![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Siang harinya, Clark beserta murid dan juga bawahannya tidak lama itu berangkat menggunakan kereta kuda yang baru saja dibeli.
Clark berada di bagian depan, dirinya ditemani oleh Elena dibagian samping kiri nya dan Clara disamping kanannya.
"Elena ... Clara, lebih baik kalian masuk saja, jika kalian berdua duduk disini, rasanya jadi lebih sempit" Sahut Clark sedang mengendalikan kuda.
"Ehh, padahal aku ingin selalu disamping master" jawab Elena memeluk.
Melihat temannya memeluk gurunya, Clara juga tidak ingin kalah, dirinya pun juga ikut memeluk masternya.
"Master, Clara juga mau disamping mu"
"Kalian berdua ini ... kursinya jadi makin sempit. Vivi angkat mereka kedalam" Ucapnya menyuruh bawahannya untuk segera membawa mereka kedalam gerbong kereta.
Kuda yang menariknya, ia berhentikan untuk sementara.
"Baik Tuan" Vivi kemudian membawa mereka secara paksa.
"Ga mau, aku mau berada disamping master, kak Vivi lepaskan"
"Clara juga, jangan menghalangi kak"
Kedua muridnya memberontak karena tidak ingin dipisahkan.
"Jangan membuat Tuan kerepotan" Vivi tetap mencoba memisahkan mereka hingga akhirnya kedua muridnya hanya bisa pasrah saat Clark memintanya untuk istirahat, sebab beberapa jam nanti akan ada latihan.
Sesudah dimasukkan kedalam gerbong kereta, Clark lanjut menggoyangkan tali yang terikat pada kuda sehingga kuda tersebut mulai berjalan kembali.
Saat ini, mereka mulai memasuki jalan yang dikelilingi oleh rumput dan juga hutan, tidak ada lagi perumahan-perumahan seperti dikota meka.
***
Beberapa jam kemudian sampai siang mendekati sore, kuda yang menarik gerbong mereka, diistirahatkan serta diberi makan rumput yang ada disekitar situ.
Clark memberikan pelatihan pengendalian pedang air kepada Elena agar bisa lebih menggerakkannya sesuka hati.
Kalau Elena, diberikan sebuah latihan Fisik. Latihan nya berupa mengayunkan sebuah sabit besar namun ditambah beratnya menjadi 40 kilogram.
"Master, aku bisa" Elena berhasil melayangkan sebuah pedang air yang baru saja dikeluarkan nya dari lingkaran sihir.
"Ohh, coba kau kendalikan dan tebas pohon yang ada, lihat juga arah jatuhnya, jangan sampai mengenai kereta kuda" seru gurunya menyuruh untuk menebas pohon langsung, ia menantikan perkembangan muridnya dalam pengendalian sihir.
"Beginikah?, egh ... "
Elena berusaha keras untuk mengendalikan nya, matanya ia sipit kan karena saking susahnya.
Pedang itu perlahan bereaksi sehingga menuruti permintaan pengeluar nya.
Ketika benar-benar sudah bereaksi telah mendekati pohon, Elena malah terlebih dahulu senang sehingga konsentrasi nya terganggu membuat pedang air terjatuh kepermukaan dan menjadi genangan air tumpah.
__ADS_1
"Ah, aku gagal"
"Ehh ... " tatap lain heran.
"Bodoh, seharusnya jangan terlalu senang dulu, kau kehilangan konsetrasi mu" Clark men jewer telinga Elena.
"Ah, ampuni aku master, huhu sakit" Elena menahan rasa sakit yang diterimanya.
"Bodoh sekali anak kecil, segitu saja sudah gagal" gerutu Clara bisa didengar oleh Elena.
"Kau yang tidak bisa menggunakan sihir, cukup diam saja!" bantah Elena kepada Clara, ia tidak terima dikata-katain oleh temannya.
"Clara memang tidak bisa sihir, tapi Clara selalu berhasil mewujudkan keinginan master, biar Clara tunjukkan bagaimana caranya memotong pohon" sahutnya dengan wajah datar.
Sabit yang beratnya 40 kilogram, dapat ia angkat. Perlahan langkah kakinya mendekati pohon besar yang sedang ia targetkan walau sebenarnya kakinya cukup gemetar menahan beratnya.
"Hiyah ... " Elena mengayunkan sabit besar tersebut dengan kedua tangannya yang sedang menggenggam erat.
Slash ...
