
Saat turun dari lantai atas, Pak Gerald berpapasan dengan Pak Akbar yang terlihat berjalan terburu-buru dari ruang makan.
Pak Gerald
Berjalan perlahan menuruni anak tangga.
" Hehh Bar, jam segini baru berangkat, "
Karena di panggil, Pak Akbar berhenti sebentar untuk berbicara sebentar dengan Pak Gerald.
Pak Akbar
Menoleh ke arah Pak Gerald.
" Iya nih Pa...Soalnya tadi bangun agak kesiangan karena kecapean tadi malam, "
Sedikit canggung saat berbicara.
Pak Gerald sendiri sangat memaklumi kondisi Pak Akbar sekarang, karena dia tahu betapa melelahkannya mengurus dua perusahaan sekaligus, apa lagi dua perusahaan itu berbeda kota.
Pak Gerald
Berjalan mendekati Pak Akbar.
" Kalau capek kamu istirahat aja dulu sehari atau dua hari, lagian kan di kantor masih ada direktur direktur kamu yang bisa kamu andalkan ketika cuti, "
Dari dalam hatinya sebenarnya Pak Akbar juga ingin ambil cuti beberapa hari, tapi untuk sekarang dia tidak bisa karena ada beberapa urusan yang tidak bisa di wakilkan kepada seseorang.
Pak Akbar
Berusaha menutupi kondisi tubuhnya dengan tetap bersikap kuat dan selalu tersenyum.
" Untuk saat ini masih belum bisa ambil cuti, mungkin minggu depan...Udah Papa gak usah khawatir, aku masih bisa jaga kondisi dan kesehatanku kok, "
Memperlihatkan wajah sumringah agar Pak Gerald percaya.
Akan tetapi Pak Gerald tidak bisa di bohongi karena dia sendiri pernah mengalami kondisi yang dialami oleh Pak Akbar sekarang, dimana tubuh yang sudah mulai lelah tetapi harus di paksa kuat oleh keadaan.
Pak Gerald hanya bisa menyemangati Pak Akbar supaya tidak terlalu memaksakan pekerjaan, bagaimanapun kesehatan lebih penting dari itu semua*.
Pak Gerald
Memegang kedua bahu Pak Akbar dengan erat.
" Kalau kamu udah gak kuat jangan dipaksakan, kesehatanmu lebih penting dibanding itu semua....Papa yakin jerih payah mu tidak akan terbuang sia-sia, "
Tatapan mata Pak Gerald menggambarkan kepeduliannya terhadap Pak Akbar, menantu satu-satunya yang dia miliki.
Pak Akbar menanggapi itu semua dengan tersenyum, karena dia tahu betapa besarnya harapan dan kepedulian Pak Gerald terhadap dirinya.
Karena waktu yang sudah sangat mepet, Pak Akbar tidak bisa terlalu lama berbincang-bincang dengan Pak Gerald karena ada urusan penting yang harus di selesaikannya hari ini.
Pak Akbar
Melihat jam tangannya.
" Aku tinggal dulu ya Pa, sudah kesiangan nanti terlambat, soalnya lagi ada meeting, "
Bergegas pergi dari hadapan Pak Gerald.
Pak Gerald terus memandangi Pak Akbar dari belakang sampai dia keluar pintu, setelah Pak Akbar sudah keluar dia pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Saat berjalan melewati ruang keluarga, Pak Gerald melihat si kembar Rey yang masih asik menonton TV.
Dari pada makan sendirian, dia mengajak si kembar Rey ikut bersamanya keruang makan untuk sarapan bersama.
Pak Gerald
Berdiri di belakang sofa yang di tiduri Reyzu.
" Kalian sudah sarapan apa belum ? "
Tanyanya kepada mereka berdua.
Saat melihat ada kakeknya di sana, mereka berdua langsung duduk terbangun.
Reyzu
__ADS_1
Kaget saat melihat kakeknya sudah berdiri di belakangnya.
" Eh kakek, ada apa kek ? "
Kembali bertanya untuk basa-basi.
Reyza
Mengambil remot tv dan segera mematikannya.
" Ada perlu apa kek ? "
Kembali bertanya karena tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Pak Gerald tadi.
Pak Gerald
Berjalan ke depan dan duduk di sofa bersama Reyzu.
" Kalian sudah sarapan apa belum ? "
Mengulangi lagi pertanyaanya.
Karena sudah jelas dengan apa yang di tanya oleh Pak Gerald, si kembar Rey pun menjawab secara bergantian.
Reyza
Sambil menggelengkan kepalanya
" Ohhh...Belum kek, "
Menjawab dengan singkat, padat dan jelas.
Reyzu
Menjadi canggung karena Pak Gerald duduk disampingnya.
"Aku juga belum, karena masih belum lapar,"
Menggaruk-garuk kepalanya.
