Empat Serangkai

Empat Serangkai
Harapan Besar Untuk Deden


__ADS_3

Pada saat Deden berbincang-bincang kepada orang tuanya, terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah mereka.


" Tok...Tok...Tok..."


" Permisi "


Suara Reyza terdengar dari arah luar.


Disaat Reyza dengan sopan mengetuk dan mengucapkan salam, Reyzu malah nyelonong masuk tanpa disuruh.


" Denn..." Panggil Reyzu nyelonong masuk ke rumah.


" Orang gak punya adab, " Menggeleng-gelengkan kepalanya.


Belum sampai Deden berdiri untuk menyambut mereka, malah Reyzu yang menghampirinya di ruang keluarga.


" Baru aku mau keluar, " Ucap Deden.


" Gak usah Repot-repot, " Langsung duduk disamping Deden.


Tak berselang lama, Reyza datang juga menghampiri mereka.


" Pak...Buk "


Reyza dengan sopan menyalami orang tua Deden sebelum duduk.


" Habis dari mana kalian ? " Ibu Deden bertanya.


" Kita dari rumah aja datang kesini, " Dengan sopan Reyza menjawab.


Meskipun kalau siang si kembar Rey sangat sering berkunjung tetapi tidak untuk malam hari, kalau enggak ada urusan yang penting mereka jarang kerumah Deden.


" Kalian gak biasanya kesini malam-malam, pasti lagi ada perlu kan ? " Firasat Deden.


" Kalian tunggu sini ya...Ibu buatkan minum buat kalian, " Niat baik Ibu Deden.


" Gak usah repot-repot bu...Kita hanya sebentar saja kok, " Reyza menahan Ibu Deden agar tidak merepotkan.


" Beneran gak usah ? " Tanya ibu Deden.


" Iya Bu...Gak usah repot-repot, "


" Udah Buk...Kalau gak mau jangan di buatin, malah gak ke minum nanti, " Ujar Deden.


Pas selagi ada kedua orang tuanya, Reyza memberitahu maksud kedatanganya sekalian meminta izin untuk mengajak Deden pergi bersama mereka.


" Gini Den...Aku datang kesini mau ngasih tahu kamu, kalau jadwal keberangkatan kita di majukan minggu depan karena Ibu aku katanya mau ikut sekalian, " Reyza berbicara dengan sopan.


" Nah...Mumpung orangnya disini, Bapak sama Ibu tanyakan saja langsung ke orangnya, "


Deden ingin kedua orang tuanya bertanya langsung kepada si kembar Rey agar mereka percaya dan tidak khawatir lagi.

__ADS_1


" Emang Bener Lee..Kalau Kamu mau ngajak Deden kuliah keluar kota ? " Dengan ragu-ragu Bapak Deden mulai bertanya.


" Bener Pak, " Jawab Reyza dengan sopan.


" Kalau benar begitu...Kami terus terang tidak sanggup untuk membiayai kuliah Deden, "


" Iya Lee...Kalian tahu sendiri kondisi ekonomi kita serba kekurangan seperti ini, " Wajah Ibu Deden seketika memelas.


" Masalah biaya Bapak sama Ibu gak usah khawatir...Aku yang akan mengurusnya, " Meyakinkan kedua orang tua Deden.


" Kalian gak usah khawatir....Aku janji bakal membawa balik Deden dengan keadaan yang utuh tanpa lecet, " Ujar Reyzu menyela pembicaraan.


" Kau kira aku barang !!! "


" Plak..." Deden memukul Reyzu karena geram.


Bisa-bisanya Reyzu bercanda di saat semua orang lagi serius.


" Aduh..."


" Canda sumpah, " Reyzu menjaga jarak dari Deden.


Meskipun Reyza sudah bilang akan membiayai uang kuliah Deden, Tetapi kedua orang tuanya masih belum sepenuhnya yakin dengan yang di katakan Reyza.


Karena yang kedua orang tua Deden tahu, bahwa ekonomi keluarga si kembar Rey sama dengan ekonomi keluarga mereka sekarang ini.


jadi mereka beranggapan kalau sangat tidak mungkin jika mereka bisa membiayai semua uang kuliah Deden, sebab itu lah mereka menjadi khawatir dan takut kalau Deden akan di bohongi oleh si kembar Rey.


" Hmmm...Tapi kalian dapat uang dari mana untuk membiayai Deden ? " Sedikit lancang Ibu Deden bertanya.


" Tenang...Gak usah khawatir akan hal itu, kita di sana bukan hanya kuliah saja tapi sambil kerja dan kita sudah nemu pekerjaan yang cocok buat biaya hidup disana, " Reyzu menenangkan suasana.


