![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
ketika di elus kepala Clara bergerak kesamping kiri dan kanan, mata nya tertutup seperti menghayati usapan clark kepadanya.
"kalian masuk lah dulu, aku akan menyusul kalian berdua jika kalian sudah masuk" ketika sudah cukup lama Clark pun mencukupi usapan nya, ia menyuruh Elena dan Clara untuk memasuki portal itu terlebih dahulu.
"eh portal ini aman kan?" tanya Elena sembari memasuki jari jemari nya kedalam portal.
"ya tenang saja" ia mendorong Elena dan Clara kedalam.
"tunggu ... " ucap Elena tidak sempat mengatakan perkataan nya. tubuh nya terlebih dahulu memasuki portal itu.
"merepotkan" sempat-sempat nya Clark mengucapkan hal itu, senyuman nya mulai menghilang. Clark memasuki portal nya.
***
disuatu tempat terdapat belahan ruang hingga menciptakan portal. 3 orang keluar dari portal tersebut, 1 orang pria dan 2 wanita muda.
"mengapa aku seperti tidak asing dengan pinggiran pulau ini" Elena yang baru saja keluar nampak bingung, diri nya juga agak terkejut ketika portal yang dimunculkan Clark membawa nya ketempat ini.
"ingat lah baik-baik, bukankah ini tempat asal mu" balas Clark sembari membelakangi tangan nya.
"hah! benarkah. bukankah kita tadi ada di pulau monster, kenapa malah tiba-tiba bisa berada di sini" ia semakin kebingungan tidak seperti teman nya masih tenang sembari menoleh kebelakang.
ia melihat sebuah kapal kecil dengan jumlah yang lumayan banyak, diri nya mengernyit kan kening nya karena merasakan ketidakberesan.
"kapal nya banyak sekali, apakah biasanya tempat mu ramai disinggahi" Clara bertanya diri nya juga mencium aroma benda yang habis terbakar.
"tidak, biasanya tidak sebanyak ini. paling cuman 1 atau 2 orang dalam kurun waktu berbulan-bulan"
"aneh" sahut singkat Clark, ia melihat kumpulan asap tebal yang berasal pedalaman pulau. posisi mereka sekarang ada di pinggiran pulau di dekat kumpulan kapal.
__ADS_1
"kalian lihat lah asap di atas itu"
ketika Elena melihat, nampak wajah khawatiran Elena terhadap para penghuni desa termasuk ibu nya sendiri. ia berlarian masuk kedalam pulau tanpa menunggu Clark ataupun Clara lagi.
Clara hendak mengejar nya namun tangan Clark menghalangi tubuh nya "tunggu dulu, biarkan dia saja dulu mengurus nya"
"master!, apakah kita akan membiarkannya begitu saja"
"yeah" mau tidak mau Clara menuruti ucapan guru nya, sebab baginya perintah guru itu mutlak.
Elena masih saja berlarian, bahkan sampai tidak peduli benda apa yang menghalangi jalan nya, ranting-ranting menjalar mengenai kaki tangan nya hingga menyebabkan bekas goresan.
bruk
"huh ... huh ... semoga saja keadaan ibu baik-baik saja" elena tersandung oleh akar pohon ketika berlari cepat. setetes darah keluar dari luka nya. nafas nya tidak teratur.
makin kedalam Elena malah semakin khawatir, ia mencoba mempertahankan kecepatan lari nya. ketika melihat pria dewasa yang di kenal nya sedang tiarap di tanah, Elena berhenti untuk sementara waktu.
"bangunlah kepala desa, apa yang sebenarnya terjadi" Elena mencoba membangunkan nya dan membalikkan badan ke posisi miring, sial nya bukannya bisa bangun ataupun menjawab pertanyaan nya, Elena malah melihat pemandangan mengerikan untuk anak di bawah umur.
ternyata yang sedang di bangunkan nya sudah tidak bernyawa lagi, di baju bagian depan nya penuh dengan darah. wajah nya hancur seperti tergesek benda kasar.
huek ...
tidak tahan apa yang dilihat nya Elena malah muntah di tempat, bau amis darah membuat nya juga tidak tahan untuk melakukan hal tersebut. baru kali ini Elena melihat wajah seseorang hancur separah itu.
