Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 86 : Pertempuran


__ADS_3

Sesampainya Hokori, dengan rasa cemas dan khawatir ia mengecek keadaan murid kembar.


"Yue!, Yui!"


"Guru, maaf kalau kami tidak ... uhuk! ... " Yue terbatuk darah, Hokori tentunya semakin cemas dan menyuruhnya untuk tidak bicara dulu, tapi Yue sepertinya tetap melanjutkan perkataannya "Kami ti-tidak bisa mengalahkannya, ma-maaf"


"Bodoh, apa yang kau katakan!, jangan bicara dulu" seru Hokori melirik junior dari Akademi nya "Gunakan sihir penyembuhan untuk senior kalian"


"Tapi ... keadaan guru ... "


"Tidak ada tapi-tapian, cepat sebelum terlambat!"


"Ba-baik guru"


Perlahan mulailah sihir penyembuhan secara bertahap, mereka berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan luka senior kembar.


Merasa kalau guru dan murid melupakan situasi disekitarnya, sesepuh tidak sebaik itu untuk menunggu musuhnya sempat menyembuhkan luka rekannya. Waktu itu juga ia menyeringai, lalu berpikir kalau peluang ini cukup untuk membunuh guru dan murid Akademi kembang merak.


"Telapak cangkang keras"


Sesepuh menggunakan teknik lebih lemah daripada 'Telapak ganda, cangkang keras' saat melawan Yue dan Yui tadi.


Sebenarnya tekniknya kurang lebih sama daripada sebelumnya, cuman bedanya teknik 'Telapak cangkang keras' hanya menggunakan satu tangan, tepatnya dibagian tangan kanan saja. Beda sama teknik 'Telapak ganda, cangkang keras' yang harus menggunakan kedua tangan.


Bisa disimpulkan daya serangannya lebih lemah daripada tadi, kalau ibarat dipersenkan mungkin sekitar 50% dibandingkan menggunakan kedua tangan, meskipun kenyataannya begitu, tapi itu sudah cukup untuk menyerangnya secara diam-diam, apalagi mereka sudah terlalu terpaut sama murid kembar.


Dungg ...


Beruntungnya, sebuah perisai berukuran besar berhasil menghalang teknik sesepuh biarpun harus penyok dan berakhir hancur.


Disana ada 8 sosok guru dari berbagai Akademi barusan bekerjasama dalam menghalau serangan, termasuk Elder.


Sudah pasti sesepuh tidak suka kalau rencananya digagalkan, apalagi menurutnya kalau kelima orang itu kelihatan lemah dan tidak mau tunduk terhadap ketua "Kalian memilih melawan?!"


"Kalian memaksapun ... kami tidak bakalan tunduk!" jawab guru disana terkesan membentak dan berani.


"Kami tidak akan membiarkan seseorang seperti kalian, hidup didunia ini!. Sihir meteor, serangan bertubi-tubi" katanya membentuk sebuah meteor dari tangan, guru satunya menggunakan elemen angin untuk mendorong meteor tersebut ke para sesepuh.


Wush ...


Wush ...


Wush ...

__ADS_1


Wush ...


Sesepuh masih mempertahankan ketenangan, hanya sedikit gerakan tangan, dapat menahan meteor tersebut sambil berkata "Hmph, hanya bebatuan kecil" meteor tadi tertahan kemudian hancur lebur.


"Apa!, dia bisa menahannya"


"Dia kuat ... "


Sebelum menyelesaikan kata-katanya, sesepuh menghilang dari tempat. Rupanya sesepuh itu muncul kedekat guru tersebut.


Guru lain melihat kalau sesepuh muncul dibelakang mereka "Awas! dibelakang!" teriaknya seraya membukakan matanya secara lebar, niatnya ingin membantu, tapi hal itu menjadi percuma karena kekuatan sesepuh lebih dari yang dia bayangkan.


Bammm!


Sebuah tinju mendarat ke punggung. Tidak berhenti, sesepuh itu lanjut menendang guru-guru yang sedang bekerja sama.


Bukkk ... bammm


Tidak ada siapapun yang dapat melihat pergerakannya, apalagi melawan balik.


Pertempuran berat sebelah akhirnya terjadi di hari itu juga.


"Kalian berlindunglah sendiri, aku akan membantu mereka, pastikan jaga satu sama lain" guru Edward, berasal dari akademi laut biru ikut membantu dalam pertempuran.


Mengerti sama ucapan guru, muridnya menjawab "Baik guru" padahal mereka mau saja membantu, tapi karena kekuatan mereka masih jauh dari kata pantas, hanya bisa diam dan menyaksikan pertarungan sengit.


***


Jalan utama, tepatnya didepan gerbang. Salah satu penjaga tidak percaya apa yang telah dilihatnya, tubuhnya berkeringat dingin saat memeriksa asal muasal suara langkahan kaki kuda.


