![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Beberapa menit kemudian, mereka baru saja selesai membersihkan diri dengan air sungai yang mengalir, Vivi dan Flera tetap tinggal, menjaga kereta kuda.
Mantan malaikat sekarang sedang berbaring diatas rerumputan, menatap rembulan yang bersinar cerah menerangi langit-langit malam.
"Hmm ... Akademi cahaya perak kah, sesuai perkataan mereka, mungkin memang ada yang sudah kabur ataupun bersembunyi, kalau tidak ada ... mana mungkin kepala sekolah akademi mengirimkan assasin untuk memburu mereka disekitaran hutan"
"Rute jalan ke ibukota ada 2, yang satu rute paling teraman yaitu rute jalur umum yang biasanya dilewati orang asing dari wilayah lain. Tapi, biasanya rute itu dijaga sangat ketat, akan selalu ada pemeriksaan"
"Kalau rute kedua ialah jalan hutan, jalan yang bisa mengancam nyawa, entah itu karena bandit ataupun hewan buas. Tapi, hutan ini sama sekali tidak dijaga, orang yang kabur dari pembantaian sudah pasti akan memilih jalur ini walau jaraknya ke ibukota agak jauh jika dibandingkan rute pertama"
"Orang yang menyewa assasin ini cukup pintar memilih lokasi pemburuan, yah meskipun mereka sudah dibunuh muridku" batinnya.
Tak berselang lama, ada Clara yang menghalangi pandangannya ke bulan.
"Master" panggil seorang murid menjengukkan kepalanya ingin melihat wajah Clark yang sedang terbaring.
"Sudahkah mandinya?" tatap gurunya segera duduk kemudian melihat muridnya yang hanya memakai handuk.
"Sudah master"
"Ini pakaian mu"
Tiba-tiba saja keluar pakaian yang serupa sama seperti sebelumnya dari cincin Clark.
"Eh master, pakaian ini ... sudah tidak rusak lagi?, noda darah nya juga sudah hilang"
"Ya, kau menyukainya kan?. Aku sudah memperbaiki nya saat kau sedang asyik mandi tadi"
"Master ... terimakasih" meski hanya memakai handuk, Clara memeluknya.
"Ah!, ngapain kau Clara!" teriak Elena datang, dirinya juga sedang menggunakan handuk.
"Hanya memeluk master" jawabnya datar, kemudian melanjutkan pelukan yang sempat tertunda.
"Menjauhlah dari master, kau terlalu dekat" ia menarik temannya.
"Tidak, Clara mau menempel sama master"
"Menjauhlah ... "
"Tidak ... "
"Uh kalau kau tidak mau pisah, maka aku juga ikutan" karena tidak bisa dipisahkan, Elena malah lebih memilih untuk menyerah serta ikutan memeluk masternya.
"Kalian ... menjauhlah, aku merasa sesak"
__ADS_1
"Tidak, master diam saja" sahut mereka bersamaan sehingga Clark menatap sinis.
"Kalian sudah berani menentang ku, kalau begitu ... kalian sudah siapkan apa yang akan terjadi selanjutnya"
Tatapan masternya membuat kedua muridnya menelan saliva nya, mereka merasakan firasat yang amat buruk.
Tukkk
Tukkk
Benar firasat nya, kedua muridnya diberikan sebuah sentilan di masing-masing keningnya.
"Huhu sakit master, ini mengenai tulangnya"
Elena duduk sambil memegang kepalanya, matanya sedang berkaca-kaca, ingin meminta pengampunan. Kalau Clara hanya duduk meratapi nasibnya.
"Itulah hukuman kalian"
"Huhu maaf master, aku tidak bakalan mengulanginya lagi" Elena masih memegang kepalanya, ia sedang menyesal.
"Clara salah, maaf master" katanya sambil melihat permukaan tanah.
"Baiklah lupakan saja, pakailah pakaian kalian. Oh iya, noda darah di pakaian mu juga sudah ku hilangkan" kata Clark memberikan pakaian Elena.
"Ini bersih lagi" matanya membulat saat melihat noda darah yang menempel dipakainya telah dihilangkan.
Handuk dilepaskan oleh Clara, sepertinya ia ingin memasang pakaian disitu juga, tidak ada sehelai rambut pun menutupi tubuh rampingnya.
"Clara!, apa yang kau lakukan!, master jangan melihat" Elena mencoba menutupi masternya sambil melompat-lompat karena tinggi badannya tidak setinggi badan Clark.
"Kata master harus cepat dipakai, jadi Clara ingin memasang pakaian disini" jawab Clara berwajah polos tak berdosa.
