![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
Mendengar tawaan Clara, mereka berdua saling pandang. Seakan memiliki satu pemikiran, Clark dan Elena mengangguk bersamaan kemudian ikut tertawa bersama.
Tawaan bahagia itu cukup memakan 2 menit lamanya, terkadang mereka juga memberikan beberapa lelucon konyol agar kesenangan itu berlangsung lama.
Hari menandakan telah sore, Clark mencukupkan bercandanya, dan menyuruh kedua gadis untuk masuk kedalam pintu ruang yang telah ia munculkan.
Elena lebih dulu masuk sedangkan Clara masih belum.
"Clara masuklah"
"Mm-"
Melihat muridnya hanya menggeleng kan kepala tanpa adanya tanda-tanda ingin melangkah kedalam, Clark mengerti kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh murid pertamanya.
"Ada apa?"
"Master, terima kasih ... " suaranya lembut dan terdengar sangat tulus.
"Untuk apa?"
" ... Terima kasih sudah melatih Clara, ta-tanpa master, Clara tidak akan bisa membalaskan dendam ayah"
"Maksud mu?"
"Pria itu ... yang tuan suruh kejar, adalah pelaku yang membunuh ayah" usai mengatakan fakta, Clara mengubah arah pandangnya kebawah, menatap tanah.
Matanya berlinang air mata, anehnya setelah berduaan sama master nya, ia merasa kalau tangisan yang sudah ia tahan sedari tadi keluar begitu saja. Ia ingin bersikap kuat, tapi tubuhnya tidak merespon seperti kehendaknya lagi, air mata tak hentinya-hentinya terus menetes.
"Ma-maaf master" Clara segera menyeka air matanya setelah menyadari kalau air matanya tak berhenti keluar.
Clark tertegun sejenak, ia tersenyum masam lalu mencoba menenangkan kembali muridnya dengan mengatakan "Tidak perlu bersikap kuat, menangislah sepuasmu" seusai itu Clark lanjut memeluk tubuh ramping nya.
Gadis itu tidak menolak, malahan terdapat perasaan hangat bergejolak dihatinya, pelukan master nya benar-benar hangat dan menenangkan.
"Master~" Clara menangis sekencang-kencangnya, mau bagaimana pun Clara hanyalah seorang gadis 13 tahun.
"Keluarkan saja, tidak usah ditahan, master mu ini akan bersedia menemanimu~"
__ADS_1
Sesaat setelah tangisan Clara mulai mereda, pemuda itu mulai melepas pelukannya.
"Sudah 'kan?" Clark membantu menyeka air mata yang tersisa.
"Mm, terima kasih master"
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi tugasku sebagai guru mu"
"Master selalu baik" tanpa sadar sebuah senyuman lembut terbentuk di wajahnya.
Melihatnya sekali lagi Clark dibuat tertegun, lalu mengubah ekspresi nya seperti biasa dan bertanya "Menurut mu begitu?"
"Ya master sangat baik" Clara menjawab ala kadarnya dan masih mempertahankan senyuman jujur.
"Izinkan master mu ini mengubah topiknya, bisakah?"
" ... Um, apa itu master?" melihat keseriusan terlukis diwajah Clark, Clara langsung mengangguk setuju.
"Mungkin kita akan berpisah"
Mata Clara merah sebelum ia mendekat kearahnya, memeluk lengan nya erat-erat dan meringkuk kedalam tubuhnya "Apa maksud master?"
"Hah?" Clara tercengang, dan matanya kusam pada saat itu sebelum air mata mulai menetes kembali, memeluk nya dengan lebih erat.
"Hmm, Clara ... "
"Master diam saja, Clara tidak mau berpisah, Clara akan terus bersama master!, selamanya" suaranya begitu serak dan tangisannya pecah.
" ... Um" Clark terdiam, tapi ia mengelus kepalanya dengan lembut lalu melanjutkan perkataannya "Mungkin mustahil untuk selamanya"
"Master ... "
"Biarkan aku menyelesaikan nya ... " setelah sudah memastikan Clara cukup tenang, Clark mulai melanjutkan apa yang seharusnya dikatakan "Tapi, jika itu sampai kematian, maka itu mungkin, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin membiarkan mu pergi sampai kematian memisahkan kita bahkan jika kau menginginkannya"
Wajah Clara memerah dan entah mengapa ucapan Clark begitu menyentuh hatinya. Baru kali ini ia merasakan perasaan selain obsesi berlebih, tapi meski begitu, ia menyukai perasaan ini saat dimana mereka hanya berduaan, Clara hanya ingin waktu berhenti agar ia bisa terus seperti ini.
