
Wajah Zidane menegang, jantungnya berdetak semakin keras, kedua tangannya saling menggenggam dan tatapan matanya tajam terfokus mengarah kepada Pak Gerald.
Zidane memasang kedua telinganya dan bersiap untuk mendengarkan apa yang akan di katakan Pak Gerald kepadanya, ketegangan di hatinya membuat nafas yang keluar dari hidungnya menjadi berat.
Pak Sugeng seketika menghela nafas panjang, menyenderkan punggung dan kepalanya ke senderan sofa, kemudian menutup kedua matanya, seolah-olah tidak mau mendengar apa yang akan dibicarakan.
Kening Pak Gerald mengerut, mengambil segelas minuman yang ada di hadapannya, dua tegukan saja sudah cukup untuk menghilangkan sedikit dahaganya.
Tatapan matanya berubah menjadi tajam dengan fokus mengarah ke depan, perlahan Pak Gerald memalingkan wajahnya menghadap Zidane yang dari tadi sudah siap mendengarkan.
Pak Gerald
Melihat sorot mata Zidane yang tajam menandakan keseriusannya.
" Si kembar Rey itu memang cucuku, anak kandung dari Akbar dan Sarah anakku...Yang kamu tahu mungkin hanya Akbar adalah menantuku saja tanpa kamu mengetahui dengan jelas asal usulnya, "
Pak Sugeng membuka sedikit matanya, melirik ke arah Pak Gerald yang sedang berbicara.
Zidane fokus dengan indra pendengarannya karena tidak mau melewatkan sedikitpun apa yang dikatakan Pak Gerald.
Zidane
Menganggukkan kepalanya pertanda apa yang dikatakan Pak Gerald benar adanya.
" Iya, benar tuan, "
Tanpa ragu dia menjawab.
Lirikan mata Pak Sugeng berpindah kepada Zidane yang terlihat sangat serius menanggapi apa yang dikatakan Pak Gerald.
Pak Gerald
Melanjutkan omongannya setelah mendengarkan jawaban dari Zidane.
" Mungkin kamu akan terkejut tapi ini fakta yang harus kamu ketahui, "
Menjeda sejenak apa yang akan dia katakan, sorot matanya mengarah ke tatapan tajam Zidane yang terlihat penuh keyakinan.
" Akbar sendiri sebenarnya anak dari partner perusahaan kita yaitu perusahaan BARTANA, nasib dia sama dengan anakku Sarah, sama-sama menjadi pewaris tunggal keluarganya, "
Pak Sugeng menutup kembali kedua matanya, seakan sudah tahu akan semua hal itu, akan tetapi tatapan tajam mata Zidane seakan terlebur oleh keterkejutannya.
Zidane
Menatap Pak Gerald dengan tatapan kosong seakan tidak percaya.
" Benarkah itu tuan ? "
__ADS_1
Bertanya untuk memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.
Sebelum Pak Gerald berbicara, Pak Sugeng menepuk punggung Zidane dengan kedua mata yang masih tertutup.
Pak Sugeng
Membuka sedikit matanya, melirik Zidane dengan tajam.
" Tidak ada kedustaan dari apa yang dikatakan tuan, jadi cukup dengarkan dan ingat baik-baik apa yang tuan katakan padamu, "
Zidane mengangguk tanpa ada jawaban satu katapun sebagai tanda kalau dirinya sudah mengerti dengan apa yang dikatakan Pak Sugeng kepadanya.
Sebelum melanjutkan pembicaraannya, dia kembali meminum minumannya hingga setengah gelas lebih, kemudian meletakkannya kembali.
Pak Gerald
Menurunkan pandanganya mengarah ke depan mengabaikan Pak Sugeng dan Zidane.
" Sekitar dua puluh satu tahun yang lalu setelah mereka berdua menikah, dua keluarga sempat berselisih mengenai tempat yang akan ditinggal Akbar dan Sarah karena sama-sama tidak ingin kehilangan ahli waris, sampai akhirnya Akbar dan Sarah memutuskan untuk tinggal di luar dan pelosok desa yang jauh dengan kediaman keluarga kita ataupun kediaman keluarga Bartana dan melepas semua beban tanggung jawab mereka untuk menjadi ahli waris perusahaan, "
Mengubah fokus pandanganya menatap ke arah Zidane,
" Si kembar Rey lahir di desa itu dengan penuh kesederhanaan tanpa campur tangan dari kedua keluarga, dengan hadirnya mereka berdua di tengah-tengah keluarga secara otomatis ahli waris kedua keluarga jatuh kepada si kembar Rey, oleh karena itu saat si kembar Rey masih kecil kita semua sepakat untuk menyembunyikan hal itu dari semua pihak kecuali beberapa orang yang benar-benar kita percaya saja, "
Pandangannya berubah ke arah jam dinding yang terus berputar cepat seakan semua yang dia bicarakan sekarang baru terjadi kemarin.
