![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Biarpun suasana di sana riuh dan agak sedikit kacau karena keterkejutan melihat lelaki muda yang sudah menjadi guru Akademi. Dengan senyuman ramah, Clark lanjut mendatangi kotak yang berisikan kayu nomer.
Wajahnya terlihat santai, sama sekali tidak terganggu sama keriuhan yang terjadi.
Ains Richenle dan tuan Yin juga terheran sekaligus bingung sama guru yang masih kelihatan amat muda dibandingkan pengajar pada umumnya.
"Dia ini ... aku tidak bisa melihat seberapa banyak mana yang ada pada tubuhnya, dia tidak bisa menggunakan sihir atau memang memiliki suatu benda untuk menghalangi penglihatan aliran mana ku?, anak itu aneh sekali, Dan lagi ... "
" ... bocah itu dengan percaya dirinya mengirim 2 murid, aku tidak pernah bertemu sama orang senekat ini sebelumnya" gumam Raja menyipitkan matanya, ia sedang menggunakan salah satu teknik yang bisa mengecek mana yang pada tubuh targetnya.
Tuan Yin diam, tidak tau apa yang sedang dipikirkannya.
"Hmph, lagi-lagi ada pria aneh yang sangat bodoh" batin guru Hokori yang sedang di rombongan para murid Akademi kembang merak.
"Nomer 10" ucap Clark menujukkan kayu nomer sesekali melirik ratu lautan dengan sunggingan.
Ratu lautan tentu menyadari tatapan yang dilakukan oleh pemuda itu, terlihat kalau tatapan nya begitu sinis dan samar-samar terdapat aura mengancam yang hanya bisa dirasakan oleh Clark.
"Apa maksud bocah itu?" gumam Ratu lautan menatap tajam.
"Apakah dia kenalan mu?" tanya Raja juga sempat melihat, tuan Yin mendengar pertanyaan yang dilontarkan Raja kepada Ratu lautan, jadi dirinya sedikit penasaran.
"Tidak" jawab singkat Ratu lautan.
10 menit kemudian.
Kompetisi baru dimulai, 15 orang suruhan penguasa memasang sebuah pelindung di sekitar arena pertarungan, berguna agar sihir para peserta tidak mencelakai penonton.
Sihir itu dapat menahan penyihir tingkat 7 kebawah, jadi bisa dipastikan kalau para peserta tidak akan bisa menghancurkan pelindung yang dibuat oleh 15 orang itu, ya kecuali guru, dan penyihir tingkat 7 menengah keatas lalu satu lagi jangan lupa, dia adalah Elena yang dibantu dengan tanda lahir airnya.
(Sama seperti penjelasan di Chapter 31. Kalau dalam 1 tingkatan terdapat 3 tahap yaitu : tahap pertama hanya disebut nomer, tahap kedua disebut Menengah, dan tahap terakhir disebut Puncak)
***
Akhirnya setelah beberapa waktu, urutan kompetisi sudah ditulis semua. Sekarang Clark dan kedua murid gadisnya sedang berada di sebuah restoran didekat arena kompetisi.
__ADS_1
Tersedia lauk pauk berupa ikan dan ayam diatas meja, tidak lupa Clark memesan sayuran dan minuman sehat untuk melengkapi nutrisi muridnya.
"Elena jangan makan ikannya saja, makan sayurnya juga" Clark menaruh sayur keatas piring Elena.
"Ehhh, tidak. Sayur itu pahit master" Elena mengembalikan sayurnya ketempatnya semula.
"Kau harus memakannya. Coba kau lihat Clara, dia tidak berpilih-pilih makanan"
Kalau dilihat, Clara sedang melanjutkan makannya tanpa bersuara dan mempedulikan restorannya yang amat ramai didatangi para peserta kompetisi.
"Sebenarnya aku bisa memilih nomer 2 atau 5 di kotak tadi dengan menggunakan teknik mata tembus pandang, tapi kuingat muridku belum makan dari pagi tadi, jadi aku sengaja mengambil nomer ke 10 yang ada dikotak agar mereka sempat makan dan mencerna makanannya" batin Clark.
(Yah sama kaya namannya, teknik tembus pandang bisa menembus penghalang. Bisa bahaya sih kalau didapatkan oleh lekaki Cabul)
***
Setelah sekian lama menunggu sampai nomer mereka dipanggil, Akhirnya tibalah giliran Akademi hitam jatuh.
