
Pak Akbar datang dan langsung menuju ruang makan yang terlihat sangat ramai tersebut dengan menenteng tas kerjanya.
Pak Akbar
" Widihh...Pada makan enak, tapi gak ngajak Bapak, "
Memegang dan memijat leher Reyzu yang duduk di paling pinggir.
Bu Sarah langsung menghampiri dan menyambut Pak Akbar.
Bu Sarah
Bergegas menghampiri Pak Akbar kemudian menyalaminya.
" Lohh Mas...Kamu kok datang kesini ? "
Mengambil tas kerja yang di tenteng Pak Akbar.
Sebenarnya dari dulu Bu Sarah memanggil Pak Akbar dengan sebutan Mas, akan tetapi setelah lahirnya si kembar Rey, dia mengubah panggilannya dengan sebutan Pak agar menjadi panutan untuk anak-anaknya.
Setelah si kembar Rey beranjak dewasa, Bu Sarah kembali menggunakan kata Mas saat memanggil Pak Akbar, tetapi Pak Akbar sendiri tetapi memanggil Bu Sarah dengan kata Bu/Buk karena lebih mudah dan sudah terbiasa.
Pak Akbar
Memeluk Bu Sarah dan mencium keningnya untuk mengobati rasa kangen dihatinya selama ini.
" Iya..Setiap bulan aku selalu datang kesini untuk mengecek kondisi perusahaan dan pas banget kalian datang kesini hehe, "
Memeluk kembali Bu Sarah karena masih belum puas.
Bu Sarah melepaskan pelukannya dan meminta Pak Akbar untuk segera makan malam.
Bu Sarah
Pandangan penuh manja, menatap ke arah mata Pak Akbar.
" Sekarang Mas cepat duduk dan makan bareng kita ya, "
Senyum manis dan manja nampak dari wajahnya.
Pak Akbar membalasnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Akan tetapi, Reyzu yang melihat tingkah kedua orang tuanya yang masih seperti pasangan ABG, sedikit mengejek mereka berdua.
Reyzu
Kedua tangannya masih sibuk dengan makanan yang ada di piringnya.
" Pak makan diluar aja Pak, sekalian pacaran sama Ibuk...Kalau pacaran disini gak enak dilihat banyak orang, "
Mendengar apa yang dikatakan Reyzu, membuat orang-orang di meja makan itu menjadi tertawa, bahkan Deden sampai tersedak dan langsung meminum segelas air.
Karena di tertawai Bu Sarah menjadi malu, sedangkan Pak Akbar malah gemas lihat tingkah anaknya yang sudah dewasa itu.
Pak Akbar
Meraih kepala Reyzu kemudian mengacak-ngacak rambutnya.
" Kamu ada-ada aja, "
Berjalan ke arah tempat duduk Pak Gerald, duduk di kursi kosong di sampingnya.
Ketika mereka berdua duduk bersama, biasanya yang mereka bicarakan adalah tentang perusahaan yang sedang di kelola oleh Pak Akbar saat ini.
~ ( X ) ~
Karena si kembar Rey, Deden, Dion dan Nino sudah selesai makan, mereka berlima berpamitan untuk pergi keluar terlebih dahulu.
" Kita keluar dulu ya buk, " Reyza berdiri paling awal di susul oleh Reyzu.
" Permisi, "
" Permisi Pak, "
" Permisi Buk, "
Dion, Nino dan Deden bergantian mengucapkan salam dengan sopan.
Mereka berlima kemudian menuju ke ruang keluarga untuk duduk santai dengan berbagai posisi yang enak sambil menonton TV.
Reyzu yang datang-datang langsung rebahan di sofa, Reyza duduk di sofa untuk pribadi, Dion duduk satu sofa dengan Reyzu yang rebahan, sedangkan Deden dan Nino memilih duduk di bawah karena bisa sambil meluruskan kakinya.
Mereka berbincang-bincang cukup lama, sampai Reyzu menyarankan untuk pergi keluar mencari udara segar.
Reyzu
Badannya miring dan pandangan matanya mengarah ke TV.
__ADS_1
Melihat siaran TV yang itu-itu aja, dia merasa bosan.
" Pergi keluar aja yuk...Cari-cari tempat tongkrongan yang asik, "
Bangun terduduk memandang mereka berempat.
Sebenarnya mereka semua mau, tetapi mengingat mereka disini gak ada kendaraan jadi bingung keluar jalan-jalannya gimana.
Dion
" Boleh aja sih pergi keluar, tetapi kita mau pergi pake apa ? "
Menyenderkan dan merenggangkan badanya di sandaran sofa.
Reyza menyarankan untuk bertanya dulu ke Bapak dan Kakeknya siapa tahu mereka mau meminjami kendaraan.
Reyza
Mengarahkan pandanganya ke Reyzu
" Kamu kan sedikit gak punya rasa malu...pergi ke belakang minta izin Bapak atau Kakek untuk meminjam kendaraan, "
Seketika itu Dion, Nino dan Deden juga mengarahkan pandangannya ke Reyzu yang membuatnya sedikit terpojokkan.
Reyzu
" Kenapa kalian semua menatap ku ? "
Penuh keheranan memandangi teman-temannya.