Usai berpelukan, akhirnya mereka mulai saling melepaskan.
__ADS_1
"Kalau begitu masuklah kedalam, mungkin Elena sudah menunggu" sesudah mengungkit tentang Elena yang telah menunggu, Clara mengangguk paham lalu berjalan dan masuk kedalam pintu ruang.
Sesaat senyuman Clark terangkat, ia menghembuskan nafasnya sebentar sebelum mengatakan "Maaf, aku tidak begitu baik seperti yang kau bayangkan Clara, janji ku telah kuingkari. Mungkin, dalam pandangan mu, kau memang membunuh nya dengan tangan mu sendiri, tapi sebenarnya ... akulah yang membantu mu dalam membatasi pergerakan nya"
Sungguh tidak ada rasa penyesalan didalam dirinya, hanya ada rasa kesenangan karena rencana nya selalu berjalan lancar.
Awalnya ia tidak mau melanggar janjinya terhadap murid. Namun, situasi yang tidak terduga membuatnya harus mengingkari janji.
Ia sudah menduga kalau Clara tidak menginginkan Elena mengikut campuri pertarungan. Jadi sebelum Tuan Yin sempat lari, Clark yang waktu itu sedang bertarung melawan para sesepuh, menyempatkan diri memasuki beberapa pasir kehitaman kedalam tubuh Tuan Yin memalalui lubang tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain.
Saking cepat dan kecilnya pasir berwarna hitam, terutama dicampuri rasa kegelisahan Tuan Yin, membuat targetnya tidak dapat menyadari sesuatu yang memasuki tubuhnya.
Ketika Clara dan Tuan Yin mulai saling bertarung satu sama lain, kesempatan itulah yang dipakai Clark dalam mengendalikan pasir hitamnya. Pasir itu terus bergerak kedalam daging sampai dimana menghalangi berbagai aliran tubuh.
Hanya ada satu alasan mengapa Clark melakukan trik licik seperti yang dijelaskan, yaitu karena ketidakmampuan Clara dalam menghadapi Tuan Yin.
Menurutnya Clara masih tergolong lemah, terutama tanpa bantuan roh bulan sabit, Flera. Tanpa adanya Flera, Clara tidak dapat menggunakan sihir dan akan selalu menggunakan serangan jarak dekat.
***
3 hari setelah kekacauan. Ibu kota masih bisa dibilang cukup indah meskipun beberapa bangunan telah hancur dan bau amis darah masih sedikit tercium.
Korban-korban dalam pertempuran sudah mendapatkan makam yang layak untuknya, sedangkan orang yang terluka dibawa dan diobati secara perlahan.
Malam setelah kejadian sungguh membuat para keluarga korban menangis, tidak ada yang dapat tidur dengan nyenyak karena teringat kejadian mengerikan itu.
Ratu lautan berkontribusi dalam menenangkan para warga serta memerintah sebagian orang-orang diberbagai Akademi dan para bangsawan untuk membereskan sisa-sisa pertarungan serta membangun bangunan baru.
Berita juga telah tersebar keberbagai wilayah kecuali wilayah Valcke. Medianya menggunakan burung bangau sebagai pengantar koran, membuat orang-orang yang tidak tau, menjadi heboh atas berita kematian Raja wilayah Mystic dan tragedi dikota Olisfield.
Semua orang dilanda kebingungan atas siapa yang akan memimpin wilayah Mystic kedepannya, terutama setelah berita kematian Raja tersebar luas.
Mula nya Clark bisa saja membuat Vivi menjadi penguasa wilayah Mystic terutama setelah ratu lautan berterima kasih dan berhutang nyawa, tapi setelah ditanya kepada Vivi 'apakah kau mau menjadi penguasa berikutnya?' Vivi tanpa ragu langsung menolak.
Entah itu pemikiran bodoh atau pintar?, padahal beberapa minggu yang lalu Vivi masih berambisi untuk menguasai berbagai wilayah dan bertekad untuk membalaskan dendam, tapi setelah mengikuti sosok penting seperti Clark, keinginannya perlahan-lahan memudar digantikan ingin terus bersamanya apapun yang terjadi.
Yah meskipun sangat disayangkan kalau Vivi tidak menjadi penguasa baru, ratu lautan masih memiliki hutang nyawa kepadanya, jadi rencana penyelamatan ratu lautan tidak sia-sia, malahan lumayan menguntungkan karena hutang itu akan ia tagih untuk berurusan melawan para pasukan ataupun bawahan dewa.
__ADS_1
......................
('-'*)♪ hmm gimana tulisannya? apakah bikin Bingung?, kalau ada yang agak ga wajar atau ada typo komen aja, entar otor perbaiki.