"Nomer 10, Akademi hitam jatuh, wilayah Aquari ... Nomer 20, Akademi daun wangi, wilayah Mystic. Harap guru dan murid-muridnya turun ke arena" kata wasit menggunakan benda pengeras suara.
"Beruntung sekali Akademi daun wangi, babak awal berhadapan sama Akademi hitam jatuh yang hanya mengirim 2 orang murid" salah satu murid dari Akademi kembang merak beranggapan kalau Akademi daun wangi akan menang telak.
"Gimana menurutmu?, guru Hokori?"
"Hmph, tidak usah mendengar pendapatku, dilihat dari mata tertutup pun sudah jelas kalau lawannya ini tidak seimbang" Hokori berucap seraya melipatkan tangannya kedepan.
"Iya sih, pasti akan sangat sulit melawan dengan 2 orang murid" sahut murid perempuan sudah menduga kalau Akademi hitam jatuh akan kalah.
Akademi yang terpanggil sudah berada di arena. Alangkah terkejutnya lagi kalau sebenarnya murid yang diikutsertakan Clark adalah seorang gadis.
Elena menggunakan gaun hitam bergaris ungu dan satunya lagi menggunakan baju hitam bergaris ungu panjang diatas lutut, bercelana pendek lalu bagian mulutnya ditutupi kain hitam seperti cadar.
Clark berdiri sambil bergumam "Orang yang disebut tuan Yin itu kurasa masih mengenali Clara, jadi sebaiknya kututupi dengan kain agar tercegah dari masalah, sebenarnya aku bisa menyelesaikan masalahnya, tapi Clara meminta kalau dia yang akan menyelesaikan dendamnya sendiri"
Para penonton mulai bergosip, mengutarakan isi hatinya masing-masing kepada teman, saudara, dan orang sebelahnya.
__ADS_1
"Hei, hei, hei, apakah dia serius?, kedua muridnya adalah seorang gadis, mereka terlihat masih sangat muda untuk ikut kompetisi sihir"
"Gila sih, ini sudah tidak berkemungkinan untuk menang, lebih baik menyerah"
"Ya, kalau aku jadi dia sudah pasti akan sangat malu dan memilih untuk tidak mengikuti kompetisi"
Dari kejauhan, murid Elder dari Akademi gelombang bencana mulai menanyakan beberapa pertanyaan "Guru, apakah murid tuan itu bisa menang?"
"Hmm, aku tidak tau, tapi tuan itu bukanlah orang sembarangan yang mudah ditebak, kita lihat saja seberapa kuat murid-muridnya" balas guru Elder sembari mengangkat bahu.
"Ck, lawan kita mudah sekali, mereka Akademi tadi yang mengirim 2 orang murid" sahut murid pria dari akademi daun wangi yang sudah dari tadi berada diarena bersama guru dan teman-temannya.
"Haha ... itu benar sekali senior, kuyakin kalau senior Bily bisa mengatasi mereka sekalian"
"Sudah pasti, tapi keimutan anak itu lumayan juga" Bily menunjuk tepat kearah Elena.
"Yang bercadar kurus tinggi memiliki tubuh ramping dan paha putih mulus. Kalau ditebak, pasti parasnya tidak kalah sama penampilannya"
(Maksudnya Clara)
"Heh benar juga" tatapan bily dan kesembilan temannya kelihatan amat mesum.
Wasit yang berada di tengah arena kembali menggunakan benda pengeras suara, lalu mengatakan "Kirim 1 murid yang akan bertanding, sisanya meminggir"
"Hmm, Bily ... aku akan memilih mu, pastikan kalahkan mereka dalam beberapa detik saja agar nama baik akademi kita melambung" sahut guru dari Akademi daun wangi lalu meminggir, diikuti oleh kesembilan murid lain.
Dengan percaya diri, bily membalas "Serahkan padaku guru" ia ketengah arena, mendekati wasit.
"Master, pilih aku" Clark belum mengatakan apapun tapi Elena lebih dulu melangkahkan kakinya, mendekat ke wasit.
"Baiklah, kuserahkan padamu" sahut masternya lalu bergumam "Anak ini seenaknya saja"
......................
Udah otor bilang, otor lagi sibuk nyari cuan jadi agak jarang up, maaf banget
__ADS_1