Pak Gerald
" Sarapan bareng kakek aja yuk, "
Secara bergantian memandangi Reyzu dan Reyza.
Karena di ruang tamu itu hanya ada si kembar Rey saja, Pak Gerald bertanya kemana perginya Dion, Nino dan Deden yang tadi menemaninya lari pagi.
" Ketiga temanmu mana ? "
Tanya Pak Gerald dengan tatapan mata yang melihat ke area sekitar ruang keluarga.
Reyza
" Tadi katanya mau mandi sebentar, "
Mengintip ke arah anak tangga.
Baru saja di omongin, Dion, Nino dan Deden sudah terlihat menuruni anak tangga dan datang menghampiri mereka di ruang keluarga.
" Itu mereka, baru selesai mandi, "
Menunjuk ke arah Dion, Nino dan Deden yang berjalan ke arah ruang keluarga.
Saat sudah sampai di ruang keluarga, Dion bertanya kepada Reyza kenapa seperti sedang mencari mereka bertiga.
Dion
Berjalan ke arah sofa yang di tempati Reyza.
" Ada apa ? "
Duduk di samping Reyzu.
Sedangkan Nino dan Deden duduk di sofa untuk pribadi.
Reyza
__ADS_1
Sedikit bergeser untuk memberi tempat duduk Dion.
" Gak ada apa-apa, "
Menjawabnya dengan singkat karena yang ditanyakan oleh kakeknya sudah terjawab.
~ ( X ) ~
Di ruang keluarga tersebut mereka cukup banyak mengobrol dan bercanda satu sama lain yang membuat rumah itu ramai seketika.
Sampai-sampai Pak Gerald yang awalnya lapar dan ingin makan menjadi enggan untuk pergi sarapan karena obrolan mereka masih sangat seru dan sayang bila di tinggal.
Selain itu Pak Gerald juga bisa merasakan kembali semangat mudanya ketika melihat tawa lepas dari anak-anak itu.
Saat asik-asiknya bercanda, Bu Sandra dan Bu Sarah yang dari tadi menunggu mereka di ruang makan menjadi kesal, Bu Sandra dan Bu Sarah sepakat untuk mendatangi mereka ke ruang tamu dengan membawa alat masak berupa sutil.
Bu Sandra
Datang dengan membawa sutil di tangan kanannya.
" Kalian cepat sarapan atau mau nerusin ngobrolnya, "
Memukul-mukulkan ujung sutil ke tangan kirinya untuk mengancam.
Melihat itu si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden yang sedang asik bercanda itu seketika terkejut, begitu juga Pak Gerald yang ternyata takut istri itupun langsung terdiam tidak berani berbicara.
Bu Sarah
Berdiri tegap dengan kedua tangan memegang bahu.
" Kalian cepat makan atau Ibu yang akan suapin kalian satu-satu, "
Memperlihatkan wajah garangnya.
Karena kemarahan dua preman dapur itu, si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden langsung bergegas pergi ke belakang sofa Pak Gerald untuk berlindung.
Pak Gerald pun tampak kebingungan harus melakukan apa lagi, ditambah kelima anak itu seperti menjadikan dirinya sebagai tameng.
Dari belakang Reyzu pun meminta Pak Gerald untuk menghadapi Bu Sandra dan Bu Sarah itu.
Reyzu
Memijat kedua bahu Pak Gerald seperti akan melakukan tanding.
" Kek maju kek, jangan sampai kalah, "
Mengompori Pak Gerald agar semangat.
Reyza pun tidak mau kalah, dia juga ikut mengompori Pak Gerald supaya mereka nanti tidak kena marah.
Reyza
Memijat kepala Pak Gerald agar lebih rileks
" Ayo kek jangan takut sama mereka, masa suami takut sama istri dan anak sih, "
Sedikit mengejek Pak Gerald.
Pak Gerald
Menoleh dan membalikkan badan ke arah mereka berlima yang ada di belakangnya.
" Bener-bener tega kalian sama kakek, "
Mengeluarkan sedikit keringat, mungkin karena panik.
Karena Pak Gerald orang yang paling tua di antara mereka, mau tidak mau di harus maju duluan.
" Yaudah ikuti kakek, "
Dengan percaya diri dia langsung maju paling depan untuk menjelaskan dan meminta maaf kepada Bu Sandra dan Bu Sarah.
Awalnya dia berharap akan maju bersama, tetapi nyatanya saat melihat kebelakang si kembar Rey, Dion, Nino dan Deden sama sekali tidak bergerak dan tetap diam di tempat.
" Kurang ajar tuh anak, masa kakeknya dijadikan tumbal proyek, "
Merasa menyesal karena telah maju duluan menuruti kemauan cucu-cucunya.
__ADS_1
Karena sudah di hadapan Bu Sandra dan Bu Sarah, dia mau tidak mau harus meminta maaf dan menuruti kemauan mereka untuk cepat-cepat sarapan.
~ Next ~