![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Setelah lewat 10 menit, kursi yang awalnya masih tersisa banyak menjadi lebih sedikit karena orang-orang semakin berdatangan.
Sorak penonton mulai terdengar ketika melihat ada sesosok pria yang terlihat berumur 30 tahunan sedang menggunakan setelan baju keemasan mencolok.
Orang itu berada berdiri di tengah-tengah arena sambil melambaikan kedua tangannya, menyapa para penonton disana.
Di sela-sela bajunya terdapat token yang dapat mengeraskan suara.
"Terima kasih sudah menghadiri kompetisi sihir hari ini. saya sebagai penguasa wilayah Mystic sekaligus raja dari wilayah ini, Ains Richenle. Ingin mengatakan kalau saya akan menjadi pengawas kompetisi ini" tanpa banyak berbasa-basi, orang itu langsung membicarakan ke intinya.
"Hidup Raja!"
"HIDUP!!!"
"Wuhhhhhhhh!" teriak bergemuruh para warga saat mendengar perkataan itu dari penguasa wilayah mystic.
"Orang yang mencolok" batin Clark sedikit tersenyum.
"Berhenti" sedikit nada pelan dari penguasa namun tersebar keseluruh arena membuat mereka langsung terdiam.
"Bukan hanya saya yang menjadi pengawasnya, tapi orang-orang hebat dari wilayah lain juga akan melakukan hal yang sama. Mari kita sambut ... "
Setelah Ains Richenle sudah menyelesaikan pembicaraannya, tiba-tiba muncul 1 wanita berpenampilan dewasa dan 1 pria tua tapi masih terlihat bugar.
"EHHHH!!!"
"Hei lihat, bukankah itu ... penguasa wilayah Aquari, Ratu lautan ... " tunjuk seseorang lalu dilanjutkan orang yang disebelahnya.
"Iyaa ... beliau sangat cantik, tapi siapa yang pria tua yang disampingnya?, apakah kalian mengenalinya?"
"Kurasa tidak"
"Kuharap kalian bisa diam" perkataan singkat lagi-lagi keluar dari mulut penguasa wilayah mystic, Ains Richenle. Membuat mereka semua terdiam, suasana disana begitu hening.
Merasa sudah cukup tenang, barulah Ains Richenle bersuara, mulai menjelaskan "Kalian pasti sudah tau siapa wanita yang di sebelahku ini, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lebih dalam lagi. Yah beliau adalah penguasa wilayah Aquari yang digelar Ratu lautan"
Prok ... prok ... prok ...
Semua yang menonton langsung menepukkan tangannya dengan keras, suara teriakan takjub lagi-lagi mulai terdengar bahkan orang yang sedang mengobrol sampai tidak bisa didengar oleh lawan bicaranya.
"Ehem"
Tak terlalu lama tepukan tangan berhenti saat penguasa wilayah mystic berdehem.
__ADS_1
"Mungkin hampir dari kesemua kalian tidak mengenali pria disampingku ini, bisa dikatakan kalau beliau adalah seseorang yang hebat dalam memimpin orang-orang yang tinggal di wilayah Valcke, sebut saja Tuan Yin"
"Hahhh ... Valcke?"
"Eh apa mungkin, wilayah gurun panas yang hanya ada pasir itu?"
"Kukira disana tidak ada kehidupan, lagian disana panas, siapa yang sanggup tinggal disana?"
"Yang benar saja?"
"Hebat sekali ... "
Mendengar pujian dari orang-orang, Tuan Yin hanya diam sambil mengusap janggutnya.
Berbeda sama apa yang dipikirkan penonton, yang dipenuhi rasa kagum akan kehebatan orang itu. Clara malah menatap tidak senang sama kehadiran pria tua tersebut, jika dilihat tatapan itu dipenuhi dengan rasa kebencian yang amat dalam.
Kepalan tangannya terhadap sabit semakin menguat, ingatan masa lalunya mulai muncul kembali.
Melihat gerak-geriknya yang tidak terasa biasa, Clark sebagai gurunya hanya menenangkan muridnya dengan cubitan pipi lembut.
"Jika kau masih lemah, jangan bertindak sembarangan" katanya sedang menarik pipi Clara.
"Au bwaiklah mwaster" jawabnya salah-salah dalam mengucapkan beberapa patah kata.
