
Reyzu mengikuti arah jalan mahasiswa senior menuju ke tempat lapangan terbuka yang di penuhi oleh banyak orang yang sudah berbaris rapi dengan pakaian yang serentak sama dari ujung kepala hingga ujung kaki, hanya sepatu dan ekspresi muka yang di perlihatkan mereka lah yang menjadi pembeda antara satu sama yang lain di dalam barisan orang-orang itu.
Barisan rapi itu terpisah menjadi beberapa kelompok di dasarkan oleh bidang kejuruan mereka masing-masing, setiap barisan kelompok itu terisi kurang lebih 100 orang mahasiswa baru yang tertata rapi dan siap untuk mengikuti apa yang akan di perintahkan panitia kepada mereka.
Di balik barisan orang-orang itu, ternyata terdapat satu kelompok barisan acak yang terbentuk menyendiri menjauhi barisan-barisan rapi yang sudah terbentuk tadi. Dalam barisan itu terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berdiri acak dengan pakaian yang sudah lusuh seperti ada suatu hal yang baru saja mereka alami hingga membuat mereka seperti itu.
Setiap kali mata memandang nampak jelas ekspresi mereka penuh dengan kecemasan serta tekanan mental yang cukup berat dirasakan oleh mereka di hari pertama masuk kuliah ini. Pada dasarnya apa yang mereka alami sekarang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, apa yang mereka inginkan sama dengan apa yang di inginkan oleh mahasiswa-mahasiswa baru yang sudah berjajar rapi di lapangan luas itu, akan tetapi nasib baik tidak berpihak untuk mereka sekarang.
Barisan orang-orang lusuh dan menyendiri itu, tidak lain dan tidak bukan merupakan barisan yang Reyzu akan tempati nantinya. Kelompok barisan untuk orang-orang teledor yang melanggar aturan tata tertib kegiatan ospek hari ini.
Senior 1
Wajahnya dingin dan garangnya seolah-olah menyapu orang yang mempunyai barisan acak di depannya.
" Kamu baris dengan mereka, para kelompok monyet yang gak tau aturan !! "
Tangannya mencengkeram dengan erat lengan Reyzu kemudian mendorongnya ke arah barisan itu.
Kelompok monyet merupakan sebutan yang di tunjukkan kepada siapa saja yang berani melanggar aturan yang ada secara sengaja maupun tidak dalam kegiatan ospek yang sedang berlangsung. Nama itu dibuat bukan hanya untuk sebutan nama akan tetapi juga buat penghinaan untuk siapa saja yang sudah masuk kedalamnya tanpa terkecuali.
Karena nama yang terkesan menghina itulah terkadang ada beberapa mahasiswa baru yang melanggar aturan mendapatkan siksaan psikis dari mahasiswa lainya, terutama para senior kampus yang menjadi panitia dalam kegiatan ospek. Senior-senior itu menjadikan mereka sebagai bahan perpeloncoan dan kesenangan tersendiri untuk mereka tanpa memperdulikan keadaan dan tekanan mental para mahasiswa yang masuk kedalam kelompok monyet tersebut.
Secara alami dalam diri Reyzu ingin membalas apa yang telah di lakukan senior itu kepadanya, akan tetapi dengan sangat berat hati dia harus bisa menahan emosinya agar tidak terjerumus masuk terlalu dalam ke masalah yang tak berujung nantinya.
__ADS_1
Reyzu
Keningnya mengkerut melirik tajam ke arah senior yang sudah mendorongnya tadi sambil berjalan masuk kedalam barisan acak itu.
" Awas aja nanti kau ya !! "
Hatinya seakan bergetar saat mengatakan hal itu, ancaman yang baru saja dia katakan itu seolah-olah ancaman nyata yang mungkin akan terjadi nantinya.
Belum ada lima menit Reyzu mengisi barisan kosong di kelompok monyet itu, dari arah depan datang Reyza, Dion, Nino dan Deden yang secara paksa disuruh masuk kedalam barisan kelompok monyet oleh para senior yang meladeni mereka berempat tadi. si kembar Rey dan ketiga temannya saling menatap satu sama lain tanpa kata di barisan paling belakang kelompok monyet.
