![Fallen Angel [Malaikat Jatuh]](https://asset.asean.biz.id/fallen-angel--malaikat-jatuh-.webp)
"Tidak masuk akal, seorang anak kecil berhasil memecahkan pelindung ku" kata assasin.
ketika tanah keras sudah hancur, Elena melesat cepat dengan pedang air dikedua tangannya.
"Kalian serang dia" teriak ketua assasin menyuruh ketiga anak buahnya untuk menyerang anak kecil yang sedang berlarian.
Berbagai elemen seperti angin, api, dan tanah menyerang Elena yang sedang melesat.
" ♡ Kemarilah, bayar lah perbuatan kalian karena telah merusak penampilan sempurna master ♡ "
Slashh slashh
Elena selalu menghindar sambil memainkan pedang air nya, ia menebas tanah yang sedang diarahkan kepadanya, sihir air juga ia pakai untuk memadamkan semburan api musuh.
"Mundur!, menjauh darinya" teriak ketua sudah terlebih dahulu mundur, menggunakan elemen kegelapan yang berupa bayangan.
Jlebb ...
"Terlambat!" seru Elena menyeringai, pedangnya terlebih dahulu sampai, menusuk salah satu dari ketiga assasin tadi.
"Egh ... huekk"
Anak buah yang tertusuk memuntahkan sebagaian darahnya.
Saat melihat darah segar bukannya merasa jijik ataupun takut, Elena sendiri malah terlihat sangat puas, bahkan lidahnya dari tadi tidak berhenti menjilati bibirnya.
"Berikutnya, nikmatilah rasa sakitnya" serunya menyeringai lebar.
Jlebb ... Jlebb ... jlebb ...
"Akhhhhhhh"
pedang yang menancap tadi ia tusuk berulang kali sampai assasin dibuat sangat kesakitan.
"Hahaha, lagi-lagi"
Melihat penderitaan assasin, Elena malah tertawa terbahak-bahak.
Jlebbb ...
"Akhhhh, ugh huek ... he-henti ... kan" ucapnya masih memuntahkan darah segar.
pedang yang menancap tadi masih tak berhenti ia gerakkan, sampai sang assasin tak kuat menahan rasa sakit hingga akhirnya sang assasin tadi, mati dalam keadaan mengenaskan.
"Ah sudah mati?, maaf" Ucap Elena baru berhenti.
Ia memperhatikan tangannya yang dilumuri banyak darah, datang kedua assasin yang tersisa tadi, kembali menyerangnya.
"Bajingan kejam!" assasin dibuat marah, pisau kecil yang ia genggam terlihat ingin menusuk Elena, kalau yang satunya menggunakan pedang.
Pedang dan pisau mereka tertahan oleh pelindung air.
__ADS_1
"Percuma saja" sahut Elena sambil menyentuh pelindung air miliknya sehingga menjadi ombak air kemudian menerpa kedua assasin.
"Uwaah!" teriak mereka karena terseret ombak dari sihir Elena.
Menggunakan berbagai teknik sihir, ketua assasin menarik baju kedua assasin tadi lalu melompat ke dahan pohon yang kokoh untuk menahan ketiga orang.
"Terimakasih ketua" kata mereka berdua.
"Kalian waspadalah terhadap nya, dia bukan murid biasa, pantasan saja dia bisa kabur dari akademi pedang sihir" pikir sang ketua masih mengira bahwa Elena dan juga Clara merupakan murid akademi pedang sihir yang ingin kabur ketempat lain.
Elena menghilangkan ombak air tadi, memperhatikan letak ketua assasin dan juga kedua bawahannya.
Ketua assasin masih tidak menyerah, ia memotong sebagaian pohon menggunakan elemen kegelapan nya "Sihir bayangan, pengendalian" katanya lagi, lalu menyelimuti batang pohon dengan sihir bayangan.
Sama seperti sebelumnya, batang pohon berubah menjadi warna gelap, itu juga dapat terbang seperti dedaunan tajam, bedanya cuman dari kecepatan nya yang agak lambat karena bobot beratnya jauh lebih berat dibandingkan daun.
Dikendalikan oleh bayangan, tangan ketua assasin ia turunkan sebagai perintah untuk menggerakkan batang pohon.
itu melayang dan melancarkan serangannya, Elena berlarian jauh untuk menghindari batang pohon.
Bum ...
Bumm ...
Bummm ...
