Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 94 : Padang gurun (Valcke)


__ADS_3

Hari menjelang sore.


Ratu lautan masih mengurus sisa-sisa kekacauan, ia juga telah mengabari anak nya kalau ia akan berada di wilayah Mystic selama berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu.


Anaknya mau tidak mau hanya bisa menghela nafas, ia benar-benar bosan berada di istana tanpa ibunya.


Yang selalu menemaninya hanyalah seorang pelayan, namanya Eri. Pelayan diistana berjumlah ratusan, tapi yang paling dekat dan mengerti Vania hanyalah Eri.


Meskipun status mereka berbeda, Eri dan Vania bisa dibilang seperti sahabat. Disaat masa kecil, Vania sudah dirawat sebaik mungkin oleh Eri, ia juga selalu mengandalkan Eri dalam banyak hal, yang mana membuat hubungan mereka semakin erat.


Saking dekatnya hubungan mereka, Vania pernah memanggil Eri 'kakak' namun, jelas Eri merasa tidak nyaman dipanggil kakak, apalagi Vania merupakan anak dari Ratu lautan, ia merasa lebih nyaman kalau dipanggil Eri.


"Tuan Putri, anda dari tadi tidak makan siang, makanlah" pelayan wanita atau lebih singkat dipanggil Eri, sedang meletakkan cawan diatas meja.


Putri Vania yang awalnya sedang memperhatikan catatan kertas bekas kiriman ibunya segera menoleh lalu berkata "Iya, letakkan saja disana"


Vania kembali melihat catatan.


"Baik Tuan Putri"


"Sudah kubilang beberapa kali, panggil aku Vania kalau hanya berdua"


Eri terkekeh pelan lalu menyahut "Maaf Vania, aku selalu lupa"


Vania sekali lagi menoleh, ia menghembuskan nafas ringan dan menanggapi permintaan maaf Eri "Alasan mu selalu lupa, Eri"


"Hahaha, maaf-maaf" Eri tertawa ringan sembari berjalan mendekati Vania "Apa yang anda baca Tuan Putri?"


Mendengar kata Eri, Vania menghela nafas berat layaknya orang yang sedang mengeluh karena lelah secara mental "Huh~"


"???" Eri bingung, ekspresi nya begitu netral.


Vania segera menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak memusingkan apa yang telah ia katakan sebelumnya.


"Surat dari ibu" jawab Vania.


"Apa yang Ratu tulis?" Harusnya pertanyaan yang dilontarkan Eri masuk kategori lancang, namun karena hubungan mereka begitu dekat, Vania tidak mempedulikan nya.

__ADS_1


"Singkatnya ... ibu tidak akan pulang dalam kurun waktu dekat, ibu sedang sibuk mengurus kekacauan di ibukota wilayah Mystic"


"Jadi ... Ratu lautan tidak akan kembali" Eri mengerti lalu mengusap dagunya dan mengangguk sebagai tanggapan.


***


Clark, Clara, Elena, Flera dan Vivi telah memasuki kawasan pasir padang gurun yang bertempatan di wilayah Valcke.


Seusai kekacauan di ibukota terjadi, Clark memutuskan untuk menjelajahi wilayah Valcke, ia juga sudah mempersiapkan keperluan penting seperti bahan makanan dan air minum kedalam cincin untuk beberapa hari kedepan.


Kali ini mereka berhadapan sama panasnya terik matahari, dan untungnya Clark membuat pakaian khusus yang dapat mengurangi hawa panas.


Selain Clara dan Elena, sisanya mengenakan pakaian khusus.


"Huhh ... Master, panas sekali!" keluh kesah Elena tidak dapat di sembunyikan, kakinya begitu lemas dan sedikit gemetaran.


"Jangan mengeluh" sahut Clark netral.


"Master, mengapa kita tidak menggunakan kereta kuda?" Elena tidak mau ribet, ia tidak tahan sama panasnya matahari.


"Kita kan bisa beli kuda untuk ditunggangi sendiri-sendiri" Elena terlalu malas memarahinya.


"Ingat?, kita dipasangkan pemberat?"


"Ah benar juga" Elena tertegun kemudian menyadari kalau mereka berdua sedang dipasangkan pemberat dikaki dan tangannya saat mulai berangkat dari wilayah Mystic.


"Sepertinya panas matahari mempengaruhi otak mu?"


"Untungnya aku lagi malas, kalau tidak sudah kuhajar kau!" Elena sebenarnya sedang emosi, namun karena panasnya terik matahari ditambah beban berat dikedua tangan dan kakinya membuat Elena malas berurusan sama Clara.


