
Pak Gerald menceritakan masalah eksternal perusahaanya secara singkat dan terperinci tanpa ada yang di lebih-lebih kan.
Pada dasarnya masalah itu sudah bukan lagi masalah yang mengancam, mengingat karena kinerja dan kekompakan seluruh staf karyawan kepercayaan Pak Gerald, mampu membalikkan situasi yang rumit itu menjadi normal kembali.
Terutama Pak Sugeng yang sekarang menjadi sopir dan ajudan pribadinya, sudah bekerja dengannya lebih dari dua puluh tahun. Sehingga segala macam masalah yang di alami Pak Gerald dan perusahaan, Pak Sugeng juga mengetahuinya.
Tatapan mata Zidane menjadi kosong mengarah ke bawah dengan pikiran yang tidak menentu, hal itu wajar terjadi kepada Zidane mengingat kalau dirinya termasuk orang baru dan belum tahu apa-apa tentang seluk beluk perusahaan.
Didalam hati Zidane sekarang muncul rasa kekhawatiran yang membuat wajahnya sedikit memucat, dia merasa takut kalau dirinya tidak bisa mengemban tanggung jawab mengelola cafe yang menjadi salah satu aset perusahaan milik Pak Gerald tersebut.
Pak Gerald yang melihat Zidane melamun dengan wajah pucat, langsung menegurnya agar tidak berfikiran hal-hal yang negatif, tetapi Zidane sudah hanyut dalam lamunan, sehingga saat Pak Gerald memanggilnya dia tidak bisa mendengar.
Pak Gerald
Beberapa kali memanggil nama Zidane dengan perlahan.
" Zidane "
" Zidane "
Melirik ke arah Pak Sugeng yang terlihat juga memandangi Zidane.
" Zidane !! "
Karena di panggil-panggil tidak juga merespon, dia menyenggol-nyenggol Pak Sugeng dan menyuruhnya dengan isyarat agar cepat menyadarkan Zidane yang diam mematung itu.
Pak Sugeng
Mengangguk tanpa kata ke arah Pak Gerald, kemudian dia membasahi kedua telapak tangannya menggunakan air yang ada di pinggiran gelas minuman yang masih dingin.
" Bismillah... Sadar !!! "
Tanpa ragu langsung mengusapkan kedua tangannya yang basah itu ke wajah Zidane.
Seketika itu Zidane langsung sadar dan kebingungan dengan apa yang barusan terjadi padannya.
Zidane
Dalam kebingungan bertanya tentang semua hal yang baru saja terjadi.
" Iya, ada apa tuan ? "
Pandangan mata yang masih kosong menatap ke arah Pak Gerald dan Pak Sugeng yang terlihat sedang tersenyum kepadanya.
Pak Sugeng memanfaatkan keadaan Zidane untuk sedikit mengerjainya agar pikiran Zidane tidak kembali kosong.
Pak Sugeng
Menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang berpura-pura cemas.
" Kamu gak ingat ? kamu tadi habis kerasukan sosok jin penunggu aliran got di depan, "
Melirik Zidane dengan raut muka yang masih cemas.
Zidane yang panik langsung percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Pak Sugeng tanpa mencerna baik-baik apa yang Pak Sugeng katakan kepada dirinya.
Zidane
" Hah... Apa !!! "
Matanya sampai melotot karena saking paniknya.
Pak Sugeng menahan tawa karena tidak menyangka Zidane mempercayai omong kosongnya tersebut, sedangkan Pak Gerald tersenyum tipis melihat tingkah kocak kedua bawahannya itu.
Pak Sugeng
Tertawa lepas karena sudah tidak bisa menahan tawa yang sudah dia tahan-tahan dari tadi.
" Hahahahahaha "
Karena dianggap terlalu berlebihan, Pak Gerald langsung memukul paha Pak Sugeng agar bisa diam. Saat itu juga Pak Sugeng langsung menutup mulutnya dan berusaha untuk menahan tawanya kembali.
__ADS_1
Zidane terlihat kembali kebingungan saat Pak Sugeng menertawai dirinya, dia diam sejenak dan baru menyadari kalau dirinya sedang di permainkan oleh Pak Sugeng.
Zidane
Membuang muka ke arah samping
" Dah lah... Suka-suka bapak, "
Menyenderkan badan dan kepalanya ke senderan sofa kemudian menutup matanya untuk menenangkan diri.
Pak Gerald
Menyuruh Pak Sugeng untuk bertukar posisi tempat duduk.
" Kamu geser duduk sini, "
Dia lekas berdiri dari sofa dan Pak Sugeng langsung bergeser ke posisi tempat duduk Pak Gerald.
Zidane yang merasakan kalau ada gerakan di sofa, membuka mata dan melirik ke samping. Spontan dia terbangun saat melihat Pak Gerald yang sudah duduk di sampingnya.
" Kamu itu masih muda dan masih butuh banyak pengalaman untuk bekal hidupmu menyebrangi hamparan samudra, "
Memberi sedikit wejangan untuk Zidane.
Zidane
Langsung mengangguk
" Iya tuan ... Saya sendiri juga sudah menyadari akan hal itu, "
Mengangkat sedikit pandanganya.
