapat satu orang berkacamata yang terlihat jauh lebih lemah dari 4 orang yang berdiri sejajar di sampingnya. Tentu saja !! kelima orang pemuda itu lebih tangguh dibanding dengan orang-orang yang berdiri dengan mereka dalam satu barisan acak di tengah lapangan basket itu, si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden sangat terlihat jelas kegigihan mereka menerima hukuman yang di berikan kepada mereka.


Kedatangan senior wanita itu sempat menarik perhatian mereka berlima dengan ekspresi acak di setiap wajah yang menatap tajam ke depan sebelum berpaling menatap satu sama lain dengan penuh keheningan. Sosok wanita yang terlihat mempesona itu nampak biasa saja di hadapan mereka berlima tanpa ada ketertarikan sedikitpun, akan tetapi ada yang berbeda dari pandangan Reyzu yang terlihat sangat serius memperhatikan setiap langkah wanita itu. Entah apa yang sedang dia pikirkan ? entah kebencian ataupun ketertarikan yang ada dalam matanya kita semua tidak ada yang tahu. Tapi satu yang pasti, diantara mereka berlima yang pernah berhadapan langsung dengan sosok wanita itu adalah Reyzu sendiri meskipun hanya dalam waktu singkat.


Rasa penasaran dalam hati Reyza mencuat ketika melihat senior wanita yang jauh di sudut depan matanya, dalam benaknya telah muncul beberapa pertanyaan yang siap dia lontarkan kepada Reyzu yang dia yakini tau sedikit tentang siapa senior wanita itu, mengingat Reyzu lah satu-satunya orang yang pernah berhadapan langsung dengannya.

__ADS_1


"Wanita itu salah satu mahasiswa senior yang bersamamu tadi kan? siapa dia ? " Pandangan matanya seketika beralih menatap Reyzu saat melontarkan satu pertanyaan yang dari tadi sudah ada dalam pikirannya.


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Reyza tidak langsung terjawab oleh Reyzu karena dalam dirinya juga tidak mengetahui secara pasti siapa sebenarnya senior wanita itu. Suatu hal yang bisa dia pastikan hanya satu, dia sangat yakin kalau senior wanita tersebut memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada ketiga laki-laki yang selalu bersamanya.


" Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tahu kalau senior wanita itu mempunyai kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding ketiga senior bngst yang ada di sampingnya. " Kata-kata yang keluar dari mulutnya dibarengi dengan tatapan mata dingin yang menusuk tajam ke arah senior wanita yang berada jauh di depannya.


Setelah mendengarkan jawabannya, Reyza memalingkan wajahnya lurus ke depan di sela-sela orang-orang yang berbaris di depannya menatap senior wanita itu. Dia hanya mengangguk tanpa ada sedikitpun kata yang keluar dari mulutnya, begitu juga Dion, Nino dan Deden yang sedari tadi diam mendengarkan celotehan mereka berdua.


Dibawah bayangan tembok yang menutupi terik matahari, senior wanita merasakan ada sesuatu yang janggal diantara barisan acak kelompok monyet yang berada di tengah lapangan luas. Pandangan matanya secara acak menyapu setiap orang yang ada di barisan dari ujung ke ujung hingga mendapati ada salah satu diantara mereka dengan dingin menatap dirinya bak seorang singa yang bersembunyi di rerumputan menunggu mangsanya.


Tatapan gelap kedua orang itu akhirnya terhenti ketika salah satu senior yang ada di samping senior wanita itu angkat bicara. " Apa yang akan kita lakukan dengan mereka ? " Senior 1 berdiri di samping senior wanita yang menyebabkan pandangan matanya menjadi goyah.


Padangan matanya yang sempat goyah kembali terarah kepada remaja yang menatap gelap dirinya tadi, tatapan gelap itu tiba-tiba hilang dari padangan matanya bersamaan dengan ucapan yang keluar dari mulut senior 1.


"Suruh mereka lari keliling lapangan 10x kemudian gabungkan mereka dengan mahasiswa yang sedang ospek di depan." Dengan dingin senior wanita itu memberi perintah kepada para senior yang menjadi bawahannya sebelum meninggalkan area lapangan.

__ADS_1


Setelah adanya perintah itu, tanpa basa-basi ketiga mahasiswa senior langsung menjalankan perintah yang telah di berikan senior wanita kepada mereka.


" Letakkan semua barang bawaan kalian kemudian lari keliling lapangan ini 10x cepat !! gak ada yang ngeluh !! " Senior 3 dengan tegas memberi perintah kepada semua orang yang berada di barisan acak di depannya. Hentakan perintah itu di ikuti oleh kedua senior lainya yang secara suka rela ikut melakukan paksaan terhadap barisan acak kelompok monyet itu.


" Ayo cepat lari !!! "


" Lari !!! "


Teriakan-teriakan itu bergema ditelinga semua orang yang ada di area lapangan itu.


Orang-orang yang awalnya berjajar rapi dalam satu barisan berangsur-angsur terpecah satu sama lain secara berturut-turut berlari mengelilingi lapangan.


1 putaran - 2 putaran - 3 putaran - hingga akhirnya genap 10x putaran mereka berlari mengelilingi lapangan basket yang beratap langit dengan terik matahari yang membakar kulit mereka. Setelah melakukan putaran itu, mereka di suruh berkumpul dengan para mahasiswa yang taat aturan untuk mengikuti rangkaian kegiatan ospek yang akan di laksanakan pada hari ini.


~ Next ~

__ADS_1


__ADS_2