
Tangan dingin Reyza penuh keraguan mendorong pintu kaca yang sangat besar sebagai akses masuk kedalam perusahaan.
Setelah terbuka sepenuhnya, dia melangkahkan kakinya pelan memasuki area dalam yang nampak sangat ramai dengan lalu lalang para staf karyawan yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Langkah kakinya terhenti setelah beberapa langkah masuk kedalam dengan mata yang sedikit tertegun melihat betapa luasnya area di dalam perusahaan itu, Reyza merasakan hawa dingin yang seakan-akan menusuk kedalam kulitnya yang terlihat bersih itu.
Dion, Nino dan Deden yang berada di barisan belakang tanpa di sadari, sekarang mereka mematung dengan pandangan mata melihat acak ke setiap sudut perusahaan itu.
Hal itu wajar untuk mereka, karena selama hidupnya mereka baru pertama kali memasuki sebuah perusahaan besar seperti perusahaan Gasendra yang sekarang tengah mereka datangi.
Mereka berempat secara tak sadar sudah beberapa menit hanya berdiam diri di depan pintu kaca dengan lalu lalang beberapa staf karyawan yang lewat di depan mereka, para staf karyawan itu seperti acuh tak acuh melihat kedatangan mereka yang sama sekali belum mereka kenali.
Tak hanya itu, beberapa orang juga menatap mereka dengan tatapan sinis dan penasaran dengan 4 remaja yang mereka lihat itu, satu persatu setiap pasang mata yang melihat mereka berempat selalu memicu terjadinya gumaman yang keluar dari mulut orang-orang tersebut.
Sampai tiba saatnya dari arah belakang, Reyzu muncul masuk kedalam gedung perusahaan setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung menuju ke arah Reyza dengan sengaja usil lewat di tengah-tengah Nino dan Deden yang sedang diam berdiri. Karena kedatangan Reyzu tersebut ketiga orang di belakang tersebut secara spontan langsung mengalihkan perhatiannya kepada Reyzu sehingga tatapan kosong mereka bertiga tadi seketika bisa teralihkan.
Reyzu
Menepuk pundak Reyza sedikit keras dan berdiri di sampingnya.
" Kalian ngapain malah diam disini ? kaya orang linglung tau gak ? "
Ejeknya karena merasa malu dengan tingkah ke empat orang itu karena dilihatin banyak orang.
Sebelum ada kata jawaban yang keluar dari mulut Reyza, si Reyzu langsung menuju ke arah bagian staf pelayanan yang berada tidak jauh di hadapannya. Dia bergegas menghampiri dan bertanya kepada seorang wanita cantik yang sedang bertugas di bagian staf pelayanan tersebut.
" Permisi mbak !! "
" Mohon maaf saya mau tanya ? "
Ucapnya dengan sopan di hadapan staf cantik tersebut.
Dari arah belakang, Reyza, Dion, Nino dan Deden secara bersamaan berjalan perlahan mengikuti Reyzu.
Staf Cantik
Tersenyum sopan dan menganggukkan kepalanya saat melihat ada seorang remaja yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
" Iya mas !! Ada yang bisa saya bantu ? "
Sorot matanya mengarah kepada Reyzu dan ke empat orang yang berjalan ke arahnya, di dalam hatinya terbesit dan sedikit menebak kalau dua orang dari merekalah cucu dari atasannya yaitu Pak Gerald yang tadi sudah memberitahunya.
Reyzu
Menolehkan kepalanya kesamping dan kebelakang melihat Reyza, Dion, Nino dan Deden yang sudah ada di samping dan di belakangnya.
" Saya mau tanya mbak ? Sekarang Pak Gerald ada di mana ya ? "
Mendengar apa yang di tanyakan oleh Reyzu, staf pelayanan itu langsung yakin dengan tebakannya dan tidak ada lagi keraguan dari dalam hatinya.
Staf Cantik
Secara acak memandang dua remaja kembar yang ada di hadapannya.
" Apakah benar yang ada di hadapan saya sekarang tuan Reyza dan tuan Reyzu ? "
Dengan sangat sopan dia bertanya.