Ia menggunakan benda semacam teropong "Mu-mustahil, apa yang sebenarnya terjadi!?" suara penjaga panik, ia melihat kalau ada ratusan pasukan berkuda coklat bergerak kearah ibukota.


Padahal rute utama dijaga sangat ketat dan harus lulus pemeriksaan bebeberapa kali. Namun, bisa-bisanya terdapat ratusan pasukan berlumuran cairan merah nampak seperti darah berhasil melewati pemeriksaan.


Samar-samar mulailah terlihat ratusan pasukan dari mata telanjang. Pasukan berkuda itu tidak menggunakan baju melainkan bertelanjang dada, namun bisa dilihat kalau badan mereka semuanya berotot, wajahnya sangar, mereka juga ada membawa sepasang tombak dengan sepenggal kepala manusia diujungnya.


"Huh! hah! huh! hah!" suara serempak pasukan berkuda coklat berbarengan mengangkat senjata.


"A-ada pasukan menyerang!" teriak penjaga menyimpulkan kalau mereka adalah musuh lalu berlanjut membunyikan terompet peringatan.


Towetttt!


"Tutup rapat gerbangnya!, sebarkan informasi ini!" sepersetengah penjaga bergegas masuk kedalam, sedangkan sisanya tetap menjaga muka gerbang.

__ADS_1


Sisa penjaga tentunya menunjukan wajah pucat, apalagi pasukan berkuda coklat itu melemparkan penggalan kepala manusia layaknya bola.


Faktanya memang benar, tubuh mereka terlihat gemetaran, bahkan tombaknya saja tidak dipegang dengan benar saat melihat kepala berhenti menggelinding tepat didepannya.


Tidak sampai 4 menit, penjaga disana semuanya mati. Kepala lepas dari raga, jantung tertusuk tombak, perut berlubang, kondisi mereka benar-benar sangat parah.


Musuh tidak ingin menunda waktu lagi, mereka bergegas membuka gerbang secara paksa lalu masuk bersamaan.


***


Tempat kompetisi.


"Kemampuan kalian hanya segini?, beginikah penyihir didunia magic?" Sesepuh menginjak kepala guru Edward, baju di bagian sampingnya sedikit robek.


Kebanyakan guru Akademi terluka saat melawan sesepuh, ada yang terluka ringan, sedang, berat, bahkan ada juga yang sampai kehilangan nyawanya.


"Kuakui kerja sama kalian memang bagus, tapi sayangnya, kalian melawan ku. Jika itu musuh lain selain kami, mungkin kalian bisa membunuhnya" sesepuh memberikan penjelasan singkat lalu menendang dada Edward.


Buak ...


"Guru!" Ardian berniat ingin menyerang sesepuh yang telah melukai gurunya, tapi Camila dan Ciel sempat menarik baju Ardian dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan melawannya" kata Ciel lalu tak lama itu Camila ikut bicara "Kau tidak bisa mengalahkannya Ardian, jangan memaksakan dirimu" wajah keduanya sayu.


Murid lain ikut menghentikan Ardian "benar Ardian. Kami tau kalau kau lebih kuat daripada kami, cuman dengan kemampuan mu saat ini, kurasa ... "


Kreak ...


Belum sempat mengatakan semuanya, Ardian memaksa pergi "lalu?, kalian ingin tetap diam?" Ardian sudah lepas dari pegangan Camila dan Ciel, bajunya robek sebelah.


"Menjauhlah dari guru!"


"Heh, satu lagi orang bodoh"


Swosh ... kreakk! ... bruak!! ...


Terdengar suara patahan tulang rusuk Ardian, ternyata sebuah tinjuan mendarat ke bagian dada samping. Tubuhnya sempat terpelanting mundur kemudian berakhir terhempas keras ke permukaan lantai.


"Khuakkk ... ce-cepat sekali" Ardian hanya bisa bicara pelan, darah segar menyembur langsung dari mulutnya.


Ardian!!!" teriak teman-temannya begitu keras.


Dalam keadaan babak belur, Ains hanya bisa mengumpat kesal, menyesal karena telah membawa rubah tua seperti Tuan Yin "Sialan, tau gini aku tidak akan mengundang bajingan rubah ini, aku tidak nyangka kalau keadaannya bisa seperti ini"

__ADS_1


Rupanya penguasa wilayah Mystic masih bisa mempertahankan nyawanya, sama seperti Ratu lautan yang hanya bisa berdiam diri.


"Kalau begini terus, semuanya bisa ma ... " Ratu lautan pada mulanya sedang membatin, tapi langsung terdiam menatap kosong karena melihat mantan malaikat sedang tersenyum sangat lebar.


__ADS_2