Zidane mengangguk tanda mengerti dengan terperinci apa yang diceritakan Pak Gerald kepadanya, dia hanya tahu kebenarannya tapi belum tahu jelas semua maksud dari kedua keluarga itu menyembunyikan identitas si kembar Rey.
Zidane
Menurunkan pandangannya dan menggenggam erat kedua tangannya.
" Makasih informasinya tuan, saya akan berusaha menjaga informasi ini, "
Melepas perlahan genggamannya, menatap Pak Gerald dengan penuh keyakinan.
Di saat itu, Pak Sugeng kembali membuka mata dan menegakkan posisi duduknya seperti mau mengatakan sesuatu, sebelum berbicara dia meminum beberapa teguk minumannya.
Pak Sugeng
" Ahhhh "
Meletakkan kembali minumannya.
" Kondisi perusahaan kita sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang kamu lihat sekarang ini, "
Mengerutkan giginya, menghela nafas yang cukup panjang, dari ekspresi wajahnya terlihat sudah sangat muak dengan semua yang sudah terjadi.
__ADS_1
Zidane sama sekali tidak paham dengan apa yang di katakan Pak Sugeng tentang kondisi perusahaan, mengingat selama bekerja disini dia melihat kondisi perusahaan berjalan normal-normal saja tanpa adanya masalah besar yang terjadi.
Zidane
" Maksudnya gimana Pak ? "
Kebingungan tampak dari wajahnya.
Pak Sugeng menatap Pak Gerald sebelum berbicara kepada Zidane, karena dia membutuhkan persetujuan Pak Gerald dan tidak bisa sembarangan membicarakan masalah perusahaan ke orang lain.
Melihat Pak Gerald mengangguk kepadanya, itu sudah cukup sebagai tanda persetujuan untuknya.
Pak Sugeng
Memalingkan wajahnya menghadap Zidane.
" Memang sekarang masalah internal perusahaan terlihat normal dan bisa dibilang lancar-lancar saja, tetapi masalah eksternal perusahaan tidak bisa di anggap remeh, "
Kedua telinga Zidane kembali terfokus mendengarkan karena dia menganggap masalah ini cukup serius dan tidak bisa dibuat main-main.
Saat Pak Sugeng selesai bicara, Pak Gerald kemudian menambahkan sesuatu untuk mempertegas dan memperjelas apa yang baru saja dikatakan Pak Sugeng.
Pak Gerald
Ketegasannya terpancar dari wajahnya.
" Dari dulu perusahaan kita sudah di bayangi dengan masalah eksternal yang terus menghantui seakan tidak ada habisnya, "
" Aku akan menceritakan secara singkat kepadamu tentang masalah terdalam perusahaan kita, "
...~ Story ~...
Masalah eksternal perusahaan Gasendra di mulai sejak perusahaan Gasendra didirikan oleh orang tua Pak Gerald.
Hal itu bisa terjadi karena adik kandung dari Ayah Pak Gerald iri dengan kesuksesan kakak kandungannya sendiri, sehingga dengan segala cara dia berusaha untuk merebut ataupun menghancurkan perusahaan Gasendra.
Akan tetapi, semua upaya yang dilakukan adik kandungnya tersebut selalu berhasil di gagalkan oleh Ayah Pak Gerald karena kuatnya pertahanan yang telah di buat.
Meskipun berulang kali menuai kegagalan, niat buruk adik kandung ayah Gerald tersebut sama sekali belum surut.
Bahkan setelah kematiannya, niat buruk itu di teruskan oleh anak cucunya yang terus-terusan meneror perusahaan ataupun keluarga.
Sekarang perusahaan Gasendra di pegang penuh oleh Pak Gerald dan mati-matian juga dia menjaga keutuhan perusahaan dari segala ancaman yang ada.
...~ End ~...
~ Next ~
__ADS_1