Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 78 : Elena vs Akademi daun wangi


__ADS_3

Langkahan kaki Elena begitu halus, tidak menunjukkan ekspresi apapun saat sudah mendekati wasit.


"Sebaiknya kau menyerah saja gadis, aku tidak ingin melukai wajah imut mu" Bily menyentuh telinganya, memasang wajah acuh seakan meremehkan lawannya.


"Mimpi" hanya ada kata itu saja, keluar dari mulutnya.


"Heh, kalau begitu aku tidak akan segan-segan melawan mu" Bily menjilat bibirnya sendiri.


"Kalian masih ingatkan sama peraturannya?, boleh menggunakan senjata apapun, tidak boleh membunuh lawan, kalau melukai boleh. Jika lawan menyerah atau pingsan, maka pihak lain akan mendapatkan kemenangan nya. Kalian paham!" wasit mengingatkan peraturan kompetisi.


"Paham" jawab bily lalu diikuti anggukan Elena.


Kalian berikan salam" wasit menyuruh.


Mereka saling menyatukan tinjunya.


"Menjauh, bersiap ... "


"Senior tunjukkan kekuatan mu!" teriak 9 murid junior dari lawan Akademi bintang jatuh.


"MULAI!" wasit sudah menjauh dari arena, ia mengambil bendera berukuran kecil dari pinggangnya lalu mengibarkan nya, petanda kalau pertarungan dimulai.


Merasa sudah dimulai Bily tersenyum bangga lalu memulai rapalan sihirnya "Wahai pemilik mana berikan ... "


Woshhh ... bum ...


sebelum menyelesaikan rapalan nya, lebih dulu sebuah ombak air menerpa Bily hingga membentur dinding arena.


Para penonton yang sudah menduga kalau Akademi hitam jatuh akan kalah malah membukakan matanya secara lebar hingga membentuk bulat.


Orang yang tadi mengobrol serta mencemooh murid Clark, sekarang malah tidak ada satupun bersuara.


"Khoak ... " Mata dan mulut Bily terbuka lebar lalu pingsan dan jatuh saat itu juga.


Suasana di sana agak hening karena tidak percaya sama apa yang dilihatnya. Ya, Elena berhasil mengalahkan Bily tanpa berpindah posisi sekalipun.


"Berhenti" ucap wasit berlari, ingin mengecek keadaan Bily.


"Di-dia ... dia pingsan, murid Akademi hitam jatuh memenangkan pertarungan pertama!" kata wasit sudah mengecek nafas dan denyut nadi Bily.

__ADS_1


"Wuuuhhhhhhhhhhhhh!!!" teriak penonton bersamaan. Suasana disana kembali berisik, bermacam-macam obrolan dipertanyakan kepada lawan bicaranya, tentu saja itu semua tentang Akademi hitam jatuh dan gadis hebat sebagai muridnya.


"Gilaa!, sekali serang langsung pingsan"


"Cepat banget ... "


"Hei, aku tidak mendengar rapalan sihirnya loh"


"Kecepatan segitu mana mungkin menggunakan rapalan sihir, dia bisa menggunakan sihir tanpa rapalan"


"Berarti dia setara sama Akademi teratas dong"


"Mungkin gitu, dia sangat hebat"


Yang awalnya meremehkan malah jadi sebaliknya, Elena mendapatkan beberapa pujian dari para penontonnya, bahkan Akademi yang akan jadi lawan berikutnya mewaspadai Elena seperti sebuah ancaman.


"Menarik sekali gadis itu" murid Akademi peringkat 1 atau Akademi cahaya perak berdiri dan menatap dari atas sambil menyembunyikan tangannya kebelakang.


"Ya, kukira dia bakalan kalah, memang kekuatan itu tidak bisa dilihat dari luarnya saja, gadis itu masih muda tapi sudah bisa menggunakan sihir tanpa rapalan, terlebih lagi daya serangan itu lumayan kuat" balas gurunya, Gaskar.


"Undang saja kedalam Akademi kita, murid seperti itu akan sia-sia jika memasuki Akademi seperti Akademi Hitam jatuh" kata murid pria yang lebih senior dan sangat terkenal dikalangan anak muda dan tua.


"Jika dia beneran masuk maka dia akan menjadi saingan mu kelak, dengan umur segitu dia akan lebih bersinar terang dibandingkan dirimu"


"Aku tidak keberatan, justru murid seperti itu akan membuat kita semakin terkenal dan kuat" Mikle memiringkan bibirnya, terdapat kemauan licik yang pada dirinya.


