Empat Serangkai

Empat Serangkai
Keluarga Sombong


__ADS_3

Setelah berpisah dengan dengan si kembar Rey, Claras melanjutkan perjalan ke rumah sendirian.


Hampir setibanya di rumah dan dengan perasaan yang gelisah bercampur takut karena bila sampai ketahuan orangtuanya Claras sudah pasti akan dimarahi karena orang tuanya galak dan terkenal dengan kesombongannya.


" Krek "


" Krek "


" krek "


Perlahan-lahan Claras membuka pintu.


Claras memberanikan diri untuk masuk rumah dengan mengendap-endap serta melihat-lihat keadaan didalam rumah, berharap tidak ada yang mengetahui kedatanganya.


Akan tetapi itu menjadi sia-sia dikarenakan ibu Claras(Kita panggil saja NYONYA) memergoki kehadiran Claras.


“ Claras dari mana saja kamu !!! ...Jam segini baru pulang sekolah, ” Panggil Nyonya dengan nada yang tinggi


Kedatangan Nyonya dibarengi dengan kakak perempuan Claras bernama Sekar yang tiba-tiba berbicara dan langsung menyudutkan Claras.


“ Alahhh.....paling juga habis sama anak-anak miskin itu Maa....”


Mendengar perkataan Sekar, tanpa basa basi Nyonya langsung memarahi Claras tanpa alasan dengan nada yang tinggi disertai hinaan yang dilontarkannya ditujukan untuk menghina si kembar Rey dan Deden dikarenakan mereka dari keluarga miskin, sedangkan keluarga Claras dari keluarga Kaya.


“Ohhh... rupanya kamu masih main dengan anak-anak miskin itu ya...sudah berapa kali mama bilang kepadamu jauhi anak-anak itu karena mereka gak sederajat dengan kitaaa..Paham !! " Mata melotot tajam ke arah Claras.


Mendengar semua itu Claras hanya bisa terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa karena ibu dan kakaknya terus-terusan menyudutkannya.


Claras sama sekali tidak bisa berkutik, bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi dan hanya bisa tertunduk.


“ Tapi Maa ” Ucap Claras.


“ Gak usah tapi-tapian....kamu itu udah salah masih mau membantah !! " Bentak nyonya.


Disaat Claras dimarahi, Sekar sebagai kakaknya malah ikut menyudutkan Claras.


“ Kamu itu masih kecil, tinggal nurut omongan Mama apa sih susahnya, mending kamu ikut kakak jalan-jalan sama teman sambil shopping di kota, dari pada main sama anak-anak gak jelas itu, "


Karena sudah tidak kuat lagi menahan semua perkataan Mama dan kakaknya, membuat Claras tidak bisa lagi menahan air matanya.


Dia bergegas pergi ke kamarnya dengan air mata yang mulai berjatuhan menetes ke pipinya.


Melihat Claras yang nyelonong pergi begitu saja, Nyonya berusaha untuk mencegahnya tapi Claras sudah terlanjur pergi duluan.


“ Claras berhenti kamu...Dasar anak gak tau diri, dikasih tau malah nyelonong pergi....Claras berhenti gak !! "


Claras sama sekali tidak menghiraukan panggilan Mamanya, dia terus berlari naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Sesampainya dikamar Claras mengunci pintu dan berbaring ditempat tidur dengan memeluk boneka kesayangannya sambil menangis tersedu-sedu.


Dia sangat kecewa dengan keluarganya karena terlalu sombong dan selalu memikirkan tentang uang, harta dan kekayaan yang membuat mereka lupa diri.


Claras hanya menginginkan hidup seperti orang lain meskipun tanpa bergelimang harta dan hidup sederhana tapi mereka bisa hidup bahagia tanpa membeda-bedakan satu sama lainya karena hal itu juga dia lebih suka berteman dengan orang-orang yang biasa saja seperti si kembar Rey dan Deden yang sudah menjadi sahabatnya.


~ KEESOKAN HARINYA ~


Seperti biasa saat berangkat sekolah mereka berempat selalu bersama-sama dengan Deden yang sudah mulai kembali masuk sekolah setelah kejadian kemarin.

__ADS_1


Akan tetapi tingkah laku Claras sangat berbeda dengan sebelumnya, yang biasanya Claras selalu ceria dan suka bersenda gurau sekarang menjadi pendiam dan dia sangat murung.


Reyza bertanya kepada Claras karena khawatir dengan kondisinya.


“ kamu kenapa kok murung gitu...Lagi ada masalah ya ? ”


Agar suasana tidak tegang, Reyzu berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan sedikit candaannya.


“ Iya nihh gak biasanya....apa kamu gak dikasih uang saku, kamu kan kaya masa gak dikasih sii....hehehe, " Mendekat dan menepuk tas Claras.


Deden yang penasaran pun juga ikut bertanya.


“ Cerita aja Ras...gak usah sungkan-sungkan dengan kita..kita kan teman, "


Claras yang masih ragu untuk bercerita kepada mereka, memilih untuk menyimpang sendiri masalahnya.