"Tapi tetap saja tidak boleh, seharusnya kau menutupi tubuh mu"
"Mengapa tidak boleh?, kalau master melihat nya ... Clara malah senang"
Clara masih tidak mengerti, bahkan ia menjawab sambil terpejam-pejam.
"Tetap tidak boleh"
Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai berdebat sama sudah mengenakan pakaian.
Ketiga orang termasuk Clark sendiri, telah kembali ke kereta kuda, tak lupa juga kuda yang terluka disembuhkan oleh Clark.
Tanpa banyak basa-basi lagi, merekapun melanjutkan perjalanan nya menuju ke ibukota, Clark mengendarai kereta kuda sembari melihat peta wilayah mystic.
__ADS_1
"Tuan ... anda tidak tidur?, kelihatan nya ini sudah larut" Flera menjengukkan kepalanya dari jendela depan.
"Kau sendiri belum tidur?"
"Hoam ... saya belum ngantuk" padahal Flera menguap, tapi entah mengapa, dirinya malah menjawab tidak mengantuk.
"Reaksi tubuh mu tidak bisa berbohong" balasnya sejenak melirik Flera lalu berpaling melihat kedepan lagi.
"Hehe" Flera hanya tertawa ringan.
"Apakah yang lain sudah tidur?" Clark balik bertanya.
"Sudah Tuan, mereka kelihatannya tertidur nyenyak, padahal sedang naik kereta kuda"
"Baguslah, kalau begitu kau tidur saja, aku akan tetap menjalankan kereta kuda"
"Baiklah, jika Tuan sudah mengantuk atau kelelahan mending diberhentikan saja"
"Tenang saja, jika merasa begitu aku pasti akan melakukannya" balas Clark masih melihat jalan.
***
5 hari kemudian, mereka sudah tidak terlalu jauh dari ibukota wilayah mystic.
"Master, ini sudah 5 harian loh, apakah masih lama ke ibukota nya" tanya Elena mengeluh sembari menatap luar jendela, melihat sekitarannya yang hanya ada hutan.
"Clara juga penasaran master" tanya Clara juga ikut-ikutan.
"Sabar, sebentar lagi kalian akan melihat ibukota, kita lama karena mengambil jalan lain dari yang biasanya orang lewati" balas Clark menyabarkan muridnya.
"Pantasan saja aku merasa beda dari awal kita berangkat, ternyata beda jalannya, meskipun aku sudah lama tak ke ibukota tapi kurasa seharusnya hanya memerlukan 3 harian saja" Vivi baru sadar karena sudah lama tak ke wilayah mystic.
"Mengapa kita harus melewati jalan lain Tuan?" tanya Flera ingin tau alasannya.
"Sudah kubilang kan beberapa hari yang lalu, bahwa aku memiliki alasan ku tersendiri" Jawab Clark sedikit tersenyum.
Mendengar Clark yang tidak berniat menjelaskan, mereka hanya bisa menghela kan nafasnya.
Perjalanan beberapa hari yang lalu, dirute jalan hutan, tidak terlalu mudah seperti yang dibayangkan. Elena dan Clara lagi-lagi mendapatkan latihan yang sangat berat, belum lagi berhadapan sama binatang buas yang sedang mencari mangsanya.
Waktu itu juga ada para bandit yang sedang mencari jarahan, mengincar gerbong kereta kuda beserta para wanita yang sedang mengikuti Clark, sayangnya mereka tidak berhasil karena terlebih dulu dikalahkan oleh kedua murid Clark.
Mereka semua dihabisi dalam beberapa menit saja, tidak ada nyawa yang diampuni olehnya. Beberapa dari mereka juga ada yang sudah disiksa Elena sampai meninggalkan trauma yang sangat dalam, merasa sudah sangat puas sama hal penyiksaan, barulah para bandit dibunuh.
Tidak lupa kereta kuda juga seringkali diberhentikan karena kuda yang menarik mereka memerlukan istirahat dan makan, Clark mengambil kesempatan itu untuk melatih para murid nya beserta membuat makanan untuk mengenyangkan perut mereka.
__ADS_1
Waktu malam pas sudah dipastikan keempat wanita benar-benar sudah tidur terlelap, Clark juga biasanya diam-diam pergi tanpa sepengetahuan murid dan bawahan nya, menggunakan pintu ruang.
Entah apa tujuan serta kemana perginya, bahkan lebih anehnya lagi, ketika ia pergi, entah mengapa Clark juga mengenakan pakaian yang serupa sama assasin yang telah dikalahkan oleh muridnya.