![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Dari atas arena, Yue dan Yui merasa terdapat ke ganjalan dari urutan pertandingan, mereka bingung sekaligus bertanya "Guru, kupikir gilirannya berjarak cukup jauh, mengapa mereka bisa berhadapan sekarang?" Yue sebagai kakak mewakilkan adiknya.
"Hmm ... sejujurnya aku juga bingung" sebenarnya Guru Hokori sudah mencurigai kalau ada seseorang yang tengah berbuat curang untuk keuntungan pribadi, tapi Guru Hokori menghiraukannya karena merasa kalau itu bukanlah hak dia untuk ikut campur.
Lagian Guru Hokori sudah memikirkannya secara matang, ia tidak ingin murid dan dirinya terlibat dari masalah tersebut.
Pertandingan hampir dimulai, Ardian tengah berdiskusi bersama junior, senior, dan terakhir gurunya.
Pada awalnya mereka sangat kebingungan, kenapa bisa melawan Akademi hitam jatuh, padahal jarak mereka lumayan lebar, apalagi lawan mereka dari wilayah yang sama.
Kurangnya pengalaman dan selalu berpikiran positif tanpa diselimuti rasa curiga, mereka berprasangka kalau penempatan ini sudah dirubah karena ada kesalahan pada penempatan sebelumnya.
Ardian merasa bingung dan cukup kurang percaya diri sama kekuatannya. Apakah dia mampu melawan balik lawan? atau malah justru sebaliknya?, jadi dia memilih untuk mendiskusikan terlebih dulu perihal pertandingan ini dengan berkata "Guru, siapa yang akan maju duluan?" dari nadanya agak sedikit tegang dan kurang percaya diri.
"Hmm ... " gurunya memegang dagu sambil memikirkan rencana kedepannya, sudah jelas kalau Edward dilanda kebingungan, apalagi lawannya lumayan susah sebab mereka tadi juga melihat aksi dari Elena dan juga Clara.
Camila sebagai murid paling senior unjuk tangan lebih dulu sambil mengatakan "biarkan aku dulu, guru"
"Camila?, kau yakin" meskipun Camila menawarkan dirinya, tapi kalau dilihat lebih teliti, tanganya kanannya sedikit gemetaran.
Karena gurunya merasa tidak yakin, Camila memberanikan diri sebagai murid paling senior "Ya guru, meskipun kalau dibanding aku akan kalah jauh, tapi setidaknya aku bisa mengurangi mana ... "
Perkataan Camila terpotong saat wasit menaikkan tangannya keatas dan berucap "Kirim 1 murid ke arena"
Edward mengerti, dengan wajah pasrah dipadu sama teguran, ia pun menyuruh Camila untuk tetap semangat "Wasit sudah memanggil, kau datanglah ke tengah arena, ingat ... kalau tidak mampu, menyerahlah, jangan paksakan dirimu, semangat"
__ADS_1
Tidak mau kalah dan berniat ingin menyemangati juga, para murid ikut memberikan dukungannya "Senior!, semangat!, kami akan mendukung mu!"
Mendengar Ciel dan lainnya ikut memberikan semangat serta dukungannya, Ardian selaku murid yang bisa menggunakan 3 atribut sihir, merasa kalau seniornya begitu percaya diri dan tak mudah gentar biarpun lawannya bisa dibilang kuat "Tunjukkan kemampuan mu, Senior!, percaya dirilah!"
Mendengar orang tercintanya ikut memberikan dukungan, Camila ingin menunjukkan keberaniannya dengan mengatakan hal-hal keren, seperti "Serahkan padaku" faktanya, Camila hanya ingin mengatakan hal keren saja, belum tentu bisa melakukan tugasnya dengan benar, apalagi lawannya tergolong susah.
Memang kalau sambil berhayal, pasti hari-hari tidak akan terasa, terutama hari diganti menjadi menit. Camila baru ketengah arena sudah dibuat heran, tidak ada tanda-tanda kalau murid Akademi hitam jatuh ke tengah arena, justru Clark disana tengah menahan muridnya, maksud dari tindakannya sungguh membingungkan.
"Master?" nyatanya, muridnya bernama Clara sempat bingung, apalagi pundaknya ditahan cukup keras.
Toweeeeetttttttttt!!!
Tidak lama saat Clark menahan muridnya, suara terompet ditiup, suaranya sudah jelas sangat keras, seluruh penonton terkejut karena suara itu tiba-tiba menggema keseluruh arena.