“Gak ada apa-apa kok hanya masalah kecil, "


Ragu-ragu menjawab.


Karena Claras tidak mau mengatakan sejujurnya, si kembar Rey dan Deden tidak bisa memaksa Claras karena takut akan semakin menambah masalahnya saja.


Si kembar Rey dan Deden hanya bisa menenangkan Claras supaya masalah dia cepat selesai dan bisa kembali ceria seperti biasanya.


~ Di Bawah Teriknya Matahari ~


Saat pulang sekolah tampak wajah si Claras tetap murung dan sudah tidak bisa menyembunyikan lagi masalahnya.


Dengan sedikit keraguan didalam hatinya Claras sedikit demi sedikit menceritakan masalahnya kepada mereka bertiga.


“ Sebenarnya kemarin aku dimarahin sama Mama aku, ” Perlahan berjalan dengan kepala tertunduk.


“ Dimarahin ?...Apa karena pulang terlalu sore kemarin...Aku minta maaf ya karena kita kamu sampai di marahin sama Mama kamu, "


Menghentikan langkah Claras untuk meminta maaf.


Sebagai teman, Reyzu dan Deden juga meminta maaf kepada Claras, karena sama-sama merasa bersalah.


“ Aku minta maaf Ras, "


" Sama..Aku juga minta maaf....karena menjenguk aku, kamu sampai pulang terlambat kerumah, " Deden tulus meminta maaf.


Karena tidak mau adannya salah paham diantara mereka, akhirnya Claras menceritakan hal yang sesungguhnya.


“ Masalahnya bukan itu tapi...”


Masih ragu saat akan berbicara.


“ Tapi kenapa...katakan aja gak usah dipendam, kan ada aku sama si kembar Rey yang bisa bantu kamu, " Ucap Deden menatap ke arah Claras.


“ Sebenarnya aku dimarahin mama aku kemarin karena mama aku tidak suka kalau aku bermain dengan kalian..itu yang membuat aku sedih, "


Menjelaskan semuanya kepada teman-temannya.


Apa yang dikatakan Claras itu sebenarnya sudah lama di ketahui oleh mereka bertiga, tetapi demi menjaga pertemanan mereka, si kembar Rey dan Deden berusaha menutupinya.


“Kalau soal itu kami sebenarnya sudah tau sejak lama, tapi kita memilih diam Karena mau tidaknya kamu berteman dengan kita itu hak kamu jadi kita tidak bisa melarang, selagi kamu masih mau main dengan kami.. kenapa kami tidak, " Reyza memegang kedua bahu Claras.

__ADS_1


" Iya... yang terpenting kita selalu menjaga pertemanan ini dan aku akan selalu mendukung kamu, " Deden berdiri di samping Claras.


" Reyzu disini selalu mendukung kamu, "


Melihat besarnya dukungan teman-temannya, Claras semakin bersemangat untuk terus mempererat pertemanan mereka, dia akan berusaha menyakinkan orang tuanya kalau tidak ada yang salah dari pertemanan mereka.


“ Makasih ya sudah dukung aku..Aku akan mencoba menjelaskannya ke Mama meskipun itu sangat sulit dilakukan, " Sudah mulai bisa tersenyum.


Setelah perbincangan yang cukup lama, tidak disangka mereka sudah berada didepan rumah Deden yang membuat Deden harus berpisah terlebih dahulu dengan mereka,


" Dah semua...Sampai bertemu lagi, "


Melambaikan tangan kepada si kembar Rey dan Claras.


Sedangkan si kembar Rey dan Claras masih melanjutkan perjalanan pulang sampai di gang jalan yang membuat mereka juga harus berpisah karena berbeda jalur.


Sebelum berpisah, Reyza kembali memberikan semangat kepada Claras.


" Sampai jumpa besok yaa...semoga masalahmu cepat selesai dan mama kamu bisa mengerti dengan keadaanmu, "


Claras menatap ke arah Reyza dengan penuh keyakinan, agar dia tidak terlalu memikirkan tentang kondisinya.


" Terimakasih...Doa kan saja yaa, semoga keluargaku bisa mengerti dengan kondisiku pertemanan kita sekarang, "


Dari belakang Reyzu menepuk pundak Claras


" Tentunya dong...Kita akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, "


akhirnya mereka berpisah dengan harapan, masalah yang terjadi pada Claras bisa cepat selesai dan mereka bisa bermain bersama lagi tanpa ada rasa was-was di dalam hati mereka.


 


~ Dirumah Claras ~


Baru saja Claras membuka pintu dan masuk kedalam rumah, dia langsung ditanyai oleh mamanya dengan wajah garangnya.


" Sudah pulang kamu? "


Duduk di atas sofa sambil membaca sebuah majalah.


Claras yang masih takut dengan kejadian kemarin, hanya bisa menjawab dengan pandangan mengarah ke bawah.


" Iya Ma..." Berjalan pelan-pelan dengan pandangan mengarah ke bawah.


Sesampainya di anak tangga, Claras langsung berlari menaiki tangga dengan maksud untuk menghindari omelan Mamanya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2