Tadi Elena terlalu fokus memperhatikan ketiga orang yang sedang ditengah arena kompetisi sehingga ia tidak terlalu mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tidak ada, kami hanya tertarik sama para penguasa dibawah sana, yakan Clara?"
"Emm, ya master" jawabannya ikut berbohong.
"Penguasa?, tertarik?, berarti ... hmm" Elena kembali melihat kebawah, melihat ketiga orang itu secara bergantian lalu berhenti, tertuju sama penguasa wilayah Aquari, ratu lautan.
"Ohh, apakah master tertarik sama gumpalan daging itu?" kata Elena salah menangkap maksud dari gurunya. Ekspresi penasaran tadi berubah menjadi ekspresi datar.
"Hah? gumpalan daging?"
Diisi kepala Elena saat ini, sedang berpikir kalau gurunya tertarik sama lengkuk tubuh ratu lautan yang begitu menggoda.
"Pikiran mu perlu diperbaiki" sahut Clark kemudian menyentil kening Elena.
Tuk ...
"Aduh ... sakit" Elena memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Itulah balasannya" balas Clark kembali menatap murid pertamanya.
"Reaksi tadi ... sudah jelas kalau pak tua itu ada hubungannya sama kejadian yang dialaminya" duga Clark menatap Clara lalu balik menatap orang yang sedang ditengah arena tersebut.
"Heh ... semoga saja pertunjukannya tidak mengecewakan" batin sisi lain Clark sedang menyeringai jahat.
***
Di penginapan tepatnya diruangan Clark, kedua wanita dewasa baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, anehnya mereka membukakan matanya secara bersamaan, posisi mereka saling berhadapan.
"Eh, kau juga baru bangun" Flera menatap pupil mata merah Vivi.
"Ya, kau juga" balasnya sembari mengusap bagian matanya lalu teringat akan sesuatu dari tubuh milik Flera yang amat menggoda.
"Coba kulihat" karena sebagian tubuh telanjang Flera tertutupi selimut tebal, dengan rasa penasaran, Vivi pun menarik paksa selimut hingga lekuk tubuh Flera sempat terlihat jelas.
"A-apa yang kau lakukan! mesum! " Ucap Flera bernada tinggi lalu menutup sebagaian tubuhnya menggunakan selimut yang ditarik tadi.
"Sudah kuduga, ukuran punyamu lebih besar daripada punya ku" sahutnya lalu menunjukkan buah persiknya sendiri.
"Ugh ... tutup tubuhmu mesum!" ucapnya sambil membantu menutupi bagian penting Vivi.
"Mengapa?, tidak perlu malu lagian kita sesama wanita, mana malam tadi kita sudah bermain bersama"
"Ugh, lupakan ... aku ingin makan" balas Flera mengalihkan pembicaraan, mencoba bangkit dari ranjang namun rasa nyeri dari tubuhnya kembali menyerang.
"Sakit ... " Flera menggertak giginya.
"Seharusnya jangan bergerak dulu. Kau tidak ingat?, tuan malam tadi bermain kasar dan tidak membiarkan kita istirahat, sudah seharusnya berakhir seperti ini"
"Aku tau itu, ini hanya sedikit sakit" balasnya masih mencoba bangkit meskipun harus menahan rasa nyeri.
"Huh baiklah ... Flera coba kau lihat dimeja situ, sepertinya ada makanan" Vivi baru menyadari kalau ada piring diatas meja dekat ranjang.
Merasa ingin tau, Flera kemudian perlahan mendekati meja yang ada dikamar tersebut.
"Iya ... ini ada makanan, ada surat juga" sahutnya melihat ada 2 sup ayam dan sebuah surat.
"Coba dibaca, mungkin itu dari Tuan" Vivi menduga kalau surat itu ditulis oleh tuannya.
Tanpa berlama-lama lagi, Flera mengambil surat itu dan membaca bacaan yang tertulis di surat itu "Khusus hari ini, kalian harus beristirahat. Makanan pagi sudah kubelikan untuk kalian, jika masih kurang, 3 koin emas sudah ku taruh didalam laci"
Flera yang membacanya langsung tersenyum manis, perasaannya begitu senang karena pikirnya, tuannya sangat memperhatikan kesehatan dirinya.
__ADS_1
Reaksi Vivi kurang lebih sama ketika mendengar suara Flera yang sedang membacakan isi suratnya.