Saat pohonnya berhasil terpotong mulus, Clara langsung membanggakan dirinya sendiri "Lihat?, begitulah caranya"
"Clara apa yang kau perbuat?, itu mengarah ke kereta kuda kita" seru sang guru melihat pohon yang baru saja terpotong mulai memiring.
"Ah, Clara tidak sengaja" jawabnya melihat pohon yang sudah memiring hampir menimpa dirinya.
"Clara awas" Elena memberitahukan untuk segera menghindar.
Untungnya pohon tersebut dihalangi oleh tanaman merambat milik Vivi jadi keadaan kereta kuda dan juga Clara tidak kenapa-kenapa.
Vivi menggerakkan tangannya kesamping kanan sehingga tanaman merambat yang menahan pohon langsung menguat dan mengubah arah jatuhnya pohon.
Boom
"Ah, aku selamat" Clara melihat kedua telapak tangannya, Gurunya langsung menghampirinya.
"Kau juga sama bodohnya"
Bukk
"Ah, itu tadi tidak sengaja" balas Clara memegang kepalanya yang baru saja dipukul oleh gurunya.
Elena mendekat.
"Pfff, hahaha ... kau kena pukulan master. Huu, rasakan itu" Elena meledek.
"Setidaknya Clara berhasil memotong pohon, lagian benjolan kepala Clara tidak ada, lihat telinga mu itu, merah" Ejek baliknya.
Mendengar ejekan baliknya, Elena tidak tinggal diam.
__ADS_1
"Hah?, apa kau kata! ... "
Bukk bukk
saat ingin menggenggam kan tangannya, terlebih dahulu Clark memukul satu-satu muridnya.
"Kalian bisa tidak?, kalau tidak berkelahi. Membuat repot saja" Ucap Clark menatap kedua muridnya secara bergantian.
"Maaf master" kata mereka berdua lagi, serentak.
"Huh, baiklah. Kalian lanjutkan latihan tadi, jangan sampai membuat masalah" Clark memafkan nya.
"Baik master"
"Memang mereka berbakat, tapi sifat kekanak-kanakannya masih ada" batin Clark meletakkan tangannya ke dagu.
"Tuan sedang memikirkan apa?" datang kedua bawahannya sedang mengira bahwa tuannya sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ada. Vivi ... "
"Hmm?"
"Kerja bagus karena telah menghentikan pohonnya, kau memang orang baik" Kata Clark tersenyum sembari mengelus pipinya dilanjutin mengacak-acak rambutnya.
"Emm, biarpun aku tidak melindungi nya, pasti Tuan tetap akan melakukan sesuatu agar kejadian itu terhindar, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan"
Kepalanya tertunduk saat Clark memperlakukan nya lebih lembut. Dihatinya begitu senang, pipinya agak memerah. Ia teringat dengan keluarganya yang selalu memperlakukan nya sama seperti pemuda di hadapan nya ini.
Dibalik senyuman serta perilaku baik Clark, terdapat keinginan yang sangat dalam.
"Bagus, ukirlah namaku dihatimu, bahwa akulah orang yang akan selalu berada disamping mu, menggantikan keluarga mu, terus, terus, terus, sampai kau tidak bisa melupakan ku" batin Clark.
Setelah beberapa jam terlewati lagi, Clark menyudahi latihan muridnya.
"Elena, Clara, makanlah dulu, nanti kita akan melanjutkan perjalanan lagi" seru Clark menyiapkan hidangan diatas tikar.
"Baik master" sahut mereka bersamaan.
Sebelum berangkat ke ibukota, Clark sudah terlebih dahulu membeli perlengkapan makan dan perlengkapan memasak.
Saat ini mereka semua berkumpul diatas tikar yang diambil dari dalam gerbong kereta kuda.
Diatas tikar tersedia sebuah sup ayam yang dicampur beberapa sayuran, tidak lupa sebuah air putih juga ada untuk menghilangkan dahaga.
Mereka semua makan dengan lahap, tidak ada yang tersisa dari mangkuk mereka, semuanya merasa kenyang hingga kembali melanjutkan perjalanannya disaat sore itu juga.
***
Setelah matahari sudah terbenam cukup lama hingga awan mulai menggelap.
__ADS_1
Clark yang sedang berada didepan, mendengar sebuah desisan dibalik rumput-rumput yang dihembuskan oleh angin malam.
"Heh, akhirnya tiba juga, batu loncatan yang menambah pengalaman murid ku" gerutu Clark sambil tersenyum licik.