Pak Gerald
" Bagus kalau kamu bisa menyadari akan kekuranganmu sendiri, "
Menepuk beberapa kali punggung Zidane sebagai rasa bangganya.
Pandangan matanya mengarah ke atap ruangan itu kemudian menurunkan pandangannya kembali.
Zidane
Dengan sopan bertanya tentang maksud perkataan Pak Gerald.
" Kalau saya boleh tau, kenapa tuan mempercayakan cafe ini kepada saya ? "
Pak Gerald
Menjelaskan maksud dari perkataanya dengan perlahan agar jelas dan mudah di pahami oleh Zidane.
" Umur kamu masih terlalu muda untuk di tempatkan di perusahaan pusat, selain itu minimnya pengalaman yang kamu punya bisa membuat mental kamu down bila suatu saat ada masalah besar yang terjadi pada pekerjaanmu .... Belum lagi adanya masalah Internal dan Eksternal perusahaan yang seperti sebuah palu yang terus-terusan memukul kita dari atas, "
Zidane
Mengangguk sebagai tanda kalau dirinya memahami maksud perkataan Pak Gerald.
" Iya tuan, saya paham akan hal itu.
Pak Gerald
" Kalau kamu tahu ? jabatan-jabatan penting di perusahaan kita semuanya di isi oleh orang-orang yang hebat, berpengalaman serta kemampuan dan tanggung jawabnya sudah tidak bisa diragukan lagi .... kalau kamu mau lihat salah satu contohnya ya ini, orang di samping saya, "
Tersenyum dengan tangan yang memegang pundak Pak Sugeng.
Seketika itu sorot mata Zidane langsung menuju ke Pak Sugeng yang menjadi berlagak sombong di depannya.
Zidane
Tersenyum sinis kepada Pak Sugeng karena berlagak sombong setelah di puji Pak Gerald.
" Gak salah tuan ? "
__ADS_1
Pak Gerald langsung menoleh ke arah Pak Sugeng yang tiba-tiba bersikap normal kembali.
Pak Sugeng
Menjulurkan tangannya melewati belakang Pak Gerald meraih kepala Zidane kemudian mendorongnya.
" Yeehhh....Belum tau kamu, "
" Sini By One lawan Bapak !! "
Menggenggam dan meremas tangannya sehingga tulangnya berbunyi satu persatu.
Zidane
langsung cengengas-cengenges saat di ajak duel Pak Sugeng.
" Gak...Gak...Hanya bercanda Pak, "
Melambai-lambaikan kedua tangannya.
Pak Sugeng juga kembali diam karena yang dia lakukan hanya sekedar candaan saja untuk menakut-nakuti Zidane.
Pak Gerald
" Sugeng ini senior yang lumayan masih aktif di perusahaan, sedangkan yang satu angkatan sama dia kebanyakan sudah pensiun dan beberapa lagi masih aktif bekerja ....Kalau gak salah dia sudah bekerja sama aku lebih dari 25 tahun, "
Jari telunjuknya mengarah kepada Pak Sugeng.
" Umur kamu sekarang berapa ? "
Menoleh dan bertanya kepada Pak Sugeng.
Pak Sugeng
Mengingat-ingat umurnya sendiri karena sudah sedikit lupa.
" Kira-kira ya sekitar 47-an lah sekarang, Kalau gak salah aku sama Mas Slamet (Tukang kebun keluarga) Selisih tiga tahun, "
Pak Gerald
Mengarahkan pandanganya kembali ke Zidane.
" Umur aku 10 tahun lebih tua dari dia, "
Tersenyum bangga dengan umurnya yang sudah semakin menua.
" Kita dulu bertiga, aku, dia ( Sugeng ) dan Slamet ( penjaga kebun ), sering berantem sama orang-orang suruhan Paman aku yang berniat menghancurkan perusahaan kita, hingga Slamet dulu mendapat luka sabetan sajam di punggung kirinya, untungnya luka yang dia terima tidak terlalu dalam, "
Menceritakan masa lalu Pak Gerald yang cukup menantang pada saat masa mudanya kepada Zidane untuk pembelajaran.
Perlu di ketahui, kalau sebenarnya Pak Sugeng dan Pak Slamet dulu adalah kaki tangan Pak Gerald di perusahaan Gasendra selama bertahun-tahun, di saat bersama itulah mereka sering mengalami kejadian yang tidak mengenakkan secara bersama-sama.
Pak Sugeng
" Kamu tahu kenapa kaca di cafe ini di buat anti peluru dan posisi tempat duduk indoor nya agak jauh dengan posisi kaca ? "
Menunjuk ke arah luar ruangan indoor.
Zidane
Menggelengkan kepalanya karena tidak tahu.
" Emangnya kenapa Pak ? "
Bertanya alasannya,
Pak Sugeng
" Dulu saat aku masih menjadi manager di cafe ini, pernah bagian kaca itu di lempari bom molotof oleh orang yang gak di kenal sehingga mengakibatkan kebakaran, kaca pecah dan melukai beberapa pelanggan, "
Masih teringat jelas di dalam ingatannya kejadian pada saat itu, beruntungnya tidak menelan korban jiwa.
__ADS_1
~ Next ~