![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"kau terlalu banyak bicara, lebih baik kau diam saja"
bam
satu pukulan keras mendarat di hidung bibi Elena hingga membuat nya mimisan. wajah nya membekas akibat pukulan nya. Bibi Elena terjatuh karena tidak dapat menahan pukulan pria bertopeng emas.
"hentikan jangan sakiti kakak" teriak ibu Elena, diri nya semakin menubrukkan kepala nya ke tanah.
"su-sudah ku-kubi-kubilang mereka tidak ... " diri nya mencoba bangkit, ia menarik celana pria bertopeng emas.
bam!
satu tendangan lagi mendarat ketika bibi Elena hendak mengata-ngatai sekumpulan pria bertopeng.
rupa nya sudah berubah banyak seperti bukan bibi nya Elena lagi akibat pukulan serta tendangan keras menghantam bagian hidung dan mulut nya. gigi atas dan bawah nya terlepas hingga darah mengalir di sekitaran mulut nya.
"he-hent ... "
jleb ...
pembicaraan nya tidak dapat ia selesai kan dikarenakan tombak yang panjang nya 1 meter lebih menancap di tenggorokan nya terlebih dahulu. sudah di pastikan bibi Elena telah tewas.
"KAKAK!" teriak ibu Elena terdengar hingga ke telinga sekelompok orang bertopeng.
"kau berisik!" pria bertopeng emas menjambak rambut nya keatas.
"aghh" air mata nya berlinang menahan rasa sakit karena rambut nya telah di tarik.
"dengarkan ini baik-baik, semua warga desa telah kami bunuh!. tidak ada lagi yang tersisa kecuali kau! " ia semakin mengeraskan mengeraskan jambakan nya.
"ugh ... kau keterlaluan!"
"pada awal nya aku ingin menikmati tubuh mu terlebih dahulu, tapi sekarang seperti nya aku telah kehilangan keinginan itu. seperti nya mati adalah pilihan yang tepat untuk mu!" ia lagi-lagi mempererat jambakan nya.
__ADS_1
"aghhhhh" ibu Elena hampir pingsan ketika menahan nya, tak lama kemudian pria bertopeng emas menghempaskan kepala ibu Elena ke permukaan bebatuan.
kepala nya terbentur, tiada suara terucapkan dari bibir ibu Elena, yang ada hanyalah air mata yang disusuli aliran darah di kening nya. sudah dipastikan ibu Elena tidak dapat di selamat kan akibat pendarahan hebat terjadi di bagian otak nya.
"huh ... ibu apakah kau baik-baik saja" panggil Elena baru saja sampai ketempat ibu nya, ia nampak ngos-ngosan karena berlarian terus menerus.
kumpulan pria bertopeng melirik ke sumber suara, terlihat seorang gadis muda berpenampilan 14 tahun sedang memanggil ibu nya.
"ibu yang kau maksud apakah dia?" ia memungut rambut ibu Elena, diri nya menjambak lagi dan menunjukkan pendarahan nya kepada Elena.
"EH!" ia langsung terduduk ketika melihat keadaan ibu nya.
tidak ada kata-kata keluar dari mulut nya. yang ada hanyalah ekspresi tertekan, rasa yang sudah cukup lama dirasakan, kesedihan dan kegelisahan yang berhamburan akankah ada akhir baginya.
Ingin rasanya menjauh dari keadaan nya ini, berharap masa ini akan segera berganti hingga mati, tak akan menjadi layu dan akhirnya mati.
"Elena, ibu akan selalu menyayangi mu" nampak bayangan ibu Elena muncul di ingatan nya.
"Elena, semoga saja impian mu untuk menjelajahi berbagai wilayah terwujud"
"Elena ... jika kau berhasil mewujudkan impian mu datanglah kesini ... jangan melupakan paman dan bibi mu. kau sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri"
satu persatu bayangan ilusi terbayang Elena, diri nya teringat ibu nya sendiri, paman-paman nya, kakek nya, serta bibi nya.
