Empat Serangkai

Empat Serangkai
Orang Pilihan


__ADS_3

Di ruangan staf cafe itu, satu persatu rahasia mulai terungkap, bahkan masa-masa kelam Pak Gerald dan Pak Sugeng tidak luput dari pembicaraan mereka.


Zidane terus mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan Pak Gerald dan Pak Sugeng ke padanya, satu persatu juga dia mulai memahaminya.


Pak Sugeng juga tidak lupa memberikan nasihat kepada Zidane agar selalu hati-hati, mengingat selama beberapa tahun belakangan ini, suasana tiba-tiba menjadi lenggang tanpa ada lagi orang yang meneror mereka.


Pak Sugeng


Menggenggam tangan kirinya dengan erat.


" Aku harap setelah mendengar semua cerita ini, kamu bisa semakin berhati-hati dalam bertindak, karena semua ancaman itu nyata, "


Zidane


Tetap bersikap tenang dan sudah menerima semua konsekuensi yang suatu saat akan terjadi pada dirinya.


" Baik !! "


Mengangguk dengan tegas


" Kalau suatu saat hal itu terjadi padaku, aku sudah siap untuk meladeni mereka meskipun nyawa taruhannya, "


Semangat juang Zidane terpancar jelas dari matanya, kesungguhan dan keberanian dalam diri Zidane dapat terlihat jelas oleh Pak Gerald dan Pak Sugeng.


Hal itulah yang paling mereka berdua harapkan dari generasi muda penerus mereka kelak, sosok pemuda yang mempunyai keberanian tinggi, siap mati dan keseungguhan dalam hati Zidane membuat Pak Gerald yakin kalau dirinya tidak pernah salah memilih orang.


Pak Gerald


Menepuk-nepuk dan mencengkram pundak Zidane dengan kuat.


"Bagus-bagus !!!! Orang-orang seperti kamulah yang di butuhkan perusahaan kita, bukan orang-orang yang hanya memandang jabatan tapi saat ada masalah malah kabur,"


Zidane tersenyum dengan bangga karena Pak Gerald sudah mempercayai pengabdiannya dengan sepenuh hati.


Disaat terjadi keheningan sesaat karena topik pembicaraan mereka hampir sampai batasnya, dalam pikiran Zidane terbesit tentang si kembar Rey.


Zidane masih sangat penasaran tentang semua hal yang belum dirinya ketahui tentang si kembar Rey, dia merasa kalau masih ada rahasia besar lainya yang masih di sembunyikan Pak Gerald kepadanya.


Zidane


Dengan ragu-ragu dia memulai pembicaraan kembali dengan pertanyaanya.


" Maaf tuan kalau aku lancang, "


Posisi kepala yang masih tertunduk.


Pak Gerald dan Pak Sugeng spontan hampir bersamaan memalingkan wajahnya menghadap ke arah Zidane.


" Saya mau nanya ? kalau boleh tahu tuan muda datang kesini karena urusan apa ? "


Sedikit mengangkat wajahnya menghadap Pak Gerald yang dia anggap paling tahu soal ini.


Pak Gerald


Tanpa ragu menjawab pertanyaan yang Zidane tunjukan kepadanya.


" Untuk saat ini tujuan mereka hanya untuk kuliah, setelahnya suatu saat kamu juga akan tahu dengan sendirinya, "


Zidane mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.


" Kalau mereka datang kesini lagi, kamu gak usah terlalu sopan kepada mereka ... Mereka bukan tipe orang yang suka di hormati, "


Zidane


" Iya tuan, "


Mengangguk untuk yang kedua kalinya.


" Kemarin saat aku memanggilnya dengan sebutan tuan, tuan muda menolak dan meminta saya untuk memanggilnya dengan sebutan nama atau Mas sebagai panggilan untuk mereka, "

__ADS_1


Pak Gerald


Tersenyum tipis dan sejenak saling bertatapan dengan Pak Sugeng yang terlihat sudah tidak fokus lagi.


" Kamu turuti aja mau mereka, nama panggilan bukan sesuatu yang perlu di permasalahkan, "


Selain itu Pak Gerald juga membicarakan beberapa hal kepada Zidane mengenai masa kecil si kembar Rey yang dia tahu sejauh ini, meskipun itu terdengar tidak begitu penting.


Di samping Pak Gerald, Sorot mata Pak Sugeng menatap ke arah jam dinding yang sudah semakin siang, matanya mulai terasa berat dan perlahan mulai membuka dan menutup seakan sudah tidak bisa menahan kantuk.


Sesekali dia menutup mulutnya karena menguap, bahkan dia sudah tidak bisa menahan posisi kepalanya agar tetap bisa berdiri tegak. Dengan pandangan mata yang terbuka setengah, dia melirik Pak Gerald yang masih sibuk berbicara dengan Zidane.


Pak Sugeng menarik posisi duduknya agak ke depan, kemudian merebahkan tubuhnya di sandaran sofa dengan posisi kaki yang tegak lurus dan tangan sedekap di atas dada.


Setelah mendapatkan posisi nyaman, perlahan Pak Sugeng menutup kedua matanya, meskipun matanya tertutup tetapi kedua telinganya masih mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Pak Gerald dan Zidane.


