Fallen Angel [Malaikat Jatuh]

Fallen Angel [Malaikat Jatuh]
Chp. 51 : Putri Vania vs Halm


__ADS_3

"Kalau begitu aku tidak akan segan-segan untuk menang!"


"Aku juga tidak akan ragu!"


"Mari kita menangkan pertarungan!"


Semangat mereka tidak dapat diremehkan, bawahan organisasi darah merah ber antusias untuk menang. Mereka sudah tidak sabar untuk mencicipi satu persatu pasukan wanita.


"Hanya sekumpulan lelaki mesum, kalian pikir dapat menang?"


Dengan ekspresi dingin, Putri Vania menatap sekumpulan organisasi darah merah. Tidak ada yang lepas dari penglihatan tajam nya, hawa yang menakutkan menambah kesan bahwa dirinya bukanlah lawan yang mudah dapat dikalahkan.


"Kami juga akan bertarung Tuan Putri" keluar sekitar 10 orang pengawal pribadi Putri Vania tadi. Mereka telah mencabut pedang dari pinggang mereka, bersiap untuk memberikan perlawanan.


"Heh, seram juga" balas pe topeng ungu ketika melihat tatapan yang tidak mengenakan sedang menatap mereka.


"Biarkan aku yang menghadapi nya, dia telah merenggut nyawa saudara ku. Setidaknya biarkan aku balas dendam untuk nya!, kalian harus membayar apa yang telah kalian perbuat!!!" Halm melangkahkan kakinya, disekitar tubuh nya mengeluarkan sebuah aura api dan angin. Wajah marah nya terlihat sangat jelas.


"Atribut ganda kah?" batin Putri Vania.


"Lawan aku dengan segenap kekuatan mu, jika tidak, kau akan benar-benar lenyap dari dunia ini" Halm memberikan saran yang terkesan agak mengejek dan meremehkan.


"Baiklah jika itu kemauan mu"


Armor es milik Putri Vania semakin menutupi wajah nya kecuali bagian mata, mulut, dan juga hidung. Terbentuk juga sebuah tombak es ditangan kirinya.


wosh


"Matilah" Halm melompat, ia dibantu elemen angin nya.


Putri Vania melemparkan tombak es kearah Halm yang masih berada di udara.


"Cih ... "


Track ...


Tombak Tuan Putri berhasil dilelehkan oleh api yang dikeluarkan oleh Halm.


***

__ADS_1


"Pertarungan nya sudah dimulai kah, tidak sia-sia juga menempelkan jimat punya pak tua malaikat ke tubuh Tuan Putri, aku jadi bisa melihat situasi disana" gerutu Clark yang sedang dibelakang halaman penginapan, ia sesekali melihat cincin yang ia kenakan.


"Master, aku sudah lelah. Ini sangat berat untuk tubuh ku, aku tidak sanggup lagi" Elena mengeluh dan menjatuhkan tubuhnya kepermukaan tanah, ia mengenakan sebuah pemberat ditangan dan kaki nya.


"Seperti itu saja berat, semangatlah Elena" Clara yang menggunakan bobot yang jauh lebih berat dari Elena mencoba untuk memberikan nya semangat. Wajah nya seperti biasa datar, sama seperti orang yang telah kehilangan tujuan hidupnya.


"Orang yang memiliki tubuh regenerasi tidak pantas mengatakan hal itu" sahut Elena lemas, ia menggunakan nada tinggi.


"Sudah-sudah, kalian memiliki keunggulan masing-masing, benarkan Tuan?" Flera membantu Elena berdiri. Meski sebentar, Flera sempat melirik Clark yang sedang duduk santai, pipinya sedikit memerah.


"Ya memang benar. Elena memiliki mana yang cukup besar untuk anak seusia nya karena adanya tanda lahir air ditangan nya, sedangkan Clara memiliki tubuh fisik yang lumayan kuat karena dibantu tubuh regenerasi miliknya"


"Semuanya hebat dalam keahlian masing-masing, ya walau menurutku masih sangat lemah"


"Ughh ... " Mendengar kata-kata masternya, kedua murid nya merasa sangat terpukul.


"Master, Clara siap melanjutkan pelatihan lagi" Ucap Clara berantusias.


"Master, aku sudah tidak lelah lagi. Ayo mulai latihan, yang sangat berat pun aku siap menerimanya" Elena yang tadinya merasa sangat lemas malah kembali berdiri.