" Sekarang tuan Gerald berada di lantai 35 paling atas sendiri, nanti tuan cari aja ruangan CEO biasanya tuan Gerald berada di ruangan tersebut, "
Sedikit menundukkan kepalanya melihat list yang ada di hadapannya.
Sebuah perusahaan dengan 35 lantai dengan bangunan yang sangat luas, sudah tidak mengherankan kalau perusahaan Gasendra di gadang-gadang menjadi salah satu perusahaan terbesar di negaranya, sejajar dengan perusahaan Bartana milik keluarga Pak Akbar untuk saat ini dan tidak ada yang mampu menyaingi mereka berdua.
Reyza
Tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Terimakasih mbak, "
Menyimpulkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk terimakasih.
Di Lantai 35
Mereke berlima pun berjalan menuju dan masuk kedalam sebuah lift bersamaan dengan beberapa staf karyawan lainya yang juga mau naik kelantai atas.
__ADS_1
Sesampainya di lantai yang di tuju, mereka melangkahkan kakinya keluar dari lift dan melihat jajaran ruangan orang-orang yang memegang jabatan penting di perusahaan ini yang terletak dalam satu lantai.
Mereka berjalan dan mencari ruangan CEO yang kata staf cantik tadi sedang ditempati oleh Pak Gerald, ruangan CEO ternyata terletak di paling ujung tengah di kelilingi dengan ruangan-ruangan penting lainya.
Berbeda dengan lantai-lantai bawah yang terlihat ramai, di ruangan ini nampak terlihat sepi dan ada beberapa orang saja yang masuk dan keluar. Sebenarnya tidak mengherankan mengingat di lantai ini di isi oleh orang-orang dengan jabatan penting saja.
Reyza yang sudah ada di depan pintu masuk ruang CEO menjadi ragu untuk mengetuk pintu, entah kenapa tangan dan nafasnya menjadi berat seperti ada yang menekannya.
Yang ada dipikirannya sekarang adalah rasa takut kalau dirinya salah mengetuk pintu dan ternyata pintu itu di tempati oleh orang lain.
Sedangkan Reyzu yang orangnya tidak sabaran, dengan mengandalkan modal nekat dan keberanian dia perlahan mengetuk pintu ruangan tersebut.
" Tok !! "
Ketukan tangannya tiba-tiba berhenti seperti ada beban yang menindihnya.
" Tok... "
" Tok ... "
Setiap ketukan pintu mengalami jeda selama beberapa saat, sebelum kemudian dari dalam terdengar ada orang yang mulai membuka pintu tersebut.
" Cekrk "
Pintu tersebut perlahan terbuka dengan dihiasi oleh wajah tegang kelima orang tersebut, jantung mereka mengencang dan nafas mereka tiba-tiba menjadi sangat berat dengan tatapan mata yang terfokus kepada gagang pintu yang tertarik kebawah.
Ketegangan itu seketika sirna dan nafas mereka kembali normal ketika melihat yang membuka pintu tersebut adalah Pak Sugeng yang terlihat sudah menunggu kedatangan mereka.
Pak Sugeng mempersilahkan mereka memasuki ruangan CEO yang cukup luas itu, di dalam ruangan itu tidak hanya ada Pak Gerald dan Pak Sugeng saja. Tetapi ada juga seorang direktur muda perusahaan itu bernama Dewa, seorang direktur berusia 30 tahun itu memiliki perawakan yang tidak kalah jika dibandingkan dengan Zidane.
Kinerja Dewa dalam perusahaan ini sudah tidak bisa diragukan lagi karena mengingat mendapatkan jabatan setinggi itu disebuah perusahaan sangatlah sulit dan tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Dewa dua tahun lalu secara resmi di tunjuk oleh Pak Akbar sebagai direktur dan pengganti dirinya di perusahaan Gasendra selama dirinya tidak ada. Sejauh ini Dewa sudah sangat baik dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Di dalam ruangan CEO itu mereka saling mengobrol dan mendengarkan satu sama lain, terutama si kembar Rey dan ketiga teman-temannya, dari hal ini mereka mengambil dan menjadikannya sebuah pelajaran yang penting mengenai sebuah bisnis.
~ Next ~
__ADS_1