Ketiga senior yang menunggu gerbang tadi berkumpul dalam satu barisan berjajar di depan kelompok monyet seperti seorang majikan terhadap bawahannya. Ketiga senior kampus itu menatap satu persatu secara acak setiap mahasiswa baru yang masuk kedalam kelompok monyet dengan tatapan mata yang sinis.
Senior 3
" Kalian semua jongkok dengan kedua tangan di atas kepala...Cepat !!! "
Matanya melotot tajam dengan nada suara yang tinggi memerintah barisan kelompok monyet itu.
Seluruh orang dalam kelompok itu langsung jongkok mendengarkan perintah dengan ekspresi yang berbeda-beda dari setiap orang begitu juga si kembar Rey dan ketiga temannya. Beberapa orang ada yang panik dan sampai ketakutan mendengar bentakan perintah dari seorang senior yang terlihat sangat garang bak seorang monster itu.
Senior 2
Memperlihatkan wajah dinginnya menatap setiap orang dalam barisan yang tengah jongkok di depannya.
__ADS_1
" Kalian jalan jongkok ke sana, ke tempat yang semestinya kalian berada !! "
Menunjuk ke sebuah lapangan basket di bawah terik matahari yang sangat menyengat dan menyilaukan mata.
Serentak orang-orang dalam barisan itu menoleh ke arah tempat yang di tunjuk senior kampus itu, beberapa dari orang itu langsung tertunduk penuh kekecewaan saat melihat lapangan basket itu. Memang barisan rapi para mahasiswa taat aturan itu juga berada di lapangan terbuka akan tetapi di kelilingi oleh banyak pepohonan yang menyebabkan suasana di sana tidak begitu terik dan lumayan sejuk untuk di tempati. Hal itu berbanding terbalik dengan lapangan basket yang terlihat begitu sangat terik dan menyilaukan mata karena lantai lapangan yang terbuat dari material cor dengan bebatuan kecil halus yang tercampur di dalamnya.
Senior 1
Mengacungkan tongkat yang selalu dibawanya ke arah barisan acak itu sebelum mengarahkannya kelapangan basket.
" Cepat jalan ngapain diam !! Cepat !! "
Memukulkan tongkat yang dibawanya kepada beberapa orang yang ada di depannya agar menuruti apa yang telah mereka perintahkan.
Orang-orang yang terpukul oleh tongkat itu langsung bergerak dengan jalan jongkong di ikuti oleh mahasiswa lainya yang secara serentak ikut berjalan karena tidak mau terkena pukulan tongkat kayu itu.
Jarak antara mereka berbaris tadi dengan lapangan basket terletak tidak begitu jauh, hanya sekitar 150 meter saja. Tetapi dengan beban berat dari tas yang mereka bawa membuat sedikit beban pada tubuh mereka yang mengakibatkan cepat terkurasnya energi mereka setelah beberapa meter berjalan. Di tambah lagi para senior kampus itu sudah siap siaga di samping barisan mereka untuk menghajar orang-orang yang mengeluh ataupun berhenti di tengah jalan karena kecapean.
Entah kenapa jarak yang dekat itu tiba-tiba menjadi jauh saat di pandang, terutama untuk para wanita yang masuk kedalam kelompok monyet itu, wajah mereka terlihat memucat dengan ayunan kaki perlahan-lahan tetap melangkah dengan penuh keterpaksaan dan tekanan dalam hati mereka.
Sedikit demi sedikit dengan langkah jongkok yang sangat pendek, akhirnya mereka semua sampai di lapangan basket itu. Satu persatu dari mereka yang mempunyai fisik lemah langsung terduduk di lantai yang sudah mulai memanas karena teriknya sinar matahari. Belum sampai satu menit duduk, mereka semua disuruh berdiri kembali oleh ketiga senior kampus tersebut yang terlihat belum puas dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kelompok monyet itu barusan.
~ Next ~
__ADS_1