"Ibu ... paman ... kakek ... bibi ... kenapa?, kenapa kalian semua meninggalkan Elena sendirian!. Kenapa selalu saja seperti ini!, apakah Elena nakal?. waktu itu ayah, terus Cia dan Yaya, sekarang ... malah kalian"
ingin kembali Elena merasakan indah nya kebahagiaan dan nikmat nya kebersamaan terhadap keluarga serta teman-teman nya. Ingin saja lagi menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang kedepannya. namun takdir tidak mengijinkan nya melakukan apa yang diinginkan nya.
Elena melihat kebawah, diri nya semakin diam dan tenang hingga ujung-ujungnya malah tertawa seperti kehilangan akal nya.
"hahahaha" tawaan puas Elena terdengar sangat jelas. ia menunduk sembari meremas bebatuan kecil yang tajam sampai-sampai tangan mungil nya terluka dan akhirnya mengeluarkan banyak darah segar.
"hahaha ... tidak!, ini tidak mungkin terjadi!. Ini pasti hanya mimpi!. tidak!, aku di mimpi kan!. hahaha aku di mimpi ini pasti mimpi, hahaha ... pasti begitu kan dewa!, yakan dewa!"
__ADS_1
"kalau begitu cepat sadarkan aku, cepat!, cepat sadar kan lah!"
"ketua apa yang terjadi padanya hingga membuat nya tertawa seperti itu" tanya salah satu bawahan pria bertopeng emas.
ia bingung kenapa wanita di depan nya tertawa, seharusnya bukan ekspresi seperti itulah yang ditunjukan jika orang tersebut kehilangan sesosok yang berharga bagi nya.
"jika diperhatikan lagi mungkin anak kecil itu telah gila"
"apakah sebaiknya kita bunuh saja"
"jangan dulu, seperti nya agak sedikit menarik melihat nya tetap seperti itu" jawab pemimpin bertopeng.
"baiklah jika itu keinginan anda"
plak ... plak ... plak
"cepatlah sadar" Elena kehilangan tingkah normal nya, ia belasan kali menampar wajah nya sendiri sampai-sampai kedua pipi nya berwarna merah tua. ketika rasa sakit yang tak terbayang kan menyerang wajah Elena, bukannya menangis ia malah tertawa.
"hahaha, lihatlah itu pipi nya sampai merah. baru kali ini aku melihat anak kecil menampar wajah nya sendiri berulangkali"
"pftt, beneran gila ternyata, hahaha ... " pria bertopeng polos tidak dapat menahan ketawa nya, Elena ditertawakan habis-habisan oleh orang-orang ini.
"haha" pria bertopeng emas hanya melipatkan tangan nya kedepan, ia sesekali tertawa puas.
Pikiran Elena campur aduk, hidung nya sedang mencium bau mayat, bau amis nya tersebar. Telinga nya sedang mendengar tawaan penjahat.
Elena sendiri tengah menyimak pertikaian otak dan isi hati nya, mereka masih bersama tapi berbeda pendapat, otak tak punya hati dan hati tak punya otak. hati beranggapan kalau otak begitu kejam dan otak sendiri beranggapan otak begitu dungu.
tawaan masih terbayang di otak nya, ingin saja rasanya melawan tapi hati tidak menginginkan nya. Elena sedang dilanda kebingungan serta kesedihan yang teramat dalam. ia masih saja menampar wajah nya berulang-ulang hingga ingin rasanya terbangun dari mimpi buruk nya.
"berhentilah menampar wajah mu sendiri Elena, ini bukanlah mimpi" seorang pria tak tau dari mana asal nya menangkap kedua tangan Elena, diri nya juga memeluk dari belakang.
suara lembut nya tidak terasa asing bagi Elena, ia bergegas memutar balikkan tubuh nya, senyum manis orang itu semakin membuat Elena tenang ketika menatap nya.
__ADS_1
"kau tidak sendirian masih ada aku disisi mu, aku akan selalu ada. biarkan aku menggantikan posisi keluarga mu, ketika kau kuat kau harus melindungi ku"
"hiks ... Clark" Elena menangis, ia memeluk Clark dengan erat.