"Kelihatan sekali sok kuat nya, kakinya saja tidak berhenti bergetar" batin Clark menatapi kaki Elena yang seperti dipaksakan.


"Sudahi saja latihan hari ini. Kalian harus beristirahat, tidak baik jika selalu berlatih"


"Ak-aku juga masih bisa"


"Clara harus memulihkan mana mu, kau selalu memulihkan stamina mu berulang kali, dan Elena ... jangan sok kuat seperti itu, kaki mu gemetaran terus"


"Haha, ternyata master menyadarinya" sahut Elena duduk.


"Itu terlihat sangat jelas" balas nya mendatangi murid nya. Ia perlahan-lahan melepaskan bobot berat yang terpasang di kedua kaki dan tangan murid nya.


"Sudah terlepas semuanya, kalian beristirahat lah. Flera ... kau jaga mereka berdua"


Flera segera mengangguk paham "Baik Tuan, saya akan melaksanakan permintaan anda. Tapi Tuan ... bolehkah saya bertanya"


"Hmm silahkan"


"Tuan mau kemana?, Tuan seperti menyerahkan murid-murid Anda kepada saya" Flera mendatangi Clark, dari matanya terlihat sangat jelas bahwa Flera ingin selalu berada didekat tuannya.

__ADS_1


"Ada urusan mendesak yang ingin ku selesaikan"


"Urusan?, kalau begitu Clara mau ikut" Ketika mendengar percakapan masternya, Clara dengan senang hati menawarkan diri, ia sangat ingin mengikuti masternya, walau wajah nya tidak menggambarkan keinginan hatinya.


"A-aku juga, aku ingin ikut" Kata Elena tidak ingin kalah dari temennya.


"Tidak-tidak kalian tidak perlu ikut, kalian istirahat di penginapan saja" ia menolak keinginan Clara dan Elena.


"Ehh kenapa?" tanya mereka berdua bersamaan.


"Itu karena ... "


"Jangan menunda waktu Tuan" Flera memeluk kedua wanita remaja dengan pelukan hangat nya. Ia sengaja memotong pembicaraan Clark.


"Ah, kalau begitu ... aku akan segera kembali" Clark merobek ruang, dirinya langsung saja masuk ke pintu ruang yang baru saja ia ciptakan.


***


Pertempuran masih berlanjut disekitaran pulau monster yang telah mengecil. Putri Vania lagi-lagi membentuk sebuah tombak es yang jauh lebih besar kemudian melemparkan nya kearah Halm. Dirinya tidak terbang ataupun melayang, ia berpijak pada permukaan air yang sudah menjadi es karena perbuatan sihir nya.


"Akhhh, masih kurang" Halm menggunakan perisai anginnya, ia berhasil menahan tombak besar yang dilemparkan Tuan Putri, walau tubuh nya harus mundur beberapa meter ke udara.


Crack pyar


Ujung tombak Putri Vania hancur, Halm berhasil menahan nya.


"Suhu dingin, pecahan es" Putri Vania menginjak es yang dipijaknya sehingga retak dan menjadi pecahan-pecahan kecil. Keseimbangan tubuh nya masih bisa terjaga walau kebanyakan es yang dibuat nya hancur karena ulahnya sendiri.


Tidak berhenti sampai situ saja, pecahan es itu melayang menuju ke target utama nya yaitu Halm yang sedari tadi masih melayang.


Dua kepalan tangan Halm dipertemukan, mana nya terkumpul disalah satu tangan nya, sedikit percikan api tergesek dikulit.


"Kemarahan yang tidak padam, api membara! ... "


Gerakangan Halm seperti sedang memukul, suhu disekitar nya mulai panas ketika lingkaran sihir muncul didepan tinjunya.


Woshh


Sekumpulan api dengan suhu tinggi, membakar semua pecahan es yang sengaja diarahkan tadi.

__ADS_1


Putri Vania berlari menjauh, air yang dipijaknya selalu menjadi es. Halm tidak membiarkan nya kabur semudah itu, lingkaran sihir angin terbentuk dibagian punggung nya, kemudian mendorong tubuh nya lebih cepat.


"Hmm, ikuti saja kalau bisa" gerutu Putri Vania masih berlari kencang, dirinya tidak memegang senjata apapun. Lingkaran sihir air berpusat pada alas kakinya seperti alat bantu untuk mempercepat langkahnya.


__ADS_2