" Iya Pak..Buk...Kita disana juga sambil kerja, jadi kalian gak usah khawatir kalau disana kami akan terlantar, " Reyza meyakinkan kembali orang tua Deden.


Si kembar Rey terus menerus meyakinkan kedua orang tua Deden, mereka berdua sangat berharap kalau orang tua Deden setuju dan memberikan izinnya.


Sedangkan si Deden sudah sangat yakin dengan keputusannya ikut bersama si kembar Rey, tetapi dia takut kalau kedua orang tuanya tidak memberikan izin.


Oleh karena itu Deden juga ikut meyakinkan Bapak dan Ibunya agar memberikannya izin.


" Tolonglah Pak..Buk...Deden sudah besar dan bisa menjaga diri, ini juga buat masa depan Deden agar bisa menaikan derajat kalian, "


Bertekuk lutut memohon kepada kedua orang tuanya.


Melihat tekat anaknya yang begitu besar, orang tua Deden tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka hanya bisa memberikan izin dan merelakan anak mereka satu-satunya mengadu nasib di luar kota.


" Kamu kalau disana nanti jaga diri baik-baik ya...Jangan kecewakan Bapak, " Memegang kedua bahu Deden.


" Ibu hanya bisa berharap kepadamu agar bisa menjadi anak yang sukses di masa depan, "


Ucap Ibu Deden dengan air mata yang berlinang.

__ADS_1


Deden sangat senang mendengar kedua orang tuanya memberikan izinnya, tak terasa air matanya ikut menetes membasahi pipi yang menggambarkan kebahagiaan hatinya.


" Makasih Pak..Buk.." Memeluk erat kedua orang tuanya dengan erat.


Senang dan sedih bercampur menjadi satu pada saat itu, sampai-sampai membuat Reyzu ikut terbawa suasana dan sedih melihat kebersamaan Deden dan keluarganya.


" Aku kok jadi ikut sedih sih ngab, " Terdiam sejenak melihat Deden berpelukan dengan orang tuanya.


" Heh...Gak biasanya kau seperti ini, " Menyindir Reyzu.


Setelah acara sedihnya selesai, si kembar Rey berniat pamit tapi di cegah oleh Deden.


" Kalau gitu kami berdua mau pamit dulu ya...Takut kemalaman, " Pamit Reyza.


" Jangan pulang dulu, sebagai rasa terimakasih aku...Aku traktir kalian ngopi malam ini, " Ucap Deden.


" Kalau mau ngopi ayo...Mumpung belum terlalu malam, " Reyzu mulai meninggalkan tempat duduknya.


" Aku tunggu diluar ya...Permisi Pak...Buk.. "


Menyalami kedua orang tua Deden.


~ Perjalanan Ngopi ~


Mereka berdua pergi ke tempat biasanya mereka nongkrong,


Tempat tongkrongan mereka tidak terlalu jauh hanya di desa sebelah saja, kalau siang pemandangannya cukup bagus tapi malamnya di penuhi dengan lampu warna warni seperti cafe.


Tak heran cukup banyak muda mudi yang berpacaran atau sekedar nongkrong saja disana.


Karena di kelilingi dengan perbukitan jadi di malam hari udara dingin seperti menusuk-nusuk ke kulit mereka.


" Tau gini aku tadi dari rumah pakai jaket, " Reyzu sampai gemetaran saat bawa motor.


" Dikit lagi hampir sampai...Makanya cepet biar gak dingin, " Reyza merasakan hal yang sama.


" Kamu enak di belakang bisa nyandar ke aku, "


" Jangan banyak ngeluh cepat nyetirnya...Biar cepat sampai, " Memukul Punggung Reyzu.


Tak lama berselang mereka bertiga pun sampai di tempat nongkrong mereka, Reyzu seketika langsung jongkok saat turun dari motornya


" Pokoknya nanti pulang kamu yang nyetir, "


Menggigil kedinginan.


" Iya-iya...Lebay amat, " Berjalan masuk ke cafe.


" Kenapa tadi gak bawa jaket kalau tau disini hawanya dingin ? " Tanya Deden sambil berjalan mengikuti Reyza.


" Njing gara-gara kamu kita malah kesini...Kalau gak karena Reyza gua ogah malam-malam kesini, " Berjalan mengikuti Deden.

__ADS_1


Saat di dalam mereka berdua bertemu dengan Dion dan Nino yang terlihat asik bermesraan dengan pacar mereka.


~ Next ~


__ADS_2