" ... "


Karena suasana sunyi, ia menoleh kesamping dan menemukan Clara terlalu dekat sama masternya, bahkan bisa dibilang saling menempel.


Melihat pemandangan itu, Elena menurunkan alisnya.


Balutan senyum langka tercetak diparas Clara yang selalu datar, tatapan nya menuju ke wajah Clark. Elena menyimpulkan kalau kondisi Clara terlalu aneh sejak 3 hari yang lalu.

__ADS_1


Elena memang bodoh, tapi tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari perubahan temannya. Dari mulai tatapannya, ekspresi, serta prilaku terhadap Clark mulai berubah dan tentunya kearah yang lebih manis.


Bukan cuman Elena yang merasakan perubahan Clara, Vivi dan Flera juga menyadarinya, mereka sekarang lebih sering melihat Clara menempelkan diri ke Tuan mereka, terkadang senyuman manis dan sifat manja nya keluar secara alami.


"Apakah dia mulai menyukai master?" hanya inilah kesimpulan Elena, tidak ada yang lain. Para bawahan Clark juga kurang lebih memikirkan hal yang sama.


Mengapa mereka berkesimpulan seperti itu?. Jawaban nya mudah, tampang nya seperti seorang gadis yang baru saja merasakan jatuh cinta, meskipun mereka bertiga tidak berpengalaman mereka adalah sesama perempuan.


Itu hal yang normal, lagian laki-laki nya adalah Clark. Si pria tampan, serba bisa, kuat, dan baik. Yah, itulah fakta yang mereka ketahui selama ini, jadi normal kalau ada banyak perempuan yang menyukainya, apalagi Clara selalu disisi Clark setiap saat.


Tidak mungkin ada gadis yang dapat bertahan disisinya, bahkan jika ada seorang wanita bersuami sekalipun. Kalaupun tahan, itu mungkin karena belum tau sisi selain ketampanan nya. Asal diberi waktu, Clark dapat meluluhkan hati nya secara perlahan tapi pasti.


Clark menyadari seseorang sedang menatapnya lalu ia melihat Clara "Ada apa?"


"Mm~" melihat tatapan Clark, ia langsung bersenandung dan menggelengkan kepalanya.


"Lalu ada apa?, apakah karena panas? atau karena beban nya terlalu berat?" usai mengatakan pendapat nya, Clark lanjut menepuk kepala Clara secara ringan serta lembut.


" ... " usai menjeda karena sedang asik menikmati tepukan hangat, Clara akhirnya membuka mulut dan membiarkan tangan masternya diatas kepala "tidak terlalu panas dan tidak terlalu berat" suaranya berkesan halus.


"Kau berkeringat, tahanlah"


Clara terkekeh karena tidak bisa menyangkalnya, ia sebenarnya berbohong. Panas matahari menyengat kulitnya, belum lagi menahan bobot berat, ini lebih menyiksa dari apa yang telah dibayangkan, saking beratnya kakinya sampai-sampai masuk kedalam pasir. Kalau dibandingkan, Elena masih terbilang ringan.


Clara memang memiliki tubuh regenerasi, tapi tubuhnya tetap merasakan rasa sakit sebelum disembuhkan dan yang pasti 'mana' akan selalu terpakai hingga 'mana' di tubuhnya perlahan mulai berkurang yang mengakibatkan tubuh lemah dan lesu.


"Sepertinya kalian berdua nampak lebih dekat, apakah sesuatu terjadi diantara kalian?" pertanyaan ini mengganggu Elena selama 3 hari, jadi ia tidak tahan dan menunggu konfirmasi langsung dari mereka.


Para bawahan mengacungkan jempolnya dalam diam, mereka juga menginginkan konfirmasi langsung.


Clara sekali lagi menoleh kearah Clark, ia tidak ingin bicara dan menyerahkan nya langsung kepada Clark.


Dari mata Clara, ia tidak ingin memberitahukan hal ini termasuk disaat ia sedang menangis, Clark menghela nafas ringan lalu membuka mulutnya untuk bicara "Tidak ada yang terjadi, jangan banyak berpikir"


Kedua bawahannya sedikit kecewa sesudah mendengarnya dan memilih untuk pasrah. Namun, Elena tidak menyerah semudah itu dan meminta konfirmasi sekali lagi "Hmm benarkah?, mencurigakan"


"Kita sudah hampir sampai" sebelum mendapatkan jawaban puas, beruntungnya mereka hampir sampai dan Clark mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik.

__ADS_1


__ADS_2