![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"Emm, tuan apa yang kau gumam kan?, wajah anda terlihat menyeramkan" Flera yang tepat berada di sampingnya bertanya, sedari awal ia memperhatikannya. Tubuh putih nya hanya ditutupi kain selimut.
"Tidak, aku hanya kepikiran sesuatu" jawab nya tidak ingin memperjelas.
"Hmm, anda tidak ingin memberitahukan nya. Yasudahlah, lagian saya tidak peduli, lebih baik saya tidur" Flera membalikkan tubuh nya kearah yang berlawanan, ia sudah sangat kelelahan karena melakukan aktifitas malam.
"Tidak peduli ya, tapi mengapa kau malam tadi mengatakan 'Aku mencintaimu' berulang kali?. Apakah kau bisa menjelaskan kata-kata mulut mu yang manis itu? " Clark mulai menggodanya, ia juga seketika memeluk tubuh Flera yang hanya tertutupi selimut.
"Ugh, mengapa tuan masih mengingat nya, itu sungguh memalukan" jawab nya menutupi bagian mulut nya dengan selimut.
"Kau terlalu manis untuk kulupakan"
"Dasar, tuan nakal"
"Heh ... bukankah kau duluan yang memancing ku, mengapa bisa menyebut ku nakal"
"Berisik, berisik, saya tidak ingin mendengarnya" Katanya langsung menutupi telinganya dengan tangan.
Clark sejenak memandang nya dengan tenang, raut wajah nya sedikit tersenyum lembut. Ia berinisiatif untuk menjauhkan tangan Flera yang sedang menutupi telinganya sendiri.
"Apakah masih sakit?"
Flera hanya menggeleng, dan tersenyum.
"Sudah agak mendingan tuan ... anda memperlakukan saya dengan lembut, tapi tetap saja sakit karena bentuk punya anda terlalu besar dan panjang"
"Maaf kalau itu menyakitkan mu"
"Emm ... tidak apa-apa tuan, sa-saya se-senang me-melakukannya" Ucap Flera terbata-bata, ia masih teringat kejadian malam tadi sehingga membuatnya sangat malu, bahkan dirinya tidak berani menatap tuannya.
"Baiklah, kau istirahat saja. Dari malam tadi kau hanya tidur sebentar"
__ADS_1
"Lagian itu salah tuan, padahal saya sudah menyuruh untuk berhenti, tapi anda malah tetap bersikeras melakukan nya terus menerus" ketika menjawab, Flera menggembung kan pipi nya.
"Haha" Clark tertawa ringan, ia bangkit dari tempat tidur nya.
"Tuan mau kemana?"
"Hanya ingin menghirup udara segar" Clark telah didekat jendela, ia langsung membukakan kunci nya lalu lanjut membuka jendela nya kesamping.
"Tuan tidak tidur dulu?"
"Tidak usah, aku tidak ngantuk"
"Ta-tapi ... " ketika Flera ingin melanjutkan pembicaraan nya, terlebih dahulu Clark lompat dari jendela menuju keatas atap penginapan.
"Huh ... padahal belum selesai bicara, tuan malah sudah pergi" Ucap Flera mengeluh, dirinya pun segera memejamkan mata nya.
Diatas atap penginapan, Clark berdiri seimbang sembari menatap langit-langit. Dirinya juga melihat sekitar nya, ia melihat banyaknya perumahan berjejer rapi ditepi jalan. Terkadang ada orang lewat sedang membawa barang berupa alat penangkapan ikan, mungkin mereka adalah para nelayan.
Paginya korban formasi yang Clark pasang malah semakin banyak, awal nya yang hanya berjumlah 4 orang malah menjadi 9 orang. Tidak ada yang dapat keluar dari formasi, padahal mereka telah menggunakan berbagai cara namun hasilnya malah tetap saja tidak berhasil walau sudah seringkali mencoba.
"Tuan Putri bagaimana ini, apakah tidak ada cara lain?" Jenderal wanita bertanya kepada Putri Vania yang sedang berada diluaran kapal.
"Entahlah, pasir nya benar-benar aneh. Walaupun sudah menggunakan sihir es ku agar dapat membekukan pasir nya, tapi entah kenapa tetap saja tidak berhasil mengeluarkan mereka"
"Begitukah, ini karena kecerobohan saya telah menyuruh mereka untuk mendekati tempat itu. Maafkan saya Tuan Putri, saya telah melakukan kesalahan" Jenderal wanita meminta maaf dengan tulus, terdapat penyesalan didalam dirinya.