Untungnya tidak ada yang terkena dari serangan ketua assasin. Hanya saja, tanah dibuat sedikit berlubang dan berguncang, itu semua disebabkan dampak dari keluputan dalam hal menyerang.
Mereka sengaja tidak membantu melakukan perlawanan, sebab sebelum para assasin menyerang, terlebih dahulu Clark memberitahukan nya dengan telepati, untuk tidak membantu Elena dan Clara.
Disisi lain, tempat nya Clara melawan 6 assasin.
Ia dikeroyok 4 sesosok assasin, ditambah 1 orang assasin yang sedang berada diatas pohon tengah menyiapkan sihir lanjutan.
Pada awalnya terdapat 5 assasin sedang menahan Clara. Namun, 1 assasin berhasil dipenggal oleh Clara sehingga hanya tersisa 4 assasin yang tengah menyerangnya.
"Balaskan dendam rekan kita" serunya menyerang menggunakan senjata golok.
Tingg ...
Pertemuan golok dan sabit besar terjadi. Datang lagi 3 assasin lain menggunakan pedang nya.
Sebelum 3 assasin mendekat, Clara menendang samping pinggangnya.
Bukk ...
Assasin dibuat tersungkur, bergesekan sama permukaan tanah, bahkan secara kebetulan terbentur sama batu yang ukurannya tidak jauh beda dari kepalanya.
Luka yang dialami nya cukup parah, ia mengalami pendarahan hebat dibagian kepalanya akibat pergesekan sama benturan.
Jika ditanya nyawanya masih dapat selamat atau tidak, tentu saja jawabanya tidak bisa diselamatkan.
__ADS_1
"Hiyahh!!!" teriak mereka, siap melukai Clara.
Trang ...
Trangg ...
Trangg ...
Dengan perasaan sigap, Clara menangkis ketiga pedang assasin menggunakan bagian tongkat sabitnya.
Tangannya menahan agar ketiga pedang itu tidak mengenainya, Clara pun menambahkan tenaganya agar ketiga assasin itu terpukul mundur.
"Egh ... kuat sekali tenaganya" salah satu assasin membatin.
Sring ...
Karena sudah terlalu menambah tenaga, Clara pun berhasil membuat mereka mundur beberapa langkah dari tempat pertemuan nya tadi.
Bunyian pedang yang ditangkis membuat Clara semakin semangat untuk mengalahkan nya, ia kembali menghentakkan kakinya ketanah, guna untuk mempercepat langkahan kakinya.
Slash ...
Terdapat korban yang berhasil di penggal nya langsung, kepala assasin terjatuh dan dibuat menggelinding ketanah.
Darahnya, tentu mengenai sebagaian pakaian yang ia kenakan. Merasa bahwa itu jijik, Clara menatap tajam kearah kedua assasin yang tersisa.
Pikirannya penuh dendam serta rasa sesal yang amat dalam, karena pakaian pemberian tuannya ternodai oleh darah assasin.
Ia meluapkan emosinya kepada kedua assasin sehingga akhirnya sabit besarnya sudah berada didekat ujung leher.
Slash ...
Slash ...
2 kepala lepas dari tubuh assasin, ia bergerak cepat untuk memenggal kepalanya.
Tak jauh dari lokasi pertarungan, assasin yang telah selesai merapalkan mantra segera mengarahkan arah serangannya kepada Clara.
"Kerikil api" ucapnya kemudian mengeluarkan sebuah batu api berukuran kecil kearah Clara.
Clara menyadari serangannya, ia melihat sebuah batu api kecil melayang menuju ke dirinya.
Semakim mendekat, batu api yang awalannya menjadi kecil berubah menjadi jauh lebih besar, sehingga Clara menjadi lebih curiga bahwa serangan ini akan berdampak fatal jika mengenai tubuhnya.
Clara segera menjauh ketika api sudah makin dekat, assasin yang sedang diatas pohon tersenyum dibalik kain penutup wajahnya.
"Jangan pikir bisa mengindari nya, ini bentuk balasan ku terhadap rekan ku" batin assasin kemudian mengucapkan beberapa patah kata "Ledakan api" teriaknya langsung.
Duarr!
Clara ingin menghindar, namun siapa sangka, bahwa bola tersebut malah meledak saat itu juga ketika ia hendak menjauh dari lokasi.
__ADS_1
Ledakan itu cukup berdampak disekitar nya, kalau saja tidak dilindungi oleh sihir khusus Clark, mungkin kereta kuda bakalan terbakar sampai hangus.