Suasana pecah seketika, suara terompet masih tidak berhenti berbunyi, malah terdengar lebih keras dibandingkan tadi, tentunya para penguasa langsung memperhatikan keadaan sekitar, apakah yang sebenarnya terjadi?.
Senyuman jahat terpampang jelas diwajah kerutnya, sudah jelas kalau Tuan Yin sebenarnya memiliki niat tersembunyi dibalik sosok kuatnya.
Kepakan sayap seperti burung namun sebenarnya manusia sedang mengepung bagian atas arena. Bisa dikatakan kalau merekalah pembuat suara berisik terompet.
Sayapnya bukanlah sayap biasa seperti suku iblis, kalau dibandingkan pastilah beda jauh, terutama keaslian. Sayapnya lebih bercahaya menggunakan suatu energi lain, berbeda sama 'mana'.
Jumlahnya ada 5 orang, layak disebut sesepuh. Penampilan mereka berjanggut panjang putih, kurus tinggi tapi berenergi, bisa ditebak kalau mereka sebenarnya sudah hidup lebih dari penyihir dunia magic manapun.
Merasa kalau kelima orang itu bukanlah orang biasa, Raja dari wilayah Mystic menyatukan tinjunya seraya bertanya karena penasaran "Senior, kalau boleh tau ... apa maksud anda mengacaukan kompetisi sihir?"
__ADS_1
Memang jarak antar mereka jauh, tapi kelima sesepuh itu dapat mendengar suara Ains, salah satu dari mereka menjawab dengan nada ketus "Kau tidak perlu tau ... " suaranya pelan, tapi dapat disebar melalui energi lain sehingga Ains dapat mendengarnya sangat jelas meskipun suara terompet masih dimainkan.
Raja dan Ratu lautan mewaspadai 5 sesepuh tersebut, suara terompet semakin kacau, membuat keributan yang tidak perlu, sebagaian dari penonton menutupi masing-masing lubang telinganya, hingga ada orang yang mengambil kesempatan itu untuk berbuat licik, menyerang dari belakang dengan senyuman rubah tua.
Jlebbbb ...
Jlebbbb ...
"Akhhhhhhhhh! Raja dan Ratu ditusuk" melihat pemandangan mengerikan, para penonton berteriak histeris, tidak percaya sama apa yang telah dilihat dari kedua bola matanya langsung.
Mereka sangat lengah dan terlalu terpaut sama suara terompet dan suasana keributan. Memang, kebanyakan penyihir itu lemah dibagian ketahanan fisik, apalagi kalau benda yang melukainya itu bukanlah benda biasa.
Ya, benda yang menusuk mereka bukanlah benda biasa, benda itu bisa disebut pedang anti sihir. Tidak terbuat dari logam ataupun sihir, tapi terbuat dari benda yang lebih berharga daripada keduanya.
Kalau ditanya mengapa tidak dilepas sendiri dengan kekuatan tersisa?, maka jawabnya percuma, lagian semua inci dari ganggang sampai mata pedang, semuanya mengandung anti sihir.
Biarpun tidak mengandung anti sihir, kalau asal cabut, maka itu akan membuat lukanya terbuka.
Merasa sudah dibohongi, Raja tidak menerima perbuatannya, ia mencoba untuk melakukan perlawanan dengan menggunakan sihir, tapi malah tidak bisa digunakan dan justru malah membuatnya semakin tidak berdaya dalam keadaan terpuruk "Uhuk, kau ... " karena terlalu memaksakan mengaliri mana, Raja sampai memuncratkan darah dari lubang hidung dan mulut.
Usaha Raja saat mencoba memberontak malah membuat Tuan Yin hampir tertawa, Ia juga berniat untuk memberikan pelajaran ringan pada wajah angkuhnya dan berkata "Bodoh!, semakin kau aliri mana mu maka kematian mu semakin dekat, kau memang bodoh"
Bukk! ... bukkkk! ... bukkkk! ...
Tendangan mendarat diwajah Ains, tidak hanya sekali bahkan sampai 3 kali.
__ADS_1
Berbeda sama Ains, Ratu lautan sudah menyadari kalau pedang menusuki perutnya itu dapat menyerap sumber kekuatannya "Mana ku, tersedot" batinnya, diam. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, sengaja dilakukan karena kalau memaksa melawan, apa yang terjadi pada Ains akan terjadi juga padanya, malahan hal itu dapat meningkatkan kecepatan kematiannya.