"Jangan meminta maaf, aku tidak menyalahkan mu, lebih baik kita pikirkan cara mengeluarkan mereka saja" Kata Tuan Putri sedang memikirkan sesuatu. Sama seperti perkiraan Clark, Putri Vania begitu peduli dengan bawahan nya.
"Entah mengapa daritadi aku merasakan firasat yang buruk tentang hal ini, padahal mereka hanya terjebak dan tidak bisa bergerak saja, apakah ini hanya perasaan ku?, aku beneran tidak mengerti" batin nya mulai merasakan hal aneh, dari kejauhan tidak lupa Putri Vania menatapi kesembilan bawahan nya yang sedang terjebak.
Sekitar 6 jam telah lewat, pagi sudah menjadi siang. Matahari menyilaukan pandangan pasukan Tuan Putri. Firasat buruk nya menjadi kenyataan, mereka kedatangan tamu yang benar-benar membahayakan, 5 kapal layar organisasi darah merah mendekati keempat kapal uap.
__ADS_1
"Siapa mereka?" Putri Vania tidak tau siapakah orang yang berada di kapal layar tersebut, ia masih dapat tenang dengan tatapan waspada menatap ke-lima kapal organisasi darah merah yang sudah dekat.
Swosh ...
Tepat ketika melihat kelima kapal organisasi darah merah, pas itu juga sebuah semburan api menuju kesalah satu kapal uap mereka, arah api itu tentu mengarah ke kapal yang ditempati oleh Putri Vania.
"Dinding es" dengan perasaan waspada, Putri Vania terlebih dahulu mengeluarkan sihir tanpa rapalan. Sebuah dinding es yang begitu tebal berhasil menghalangi semburan api, walau dinding es nya meleleh.
"Berani-beraninya menyerang anggota kerajaan secara langsung" kata jenderal wanita mulai emosi, dirinya sudah mengeluarkan pedang dari pinggangnya, bawahan lainnya juga mengeluarkan masing-masing senjata nya.
"Mengapa kalian menyerang kami?" Putri Vania menatap sinis, ia tidak tau apa alasan gerombolan pengguna topeng menyerang mereka secara tiba-tiba. Jarak antara kapal mereka dan musuh benar-benar saling berdekatan.
"Heh? alasan, tidak perlu ku jelaskan lagi. Mengaku saja para anggota kerajaan, kalian kan yang membunuh saudara ku!" kata Halm si pengguna topeng ungu. Emosi nya telah meluap-meluap.
"Hah, membunuh?, kupikir kalian salah paham" Balas jenderal menambah kecurigaan kelompok organisasi darah merah.
"Jangan pikir aku bodoh!, aku tidak akan mempercayai kalian! para bedebah! ... Semburan api!" lanjut Halm menyerang secara langsung, dirinya tidak bisa berpikir jernih karena hanya teringat saudara sehidup mati nya saja.
"Gelombang air" sebagai jenderal, dirinya mencoba melawan balik.
Wush
pertemuan api dan air lenyap menjadi sekumpulan asap.
"Sepertinya kesalahpahaman ini tidak bisa dilurusi" Ucap Putri Vania. Matanya memancarkan hawa dingin, tangan nya telah diselimuti es, perlahan-lahan menyebar keseluruhan tubuh nya hingga menjadi sebuah armor beratribut es.
"Heh, walaupun kalian bukan pembunuh nya, tetap saja kami tidak bisa membiarkan kalian pergi seenaknya 'siapapun yang melintasi pulau monster kalian harus membunuh nya' begitulah kata pemimpin. Berarti tidak peduli kalian dari kerajaan atau apapun, kami tidak bakalan melepaskan nya" Yosua si pe topeng ungu menjelaskan.
"Jadi, kita bakalan bertempur nih, biarkan aku mengurus wanita yang berbaju besi itu. Kulihat tubuh nya lumayan juga, aku ingin mencicipi nya" tunjuk pengguna topeng ungu lain ke arah jenderal.
"Baiklah. Kalian yang lain urus pasukan wanita mereka!, kalian bebas melakukan sesuatu jika dapat mengalahkan mereka!" rekan nya yang juga menggunakan topeng ungu berteriak, ia ingin membuat para bawahannya lebih bersemangat.
__ADS_1
"Wuuuuuuuuuh!!!" teriak pengguna topeng hitam dan emas heboh.