"kenapa bisa kepala desa seperti ini" Elena menutup hidung nya, ia tidak tahan akan aroma amis dari darah. Elena ingin melanjutkan perjalanan nya lagi.
ketika melihat kedepan agak kesamping kanan, nampak lagi 2 penduduk desa saling bertindihan. satu tombak panjang menancap tepat di bagian jantung mereka berdua. darah nya masih belum kering, mungkin kejadian nya belum terlalu lama terjadi.
__ADS_1
"kenapa bisa seperti ini! " tekanan pikiran Elena bertambah, ia semakin terpikir hal-hal yang menyeramkan. diri nya semakin takut melihat kedua mayat penduduk desa.
"paman!" panggil nya agak sedikit keras, ketika melihat darah, diri nya juga teringat tawa riang Cia dan Yaya.
Kaki nya bergetar hebat ketika berjalan. langkah kaki nya tidak seimbang karena kepikiran, selalu saja ia hampir terjatuh. walaupun begitu, keinginan taunya Elena semakin meningkat. diri nya tetap berjalan semakin kedalam,
"ini tidak mungkin kan!" tetes demi setetes air mata mulai membasahi pipi nya. pulau yang awal nya sangat indah penuh dengan bunga sakura malah menjadi abu. aliran air tercemar oleh darah. tumpukan mayat mengambang di atas nya.
tidak sampai situ saja. api besar menyala di atap hingga ke dinding perumahan sederhana desa, ada juga yang telah habis terbakar hangus tiada sisa kecuali Abu-abunya saja. Mayat penduduk desa berserakan di sekitar nya membuat rumput beserta tanah di aliri darah.
ketika menghirup udara, bau amis bertebaran hingga memasuki hidung siapapun yang mencium nya, termasuk Elena yang sedari tadi sudah tidak menutupi hidung nya akibat syok melihat desa nya telah berubah menjadi kolam darah.
"tolong jangan bunuh kakak!"
Elena sebenarnya masih merasa mual, tapi ia tidak jadi memuntahkan isi perut nya ketika mendengar suara teriakan wanita yang sangat familiar baginya.
"itu suara ibu!" Elena bergegas lari mendatangi sumber suara nya. wajah nya semakin pucat, air mata nya ia usap langsung walaupun itu masih keluar dari sela-sela mata nya.
***
masih berada di tempat sama yaitu tempat ibu Elena berada. nampak puluhan orang jahat berbaju hitam dengan topeng sedang menyandera bibi nya Elena.
puluhan orang menggunakan topeng hitam polos, satu orang menggunakan topeng berwarna emas, kemungkinan besar orang yang menggunakan topeng emas adalah pemimpin nya. jika dihitung jumlah orang nya kisaran 30 orang lebih.
"kau pikir aku akan menuruti kemauan mu nona" pria bertopeng yang diduga pemimpin dari penjahat, menempelkan ujung belati ke leher bibi Elena.
"jangan lakukan itu!, kumohon!" mohon ibu Elena terhadap pemimpin penjahat, diri nya berlutut. darah di kening nya menetes, ia terlalu keras menubruk kan kepala nya ke permukaan tanah bebatuan. Mungkin ia sengaja melakukan nya agar penjahat dapat segera melepaskan bibi nya Clara.
"apa yang kau lakukan!, berdiri dan berhenti lah berlutut!, dia tidak pentas mendapatkan nya!" teriak bibi Elena dengan marah beserta kesal, ia tidak takut akan ancaman kumpulan penjahat-penjahat bertopeng.
__ADS_1