" Segawon emang kalian...Yaudah aku coba pinjam, "
Karen teman-temannya seperti sedang berharap kepadanya, jadi mau tidak mau dia harus pergi untuk meminjam kendaraan ke Bapak atau kakeknya.
" Kamu temani aku, "
Menarik tangan Reyza untuk ikut bersamanya.
~ ( X ) ~
Saat si kembar Rey pergi kebelakang untuk meminjam kendaraan, mereka bertiga tetap tinggal di ruang keluarga sambil nyantai.
Meskipun terlihat santai seperti tidak ada beban pikiran, sebenarnya mereka teringat keluarga mereka dirumah, terutama si Deden yang hanya anak tunggal di keluarganya.
Deden
" Baru sehari pergi, aku sudah teringat dengan keluargaku, "
Pandangan matanya mengarah ke atas.
Dion dan Nino juga merasakan hal yang sama, mengingat ini baru pertama kalinya mereka jauh dari rumah, tetapi Dion dan Nino tidak terlalu khawatir karena masih ada adek atau kakaknya yang ada dirumah.
Dion
Menoleh ke arah Deden,
" Sama...Tapi dirumah masih ada adek aku jadi masih bisa santai, "
Nino
Naik ke atas sofa dan meluruskan kakinya.
" Tenang dirumah aku masih ada kakak, "
Apa yang dikatakan Dion dan Nino terdengar seperti ejekan di telinga Deden.
Dion
Melirik tajam ke arah Dion dan Nino.
" Kalian enak masih punya saudara kandung..sedangkan aku anak tunggal harus gimana ? "
Dion
" Ya nasib lah, "
Merebahkan badannya.
~ ( X ) ~
Si kembar Rey pergi ke ruang makan kembali untuk menemui Bapak dan kakeknya yang masih terlihat sibuk mengobrol.
Meskipun dengan keluarga sendiri, si kembar Rey jarang untuk meminta sesuatu, maka tidak heran mereka sedikit malu dan ragu saat mau bertanya.
Sampai di meja makan, mereka langsung duduk di depan Pak Akbar dan Pak Gerald seperti orang yang mau interview masuk kerja.
Pak Akbar
__ADS_1
Menghentikan sebentar pembicaraannya dengan Pak Gerald.
Melihat tingkah mereka yang aneh lantas bertanya
"Kalian berdua kok kesini lagi, ada perlu apa?"
Reyza
Dengan gugup dan ragu-ragu dia mulai berbicara.
" Anu Pak ? "
Entah kenapa mulutnya sangat berat untuk bertanya hal simple itu.
Reyzu
Tiba-tiba langsung menyela omongan Reyza.
" Kita mau pergi keluar...Disini apa gak ada mobil jelek-jelekkan yang bisa kita pakai ? "
Langsung ke intinya.
Pak Gerald sedikit tertawa mendengar apa yang di minta oleh kedua cucunya tersebut, dia menganggapnya aneh karena cuma ingin meminjam kendaraan mereka berdua sampai seperti orang yang lagi di interview kerja.
Pak Gerald
Menutup mulutnya karena tidak kuat menahan tawa.
Dia kemudian langsung memanggil sopir pribadinya.
" Geng...Sugeng...Kemari sebentar, "
Sedikit lantang dia memanggil.
Selain menjadi sopir pribadi, Sugeng juga mahir dalam hal otomotif jadi dialah orang yang rutin mengecek kondisi setiap mobil kepunyaan Pak Gerald.
Tak berselang lama di panggil, Sugeng pun datang.
Pak Sugeng
Berdiri disamping Pak Gerald dengan tangan bersimpuh di depan.
" Iya tuan..Ada perlu apa, "
Pak Gerald
" Kamu antar mereka menuju ke garasi dan biarkan mereka memilih sendiri mobil mana yang akan mereka pakai...Bebas mana aja, "
Menunjuk ke arah si kembar Rey.
Pak Sugeng
" Baik tuan, "
Menganggukkan kepalanya.
" Ayo ikuti Bapak kebelakang, "
Mempersilahkan si kembar Rey untuk mengikutinya.
Karena Dion, Nino dan Deden berada di ruang keluarga, si kembar Rey meminta untuk lewat pintu depan sekalian memberitahu mereka bertiga.
~ ( X ) ~
Kemudian mereka berjalan ke garasi yang ada di belakang rumah, betapa terkejutnya mereka kalau garasi di rumah ini sangat besar.
Dion
Dari ekspresi mukanya, sangat nampak dia keheranan.
"Sumpah..Garasi ini lebih besar dari rumahku,"
Melihat bangunan garasi itu dari bawah sampai atas.
Hal yang sama di perlihatkan oleh Deden dan Nino.
Reyzu
" Aku kira dulu saat pertama kali kesini ini rumah...Gak taunya cuma garasi, "
Pandangan matanya mengarah ke Reyza yang tampak juga terkejut.
~ ( X ) ~
Kemudian Pak Sugeng mulai membuka pintu garasi tersebut, hal yang lebih mengejutkan pun terjadi.
Dimana dalam garasi itu berisi mobil-mobil antik dan mobil-mobil mewah milik Pak Gerald.
__ADS_1
~ Next ~