"Aku suka sama pemikiran dewasa mu itu, beginilah seharusnya murid ku, nanti guru akan mencoba berbicara kepada gadis kecil itu" Gaskar menepuk punggung Mikle.


"Kalau dia tidak mau, maka kita harus memaksanya"


"Hoho, kau memang sama seperti ku, aku memang berniat sama, seperti pemikiran mu" balas Gaskar sama liciknya.


Diposisi berjauhan, murid perempuan dari Akademi kembang merak berperingkat 2 sedang saling bertatapan satu sama lain.


"Guru dia hebat" ucap gadis kembar bernama Yue dan Yui.


Yue adalah kakaknya, sedangkan Yui adalah adiknya.


"Hmph, Paling hanya beruntung, meskipun kekuatan nya sehebat itu, belum tentu bisa memenangkan pertarungan, apalagi setiap Akademi bisa mengirim 6 murid sampai 10 murid, itu akan sangat sulit baginya untuk menang" jawab Hokori masih mempertahankan keangkuhan nya.

__ADS_1


"Benar sih, tapi sayang sekali murid berkualitas seperti itu masuk kedalam Akademi kecil dan tidak terkenal seperti Akademi Hitam jatuh" balas gadis kembar, Yui.


"Ah ternyata Yui sependapat sama isi hatiku"


"Kita kan kembar" Yui mengingatkan lagi kalau mereka adalah kembar.


Guru Hokori tidak membalas ucapan murid kembar dan murid perempuan lain yang sedang mengobrol tentang gadis bernama Elena.


Wasit kembali melanjutkan pertandingan seraya berkata "Apakah Akademi hitam jatuh akan menetapkan murid ini, atau ganti orang?"


"Tidak usah, tetapkan itu saja" Clark mengusahakan untuk menunjukkan muka santainya seramah mungkin.


"Baiklah, pihak Akademi daun wangi silahkan kirim 1 murid untuk melanjutkan pertarungan" wasit mempersilahkan salah satu murid masuk ke tengah arena.


"Bagaimana ini guru?, senior terkuat seperti Bily aja bisa dikalahkan nya dalam beberapa detik, kita tidak bakal menang jika melawannya satu-satu"


"Hmm bagaimana jika 9 murid kalian maju melawan ku, jika kalian menang maka pertandingan ini dimenangkan oleh Akademi kalian" ditengah situasi panik dan tegang yang dirasakan oleh pihak Akademi daun wangi, dengan percaya dirinya, Elena malah meminta mereka semua untuk melawannya sekaligus.


"Hah? ... mohon dipertimbangkan kembali, lawan mu 9 orang, ini bukanlah bercandaan" sahut wasit menaikkan alisnya sambil membersihkan telinga dengan jari kelingking.


"Aku serius!, master setuju kan?" Elena memalingkan pandangan kearah Clark, meminta masternya untuk menyetujui tindakannya.


"Huh, ini anak memang sembarangan, setelah selesai aku akan menghukumnya" batin Clark lalu mengacungkan jempolnya, pertanda kalau ia setuju.


Guru Akademi daun wangi yang merasa sudah tidak ada harapan, langsung ber antusias dan mengambil kesempatan gratis tanpa sedikitpun rasa malu.


Wasit menghembuskan nafas berat.


"Huhhh ... Jika kedua belah pihak menyetujuinya, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa, silahkan bersiap ... " wasit memegang dahi sembari menggeleng.


"Mau sehebat apapun kalau lawannya sebegitu banyak maka kekalahan lah yang akan menantinya, anak dan murid sama-sama sombong, padahal mereka masih memiliki kesempatan menang biarpun sangat sedikit kemungkinan nya" ungkapan seperti itulah yang ada dihatinya.


"Hehe terimakasih gadis, berkat kesombongan mu, Akademi kami tidak jadi pulang awal ... " ucapan begitulah yang ada pada pemikirannya sebelum Elena menang telak pada pertandingan dan menghancurkan harapannya seperti tersayat pisau tajam.


Benar, setelah lewat 5 menit mereka bertanding, sekali lagi wasit mengumumkan kalau Elena menang tanpa berpindah dari lokasinya berpijak. Kesemua murid Akademi daun wangi yang di kirim sedang pingsan ditengah-tengah arena.


......................


Nanti dijelaskan next Chapter, tunggu aja ya.

__ADS_1


__ADS_2