Tetapi apa yang sedang di bicarakan Pak Gerald dan Zidane seperti masuk telinga kanan langsung keluar ke telinga kiri, setiap pembicaraan yang di dengar dia sudah tidak bisa mencernanya karena terlalu ngantuk untuk berfokus ke suatu hal.


Zidane


Sejenak mengalihkan pandanganya kepada Pak Sugeng yang terlihat sedang tidur santai.


" Bisa-bisanya Pak Sugeng tidur di situ, "


Berkata dalam hati sambil mendengarkan apa yang sedang Pak Gerald bicarakan.


Dia sesekali mengangguk sebagai syarat kalau dirinya benar-benar mendengarkan apa yang sedang Pak Gerald bicarakan kepadanya.


Pak Gerald juga dengan senang dan tanpa ragu-ragu menceritakan semua hal yang dia tahu tentang masa kecil si kembar Rey.


Pak Gerald


" Yaa... hanya seperti itulah yang aku tahu tentang si kembar Rey, sayang sekali aku dulu jarang bertemu dengan mereka berdua, sehingga yang aku ketahui tentang mereka hanya terbatas itu-itu saja, "


Sangat nampak kekecewaan dalam raut wajahnya ketika mengingat kalau dirinya dulu jarang mengunjungi kedua cucunya.


Zidane


Tanpa basa-basi segera bertanya.


" Oh iya tuan, kalau ketiga teman tuan muda itu juga dari desa kan ? "


Pak Gerald


Tersenyum dan mengangguk.


" Iya mereka semua dari desa yang sama, tapi mereka semua orangnya baik semua, "


Zidane


Kembali berbicara dengan pertanyaanya.


" Kalau boleh tahu, sekarang mereka tinggalnya dimana tuan ? "


Pak Gerald


Terlihat menjadi sumringah saat Zidane bertanya mengenai hal itu.


" Aku secara pribadi menyuruh mereka untuk tinggal di rumahku, semenjak kedatangan mereka suasana rumah yang dulu terlihat sepi dan suram, sekarang kembali berwarna dan lebih ceria dengan penuh gelak tawa dari mereka semua, "


Dengan senang menceritakan kondisi rumahnya yang sudah sangat berubah semenjak kedatangan si kembar Rey dan teman-temannya.


Zidane


Juga ikut senang melihat wajah sumringah dari Pak Gerald.


" Bagus kalau begitu tuan, "


" Saya kira mereka masih ngontrak rumah, kalau beneran masih ngontrak saya akan menyuruh mereka untuk tinggal di apartemen bersama saya... Soalnya gak enak juga kalau terus-terusan tinggal sendiri, "

__ADS_1


Pak Gerald


Tersenyum lebar sampai terlihat gigi-giginya.


" Kamu itu sudah besar, pekerjaanmu juga sudah mapan, kalau gak ingin tinggal sendiri yaa tinggal nikah aja, "


Zidane


Langsung tertunduk malu saat Pak Gerald membicarakan tentang menikah.


" Hehe...Kalau soal itu nanti saja, soalnya belum ada yang mau sama saya, "


Menggaruk-garuk kepalanya karena salah tingkah.


Pak Gerald


Memegang tengkuk leher Zidane, perlahan memijatnya.


" Apa perlu aku bantu, kamu mau yang seperti apa nanti saya carikan, "


Dengan bercanda dia menawari Zidane.


Zidane


Semakin malu dan salah tingkah.


"Gak usah tuan, saya bisa cari sendiri hehe,"


Perlahan keringat menetes dari ujung kepalanya.


Pak Gerald melepaskan tangannya dari tengkuk leher Zidane karena merasa kasihan kepada Zidane yang sudah mati kata.


Pak Gerald melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam 12:00 WIB, dia segera membangunkan Pak Sugeng yang sudah terlelap tidur.


Pak Gerald


Menepuk-nepuk paha Pak Sugeng dengan sedikit kencang.


" Geng !! "


" Sugeng !! "


" Bangun Geng ayo kita pulang, "


Sedikit memperkencang tepukan nya agar Pak Sugeng bisa cepat bangun.


Tak berselang lama, Pak Sugeng pun terbangun dengan tatapan mata yang masih seperti orang linglung.


Melihat Pak Sugeng yang sudah terbangun, Pak Gerald segera berpamitan kepada Zidane dan meninggalkan Pak Sugeng yang masih mengumpulkan nyawanya.


" Kalau begitu aku pulang dulu ya, semangat kerjanya jangan malas-malasan, "


Menjulurkan tangannya kepada Zidane untuk bersalaman.


Zidane


" Baik tuan, saya laksanakan, "


Menjabat tangan Pak Gerald dengan posisi badan yang sedikit membungkuk.


Kemudian Pak Gerald berjalan perlahan keluar dari ruangan, sedangkan Pak Sugeng masih terlihat linglung. Melihat itu Zidane langsung menariknya dan menyuruhnya segera mengikuti Pak Gerald.


" Tuan sudah pergi Pak, cepat susul !! ihh kau ini nyusahin aja, "


Menarik tangan Pak Sugeng hingga dia terbangun dan keluar dari ruangan.


Zidane mengantar Pak Gerald dan Pak Sugeng hingga keluar dan benar-benar pergi meninggalkan cafe tersebut.


~ Next ~

__ADS_1


__ADS_2