![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
(pedang yang ada di tangan kakek Hai adalah sebuah sihir logam yang bisa membentuk apapun yang di inginkan nya. semakin sulit dan rinci benda tersebut maka semakin banyak pula mana yang di gunakan)
pria tua bungkuk itu mengangkat pedang nya, ia menusuk belakang Cia hingga menembus perut nya.
"ugh ... " mulut nya di penuhi darah. mata nya terbuka sangat lebar. sebuah pedang yang panjang nya hampir 1 meter menembus perut nya.
pandangan Cia mulai memburam, kaki nya telah lemas hingga sekarang ia telah menjatuhkan seluruh tubuh nya ke atas rumput liar.
Yaya sangat terkejut ketika melihat teman nya terbaring penuh dengan darah dan pedang yang tertancap, hal itu semakin membuat nya kaget ketika melihat tangan seseorang yang di percayai nya menyentuh ganggang pedang di perut Cia.
"Kakek! ... a-apa y-yang kau ..." Keringat dingin muncul di kening Yaya. ia berteriak sangat keras sambil tergagap-gagap.
Wajah Yaya semakin pucat ketika melihat kakek Hai menarik pedang nya secara singkat dari perut Cia. tindakan itu menambah lubang di perut nya semakin parah.
"Cia tidak ... " teriak nya lagi.
"berisik, lebih baik kau diam saja" kali ini kakek Hai lah yang melesat menusuk perut Yaya. mau bagaimana lagi Yaya tidak ahli dalam hal kekerasan, ia hanya bisa pasrah menunggu ajal nya tiba.
"ugh ... C-i-a" Yaya sempat mengatakan beberapa patah kata sebelum ia telah tumbang.
***
sebelum kejadian itu menimpa mereka, Elena baru saja melangkah kan kaki nya di tempat yang mengerikan, tentu saja tempat itu baru saja di lalui kelompok kakek Hai.
"dimana ini? , kenapa jejak nya berhenti di sini? apakah benar ini tempat yang mereka lalui?" Elena sedikit kebingungan, ia ragu ketika melihat pemandangan sekitar tidak sama seperti ia baru memasuki hutan monster tadi.
"tempat ini sangat berbeda di banding kan tempat indah itu, benar kan mereka di ... "
"kakek!" suara teriakan terdengar sangat jelas di telinganya.
__ADS_1
"suara itu ... bukankah suara Yaya" Elena bergegas mendatangi sumber suara tersebut. ke khawatir an nya meningkat, Elena merasakan firasat yang sangat buruk.
"apa yang terjadi dengan kalian" Elena menambahkan kecepatan lari nya tanpa jeda sedikit pun. ia tidak terlalu peduli sama rasa lelah yang ia rasain.
ketika baru saja sampai ia malah di suguhi pemandangan yang mengerikan. Cia terbaring dengan tubuh berlubang dan darah yang mengalir kemana-mana. Yaya baru saja tertusuk sebuah pedang dari tangan pria tua bungkuk.
"Cia ... Yaya ... " mata Elena terbuka sangat lebar. dalam sejarah, ada luka dalam luka, ada darah dalam darah, ada tangis dalam air mata hal itu membuat nya termenung ia merasakan kesedihan yang amat dalam.
walaupun ia belum sampai seharian bertemu Cia dan Yaya. namun, Elena telah menganggap mereka adalah teman terbaik yang baru saja ia temui.
bagi orang seperti Elena sedari kecil sudah merasakan kesepian tanpa teman kejadian ini malah membuat luka di dalam hati nya.
air mata tidak akan jatuh sebelum melempar jauh di kedalaman hati, kadang butuh waktu bertahun lama nya tapi menit demi menit pun cukup untuk mengumpulkan nya dan membiarkan nya jatuh seperti gerimis.
begitu juga lah yang terjadi kepada Elena. air mata nya berlinang, ia meneteskan air mata nya menangisi teman-teman nya yang telah kehilangan nyawa nya.
posisi Clara tidak jauh dari mereka. wajah nya tak berekspresi walaupun teman nya tewas di bunuh di depan matanya. justru ia sekarang menatap sinis kakek Hai.
"Hooh ... apakah kau tidak takut dan sedih melihat teman mu mati di tangan ku?" tanya kakek Hai. Clara hanya berdiam diri, ia tidak bergerak melainkan hanya menatap kakek Hai.
"wanita aneh" Kakek Hai melesat dan melancarkan serangan susulan nya.
ketika pedang tersebut hendak mengenai tangan Clara, seketika lingkaran merah telah bersinar ketika darah Cia dan Yaya mengalir ke patung ekor ular, cairan merah itu seolah seperti terhisap ke dalam nya. Mata ular menyala tidak lama pas darah tersebut mulai terserap.
kakek Hai menghentikan serangan nya ketika hal itu terjadi, ia malah menjauh mendatangi ketiga kelompok nya. Begitu juga dengan Clara, ia berlari menjauh kebelakang ular. beda sama tempat nya kakek Hai.
suatu batu yang menutupi sisik ular retak sedikit demi sedikit. guncangan pun mulai terjadi tak lama itu. Mungkin yang menyebabkan semua itu karena darah tanda lahir air.
"hahaha, pengorbanan nya berhasil walaupun hanya 2 tanda lahir air saja. misi kali ini akhirnya telah tercapai" tawaan puas kakek Hai terdengar. anggota yang lain juga ikut tertawa.
__ADS_1
"hahaha ... "
Bukk!
ketika kelompok kakek Hai masih tertawa, ekor ular yang bentuk nya sangat besar malah menghempaskan mereka secara langsung.
untung nya kakek Hai masih bisa menahan pakai pedang buatan dari sihir nya, akibat keputusan nya itu ia hanya terpundur puluhan meter dan menabrak satu batang pohon saja.
anggota yang lain telah terhempas begitu jauh karena terlalu lengah. jika di lihat dari keadaan nya mungkin tulang rusuk ke 3 anggota kakek Hai patah. mustahil jika masih bisa hidup walaupun hanya 30 menit saja karena keadaan mereka sudah terlalu parah.
"huek ... sial aku terlalu berpuas diri" Pria tua bungkuk memuntahkan sebagian darah.
"manusia ... lebih baik kalian semua mati saja, beraninya kalian membantai kami serta menyegel selama beberapa tahun" pada awal nya hanya sebuah patung ular biasa sekarang malah menjadi monster ular hidup yang dapat berbicara bahasa manusia.
ular tersebut seperti tersulut emosi yang amat dalam. membuka mulut nya, berteriak dan memunculkan lingkaran sihir bercorak di hadapan paras nya.
di lingkaran sihir nya muncul sebuah batu besar dengan ujung yang runcing. ia melepas kan nya ke arah kakek Hai.
"pemilik mana berikan aku kekuatan logam dan rubah lah ke bentuk perisai" kakek Hai yang masih dalam keadaan terluka membaca sebuah mantra. mungkin ingin melindungi tubuh nya sendiri.
Krek ...
"tulang ku ... " perisai muncul di hadapan kakek Hai. batu runcing bertabrakan sama perisai logam nya. kakek Hai lagi-lagi telah terhempas dan ke dorong ke belakang hingga batang pohon bercabang runcing menusuk perut pria tua bungkuk.
"tidak ku sangka ... hari dimana aku berhasil menyelesaikan misi malah berakhir seperti ini ... " batin kakek Hai sembari memuntahkan darah nya. sekarang ia sudah tewas dalam keadaan perut tertusuk oleh dahan pohon.
......................
maaf saya tidak bisa up kemarin, sebagai ganti nya saya akan up siang hari ini. terimakasih
__ADS_1